REVIEW - KAFIR: GERBANG SUKMA

Tidak ada komentar

Lansia itu, sebagaimana anak kecil, menyeramkan. Apakah masih perlu tambahan horor untuk mengingatkan akan hal tersebut? Mungkin tidak, apalagi Kafir: Gerbang Sukma, yang menempatkan karakter lansia di garda terdepan terornya, masih berjalan sesuai pakem generik genrenya. Tapi setidaknya ia bukan tentang hantu bermuka seram yang muncul dengan berisik tiap lima menit, tidak pula diramaikan oleh jajaran pelakon ibu kota yang dipaksa melafalkan logat Jawa. Sudah cukup dua hal itu meracuni telinga penonton.

Mengambil latar sewindu pasca peristiwa di Kafir: Bersekutu dengan Setan (2018), kita kembali diajak bertemu Sri (Putri Ayudya) beserta dua anaknya, Andi (Rangga Azof) dan Dina (Nadya Arina). Upaya mereka untuk beranjak dari trauma akibat serangan santet yang menewaskan sang ayah, Herman (Teddy Syah), belum berjalan mulus. Tidak seperti Andi yang telah menempuh hidup baru bersama istrinya, Rani (Asha Assuncao), Sri masih dihantui ketakutan, masih pula berkutat dengan benda klenik demi meminta perlindungan.

Jangan khawatir bila kalian melupakan detail alur film pertama yang sudah lewat delapan tahun lamanya, sebab naskah buatan Upi dan Dea April berbaik hati memberi rekap di pertengahan durasi, yang untungnya memiliki alasan memadai untuk dimunculkan. Rani meminta sang suami menceritakan hal-hal yang masih ia tutupi mengenai tragedi berdarah tersebut. Andi belum mengungkap segalanya, karena menganggap itu sebagai aib. Bisa dimengerti. 

Tapi siapakah lansia yang dimaksud di awal tulisan? Mereka adalah dua orang tua Sri (Arswendy Bening Swara dan Mutia Datau) yang menampakkan gelagat janggal tatkala dikunjungi oleh putri beserta cucu-cucu mereka. Si kakek diam-diam bermandikan darah di tengah hutan, si nenek memasak tanpa menyalakan kompor hingga menguarkan bau busuk di seisi rumah. 

Tentu pemandangan-pemandangan di atas sudah jamak kita temui di horor bertema "kengerian lansia", dan alih-alih coba menaburkan bumbu baru, Kafir: Gerbang Sukma memilih mengandalkan kesan familiar itu, lalu terus mengulanginya selama lebih dari 100 menit. 

Pengarahan Azhar Kinoi Lubis mampu memaksimalkan efek menjijikkan pada hal-hal janggal yang diperbuat duo lansianya, kuantitas jumpscare yang ditekan hingga seminimal mungkin layak disyukuri, pun performa jajaran pemain (terutama Arswendy Bening Swara dan Mutia Datau yang mencekam, serta Putri Ayudya yang habis-habisan mengolah emosi) jadi jangkar kokoh yang menjaga filmnya tak tenggelam, namun kemonotonan ide terornya acap kali terasa melelahkan. 

Jika ada elemen film ini yang nampak superior dibanding pendahulunya, tak lain adalah babak ketiganya. Penyutradaraan yang cenderung canggung kala menangani adegan bertempo tinggi memang melucuti potensinya mengatrol intensitas, tapi keunikan konsep, kesolidan efek spesial, keberanian untuk sedikit merambah kevulgaran, juga kesan tragis dari resolusi konfliknya, memastikan Kafir: Gerbang Sukma ditutup oleh hentakan kendati luput menawarkan kebaruan. 

Tidak ada komentar :

Comment Page: