THE INVITATION (2015)

14 komentar
Bukankah sering anda mendapati sebuah adegan dalam film memperlihatkan karakternya membunuh hewan (bahkan manusia) yang terluka dengan alasan "to put it out of its misery"? Opening film ini memunculkan pemandangan serupa ketika Will (Logan Marshall-Green) secara tidak sengaja menabrak seekor coyote, lalu terpaksa membunuh hewan tersebut. Tapi benarkah tindakan itu mengakhiri penderitaan? Is it really the best way? Coba terapkan kondisi serupa pada kehidupan sehari-hari, tatkala kita menderita, merasakan sakit luar biasa (fisik maupun psikis). Apakah cara di atas sungguh pilihan bijak atau sekedar denial karena merasa lelah kemudian ingin lari dari permasalahan?

Peristiwa road kill tadi terjadi saat Will dan kekasihnya, Kira (Emayatzy Corinealdi) sedang berada di perjalanan guna menghadiri undangan Eden (Tammy Blanchard) yang tak lain adalah mantan istri Will. Pertemuan tersebut juga menjadi ajang reuni bagi teman-teman mereka setelah tak bertemu selama dua tahun. Selama dua tahun itu pula Will menghilang dan menikahi David (Michiel Huisman). Tentu jamuan makan malam itu terasa sulit bagi Will, di mana situasi kaku terasa jelas meski semua orang termasuk Eden dan David coba menghangatkan suasana. Will sendiri masih merasakan trauma akibat tragedi semasa pernikahannya dengan Eden dahulu. Namun kondisi perlahan berubah dari awkward menjadi mencekam ketika Will merasa ada keanehan di sana, terlebih pasca David mempertontonkan sebuah video.
Jangan berharap film ini melaju kencang memacu jantung penonton sejak awal durasi. The Invitation merupakan slow burning thriller yang penuh kesabaran (baca: lambat) menyibak tabir misterinya. Baru sekitar 20 menit terakhir sutradara Karyn Kusama mempercepat laju, itu pun masih tergolong mid tempo, tidak menghentak keras. Justru karena itulah The Invitation mampu tampil memikat. Naskah garapan Phil Hay dan Matt Manfredi cermat mengolah sisi psikologis manusia untuk menggunakannya selaku amunisi pembangun rasa tidak nyaman. Will diposisikan sebagai jembatan penghubung antara penonton dengan filmnya. Jika anda perhatikan, semua permainan atmosfer film ini apapun bentuknya bersumber dari dalam diri Will, bukan stimulus eksternal akibat suatu kejadian   baru berubah saat klimaks. Murni permainan psikologis.
Bagaimana The Invitation berhasil melakukan permainan tersebut? Sederhana, sumber awal ketidaknyamanan Will adalah hal yang mudah penonton imajinasikan, yakni pertemuan kembali dengan ex-lover plus pasangan barunya. Mudah bagi penonton merasa terganggu karenanya, kemudian secara tak sadar ikut hanyut dalam berbagai prasangka sang tokoh utama. Will yakin ada ketidakberesan, penonton pun tahu pasti bahwa memang ada. Patut dicatat, mayoritas durasi film berisikan dialog antar karakter. Sebagaimana kebanyakan indie thriller berisi satu lokasi dan banyak tokoh, intensitas dipupuk oleh tiap interaksi. Berkat pondasi kokoh berupa keterikatan penonton dengan Will, segala pembicaraan menyulut kecurigaan. The Invitation sukses membangun ketegangan dari perasaan curiga.

Bukan hanya paparan thriller, The Invitation turut menjadi eksplorasi mendalam teruntuk penderitaan manusia. Ketika Will selalu nampak gloomy akibat trauma masa lalunya, Eden sebaliknya justru beberapa kali mengungapkan bagaimana ia telah berhasil menangani segala rasa sakit sembari menyunggingkan senyum di wajah. Tapi seiring terungkapnya kejadian tragis di masa lalu mereka, sulit untuk tidak merasa aneh terhadap sikap Eden. Jalinan kisahnya memunculkan perenungan sekaligus kritiikan bagi para pemilih "jalan mudah" demi menghapus penderitaan, apalagi saat motivasi sesungguhnya dari jamuan makan malam mulai dibeberkan. The Invitation adalah thriller langka yang kuat memaparkan drama psikologis. Walau berjalan lambat dan mempunyai klimaks generic, film ini menyimpan daya pikat lain, yakni teror yang didasari asumsi kita. 

14 komentar :

  1. nonton lwt donlotan apa mas film ini..

    BalasHapus
  2. tapi menurut saya endingnya tergolong standar, meskipun ga bisa dibilang jelek juga

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ending "lentera" itu lumayan kok, klimaksnya tapi emang standar banget

      Hapus
  3. Coba review film india yg judulnya barfi mass..sumpah bagus banget.. barusan selesai liat aku 😂..

    BalasHapus
  4. Ini yg pada komen pada kerja ga sih...

    BalasHapus
  5. review horror baru cipali 182 km mas harry..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah tugas mulia nonton Cipali digantikan Rangga (raditherapy) & Tariz (Cinetariz) soalnya mereka fans berat KKD. Tapi tenang, minggu ini Rumah Pasung-nya Nayato nonton haha

      Hapus
    2. haha..kasihan mas rangga..baca review cipali nya bikin ngakak..

      Hapus
    3. Iya kasihan, udah tua fisiknya nggak kuat nonton begituan :(

      Hapus
  6. Sudah nonton film ini lumayan keren, walau suasana yang dibangun ngingetin saya sama film Coherence (2013).

    BalasHapus
    Balasan
    1. Soalnya pembangunan suasana macam gini emang sering dipakai indie thriller/horror :)

      Hapus
  7. Sebenarnya kejutan yg di hadirkan tdk terlalu besar ..pas vidio itu di buka udh curiga kalo permasalahan di film ini disitu.tpi ending nya tdk paham saya maksud lentera itu apa

    BalasHapus
  8. Jadi banyak buka google karna gak ngerti pas endingnya. Sebenernya maksud si david sama temennya bunuhin temen" si eden tuh knp,,trs lentera itu maksudnya apa, tiba" banyak yg nyalain trs polisi pd dateng..

    BalasHapus