BEAUTY AND THE BEAST (2017)

33 komentar
Poin terpenting dari remake adalah mempertahankan esensi film aslinya, dan bakal makin baik jika mampu menambal kekurangan, menyesuaikan cerita dengan kondisi modern, serta meningkatkan aspek teknis sesuai kemajuan teknologi. "Cinderella" dan "The Jungle Book" merupakan dua contoh live action remake milik Disney yang memenuhi syarat-syarat di atas. Kini giliran Bill Condon ("The Twilight Saga: Breaking Dawn Part 1 & 2", "Dreamgirls") bertugas menghidupkan "Beauty and the Beast" yang lebih dari dua dekade lalu sanggup menjadi film animasi pertama peraih nominasi Best Picture di ajang Oscar. Prepare to feel the magic from this tale as old as time once again. 

Saya percaya anda semua sudah familiar dengan kisah khas fairy tale klasik miliknya, di mana seorang pangeran tampan (Dan Stevens) dikutuk oleh penyihir menjadi makhluk buas mengerikan akibat keangkuhannya. Kutukan itu hanya bisa hilang jika Pangeran mencintai dan dicintai seseorang sebelum kelopak mawar terakhir dari sang penyihir jatuh. Di desa, Belle (Emma Watson) adalah gadis tercantik namun dianggap aneh karena selalu menghabiskan waktu membaca, bahkan menolak cinta Gaston (Luke Evans), pria kuat idola semua wanita. Ketika ayahnya, Maurice (Kevin Kline) tersesat dan ditangkap oleh Beast, Belle bersedia menggantikan posisi sang ayah untuk tinggal selamanya di istana. Lalu seperti anda tahu, itulah awal tumbuhnya benih cinta mereka.
Walau dikukuhkan sebagai klasik, harus diakui animasinya dulu menyimpan beberapa lubang alur yang hingga sekarang kerap diangkat selaku bahan diskusi. Stephen Chbosky dan Evan Spiliotopoulos menyadari persoalan tersebut dalam menulis naskahnya, kemudian melakukan perubahan-perubahan kecil yang berdampak besar, semisal berkenaan timeline yang tak lagi memancing tanya soal usia Pangeran atau asal mula keberadaan Chip (Nathan Mack), si cangkir kecil putera Mrs. Potts (Emma Thompson). Chbosky dan Spiliotopoulos turut menyelipkan fakta jika sang penyihir menghilangkan memori warga kampung tentang Pangeran dan istana supaya ketidaktahuan mereka terasa masuk akal. Secara umum, kualitas narasi film ini jauh lebih baik ketimbang pendahulunya.

Penokohan pun bertambah solid. Serupa Beast, Belle dipandang "berbeda" dan statusnya sebagai misunderstood genius ikut ditekankan. Melihat respon negatif warga yang menganggap tidak sepantasnya wanita banyak belajar membuat sosok Belle kian relevan di masa sekarang. Belle versi baru ini juga berani terang-terangan menolak Gaston yang menegaskan kekuatannya. Hubungan Belle dengan ayahnya diperdalam, menambah bobot emosi lewat selipan kisah masa lalu tentang sang ibu. Demikian pula terkait tokoh-tokoh lain. Ada alasan mengapa Gaston begitu terobsesi pada kekuatan, bukan hanya karena dia pria penuh otot tanpa otak. Sementara paparan singkat mengenai orang tua Beast cukup menjelaskan penyebab sikap kasarnya.
Sepertiga awal penceritaan sejatinya sempat tertatih tatkala filmnya bak kekurangan amunisi di samping tata visual memikat mata termasuk gegap gempita warna-warni nomor musikal "Be Our Guest" yang membuktikan insting Bill Condon merangkai nuansa festive. Namun sebagaimana jalinan asmara Belle dan Beast, momen saat "si buruk rupa" menyelamatkan pujaan hatinya dari serangan serigala bertindak selaku titik balik. Keduanya mulai intens berinteraksi, bertukar tawa dan perhatian, memunculkan kehangatan manis yang bakal memancing senyum penonton mengamati perkembangan natural romansa kedua protagonis. Setelahnya, bersiaplah terhanyut, tak kuasa menahan senyum, tawa, kemudian tersentuh dan meneteskan air mata.

Sudah barang tentu puncak kisah cintanya bertempat di adegan dansa. Bill Condon dan tim berhasil menghidupkan momen tersebut, mulai gaun kuning ikonik Belle, kemegahan dekorasi set, iringan lagu tema, hingga sempurnanya pergerakan kamera menangkap setiap gerakan Belle dan Beast yang mewakili komunikasi rasa antara mereka berdua. Segala aspek berpadu menghasilkan sajian yang akan bisa dikagumi para love skeptic sekalipun. Bagaikan tengah menyaksikan perwujudan kesakralan cinta tatkala dua insan saling jatuh hati, mengekspresikan segenap perasaan tanpa perlu berkata-kata. One of the most romantic musical piece ever put on cinema that perfectly defines what "love" is. 
Belle digambarkan sebagai "the most beautiful girl in town" dan Emma Watson mewakili deskripsi itu. Sosoknya lovable dan tegas bersikap. Penuh kasih sekaligus kuat di saat bersamaan. Watson konsisten mempertahankan charm baik kala melakoni porsi drama serius, romansa, komedi, hingga memamerkan kemampuan bernyanyi ditambah antusiasme ekspresif yang dibutuhkan aktris musikal. Saya sempat khawatir Beast kehilangan pesona sebab transisi media animasi ke live action (biasanya) tampil lebih serius, berpotensi melucuti daya tarik ketika makhluk buas ini canggung menyikapi kehadiran sang pujaan hati. Walau butuh waktu, Dan Stevens menggugurkan kekhawatiran saya. Begitu Beast dan Belle semakin lekat, sang aktor berkesempatan menunjukkan sisi kemanusiaan likeable di balik balutan CGI. 

Beberapa perubahan demi memperbaiki beberapa kekurangan narasi versi animasi tak serta merta menurunkan respect Bill Condon pada film aslinya dengan tetap memberi sentuhan tersendiri supaya tak berujung shot-for-shot remake. Para penggemar niscaya bakal bernostalgia melihat sederet adegan direka ulang. Percintaan Belle dan Beast boleh jadi suguhan utama, tetapi film ini menyertakan bermacam bentuk cinta lain, sebutlah cinta Belle untuk Maurice (ayah dan anak) juga keduanya pada sang ibu/istri. Bahkan para perabot selaku karakter pendukung turut diberi kesempatan (their "last moment" is very touching), menjadikan "Beauty and the Beast" sebuah perayaan menyentuh terhadap keindahan cinta. 

33 komentar :

Comment Page:
Zulfikar Knight mengatakan...

Bayangin Emma Watson jadi Mia Dolan.

Rasyidharry mengatakan...

She would be great, maybe even better than Stone. Tapi entah soal chemistry. Soalnya Gosling-Stone itu the best screen couple today.

Dana Saidana mengatakan...

Kalo menurut saya penuturan filmnya kurang mengalir Bang.
Momen-momen pentingnya (contoh latar belakang keluarga masing2) diskip begitu saja.
Karakter Luke Evans sebagai Gaston juga terlihat sangat "dipaksakan" menjadi antagonis.
Saya pikir Disney tadinya mau bermain aman (aka- ragu-ragu) dengan film ini apakah akan dijadikan tontonan keluarga atau dibuat lebih kelam.
Dan hasilnya seperti yang bisa kita lihat di film.
Kalau bukan karena akting pemainnya, sinematografi dan tata artistiknya, saya rasa film ini tidak akan terlalu memorable.
Akan sangat tertolong kalau nonton filmnya di layar 3D kan Bang :-D

Rasyidharry mengatakan...

Kalau porsinya lebih banyak judulnya jadi "The Family of Beauty & the Beast" hehe. Dibanding animasinya, latar keluarga mereka lebih digali kok. Gaston pun lebih jelas motivasinya sebagai antagonis, dia veteran perang yang masih belum "move on". Semua itu sekilas tapi cukup buat kasih penjelasan, daripada bertele-tele di sana tapi mengesampingkan romansanya :))

Pramudya Jayawiguna mengatakan...

Gak pernah sampe beres nnton film animasinya tapi di yg live-actionnya sempet netesin air mata pas scene Belle nyanyi breng warga desa, penyemangat di awal scene musical. Kayaknya tiap taun Disney mulai konsisten bikin film live-action dari animasinya ya bang ? Taun dpan Mulan ya bang yg bkalan diangkat ke layar lebar ?

Dicky Wahyu Akbar mengatakan...

Kalo mau nntn nih lebih recomended yang bioskop biasa atau 3D bang?

Lin Ysr mengatakan...

Kak, di Malaysia rame film ini di blacklist gegara konten LGBTnya, di kalangan ibu-ibu yg protektif jg banyak yg koar2 agar anaknya gak nonton. Se-ekstrim itukah? aku mau ngajak adik2ku nonton soalnya

yazuli al amin mengatakan...

Walau masih lama release gimana pendapat tentang trailer the curse M. Yusuf

Alvi Fadhollah mengatakan...

syg aja sih momen rilis film ini harus sedikit rusak krn berita hacker nyebar foto si Emma

Rifki Wuda mengatakan...

totally love this remake. apalagi setting sama lagu-lagu barunya. and the "be our guest" part is totally insane. satu hal yang mengecewakan, mereka ga masukin lagu "human again", which is one of my favorite. not a big deal tho haha. Great Riview btw

Mohammad Thoriqul islam mengatakan...

Bang kalo uang dan waktu tidak berkecukupan, nonton emma watson apa lokal maudy ayunda ya enaknya hehehe. *Lagi USBN juga masih ngebet pengen nonton*

Rasyidharry mengatakan...

Kalau netesin air mata sih saya hampir di semua adegan musikalnya :D
Yap, mulai dari Mulan tahun depan, menyusul Aladdin, The Little Mermaid, Dumbo, The Lion King, etc.

Rasyidharry mengatakan...

Kalau ada IMAX 3D atau SphereX 3D pilih itu :)

Rasyidharry mengatakan...

Ah nggak kok. Media US yang terlalu gembar-gembor. Cuma secuil. Lebih "ekstrim" acara komedi di tv kita :)

Rasyidharry mengatakan...

Lumayan menjanjikan. Macam film-film M. Yusuf lain kelihatan main di atmosfer

Rasyidharry mengatakan...

Oh ada ya? Mungkin bisa agan share link-nya *eh*

Rasyidharry mengatakan...

Untung walau lagu itu nggak ada, "ditebus" sama adegan mengharukan para perabot sebelum ending :))

Rasyidharry mengatakan...

Karena Beauty rame, kemungkinan besar bakal bertahan 2-3 minggu lagi. Jadi dahulukan Trinity. Tapi kalau berniat cuma nonton salah satu, pilih Beauty.

Kevin Jonathan mengatakan...

bang ga review iron fist ?

Pramudya Jayawiguna mengatakan...

Hahaha, ternyata gak cuman saya yang "cengeng" ngeliat megahnya film Beauty & The Beast.

Btw Aladdin lagi buka pendaftaran buat cast utamanya tuh bang, gak niat ikutan ? hehehe. Biar gak ada isu whitewash lagi.

Rasyidharry mengatakan...

Saya cengeng kok. La La Land nangis, Beauty nangis, Arrival nangis, Istirahatlah Kata-Kata nangis haha

Jadi apa? Abu? :D

Rasyidharry mengatakan...

Baru mau mulai nonton. Tapi kayaknya nggak sempat review panjang sih :)

Pramudya Jayawiguna mengatakan...

Bang btw kok ost Beauty and The Beast-nya yang di trailer versi orchestra gak ada di credit title ya, padahal yang versi itu lebih menggelegar kan ?

Ternyata Bang Rasyid ada sisi melankolisnya juga toh, hehehe.

Waduh, kira-kira menurut abang siapa yang cocok meranin Aladdin sma Jasmine ? Kalo menurut saya sih Dev Patel sama Ariana Grande (akting nyanyi dan nari Dev di Slumdog Millionaire kayaknya udah mencukupi kualifikasi castingnya & Ariana mungkin saatnya dia mencoba main film dengan porsi yang lebih) *IMO

Rasyidharry mengatakan...

Sepertinya itu memang khusus dibuat untuk trailer deh. Atau ada alasan lain entah.

Dev Patel cocok Ariana cuma belum tahu aja aktingnya gimana. Kalau nyanyi sih asal nggak banyak improv pamer skill sana-sini doi aman :D

Pramudya Jayawiguna mengatakan...

Pantesan aja banyak yang kecewa karena mv-nya gak sama kayak yang di trailer.

Semoga aja dia notice sama open casting itu. Kulitnya yang eksotis dan badannya yang slim itu mirip Jasmine, hehehe.

sinduprasojo9a mengatakan...

Diputer kok lagu Ariana Grande Dan John Legend. Setelah lagunya Celine Dion selesai. Habis itu baru yg Josh Groban 😍😍

Pramudya Jayawiguna mengatakan...

Iya emang diputer pas credit title. Tapi bukan versi orchestra kayak yang di trailer.

ezra mengatakan...

Setelah liat review ini jd pgn nonton gua bang, walaupun bukan pecinta princess2 hahaha... satu lg bang, ada saran film dengan bittersweet ending ga? Thx

Rasyidharry mengatakan...

Oh nggak harus penyuka princess tale kok walau sihirnya pasti bakal lebih maksimal kalau suka
Coba "Once". Pahit dan manisnya gila :)

Anonim mengatakan...

princess kesukaan bang rasyid siapa bang? for me, belle sih.. plus belle Emma Watson, she's the best! ga nyangka Hermione jadi princess

Rasyidharry mengatakan...

Jasmine! Makanya nggak sabar nunggu live action Aladdin :D

Anonim mengatakan...

Saya kira bakal dikasih bintang under 4. Entah kenapa saya rasa kurang gereget. Entah karena ekspetasi saya yang ketinggian karena sudah menanti film ini dari tahun lalu. Well, secara keseluruhan 'lumayan' namun sayangnya kurang memorable di benak dan hati saya.

mutia arifatu mengatakan...

film yang indah, tapi film ini 'kecolongan' hal kecil, terlihat dari ibunya belle yang meninggal karena wabah hitam yang muncul di era medieval sekitar abad ke 13, tapi castle beast bergaya rococo campuran baroque yang muncul di era late renaissance sekitar abat ke 16-17, yaa ini hal kecil yang penonton pun gak akan merasa terganggu, terlebih lagi penampakan visualnya yang wow