Tampilkan postingan dengan label Emma Thompson. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Emma Thompson. Tampilkan semua postingan

REVIEW - CRUELLA

Berlatar London 1970-an di tengah pergerakan punk rock, Cruella pun membawa semangat serupa. Membicarakan kebebasan dengan melawan kemapanan, juga berbagi estetika yang senada dengan kultur tersebut. Hasilnya memikat mata, walau sayang, naskah buatan Dana Fox dan Tony McNamara bertutur bak musisi pop yang iseng-iseng menjajal genre punk. Asal cepat, asal tebas, lalai bahwa punk adalah "asal-asalan yang tidak asal". 

Pola penceritaan itu terasa betul di banyak titik, termasuk prolognya yang buru-buru, sehingga beberapa poin penting pun berlalu begitu saja. Setidaknya sekarang kita mendapat pemahaman lebih, mengapa Cruella de Vil (Emma Stone), membenci anjing dalmatian. Semua berawal saat ia berusia 12 tahun dan masih menyandang nama Estella (Tipper Seifert-Cleveland dalam penampilan yang akan membawanya berada di jajaran aktor cilik papan atas). 

Estella menyaksikan kematian ibunya, Catherine (Emily Beecham), dan merasa dirinya bertanggung jawab. Sebatang kara, Estella memilih hidup sebagai pencuri bersama Jasper (Joel Fry) dan Horace (Paul Walter Hauser), sambil tetap bercita-cita menjadi desainer. Kesempatan tiba, sewaktu Baroness (Emma Thompson), seorang desainer ternama, merekrut Estella setelah secara kebetulan menyaksikan bakatnya. Tentu Estella berbahagia, setidaknya sampai mengetahui rahasia tentang Baroness, yang membangkitkan sisi Cruella dalam dirinya.

Sedikit mundur ke belakang, Estella kecil kerap membuat masalah di sekolah. Bukan tanpa alasan, sebab anak-anak lain memandangnya berbeda, karena Estella lahir dengan warna rambut unik (separuh putih, separuh hitam). Tiap amarahnya tersulut, kepribadiannya yang lebih kejam pun muncul ke permukaan. Sang ibu menamai sisi itu "Cruella". Naskahnya sendiri tidak pernah mengambil sikap jelas perihal dua kepribadian tersebut. Apakah realis (kepribadian ganda), atau fantasi. 

Ada banyak titik dramatis, tetapi penuturan tergesa-gesa tanpa sensitivitas, menghilangkan dampak emosional, biarpun Stone tidak menangani karakternya dengan interpretasi dangkal yang "asal eksentrik", namun menjadikan Estella/Cruella tokoh kompleks. Sosok kesepian yang mengambil langkah ekstrim untuk memerdekakan dirinya, karena merasa sudah waktunya ia berhenti disakiti. Stone membawakan Cruella bagai rock star yang eksplosif, anarkis, namun begitu turun panggung, sejatinya ia rapuh. 

Sebagai lawannya adalah Emma Thompson sebagai atasan keras nan dingin. Baroness mengingatkan pada Miranda Priestly-nya Meryl Streep, bedanya, di balik sikap dingin itu tidak ada kehangatan terselubung. Hanya kekejaman, narsisme, dan ambisi. Jika dinamika Estella/Baroness mengingatkan pada Andrea/Miranda itu wajar, mengingat draft awalnya dibuat oleh Aline Brosh McKenna selaku penulis naskah The Devil Wears Prada (2006), sebelum direvisi oleh Fox dan McNamara.

Meski lemah soal rasa, minimal Cruella mampu menghibur. Bayangkan The Devil Wears Prada disulap menjadi perpaduan antara heist dan revenge movie. Para protagonis melancarkan aksi balas dendam sembari menyusup kemudian mencuri, dan semua dilakukan dengan gaya. Highlight-nya ketika Cruella mulai menyulut kekacauan yang oleh para pembencinya bakal disebut "vandalisme". Bukan lewat baku hantam atau kejar-kejaran (meski tetap ada), melainkan "battle of fashion". Layaknya figur punk rock yang melempar statement tegas tanpa omong kosong ke muka publik, Cruella menghebohkan sekaligus memukau seisi London melalui pameran busana-busana unik yang mencerminkan etika DIY dalam punk.

Saya pun terpukau. Jenny Beavan, yang sebelumnya memenangkan Oscar berkat karyanya di Mad Max: Fury Road (2015), mendesain kostum-kostum yang rasanya pantas dideskripsikan dengan kata "breathtaking". Indah, glamor, berkarakter. Kostumnya sendiri menyuarakan statement bernada perlawanan atas norma-norma serta kesaklekan. 

Jika drama kerap sebatas numpang lewat, tidak dengan presentasi kostumnya. Penyutradaraan Craig Gillespie (Lars and the Real Girl, I, Tonya) membuat penonton seolah sedang menyaksikan peragaan unik nan megah, tiap Cruella memamerkan busana terbaru. Satu-satunya kelemahan Gillespie adalah dalam usahanya membuat Cruella seasyik mungkin, memakai lagu-lagu ikonik dari era 1960-an dan 1970-an yang mengiringi nyaris semua peristiwa. Tentu nomor-nomor macam Feeling Good, Should I Stay or Should I Go, hingga Come Together mendorong kita ikut bersenandung, tapi pemakaian berlebih membuat filmnya seperti jukebox berdurasi dua jam lebih. 

DOLITTLE (2020)

Mengambil hati penonton anak lewat para binatang yang bisa bicara sembari menggoda penonton dewasa melalui keberadaan Robert Downey Jr.,—yang untuk pertama kalinya sejak The Judge (2014) melakoni peran selain Tony Stark—pada akhirnya Dolittle memang tidak kurang dan tidak lebih dari itu. Sebuah petualangan ringan, muda dinikmati oleh semua kalangan, biarpun mudah dilupakan pula.

Mengadaptasi petualangan Doctor Dolittle dari seri buku anak-anak karya Hugh Lofting terutama dari buku keduanya, The Voyages of Doctor Dolittle (awalnya juga dipakai sebagai judul film ini sebelum dilakukan penyederhanaan), kisahnya dibuka melalui intro berbentuk animasi soal bagaimana Dr. John Dolittle (Robert Downey Jr.) memukau seluruh negeri berkat kemampuannya berbicara dengan binatang. Berkat jasanya, Ratu Victoria (Jessie Buckley) bahkan menghadiahkan lahan besar untuk ditinggali Dolittle bersama binatang-binatang yang olehnya dan sang istri, Lily Dolittle (Kasia Smutniak), selamatkan dari seluruh penjuru dunia.

Malang, Lily tewas di tengah laut dalam sebuah penjelajahan. Dolittle pun berubah 180 derajat, mengurung diri, menutup akses dunia luar…..sampai kemunculan Tommy Stubbins (Harry Collett). Datang guna meminta bantuan menyelamatkan nyawa seekor tupai, Stubbins malah berujung tertarik menjadi penerus Dolittle, bahkan terlibat petualangan mengarungi samudera dalam rangka mencari buah dari pohon legenda untuk menyembuhkan penyakit misterius Ratu Victoria.

Kalau anda sebatas mengenal sosok karakter titularnya berdasarkan versi 1998 yang dibintangi Eddie Murphy (inilah alasan banyak orang mempermasalahkan mengapa Doctor Dolittle diubah jadi pria kulit putih tanpa memahami latar belakangnya), mungkin ada sedikit kekagetan mendapati bagaimana film ini menuturkan petualangan bersakal besar. Padahal versi 1967-nya mengambil pendekatan serupa (dikemas memakai sampul musikal).

Naskahnya, yang ditulis oleh duet Doug Mand-Dan Gregor (Most Likely to Murder) bersama sutradara Stephen Gaghan (Syriana, Gold), menawarkan metode cerdik terkait penggambaran transisi komunikasi Dolittle dengan para binatang. Kadang kita mendengar mereka berbicara menggunakan bahasa binatang, terkadang bahasa manusia. Penyutradaraan Gaghan pun mulus menangani transisi tersebut, yang sesekali dipakai menghadirkan efek komedik. Jajaran pengisi suaranya juga berjasa memberi nyawa, khususnya Emma Thompson sebagai Polynesia si burung macaw bijak selaku penasihat Dolittle dan Rami Malek yang memerankan gorila penakut bernama Chee-Chee.

Berkat mereka, ditambah CGI berkualitas memadai, kecanggungan interaksi antara manusia dengan karakter CGI mampu ditiadakan. Apalagi sang manusia dibawakan oleh Robert Downey Jr., yang berkat pengalamannya menjadi maskot MCU, tak lagi asing dengan tuntutan semacam itu. Saya sempat khawatir RDJ bakal bernasib seperti Johnny Depp yang terjebak dalam keeksentrikan monoton selepas memainkan karakter ikonik. Tapi saya akhirnya sadar, ada satu perbedaan mendasar di antara keduanya. Perbedaan yang membuat RDJ unggul sekaligus menjamin keawetan karirnya di luar skena film pahlawan super.

RDJ tidak pernah lalai urusan rasa. Karakter-karakter peranannya selalu dihantui duka atau kegamangan. Tidak terkecuali di sini, dan mata sang aktor kuat memancarkan rasa tersebut. Dari situlah sumber emosi utama Dolittle, tatkala kisah soal kematian Lily hanya berakhir sebatas hiasan semata, sedangkan baik departemen naskah maupun penyutradaraan gagal melahirkan momen penutup selaku payoff yang layak kepada romansa bittersweet karakter utamanya. Bahkan aksen Wales aneh RDJ tak sanggup menghalangi kita bersimpati ke protagonisnya.

Sementara penjelajahan Dolittle dan kawan-kawan, yang diharapkan sarat keajaiban, hanyalah petualangan medioker penuh pilihan-pilihan obligatif selaku pemenuhan formula. Anda bisa dengan mudah menebak kebenaran di balik penyakit Ratu Victoria, pula bakal dibawa ke mana sosok Dr. Blair Mudfly (Michael Sheen), yang sejatinya bisa dimaafkan, mengingat keklisean tersebut ditujukan bagi penonton anak. Bahkan ketimbang aksi mendebarkan, klimaksnya diselesaikan dengan sebuah operasi terhadap sesosok makhluk mitologi.

Teruntuk para bocah, apa yang Dolittle sajikan sudah cukup, biarpun orang dewasa bakal kebosanan menyaksikan repetisi alur yang seolah enggan beranjak dari pola “Dolittle dan teman-temannya tertangkap di tangan antagonis à berhasil kabur à ulangi”. Dan melihat gelaran aksinya, dengan kuantitas yang juga tidak seberapa, saya bisa memahami keputusan Universal Pictures meminta supervisi Jonathan Liebesman (Wrath of the Titans, Teenage Mutant Ninja Turtles) dan Chris McKay (The Lego Batman Movie) dalam proses reshoots. Gaghan, yang sebelumnya lebih banyak menggarap drama serius pengincar kejayaan di musim penghargaan, jelas punya banyak pekerjaan rumah untuk memperbaiki kemampuannya menangani hiburan seru berbasis CGI. Tapi untuk sekarang, Dolittle tidaklah buruk bila dipandang semata sebagai hiburan para bocah.

LAST CHRISTMAS (2019)

Last Christmas, yang naskahnya ditulis oleh Emma Thompson (Sense and Sensibility, Nanny McPhee, Bridget Jones’s Baby) dan Bryony Kimmings berdasarkan lagu berjudul sama buatan George Michael, merupakan komedi-romantis berlatar Natal, yang seperti banyak film Natal, “nilai apa yang diangkat” lebih dipentingkan dari penceritaan. Hasilnya klise dan kerap terlalu sentimentil, tapi merupakan kebohongan bila saya mengaku film ini gagal meninggalkan kesan.

Termasuk Last Christmas, ada total 14 lagu duo pop Wham! dan solo George Michael plus satu unreleased track (This Is How (We Want You to Get High)), mengiringi perjalanan Katarina, atau yang lebih suka dipanggil Kate (Emilia Clarke), seorang gadis dari keluarga Yugoslavia yang menetap di London pasca meletusnya perang. Hidup Kate berantakan. Hubungannya dengan keluarga, terutama sang ibu (Emma Thompson) merenggang, pun akibat kecerobohan serta keegoisannya, Kate selalu diusir di mana saja ia tinggal, menjadikannya tunawisma , mondar-mandir di jalanan London membawa koper dengan stiker “George Michael Forever”, mengenakan sepatu Elf selaku seragam kerjanya.

Kate bekerja di toko barang Natal milik Santa (Michelle Yeoh), di mana dia selalu terkena teguran si bos akibat kinerja buruknya. Mimpinya menjadi penyanyi senantiasa kandas akibat deretan kegagalan audisi. Begitu sampai di titik terendah dalam hidupnya, Kate bertemu Tom (Henry Golding). Berkebalikan dengan sinisme Kate, Tom penuh semangat bahkan cenderung eksentrik. Tom gemar menari di tengah jalan, dan ketimbang menatap layar smartphone, dia lebih suka menengadah memperhatikan detail-detail di sekitarnya.

Kate mulai tertarik pada Tom yang mengembalikan kepoitifannya, membuka matanya akan warna-warna dalam hidup yang selama ini tidak Kate acuhkan, dan dari situ, mudah menebak Last Christmas bakal bergerak ke mana. Film ini adalah soal proses Kate memperbaiki diri, menemukan kebahagiaan dengan cara mengurangi egoisme untuk membahagiakan sesama, alias sejalan dengan nilai-nilai Natal perihal kebaikan hati dan kebersamaan.

Sederhana, hanya saja di tengah perjalanan, naskahnya menambahkan beberapa kisah sampingan yang sejalan dengan nilai-nilai di atas, meski signifikansi terhadap konflik utamanya dipertanyakan. Isu rasisme sedikit disentil, sedangkan Santa, yang digambarkan keras dan dingin, rupanya bisa luluh juga karena cinta. Dia terpikat pada seorang pria pemalu pengunjung toko (Peter Mygind), pasca pertemuan pertama yang menunjukkan totalitas Michelle Yeoh mengolah rasa, bahkan untuk adegan komedik ringan sekalipun.

Setumpuk masalah kompleks menimpa Kate, namun seperti tertulis di paragraf pembuka, naskahnya cuma berfokus pada nilai daripada kualitas penceritaan. Berbasis pada konsep keajaiban Natal, filmnya melakukan simplifikasi tatkala seluruh konflik usai begitu saja begitu Kate berhasil memperbaiki diri, yang mana prosesnya juga tidak kalah instan. Beruntung kita takkan keberatan menyaksikan perubahan Kate, sebab dengan semua sifat buruknya, sosoknya tetap simpatik berkat penampilan Emilia Clarke.

Walau tampil apik di Me Before You (2016) dan Solo: A Star Wars Story (2018), di sinilah talenta sang aktris dimanfaatkan seutuhnya. Sesuatu yang sangat Clarke butuhkan guna lepas dari bayang-bayang Game of Thrones. Clarke mampu mengubah sinisme dan sikap apatis jadi kejenakaan loveable, lalu saat akhirnya Kate sukse mengentaskan diri dari jurang kesengsaraan, senyum lebarnya bakal membuatmu ikut merasakan kebahagiaan. Henry Golding jadi tandem sempurna dengan pesona bak Prince Charming dari negeri dongeng sebagaimana telah ditunjukkannya di Crazy Rich Asians.

Membungkus pertemuan dua hati itu adalah penyutradaraan Paul Feig (Bridesmaids, Spy, A Simple Favor) yang tahu caranya menangkap romantisme berlatar kelap-kelip indah hiasan lampu Natal, sembari masih meninggalkan jejak kelihaiannya memvisualisasikan komedi. Euforia serta kehangatan adegan musikal selaku penutup pun mampu dihantarkan Feig, yang efeknya akan lebih kuat andai sebelumnya tidak ada gangguan berupa twist melodramatis ala Nicholas Sparks, yang kemunculannya bisa ditebak hanya dengan membaca dua kalimat dari lirik salah satu lagu George Michael.

MEN IN BLACK: INTERNATIONAL (2019)

Men in Black pertama sanggup menyihir lewat keberhasilannya menghidupkan dunia unik milik komik The Men in Black karya Lowell Cunningham, di mana manusia dan alien secara diam-diam hidup berdampingan. Tapi tak ubahnya pertunjukan sulap, daya magis makin menipis seiring terjadinya pengulangan minim (atau malah nihil) modifikasi. Mungkin masih menyenangkan, tapi dampaknya melemah karena penonton sudah memahami segala triknya.

Kurang lebih begitulah Men in Black: International, yang jadi usaha mengenalkan seri ini ke khalayak modern. Pun filmnya mencoba tampil relevan dengan menghadirkan protagonis wanita dalam diri Molly alias Agen M (Tessa Thompson), membuatnya mempertanyakan pemakaian kata “Men” pada nama organisasi meski ada banyak anggota wanita (dilakukan pula oleh rilisan minggu lalu, Dark Phoenix), termasuk sang pimpinan, Agent O (Emma Thompson).

Tapi naskah buatan duo Art Marcum dan Matt Holloway (Iron Man, Transformers: The Last Knight) justru melupakan satu poin penting: plot solid. Urgensi Men in Black: International akan kualitas plot melebihi pendahulunya, sebab seperti saya singgung di atas, penonton sudah memahami segala triknya. Satu-satunya bagian menarik milik plotnya adalah ketika suatu kejutan klise nan predictable di babak ketiga, menggiring kita menuju kejutan lain yang lebih menarik.

Alkisah, Molly mengabdikan seluruh hidupnya mencari keberadaan MIB setelah mengintip aksi para pria berstelan hitam tersebut sewaktu kecil. Molly terobsesi, ingin bergabung demi memenuhi hasratnya mempelajari rahasia-rahasia semesta. Singkat cerita (tentu saja)  ia sukses menemukan MIB, diterima sebagai agen, mendapat kode nama “Agen M”, dan mesti menjalani masa percobaan di London di bawah pimpinan Agen High T (Liam Neeson).

Berharap bisa segera membuktikan diri, M nekat menawarkan bantuan kepada H (Chris Hemsworth), agen ternama yang dikenal lewat aksi heroiknya menyelamatkan dunia bersama High T, sebelum reputasinya tercoreng sebagai pembuat onar. Misi keduanya sederhana, yakni menemani Vungus the Ugly (Kayvan Novak), si alien keluarga kerajaan, selama kunjungannya ke Bumi. Misi tersebut berubah rumit kala Vungus tewas di tangan dua alien berdesain keren (tubuh mereka bagai jendela luar angkasa, mengingatkan saya pada karakter Eternity dari komik Marvel) dengan kemampuan mematikan sekaligus jago menari (keduanya diperankan Les Twins, duo penari/koreografer asal Prancis).

Sepanjang investigasi M dan H, kita diajak melihat elemen-elemen khas Men in Black, dari alien-alien yang membaur bersama manusia, hingga beberapa teknologi keren seperti kereta yang bisa melesat ribuan kilometer hanya dalam hitungan detik, atau mobil penuh amunisi canggih. Apakah semua itu mencengangkan? Tidak lagi. Apakah menyenangkan? Lumayan.

Apalagi sutradara F. Gary Gray masih cakap mengkreasi adegan aksi bertenaga sebagaimana ia pamerkan lewat judul-judul seperti The Italian Job, Law Abiding Citizen, Straight Outta Compton, dan pastinya The Fate of the Furious. Pengadeganan sang sutradara cukup menghibur, selama aksinya melibatkan ragam teknologi tinggi kepunyaan para agen. Tanpa itu, MIB: International sekadar tontonan medioker yang memperlihatkan karakternya berlarian di berbagai negara, karena, well, film ini mengandung kata “International” dalam judulnya.

Terkait hiburan, naskahnya berusaha keras menjadi jenaka melalui lemparan celetukan-celetukan, yang sayangnya tak pernah hadir sesegar harapan kedua penulis. Beruntung, ikatan kuat di antara Tessa Thompson dan Chris Hemsworth cukup sering memperkaya warna humornya. Saya pun lega ketika hubungan M dan H urung terjerumus ke dalam romantika dangkal.

Terdapat adegan saat para protagonis kita memakai Neuralyzer untuk menghapus memori puluhan warga yang menyaksikan aksi heboh mereka (anehnya, mereka langsung lanjut beraksi di depan lebih banyak warga tanpa “menetralisir” ingatan orang-orang itu, yang mana cukup merusak esensi bangunan dunia Men in Black). Sungguh malang, padahal pemandangan tersebut akan jadi kenangan yang seru bagi warga. Tapi Men in Black: International tidak perlu menggunakan Neuralyzer bagi penonton, sebab keseruan yang ditawarkan amat mudah dilupakan. Anda mungkin (sedikit) bersenang-senang di dalam bioskop, namun segalanya bakal lenyap dari ingatan begitu melangkahkan kaki keluar.

JOHNNY ENGLISH STRIKES AGAIN (2018)

Tentu Johnny English Strikes Again, selaku film ketiga dalam seri Johnny English tidak menawarkan hal baru, tapi secara mengejutkan, merupakan sekuel yang superior, setidaknya dibanding Johnny English Reborn (2011). Tanpa usaha berlebihan menawarkan kelucuan yang berbeda merupakan kunci. Debut penyutradaraan layar lebar David Kerr ini sadar takkan mampu menggaet penggemar baru apalagi merebut hati kritikus. Hasilnya adalah hiburan yang kembali ke formula dasar berupa parodi oldskul film bertema agen rahasia (khususnya seri 007).

Apabila ada modifikasi yang ditawarkan naskah buatan William Davies yang turut menulis 2 film pertamanya, itu tak lain berupa penolakan Johnny English (Rowan Atkinson) menjadi agen rahasia berbekal teknologi semodern mungkin. Dia menolak smartphone dan memilih telepon umum, juga menampik mobil-mobil hibrida mewah demi Aston Martin bergaya lama. Tapi jangan harap itu menghadirkan kritik tajam perihal ketergantungan masyarakat akan teknologi. Bukan pula perkara besar, mengingat Johnny akan selalu membuat kekacauan, tidak peduli seberapa canggih atau kuno peralatannya.

Selepas tak lagi aktif menjadi agen rahasia, Johnny menjalani profesi sebagai guru, yang diam-diam mengajari muridnya teknik-teknik spionase. Namun serangan cyber terhadap pusat data MI7, yang berujung terungkapnya seluruh identitas agen rahasia, memaksa Johnny, yang datanya tak terbongkar karena telah penisun, kembali menjalankan misi. Bersama Agen Bough (Ben Miller) si kawan lama, Johnny harus membongkar dalang di balik serangan tersebut. Di saat bersamaan, Perdana Menteri Inggris (Emma Thompson) berjuang menyelamatkan negara (dan mukanya) dengan menjadikan ahli teknologi, Jason Volta (Jake Lacy), sebagai kepala keamanan digital.

Anda tahu ke mana arah investigasinya, termasuk identitas si pelaku yang teramat jelas sejak kemunculan pertamanya. Beruntung, Johnny English Strikes Again enggan mati-matian menutupinya atau menganggap penonton tak mampu menebaknya dan memposisikan pengungkapan identitas sang pelaku sebagai kejutan. Sekali lagi, itulah kelebihan film ini. Sadar atas segala keklisean juga kebodohannya, tanpa berpura-pura menjadi sesuatu yang lebih. Alurnya melompat dari satu banyolan menuju banyolan lain yang belum seluruhnya sukses memancing tawa, tapi paling tidak, di humor yang bekerja kurang maksimal pun, senyum masih bisa dihadirkan. Olga Kurylenko, yang juga mantan Bond Girl di Quantum of Solace (2008) memerankan Ophella si agen rahasia Rusia dengan perpaduan sempurna antara figur femme fatale dengan sentuhan komedi. Saya berharap ia diberi lebih banyak momen komikal di sini.

Kuncinya adalah kesederhanaan. Deretan slapstick mendominasi namun tidak mencoba tampil sebesar atau seabsurd mungkin. Kebodohan Johnny tak mesti melulu menampilkan kekacauan berskala besar. Rangkaian kejenakaan berlingkup kecil seperti salah satu humor yang melibatkan “nama samaran” justru merupakan puncak gelak tawa filmnya. Tentu pencapaian itu turut dimungkinkan oleh kembalinya Rowan Atkinson pada puncak performa, yang memunculkan perasaan serupa ketika menyaksikan era kejayaan Mr. Bean dahulu. Ambil adegan “gas tidur” di paruh awal. Bahkan, cara si aktor merespon situasi, plus bagaimana David Kerr menangkap situasinya, mengingatkan pada episode Back to School Mr. Bean.

Tidak banyak elemen dapat dibahas dari Johnny English Strikes Again. Filmnya tahu apa harapan penonton, anda tahu harus berekspektasi seperti apa, dan itu pula yang filmnya berikan. Tidak kurang, tidak lebih. Sebuah hiburan sekali waktu dengan kemampuan memberi kesenangan selama anda duduk dalam studio, lalu ketika pulang ke rumah, kontennya akan segera terlupakan, terkubur oleh penantian terhadap film-film lain yang lebih memancing rasa penasaran. 

BEAUTY AND THE BEAST (2017)

Poin terpenting dari remake adalah mempertahankan esensi film aslinya, dan bakal makin baik jika mampu menambal kekurangan, menyesuaikan cerita dengan kondisi modern, serta meningkatkan aspek teknis sesuai kemajuan teknologi. "Cinderella" dan "The Jungle Book" merupakan dua contoh live action remake milik Disney yang memenuhi syarat-syarat di atas. Kini giliran Bill Condon ("The Twilight Saga: Breaking Dawn Part 1 & 2", "Dreamgirls") bertugas menghidupkan "Beauty and the Beast" yang lebih dari dua dekade lalu sanggup menjadi film animasi pertama peraih nominasi Best Picture di ajang Oscar. Prepare to feel the magic from this tale as old as time once again. 

Saya percaya anda semua sudah familiar dengan kisah khas fairy tale klasik miliknya, di mana seorang pangeran tampan (Dan Stevens) dikutuk oleh penyihir menjadi makhluk buas mengerikan akibat keangkuhannya. Kutukan itu hanya bisa hilang jika Pangeran mencintai dan dicintai seseorang sebelum kelopak mawar terakhir dari sang penyihir jatuh. Di desa, Belle (Emma Watson) adalah gadis tercantik namun dianggap aneh karena selalu menghabiskan waktu membaca, bahkan menolak cinta Gaston (Luke Evans), pria kuat idola semua wanita. Ketika ayahnya, Maurice (Kevin Kline) tersesat dan ditangkap oleh Beast, Belle bersedia menggantikan posisi sang ayah untuk tinggal selamanya di istana. Lalu seperti anda tahu, itulah awal tumbuhnya benih cinta mereka.
Walau dikukuhkan sebagai klasik, harus diakui animasinya dulu menyimpan beberapa lubang alur yang hingga sekarang kerap diangkat selaku bahan diskusi. Stephen Chbosky dan Evan Spiliotopoulos menyadari persoalan tersebut dalam menulis naskahnya, kemudian melakukan perubahan-perubahan kecil yang berdampak besar, semisal berkenaan timeline yang tak lagi memancing tanya soal usia Pangeran atau asal mula keberadaan Chip (Nathan Mack), si cangkir kecil putera Mrs. Potts (Emma Thompson). Chbosky dan Spiliotopoulos turut menyelipkan fakta jika sang penyihir menghilangkan memori warga kampung tentang Pangeran dan istana supaya ketidaktahuan mereka terasa masuk akal. Secara umum, kualitas narasi film ini jauh lebih baik ketimbang pendahulunya.

Penokohan pun bertambah solid. Serupa Beast, Belle dipandang "berbeda" dan statusnya sebagai misunderstood genius ikut ditekankan. Melihat respon negatif warga yang menganggap tidak sepantasnya wanita banyak belajar membuat sosok Belle kian relevan di masa sekarang. Belle versi baru ini juga berani terang-terangan menolak Gaston yang menegaskan kekuatannya. Hubungan Belle dengan ayahnya diperdalam, menambah bobot emosi lewat selipan kisah masa lalu tentang sang ibu. Demikian pula terkait tokoh-tokoh lain. Ada alasan mengapa Gaston begitu terobsesi pada kekuatan, bukan hanya karena dia pria penuh otot tanpa otak. Sementara paparan singkat mengenai orang tua Beast cukup menjelaskan penyebab sikap kasarnya.
Sepertiga awal penceritaan sejatinya sempat tertatih tatkala filmnya bak kekurangan amunisi di samping tata visual memikat mata termasuk gegap gempita warna-warni nomor musikal "Be Our Guest" yang membuktikan insting Bill Condon merangkai nuansa festive. Namun sebagaimana jalinan asmara Belle dan Beast, momen saat "si buruk rupa" menyelamatkan pujaan hatinya dari serangan serigala bertindak selaku titik balik. Keduanya mulai intens berinteraksi, bertukar tawa dan perhatian, memunculkan kehangatan manis yang bakal memancing senyum penonton mengamati perkembangan natural romansa kedua protagonis. Setelahnya, bersiaplah terhanyut, tak kuasa menahan senyum, tawa, kemudian tersentuh dan meneteskan air mata.

Sudah barang tentu puncak kisah cintanya bertempat di adegan dansa. Bill Condon dan tim berhasil menghidupkan momen tersebut, mulai gaun kuning ikonik Belle, kemegahan dekorasi set, iringan lagu tema, hingga sempurnanya pergerakan kamera menangkap setiap gerakan Belle dan Beast yang mewakili komunikasi rasa antara mereka berdua. Segala aspek berpadu menghasilkan sajian yang akan bisa dikagumi para love skeptic sekalipun. Bagaikan tengah menyaksikan perwujudan kesakralan cinta tatkala dua insan saling jatuh hati, mengekspresikan segenap perasaan tanpa perlu berkata-kata. One of the most romantic musical piece ever put on cinema that perfectly defines what "love" is. 
Belle digambarkan sebagai "the most beautiful girl in town" dan Emma Watson mewakili deskripsi itu. Sosoknya lovable dan tegas bersikap. Penuh kasih sekaligus kuat di saat bersamaan. Watson konsisten mempertahankan charm baik kala melakoni porsi drama serius, romansa, komedi, hingga memamerkan kemampuan bernyanyi ditambah antusiasme ekspresif yang dibutuhkan aktris musikal. Saya sempat khawatir Beast kehilangan pesona sebab transisi media animasi ke live action (biasanya) tampil lebih serius, berpotensi melucuti daya tarik ketika makhluk buas ini canggung menyikapi kehadiran sang pujaan hati. Walau butuh waktu, Dan Stevens menggugurkan kekhawatiran saya. Begitu Beast dan Belle semakin lekat, sang aktor berkesempatan menunjukkan sisi kemanusiaan likeable di balik balutan CGI. 

Beberapa perubahan demi memperbaiki beberapa kekurangan narasi versi animasi tak serta merta menurunkan respect Bill Condon pada film aslinya dengan tetap memberi sentuhan tersendiri supaya tak berujung shot-for-shot remake. Para penggemar niscaya bakal bernostalgia melihat sederet adegan direka ulang. Percintaan Belle dan Beast boleh jadi suguhan utama, tetapi film ini menyertakan bermacam bentuk cinta lain, sebutlah cinta Belle untuk Maurice (ayah dan anak) juga keduanya pada sang ibu/istri. Bahkan para perabot selaku karakter pendukung turut diberi kesempatan (their "last moment" is very touching), menjadikan "Beauty and the Beast" sebuah perayaan menyentuh terhadap keindahan cinta.