DANUR (2017)

21 komentar
"Danur" diangkat dari novel "Gerbang Dialog Danur" karya Risa Saraswati, musisi sekaligus penulis buku yang terkenal lewat kemampuan supranaturalnya. Karya-karya Risa sendiri kental unsur mistis, berisi pengalaman interaksinya dengan para makhluk halus, termasuk Peter, hantu bocah Belanda yang namanya paling dikenal publik (album mini Risa bertajuk "Story of Peter"). Dibintangi Prilly Latuconsina yang makin membuktikan bakat beraktingnya serta Shareefa Daanish yang rasanya layak diberi gelar "Ratu horror modern Indonesia", "Danur" memang tampak menjanjikan. Belum lagi keberadaan Awi Suryadi ("Badoet", "Bidadari Terakhir", "Street Society" di kursi penyutradaraan.

Alkisah, di ulang tahun kedelapan, Risa kecil (Asha Kenyeri Bermudez) berharap menemukan kawan untuk menghilangkan kesendiriannya akibat selalu ditinggal sang ibu bekerja (ayahnya kerja di luar negeri). Harapan Risa terkabul, hanya saja teman yang ia dapat bukanlah manusia, melainkan tiga hantu bocah Belanda bernama Peter (Gamaharitz), William (Wesley Andrew), dan Jansen (Kevin Bzezovski Taroreh). Sembilan tahun berselang, Risa (Prilly Latuconsina kembali ke rumah masa kecilnya itu guna menjaga neneknya (Ingrid Widjanarko) bersama sang adik, Riri (Sandrinna Michelle Skornicki). Keanehan muncul sejak kedatangan pembantu baru bernama Asih (Shareefa Daanish). 
Film ini memiliki departemen visual menawan berkat pemanfaatan berbagai properti bernuansa klasik dengan penempatan apik dalam tata artistiknya. Permainan cahaya pun ikut diperhatikan khususnya kala klimaks di alam roh yang (seperti "Insidious") menonjolkan dominasi warna merah plus sedikit hijau di beberapa sudut. "Danur" amat memperhatikan tampilan, membuatnya tak monoton dari segi visual, meski kadang usahanya terasa terlampau keras, semisal penataan kamera dalam sinematografi Adrian Sugiono yang seolah anti pada gaya "mainstream", sehingga begitu sering memiringkan kameranya beberapa derajat. Stylish, terkadang dramatis, tapi lebih sering tanpa arti.

Awi Suryadi jelas menyimpan setumpuk referensi  "The Conjuring", "Insidious", "Jacob's Ladder"  yang harus diakui menjadikan beberapa jumpscare-nya tidak terkesan malas dan apa adanya. Tapi sejalan dengan sinematografi, ketimbang menyesuaikan kebutuhan, banyak momen bak sekedar ajang pamer gaya. Terasa repetitif kala filmnya bagai tersusun atas segmen demi segmen jumpscareKarakternya bangun tidur, "BOOM" hantu muncul. Karakternya membuat kopi, "BOOM" hantu muncul. Karakternya berjalan, "BOOM" hantu muncul. Demikian seterusnya tanpa jalinan cerita menarik guna mengikat antusiasme penonton. Tiba-tiba saja di akhir, naskah buatan Lele Laila dan Ferry Lesmana menjawab soal jati diri Asih. Pertanyaannya, kapan film ini mengajak mempertanyakan siapa Asih? Buat apa saya peduli pada jawaban dari misteri yang tak pernah ditelusuri sebelumnya?

Andai Awi memperhatikan timing, kesan berlebihan bakal terhindarkan. Ketiadaan timing membuat sederet penampakan menjadi overkill, kehilangan daya bunuh, bahkan menggelikan. Ya, alih-alih berteriak ketakutan, berulang kali studio tempat saya menonton yang full house diramaikan gelak tawa penonton. Tatkala horror justru memancing respon yang berlawanan dengan takut, tentu ada masalah besar. Penonton tertawa menyaksikan Risa salah mengartikan kegelisahan nenek yang tak bisa bicara. Penonton tertawa kala senyuman lebar Asih nampak di balik jendela. Penonton tertawa melihat nenek  yang selalu dijaga oleh keluarga  rambutnya tergerai acak-acakan selaku usaha tak perlu menambah kejanggalan mengerikan. Saya sendiri tertawa melihat make-up belang alias kurang rata di wajah Ingrid Widjanarko (perhatikan bagian hidung dan mulut sewaktu close-up).
Shareefa Daanish memiliki aura menyeramkan meski sekedar berdiri diam, memamerkan tatapan mata yang seolah dapat membunuh. Awi menyadari itu, kemudian mengeksploitasinya. Sepertiga paruh akhir "Danur" mayoritas diisi adegan Shareefa menatap karakter lain bermodalkan bermacam-macam raut wajah. Film ini bagaikan eksperimen seputar "berapa banyak ekspresi mengerikan yang mampu Shareefa Daanish perlihatkan?" Sang aktris maksimal melakoni peran itu, tetapi penggunaan berlebih lagi-lagi melunturkan efeknya. Semakin diulangi, semakin keras tawa penonton (termasuk saya) meledak. Sebaliknya, Prilly justru kurang diberi kesempatan unjuk gigi ketika tokoh Risa tidak diberi porsi penggalian berarti. Sepanjang durasi Risa hanya kebingungan, ketakutan, nihil karakterisasi pasti.

"Danur" bukan tergolong horror lokal buruk yang cenderung memancing amarah daripada takut. Digarap sungguh-sungguh, kekecewaan memuncak akibat potensi besar materi serta nama-nama yang terlibat di dalamnya. Awi Suryadi tetap salah satu sineas horror tanah air yang berpotensi menyuguhkan inovasi-inovasi. Sebagai contoh, selain sajian klasik macam "Pengabdi Setan", horror mana yang menampilkan teror sewaktu tokoh utamanya tengah solat? ("Pesantren Impian" adalah thriller). Selanjutnya tinggal bagaimana Awi bisa secara tepat guna menggunakan kreativitasnya. Saya percaya dan masih akan selalu menantikan karya-karya berikutnya. 

21 komentar :

Comment Page:
Panca Sona mengatakan...

Benar!!! Satu studio tertawa melihat asih, terlebih lagi melihat Inggrid yang di make up berliebihan, please dia bukan titiek puspa yang mukanya kencang sampai harus di make up seperti itu.
Horor yang kurang membunuh, dan ekspektasi para penonton yang terbunuh.
Tidak patut ditonton berulang2.

Rasyidharry mengatakan...

Pasti bakal banyak kok yang nyeletuk "neneknya sama seremnya sama setan". Padahal make-up buat orang tua renta yang sakit & lemah nggak perlu gitu

Heru Pramono mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
Heru Pramono mengatakan...

Adegan ditakut-takuti pas sholat juga ada di film 'Rumah Hantu Ampera'. Kalau horror buatan Indonesia lebih suka film-filmnya M.Yusuf. April ini Shareefa muncul di film M. Yusuf kan, ya?

Rasyidharry mengatakan...

Oh ya ada itu. Tapi nggak seram haha
Yap, Shareefa & Prisia di The Curse

Panca Sona mengatakan...

Haha iya betul.. sereman neneknya daripada si asih haha..

Dicky Wahyu Akbar mengatakan...

Recomended gak bang?

Rasyidharry mengatakan...

Monggo disimpulkan sendiri dari review-nya hehe

Alessandro Hutapea mengatakan...

Ini film bener-bener cuma 78 menit atau gimana? Kok bentar banget?

Rasyidharry mengatakan...

Bener. Karena eksekusi idenya emang kurang kaya, ceritanya tipis, cuma diisi jumpscare

Alessandro Hutapea mengatakan...

Whaaaaat. Jadi contemplate nonton atau ngga nih :(

Rasyidharry mengatakan...

Monggo berkontemplasi hehe

Hardy mengatakan...

Film ini laris banget di bioskop
Rekor perolehan penonton tercepat kategori horor
3 hari tayang telah mengumpulkan 400.000 an lebih penonton
Sayang banget ya kalau akhirnya kurang bagus
Padahal film "Badoet" termasuk bagus juga

Soal penonton ketawa di bioskop waktu nonton horor itu biasa menurut saya
Bukan karena lucu atau filmnya ga seram
Tapi karena kaget dan akhirnya ketawa
Film horor yang serem pun mereka ketawa kok
Walau sebelumnya teriak tapi berujung dengan ketawa

Rasyidharry mengatakan...

Ya, sayang sekali Badoet nggak laku. Padahal jauh lebih bagus itu.
Oh beda bentuk ketawanya. Kalau ketawa yang "biasa" itu pasti didahului teriak kaget. Kalau ketawa yang saya (dan seisi bioskop) alami pure ketawa macam nonton komedi.

Hardy mengatakan...

Aneh juga ya
Kenapa film horor Indonesia yang bagus biasanya ga laku
List film horor Indonesia terseram versi saya dan versi beberapa blogger rata2 film nya yang kurang laku.

Oh jadi ketawanya karena lucu
Bukan ketawa karena teriak kaget
Wkwkwkkwk...

Arif Hidayat mengatakan...

Lebih suka template yg lama ..
Template yg ini tulisan nya terlalu kecil ..

Rasyidharry mengatakan...

Eh nggak ganti template lho padahal

Ibrahim Hafizhan mengatakan...

Sampe sekarang masih belum "berani"nonton, takut ngga worthy.

Rasyidharry mengatakan...

Kalau gampang takut sama jump scare standar mungkin bakal bisa menikmati. Tapi kalau ingin lebih ya kurang memuaskan :)

Go Channel mengatakan...

Dan tadi gue nonton. You know what after that? Gue nyesel jadinya gegara ga ad klimaks sama sekali. Tau2 setelah tancep sisir udahan gitu aja. Krg kaya ceritanya. Too simple. Neneknya jg over make upnya. Risa sholat diganggu setan? Ketawa geli jadinya. Sumpah film ini ga bagus isinya. Dari segi tempat, sorry to say dg interior di dalamnya bikin gue pusing. Mamanya Risa bulak balik buka pintu berkali2 apaan coba. Ini sih pendapat gue aja. Tp yg mau nntn mending mikir2 lagi deh.

Go Channel mengatakan...

Dan tadi gue nonton. You know what after that? Gue nyesel jadinya gegara ga ad klimaks sama sekali. Tau2 setelah tancep sisir udahan gitu aja. Krg kaya ceritanya. Too simple. Neneknya jg over make upnya. Risa sholat diganggu setan? Ketawa geli jadinya. Sumpah film ini ga bagus isinya. Dari segi tempat, sorry to say dg interior di dalamnya bikin gue pusing. Mamanya Risa bulak balik buka pintu berkali2 apaan coba. Ini sih pendapat gue aja. Tp yg mau nntn mending mikir2 lagi deh.