Tampilkan postingan dengan label Awi Suryadi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Awi Suryadi. Tampilkan semua postingan

REVIEW - KKN DI DESA PENARI

Sudah mundur berkali-kali sejak rencana awal penayangan 19 Maret 2020, nyatanya KKN Di Desa Penari tetap dibanjiri penonton (angka sejuta bakal dicapai sebelum seminggu). Apa yang membuatnya fenomenal? Utas viral di Twitter yang disampaikan SimpleMan efektif karena ada "kedekatan". Sebab sebelum ini pun, peristiwa mistis di tengah KKN, termasuk yang melibatkan kemesuman mahasiswa, sudah kerap mengisi obrolan. 

Kedekatan itu memudahkan pembaca mengasosiasikan diri dengan nasib tokoh-tokohnya, baik yang jadi "korban langsung", maupun mereka yang terkena dampak perbuatan kawan-kawannya. Kedekatan itu lenyap dari adaptasi layar lebar buatan Awi Suryadi, yang cuma tertarik memvisualkan petikan-petikan tweet SimpleMan layaknya sketsa, ketimbang membangun keutuhan dunianya.

Setelah mendapat persetujuan Pak Prabu (Kiki Narendra) selaku kades, entam mahasiswa menjalankan KKN di sebuah desa terpencil. Nur (Tissa Biani), Bima (Achmad Megantara), Ayu (Aghniny Haque), Widya (Adinda Thomas), Anton (Calvin Jeremy), dan Wahyu (M. Fajar Nugraha), mulai melaksanakan proker, meski sejak kedatangan sudah mencium aroma ketidakberesan. 

Saya jarang mengharapkan penokohan solid di film horor, tapi tanpanya, kekuatan KKN Di Desa Penari berkurang drastis. Sedikit melompat, film ini mempunyai third act kuat (belongs in a better movie) berisi tarian intens (performa Aghniny Haque yang di sepanjang film biasa saja, tiba-tiba melonjak di titik ini) dan konklusi yang mengincar rasa tragis. Masalahnya, tidak satu pun individu diberi penokohan jelas, interaksi kurang digali, apa yang dikerjakan selama KKN juga entah apa. Sulit terkoneksi dengan karakternya, dan tanpa koneksi, tiada sense of tragedy.

Naskahnya ditulis oleh Lele Laila, yang jadi langganan Awi Suryadi dalam semua keterlibatannya di seri Danur sebagai sutradara. Berkaca dari masa lalu, mudah menebak pendekatan kolaborasi keduanya: kompilasi teror. Naskahnya mengadaptasi utas SimpleMan secara apa adanya, tanpa usaha menjalin penceritaan secara utuh. 

Gaya pengarahan Awi untuk KKN Di Desa Penari cenderung lebih dekat ke Asih ketimbang trilogi Danur. Tempo lambat di awal guna menciptakan atmosfer, sembari menghindari kebisingan jump scareHarus diakui, gaya di atas, ditambah biaya tinggi yang memfasilitasi "hobi" sang sutradara tampil stylish (camerawork, efek transisi), menjauhkan film ini dari kesan murahan. Tapi menjadi percuma tatkala masih menyamakan "alur" dengan "kompilasi teror". 

Sebuah sekuen cocok dijadikan gambaran mengapa KKN Di Desa Penari cocok disebut "kompilasi teror" atau "sketsa horor". Nur dan Widya hendak bergantian mandi. Nur masuk lebih dulu, namun akhirnya mengurungkan niat mandi gara-gara melihat genderuwo. Widya lebih beruntung. Dia sempat mandi (kalau "berkali-kali mengguyurkan air ke satu tempat" bisa disebut "mandi"), sebelum dikunjungi oleh Badarawuhi (Aulia Sarah) si hantu penari. 

Repetisi ala sketsanya makin terasa akibat presentasi setiap penampakan tak seberapa berkesan, walau sekali lagi, biaya tinggi menguatkan kualitas elemen artistik, termasuk tata rias meyakinkan saat Badarawuhi muncul dengan wujud aslinya. 

Hasilnya akan lain apabila di sela-sela waktu tersebut penonton berhasil dibuat terkoneksi dengan tokoh-tokohnya, sekaligus diajak ikut tenggelam dalam pertanyaan serta ketidakberdayaan mereka. Kisahnya selalu lebih menarik tatkala Pak Prabu menyinggung sedikit demi sedikit masa lalu kelam desanya, atau ketika Mbah Buyut (Diding Boneng) berbagi sekilas ilmu mengenai mistisisme. Alias, tersimpan setumpuk potensi berbentuk cerita perihal kepercayaan mistis khas daerah Indonesia, yang dibiarkan terkubur tanpa sering dijamah oleh filmnya. 

DANUR 3: SUNYARURI (2019)

Pada review untuk Asih (baca di sini), saya mengapresiasi bagaimana seri Danur, meski setapak demi setapak, terus menunjukkan peningkatan. Jadi alangkah mengecewakan mendapati Danur 3: Sunyaruri merupakan langkah mundur, yang seolah menekan tombol reset bagi progres adaptasi novel-novel Risa Saraswati ini.

Menit-menit awal film ini sebenarnya menjanjikan. Dibuka melalui visualisasi novel buatan Risa (Prilly Latuconsina), yang memperlihatkannya dikejar oleh Canting, hantu penari dari ending Maddah, di suatu gedung pertunjukkan. Pemakaian bayangan adalah trik menakut-nakuti sederhana tapi ampuh memancing kengerian, sementara musik garapan Ricky Lionardi (Asih, Sunyi, Pretty Boys) mampu menggedor jantung ketimbang menyakiti telinga.

Daya tariknya berlanjut kala krisis persahabatan Risa dengan Peter dan kawan-kawan mulai diperkenalkan. Khawatir bakal ditinggalkan, Risa menyembunyikan kemampuan mistisnya dari Dimas (Rizky Nazar). Risa tidak lagi sempat bermain bersama teman-teman hantunya, bahkan kerap memarahi mereka. Di mana lagi kita melihat protagonis film horor mengomeli hantu? Sekilas terdengar konyol, tapi ini keunikan selaku pembeda Risa dengan karakter horor lain.

Tidak lagi tahan dengan keusilan para bocah itu, Risa memilih menutup mata batinnya. Alih-alih menyelesaikan masalah, keputusan itu justru mengundang bahaya kala sesosok hantu wanita misterius menyatroni rumahnya bersama hujan lokal misterius yang tak kunjung usai, mengancam keselamatan Risa beserta teman-temannya.

Membahas progres, naskah buatan penulis langganan Danur, Lele Laila, setidaknya bukan lagi kompilasi jump scare sebagaimana dua judul perdana. Tapi serupa Asih (dan deretan horor lokal kebanyakan), penyakit lama masih menjangkiti. Seolah sang penulis alergi dengan kata “eksplorasi”. Walau tidak diisi pawai penampakan, alurnya jalan di tempat, terkesan kosong, meski menyimpan banyak bekal misteri. Siapa identitas si hantu wanita? Mengapa ia mengincar Peter dkk.? Apa penyebab hujan yang terus turun?

Daripada menggalinya satu per satu, Lele Laila memilih menerapkan pola lama, yakni menyimpan semuanya hingga konklusi, sehingga menciptakan fase pengungkapan yang terburu-buru. Kelemahan itu turut mempengaruhi twist-nya yang terkesan mencurangi penonton, akibat hadir tiba-tiba tanpa diawali “penanaman benih” terlebih dahulu.

Urusan teror, Sunyaruri mengeskalasi tingkat bahaya yang mengancam Risa. Bukan saja teror psikis, kali ini fisiknya pun dihajar habis. Bertambahnya ujian bagi Risa berbanding lurus dengan beban Prilly, yang berkesempatan menampilkan jangkauan akting (sedikit) lebih luas, karena dituntut tampak meyakinkan memerankan seseorang yang tersiksa mental pula fisik. Tugas ini dijalankan cukup baik oleh Prilly.

Secara mengejutkan, penurunan justru datang dari penyutradaraan Awi Suryadi. Masih ada segelintir teror solid, termasuk jump scare mengejutkan yang melibatkan ember, tapi di sini Awi bagai terbuai akan eksplorasi sudut kamera. Dia lebih tertarik bergaya, mengaplikasikan sudut-sudut “berbeda” yang minim substansi perihal membangun kengerian. Ditunjang tata artistik yang digarap apik, visual Sunyaruri mungkin tampak cantik dan unik, namun rasa takut gagal dipantik.

Selain jump scare medioker, kurangnya daya cengkeram turut diakibatkan lemahnya desain hantu. Pasca tampilan ikonik Ivana, Sunyaruri kembali memoles antagonisnya dengan riasan muka rusak klise. Membosankan. Sama membosankannya dengan lagu Boneka Abdi yang diulang belasan kali (lagu tema tidak wajib diputar lima menit sekali), maupun babak ketiga yang bak melupakan hakikatnya sebagai klimaks, dengan mengakhiri konflik secara prematur sebelum mencapai titik puncak.

SUNYI (2019)

Sunyi merupakan remake dari Whispering Corridors (1998), yang mana ambil bagian dalam era baru perfilman Korea Selatan pasca pembebasan dari penyensoran selepas kediktatoran militer berakhir. Alhasil, film tersebut dimanfaatkan selaku media menyuarakan kritik terhadap banyak isu, khususnya perundungan dan kerasnya sistem pendidikan. Itulah alasan mengapa karya Park Ki-hyung tersebut jadi fenomena populer, meski kualitasnya sendiri agak mengenaskan. Berbeda dibanding pendahulunya, Sunyi tak kebingungan menentukan jati diri, mencampur horor dan drama dengan cukup apik, menjadikannya remake yang superior.

Tema perundungan bukan saja dipertahankan oleh Sunyi, bahkan diberi eksplorasi lebih dalam. Kisahnya berlatar tahun 2000 di SMA Abdi Bangsa yang prestisius namun digelayuti isu perundungan yang konon telah berlangsung turun-temurun. Pun tersebar rumor bahwa pada dekade lalu, hal tersebut merenggut nyawa tiga siswi, yang hingga kini arwahnya senantiasa bergentayangan di sekolah.

Protagonis kita bernama Alex (Angga Yunanda), putera mediang paranormal terkenal, yang jelang hari pertamanya bersekolah di Abdi Bangsa, makin mengkhawatirkan senioritas di sana. Ketika ia nyatakan kekhawatiran tersebut, sang ibu (Unique Priscilla) merespon, “Senioritas kan bagus buat character building”. Dari situ kita bisa melihat pola yang menyebabkan perundungan terus lestari.

Pada malam pertama, siswa-siswi tahun pertama dikumpulkan oleh ketiga senior mereka: Andre (Arya Vasco), Erika (Naomi Paulinda), dan Fahri (Teuku Ryzki), guna menghadiri malam orientasi. Saat itulah hukum senioritas mulai diberlakukan. Murid tahun pertama adalah budak (tahun kedua disebut “manusia”, tahun ketiga disebut “raja”, alumni disebut “dewa”) yang wajib menuruti perintah senior yang berhak mengambil barang apa pun milik mereka, bahkan dilarang memasuki area-area seperti perpustakaan, kafetaria, juga toilet.

Bu Ningsih (Dayu Wijanto) selaku kepala sekolah merasa khawatir, tapi atas nama tradisi, memilih membiarkan. Sedangkan para junior tetap diam, karena melawan bukan saja menjadikan mereka musuh publik, pula menghilangkan kesempatan mendapat jaringan luas milik alumni. Sampai titik ini, naskah buatan sutradara Awi Suryadi (Danur, Badoet) bersama duet Agasyah Karim dan Khalid Kashogi (Badoet, Mau Jadi Apa?, Reuni Z), terbukti mampu menyediakan pijakan solid dalam penggambaran lingkaran setan budaya perundungan. Tidak berhenti di situ, naskahnya melangkah lebih jauh menelusuri soal kontribusi pola asuh orang tua lewat tro Andre-Erika-Fahri. Orang tua mereka sama-sama bermasalah, entah menerapkan hukuman fisik, menuntut terlalu tinggi, atau tidak hadir di rumah.

Ketiganya membuat hari-hari Alex bak neraka. Beruntung, ia bertemu Maggie (Amanda Rawles). Keduanya semakin dekat, dan dunia SMA Alex tak lagi sesunyi itu. Sialnya, begitu identitas ayahnya diketahui Fahri, Alex dipaksa memanggil arwah para siswi yang konon bergentayangan di sekolah. Awalnya usaha itu nampak gagal, namun tak lama berselang, kematian mulai menyebar dan darah mulai tumpah di SMA Abdi Bangsa.

Sewaktu Whispering Corridors seolah melupakan hakikatnya sebagai horor, Sunyi menerapkan pendekatan familiar sembari tetap memberi jalan bagi elemen-elemen di atas agar mengalir sebagai pondasi cerita, alih-alih sekedar jump scare layaknya banyak horor medioker lokal belakangan. Di luar adegan “listening class” dan “kolam renang” (yang sudah muncul di trailer), terornya tak banyak memperlihatkan kreativitas. Mayoritas formulaik, ditambah riasan hantu seadanya. Tapi saya mengapresiasi penolakannya untuk melempar jump scare membabi-buta atau memakai efek suara berisik. Serupa judulnya, film ini tidak takut menerapkan kesunyian, tahu kapan mesti berdiam diri, kapan mesti tampil menggelegar (yang juga tak pernah terlampau berisik). Tata musik garapan Ricky Lionardi (Danur, Sakral, Lukisan Ratu Kidul) juga sesekali terdengar atmosferik.

Sunyi pun menempatkan hati di tempat yang tepat. Kembali ke adegan “kolam renang”, secara mengejutkan momen tersebut menyimpan bobot emosi. Ada kesedihan di sana, tatkala senior pelaku perundungan ditampakkan kerapuhannya, digambarkan sebagai salah satu korban kegagalan sistem pendidikan, tentunya tanpa berusaha menjustifikasi perbuatan mereka kepada junior. Momen itu meyakinkan saya bahwa mereka tidak pantas mati. Sehingga saya mengamini ketika Alex mengonfrontasi sang hantu di klimaks sambil menyampaikan pernyataan serupa. Semakin memuaskan kala Sunyi ditutup oleh konklusi hangat, sesuatu yang dikorbankan film aslinya demi tambahan twist tak perlu.

Ya, jika sudah menonton Whispering Corridors, anda tahu akan ada twist. Sepanjang durasi, filmnya menyiratkan itu melalui beberapa petunjuk subtil. Apa yang membuatnya spesial adalah, sekalinya kejutan tersebut diungkap (sayangnya lewat eksekusi antiklimaks), penonton tidak dijejali rekap, selaku penjabaran atas sebaran petunjuk-petunjuk tadi. Seolah semua itu adalah “bonus” bagi penonton yang bersedia menaruh perhatian lebih.

KESEMPATAN KEDU(D)A (2018)

Saya bisa membayangkan bagaimana banyak orang memandang sebelah (bahkan menutup) mata Kesempatan Kedu(d)a begitu tahu filmnya diproduksi RA Pictures, bahkan menampilkan Raffi Ahmad sebagai salah satu pemeran utama. Bisa dipahami melihat rekam jejak rumah produksi satu ini. Tapi saya memberinya kesempatan, sebab kursi penytutradaraan ditempati Awi Suryadi (Danur Universe) yang kembali menggarap komedi setelah sekian lama. Awi pun menulis naskahnya bersama duet Agasyah Karim-Khalid Kashogi (Madame X, Badoet, Reuni Z), yang memiliki filmografi lumayan baik. Dan terlihat, meski masih dibarengi setumpuk kelemahan, Kesempatan Kedu(d)a merupakan produk terbaik RA Pictures sejauh ini.

Dua kawan lama, Abi (Raffi Ahmad) dan Ken (Zizan Razak) bereuni di pengadilan agama, ketika keduanya bercerai di saat bersamaan. Walau awalnya bersedih, mereka sadar, status duda memberi kesempatan kedua untuk menggapai mimpi yang tertunda akibat tentangan para mantan istri. Abi ingin membuka cafe, sedangkan Ken coba merintis ulang karirnya sebagai aktor. Tapi kesuksesan tak semudah membalikkan telapak tangan. Cafe Abi sepi pengunjung, dan Ken selalu gagal mendapat peran kecuali di audisi obat pencahar, yang ia tolak mentah-mentah. 

Suatu hari, Syafa (Cut Meyriska), puteri produser ternama (Diky Chandra), datang ke cafe bersama temannya, Dianti (Marsha Aruan), si penggemar drama Korea. Keduanya datang dalam kondisi memiliki masalah, dan masalah itu memberi Ken ide untuk menyelesaikan masalahnya dan Abi.

Di sini masalahnya. Rencana licik Ken tidak simpatik, yang mana bukan masalah besar, andai secara bertahap (bukan tiba-tiba di akhir), ia mampu membuktikan kelayakannya untuk menutupi kesalahan tersebut. Sayangnya tidak, ketika sepanjang waktu, ia hanya bertingkah bodoh, kebingungan menangani situasi yang diciptakan sendiri, sehingga romansa yang dipaksa hadir antara dia dan Syafa berlangsung kurang meyakinkan. Kelebihan Ken adalah keberhasilannya memancing tawa Syafa. Namun meski punya ayah yang memintanya terjun ke dunia hiburan alih-alih bersekolah serta mantan menyebalkan (Bastian Steel), hidup Syafa tak seberapa merana sampai menjadikan tawa suatu hal langka yang hanya bisa diberikan Ken. Apalagi, dibanding tipu daya Ken, gelak tawa beberapa hari jelas tidak sebanding.

Romansa mereka tidak bekerja, tetapi sebagai komedi, cukuplah memberi hiburan. Razak masih kurang mumpuni menyokong beban film selaku pemeran utama, walau sang aktor asal Malaysia bisa diandalkan dalam memancing tawa, khususnya dibandingkan kecanggungan penghantaran humor Raffi. Khusus bagi Raffi, jika perannya diberikan pada aktor dengan sensibilitas tinggi dalam melakoni momen dramatis, niscaya Kesempatan Kedu(d)a bakal jauh lebih baik.

Mengapa khusus Raffi? Karena kisah Abi, tanpa diganggu kebodohan-kebodohan Ken, dapat membuat film ini lebih manis, lebih menyentuh, mengenai usaha seorang pria mengumpulkan lagi keping-keping hatinya yang berantakan demi sang buah hati, sampai di kemudian hari, menemukan cinta yang baru (sewaktu Ken mencintai Syafa, Abi pelan-pelan kepincut pada Dianti). Saya suka ketika naskahnya membuat hubungan Abi dan puterinya terjadi 2 arah, di mana mereka ingin dan coba saling membahagiakan. Sementara keberhasilan Marsha Aruan memainkan peran love interest yang manis dan kadang jenaka, menambah keasyikan menyaksikan sisi romansanya. 

Awi jelas menunjukkan sisi lainnya sebagai sutradara komedi-romantis bertalenta yang banyak pihak mungkin lupa setelah ia banyak berkutat di horor beberapa tahun belakangan. Comedic timing-nya solid, pun Awi mampu memberi momen romantis menjelang akhir lewat reka ulang sebuah momen manis drama Korea, Oh My Venus (2015). Momen itu terasa manis karena Awi tak berusaha keras membuatnya romantis sekaligus dramatis, memilih tetap menyuntikkan humor. Andai saja Kesempatan Kedu(d)a lebih mengutamakan kisah kekeluargaan dengan bumbu percintaan ketimbang buddy comedy.....

ASIH (2018)

Asih membuktikan 2 hal: Awi Suryadi (dwilogi Danur) selalu berusaha memperbaiki kekurangannya dan dia pantas mendapat franchise, atau setidaknya naskah yang lebih baik. Pasca sekelumit peningkatan di Danur 2: Maddah, di sini Awi menyempurnakan penyutradaraannya, tahu kapan waktunya memainkan keheningan guna membangun atmosfer, kapan mengejutkan penonton lewat jump scare, serta bagaimana melakukannya. Patut disayangkan departemen naskah mencoreng pencapaian tersebut.

Bertindak selaku prekuel yang terjadi 37 tahun sebelum film pertama, Asih mengisahkan asal-usul sang titular character (Shareefa Daanish), meski pada kenyataannya, elemen itu cuma muncul dalam satu flashback singkat. Naskah buatan Lele Laila (Keluarga Tak Kasat Mata, dwilogi Danur), yang mengadaptasi novel berjudul sama karya Risa Saraswati, bahkan tidak berupaya menjelaskan keperluan selipan fakta mengenai perubahan nama Kasih menjad Asih, sebuah informasi yang tak berperan dalam keseluruhan plot.

Sisanya serupa judul-judul lain di Danur Universe, yakni kompilasi teror demi teror yang ditempel paksa tanpa cerita kuat sebagai perekat. Setelah adegan pembuka kala Asih membunuh bayinya sebelum akhirnya bunuh diri, kita dibawa mengunjungi satu keluarga kecil: pasangan suami-istri, Puspita (Citra Kirana) dan Andi (Darius Sinathrya) beserta sang ibu (Marini Soerjosoemarno). Pasutri ini tengah menanti kelahiran anak pertama mereka. Protagonis yang akan memiliki bayi ketika sang antagonis kehilangan bayi jelas bukan pertanda baik.

Asih menebar beberapa benih konflik menarik di awal. Kepikunan ditambah penglihatan Ibunda Andi yang mulai menurun, rasa takut berlebih Puspita akibat mendengar cerita mistis dari sang bidan (Djenar Maesa Ayu), semua itu lebih dari cukup selaku pangkal perpecahan keluarga yang diakibatkan peristiwa mistis, atau tepatnya, ketakutan terhadapnya. Tapi benih-benih menjanjikan itu ditinggal begitu saja seiring penolakan penulis naskah untuk repot-repot menciptakan cerita sungguhan. Menjaga supaya filmnya terus berjalan (baca: mengisi durasi) merupakan fokus tunggal.

Poin menarik naskah Asih hanya saat beberapa kepercayaan mistis lokal turut mengambil peran, yang dapat menghadirkan rasa ngeri bagi penonton yang familiar dengan hal-hal macam suara anak ayam atau tiang listrik yang dipukul. Sisanya nihil. Usaha menjembatani film ini dengan Danur: I Can See Ghosts (2017) pun berujung kekonyolan. Mengapa Asih meningglkan sisirnya?

Di sinilah kapasitas Awi mengambil alih. Dibebani tugas menghabiskan durasi (yang cuma 77 menit), sang sutradara meninggalkan pendekatan mengesalkan yang jadi andalan seri Danur, di mana jump scare berisik menghantam tiap beberapa detik. Kali ini Awi justru berani menyusun atmosfer melalui keheningan plus lagu Indung Indung yang terdengar lebih creepy dibanding Boneka Abdi.

Begitu Asih muncul, musik garapan Ricky Lionardi (Sakral, Rasuk) menolak latah untuk langsung menggebrak. Awi menyimpan gebrakan itu khusus bagi deretan “menu utama” ketika jump scare dilontarkan pada kesempatan  tak terduga, yang sesuai formula di “Buku Panduan James Wan”, saat para hantu bukan sekedar “setor muka”, melainkan menyerang secara agresif. Saya terenta beberapa kali dibuatnya. Bahkan, Awi sanggup memberi sebuah momen yang benar-benar menyeramkan, bukan sebatas mengagetkan. Momen itu berupa sekelebat penampakan Asih, yang mungkin takkan disadari banyak penonton.

Sayang, sekali lagi, pencapaian Awi “dikhianati” kemalasan skenarionya begitu Asih memasuki babak ketiga yang bak tanpa puncak intensitas. Seolah filmnya usai karena penulis naskahnya sudah kehabisan ide, membiarkan teror Asih dihentikan oleh doa ala kadarnya dan teriakan karakter. Secara menyeluruh, Asih memang membuktikan bahwa seri Danur, walau perlahan, konsisten mengalami peningkatan. Namun bila mereka tak kunjung memperbaiki kualitas naskah, sulit membayangkan franchise ini bakal memproduksi installment yang layak menyandang status “film bagus”. Sementara, paling tidak Asih bukan satu lagi horor berisik mengesalkan atau parade repetitif bagi ekspresi gila Shareefa Daanish.

DANUR 2: MADDAH (2018)

Danur 2: Maddah adalah teror yang kehabisan daya akibat buruknya naskah. Apa perlunya horor memiliki naskah bagus? Bukankah menjadi seram sudah cukup? Benar, tapi banyak yang lupa atau luput memahami, bahwa kengerian dan kestabilan intensitas membutuhkan kekuatan naskah. Awi Suryadi (Danur: I Can See Ghosts, Badoet) adalah sutradara horor berbakat dengan sejumlah visi memikat soal membangun teror. Tapi Awi juga punya batasan. Tatkala (seperti film pertama) Maddah nampak bak mozaik jump scare satu setengah jam ketimbang jalinan plot, ia pun kelabakan, seperti tengah menimba di sumur hingga kering, kemudian mengambil tanah basah di dasar sumur, memerasnya, berharap menemukan air. Tentu cuma ada kotoran.

Saya belum membaca Maddah buatan Risa Saraswati, tapi jumlah halaman naskah ciptaan Lele Laila (Danur: I Can See Ghosts, Keluarga Tak Kasat Mata) rasanya tidak sampai setengah novel setebal 252 halaman itu. Naskah yang disusun bukan demi menyampaikan cerita utuh melainkan memenuhi kuota 92 menit durasinya. Caranya bebas, termasuk mengulang adegan mimpi sebanyak tiga kali. Awi pun dibebani tugas sama. Dibantu sinematografer Adrian Sugiono (Danur: I Can See Ghosts, Jomblo Keep Smile), kamera kerap bergerak pelan, melayang layaknya arwah kehilangan tujuan yang sesekali mampu mencuatkan atmosfer mencekam, namun lebih sering terkesan cuma untuk mengulur waktu.
Prilly Latuconsina kembali sebagai Risa dan ia terlihat makin nyaman serta solid memerankan gadis indigo yang mempunyai teman-teman berwujud hantu anak kecil. Setelah mengalahkan Asih (baca: puluhan ekspresi seram Shareefa Daanish), Risa diminta oleh sepupunya, Angki (Shawn Adrian), menyelidiki rumah barunya, termasuk sikap aneh ayahnya, Ahmad (Bucek), yang  gemar mengurung diri di dalam paviliun. Risa melihat penampakan, Angki melihat penampakan, Riri (Sandrinna Michelle Skornicki), adik Risa, melihat penampakan. Semua melihat penampakan, walau tiada yang lebih mengerikan dibanding hantu yang mengikuti gerakan Tina (Sophia Latjuba) kala berzikir. That’s one of the creepiest scene in our horror movie ever.

Pondasi Danur 2: Maddah memang sekedar kompilasi penampakan yang dijahit paksa, tapi sekali lagi, Awi Suryadi adalah sutradara horor berbakat. Mayoritas jump scare ditempatkan pada timing tepat yang efektif memberi kejutan. Pun keputusan menempatkan versi berbeda dari adegan dalam trailer terbukti mampu mengecoh ekspektasi. Tapi tak ada elemen yang peningkatannya melebihi tata rias. Apabila Asih di film pertama cuma mengandalkan kebolehan Shareefa Daanish bermain raut muka, Maddah diberkahi keberadaan Maria Margaretha Earlene yang menciptakan riasan mengerikan sekaligus kreatif alih-alih sekedar gaya “muka hancur” sebagaimana banyak horor dalam negeri. Elena Viktoria Holovcsak si pemeran hantu dengan tubuh tinggi ditambah tawa menggelegar makin melengkapi efektivitas teror sang antagonis terbaru.
Sayangnya seperti ada yang lupa menyalakan lampu di set Danur 2: Maddah. Hampir tiap momen dibuat segelap mungkin sampai sulit mengamati apa yang tersaji di layar, termasuk terornya. Jangankan paviliun, rumah sakit saja tampak seperti bangunan angker tanpa penghuni dengan kamar, lorong, pula musala remang-remang . Lalai menyalakan lampu, Awi dan Adrian malah asyik “bergaya” memainkan sudut-sudut kamera. Dutch tilt dan “kawan-kawan” digunakan tanpa maksud pasti, nihil memberi dampak terhadap pembangunan intensitas.

Danur 2: Maddah menyimpan setumpuk kekurangan. Itu pasti. Kemudian saya coba mengingat-ingat. Selain Pengabdi Setan yang ada di level berbeda, dalam 5 tahun terakhir, berapa banyak horor lokal punya teror seefektif Maddah? Ada, tapi tidak banyak. Apalagi melihat pendahulunya, Maddah merupakan lonjakan kualitas. Keputusan saya sudah bulat untuk memberi nilai 3 bintang. Sampai konklusinya memberi twist menipu yang menjadikan segala teror yang Risa hadapi berakhir percuma serta tidak masuk akal, bahkan di tataran logika horor supernatural. Oh, lagi-lagi permasalahan naskah. Masih menganggap sajian horor tidak perlu memperhatikan naskah?

DANUR (2017)

"Danur" diangkat dari novel "Gerbang Dialog Danur" karya Risa Saraswati, musisi sekaligus penulis buku yang terkenal lewat kemampuan supranaturalnya. Karya-karya Risa sendiri kental unsur mistis, berisi pengalaman interaksinya dengan para makhluk halus, termasuk Peter, hantu bocah Belanda yang namanya paling dikenal publik (album mini Risa bertajuk "Story of Peter"). Dibintangi Prilly Latuconsina yang makin membuktikan bakat beraktingnya serta Shareefa Daanish yang rasanya layak diberi gelar "Ratu horror modern Indonesia", "Danur" memang tampak menjanjikan. Belum lagi keberadaan Awi Suryadi ("Badoet", "Bidadari Terakhir", "Street Society" di kursi penyutradaraan.

Alkisah, di ulang tahun kedelapan, Risa kecil (Asha Kenyeri Bermudez) berharap menemukan kawan untuk menghilangkan kesendiriannya akibat selalu ditinggal sang ibu bekerja (ayahnya kerja di luar negeri). Harapan Risa terkabul, hanya saja teman yang ia dapat bukanlah manusia, melainkan tiga hantu bocah Belanda bernama Peter (Gamaharitz), William (Wesley Andrew), dan Jansen (Kevin Bzezovski Taroreh). Sembilan tahun berselang, Risa (Prilly Latuconsina kembali ke rumah masa kecilnya itu guna menjaga neneknya (Ingrid Widjanarko) bersama sang adik, Riri (Sandrinna Michelle Skornicki). Keanehan muncul sejak kedatangan pembantu baru bernama Asih (Shareefa Daanish). 
Film ini memiliki departemen visual menawan berkat pemanfaatan berbagai properti bernuansa klasik dengan penempatan apik dalam tata artistiknya. Permainan cahaya pun ikut diperhatikan khususnya kala klimaks di alam roh yang (seperti "Insidious") menonjolkan dominasi warna merah plus sedikit hijau di beberapa sudut. "Danur" amat memperhatikan tampilan, membuatnya tak monoton dari segi visual, meski kadang usahanya terasa terlampau keras, semisal penataan kamera dalam sinematografi Adrian Sugiono yang seolah anti pada gaya "mainstream", sehingga begitu sering memiringkan kameranya beberapa derajat. Stylish, terkadang dramatis, tapi lebih sering tanpa arti.

Awi Suryadi jelas menyimpan setumpuk referensi  "The Conjuring", "Insidious", "Jacob's Ladder"  yang harus diakui menjadikan beberapa jumpscare-nya tidak terkesan malas dan apa adanya. Tapi sejalan dengan sinematografi, ketimbang menyesuaikan kebutuhan, banyak momen bak sekedar ajang pamer gaya. Terasa repetitif kala filmnya bagai tersusun atas segmen demi segmen jumpscareKarakternya bangun tidur, "BOOM" hantu muncul. Karakternya membuat kopi, "BOOM" hantu muncul. Karakternya berjalan, "BOOM" hantu muncul. Demikian seterusnya tanpa jalinan cerita menarik guna mengikat antusiasme penonton. Tiba-tiba saja di akhir, naskah buatan Lele Laila dan Ferry Lesmana menjawab soal jati diri Asih. Pertanyaannya, kapan film ini mengajak mempertanyakan siapa Asih? Buat apa saya peduli pada jawaban dari misteri yang tak pernah ditelusuri sebelumnya?

Andai Awi memperhatikan timing, kesan berlebihan bakal terhindarkan. Ketiadaan timing membuat sederet penampakan menjadi overkill, kehilangan daya bunuh, bahkan menggelikan. Ya, alih-alih berteriak ketakutan, berulang kali studio tempat saya menonton yang full house diramaikan gelak tawa penonton. Tatkala horror justru memancing respon yang berlawanan dengan takut, tentu ada masalah besar. Penonton tertawa menyaksikan Risa salah mengartikan kegelisahan nenek yang tak bisa bicara. Penonton tertawa kala senyuman lebar Asih nampak di balik jendela. Penonton tertawa melihat nenek  yang selalu dijaga oleh keluarga  rambutnya tergerai acak-acakan selaku usaha tak perlu menambah kejanggalan mengerikan. Saya sendiri tertawa melihat make-up belang alias kurang rata di wajah Ingrid Widjanarko (perhatikan bagian hidung dan mulut sewaktu close-up).
Shareefa Daanish memiliki aura menyeramkan meski sekedar berdiri diam, memamerkan tatapan mata yang seolah dapat membunuh. Awi menyadari itu, kemudian mengeksploitasinya. Sepertiga paruh akhir "Danur" mayoritas diisi adegan Shareefa menatap karakter lain bermodalkan bermacam-macam raut wajah. Film ini bagaikan eksperimen seputar "berapa banyak ekspresi mengerikan yang mampu Shareefa Daanish perlihatkan?" Sang aktris maksimal melakoni peran itu, tetapi penggunaan berlebih lagi-lagi melunturkan efeknya. Semakin diulangi, semakin keras tawa penonton (termasuk saya) meledak. Sebaliknya, Prilly justru kurang diberi kesempatan unjuk gigi ketika tokoh Risa tidak diberi porsi penggalian berarti. Sepanjang durasi Risa hanya kebingungan, ketakutan, nihil karakterisasi pasti.

"Danur" bukan tergolong horror lokal buruk yang cenderung memancing amarah daripada takut. Digarap sungguh-sungguh, kekecewaan memuncak akibat potensi besar materi serta nama-nama yang terlibat di dalamnya. Awi Suryadi tetap salah satu sineas horror tanah air yang berpotensi menyuguhkan inovasi-inovasi. Sebagai contoh, selain sajian klasik macam "Pengabdi Setan", horror mana yang menampilkan teror sewaktu tokoh utamanya tengah solat? ("Pesantren Impian" adalah thriller). Selanjutnya tinggal bagaimana Awi bisa secara tepat guna menggunakan kreativitasnya. Saya percaya dan masih akan selalu menantikan karya-karya berikutnya.