I, DANIEL BLAKE (2016)

4 komentar
I, Daniel Blake. Terdengar seperti sebuah statement. Kenyataannya sang titular character memang dua kali melontarkan pernyataan menjelang akhir. Filmnya pun sama, melontarkan pernyataan seputar kebobrokan welfare system Inggris yang ketimbang menyejahterakan justru menyulitkan masyarakat kelas pekerja. "Sistem ini mempermainkan rakyat! Pemerintah mempermainkan rakyat!" Begitu kiranya sutradara Ken Loach bersama Paul Laverty selaku penulis naskah hendak berteriak. Filmnya menyodorkan kesulitan-kesulitan yang penonton belahan dunia mana pun pernah alami. Lalu kita mesti berbuat apa? Pada era di mana manusia dituntut lebih pintar menangani masalah yang makin pelik, I, Daniel Blake enggan menawarkan jalan keluar.

Layar gelap, dan hanya terdengar pembicaraan Daniel Blake (Dave Johns) dengan petugas Work Capability Assessment (WCA) bernama Amanda yang tengah menilai kelayakannya bekerja lagi pasca mengalami serangan jantung. Ketiadaan visual dimaksudkan mendorong penonton berkonsentrasi mendengar perbincangan yang terkesan lucu ketika Amanda bicara dengan nada bak robot, sementara kekesalan Daniel memancingnya berkelakar, "We're getting farther and farther away from me heart". Wajar. Perintah Amanda memang tidak menyinggung soal jantung. Setidaknya ia tidak menjelaskan pada Daniel yang awam tentang kesehatan mengapa itu berkaitan. Itu pangkal perselisihan Daniel (beserta pencari kerja lain) dengan pelayanan sistem tersebut.
Daniel memang cukup mudah terpancing amarah. Tatkala tetangganya, China (Kema Sikawze) lalai membuang sampah ia seketika menegur. Bersedia pula dia memarahi petugas Jobcentre Plus akibat enggan memberi toleransi atas keterlambatan Katie (Hayley Squires), ibu muda yang bersama dua anaknya baru pindah ke London setelah dua tahun tinggal di penampungan tuna wisma Newcastle. Walau begitu, sikapnya menunjukkan kepedulian. Dia pemarah, tapi bukan pria tua penggerutu yang menolak kehidupan sosial dan mengutuk tiap sendi kehidupan. Terdapat kehangatan di penokohan ditambah sensibilitas performa Dave Johns yang memudahkan kita mendukung perjuangan Daniel. 

I, Daniel Blake mengetengahkan pertarungan rakyat kelas pekerja melawan sistem menyulitkan. Bukan demi keadilan sosial bersama melainkan semata-mata untuk makan sehari-sehari. Pertarungan yang kelihatannya mustahil dimenangkan. Seolah hendak menguatkan sisi persatuan masyarakat, para tokoh utamanya pun dibuat beragam, antar-generasi, antar-ras, antar-gender. Tanpa dipengaruhi perbedaan tersebut, mereka saling menolong, bahkan bisa jadi terikat secara emosional satu sama lain. Misalnya saat Daniel membereskan rumah Katie bahkan membuatkan mainan kayu untuk kedua anaknya. Pun seiring film berjalan, deretan manusia non-pegawai Jobcentre Plus (kecuali Ann yang rela ditegur atasan karena menolong Daniel) kerap bersedia "mengulurkan tangan" meski sebatas hal kecil macam membantu Danie mengoperasikan komputer. 
Paul Laverty pandai merangkai kata-kata lewat naskahya, baik berupa celotehan menggelitik karakter maupun tuturan dramatik deskripsi Daniel mengenai mendiang istrinya yang menyiratkan kondisi bipolar. "Where'll we sail to tonight, Dan?" Tanya sang istri pada Daniel yang juga menjadi kalimat terindah sepanjang film. Sementara bagi Ken Loach, setelah 50 tahun lebih berkarya, perihal bernarasi bukan lagi kesulitan. Alur melaju tidak terburu-buru tanpa perlu berlama-lama pula. Penyuntingan gambar Jonathan Morris yang memakai fade in/out di beberapa transisi mendukung tercipta aliran mulus. Sampai terjadi lompatan mendadak di 10 menit terakhir. Lompatan kasar yang melangkahi proses penting pengembangan karakter seperti tengah kehabisan ide. 

Pilihan konklusinya menegaskan bahwa I, Daniel Blake hanya pertunjukan derita manusia akibat sistem busuk yang ketimbang membela justru menghancurkan. Benar segalanya tepat dan nyata, namun sekali lagi, kita semua sudah tahu. Sayangnya Loach  yang telah puluhan tahun mengolah tema serupa  berhenti di tataran menjabarkan, berujung menciptakan repetisi akan persoalan familiar. Benar film bisa jadi jendela realita (yang mampu dicapai I, Daniel Blake), tetapi dapat juga lebih dari itu, menawarkan solusi. Dan setelah sekian lama, alangkah baiknya daripada terus menerus memperlihatkan kesusahan, tiba waktunya bagi suguhan populis memberi alternatif jalan keluar. Apa yang harus kami lakukan sekarang Mr. Loach?

4 komentar :

Comment Page:
Redo Anggara mengatakan...

Tapi setidaknya film ini kembali membuka mata kita akan sistem pemerintahan yg memberatkan rakya menengah kebawah dan hal ini relevan dgn yg terjadi di banyak belahan dunia termasuk juga di tanah air kita ini.
Adegan di bank makanan itu sangat menyentuh ya ?

Azhari Norrahman mengatakan...

Beliau mungkin memilih menyelesaikan film dengan "menyelesaikan" pemainnya. Saya malah menduga (lebih suka) Daniel melanjutkan hidup dengan bekerja jadi tukang kayu biasa. Film selesai.

Rasyidharry mengatakan...

Betul, tapi film populis begini termasuk Loach sudah puluhan tahun angkat tema/treatment yang sama. Solidaritas, belas kasihan. Nggak jelek, nggak salah, tapi waktunya naik tingkat.

Yap, itu dan cerita tentang istri Daniel :)

Rasyidharry mengatakan...

Ya, kalau akhirnya dia move on, lanjut hidup dengan skill yang lebih dari cukup itu malah bakal jadi bentuk kemenangan Daniel. Tanpa sistem pemerintah bisa kok "berjaya"