MARS MET VENUS - PART CEWE (2017)

8 komentar
Cewek selalu benar, cowok selalu salah. Cewek menghabiskan waktu berjam-jam berdandan dan memilih baju sebelum pergi, cowok asal mandi dan bersiap secepat kilat. Beragam stereotype gender yang lekat pada dinamika pacaran generasi milenial tersebut merupakan basis Mars Met Venus yang dibagi jadi dua bagian, Part Cewe dan Part Cowo yang menyusul rilis 3 Agustus nanti. Ini bukan satir cerdas. Bukan pula eksplorasi mendalam, yang bahkan membuat teori John Gray sang penulis Men Are from Mars, Women Are from Venus  which is very stereotypical  terkesan kokoh. Ini semata-mata media bagi penonton remaja menertawakan lika-liku romantika mereka sendiri. 

Kelvin (Ge Pamungkas) dan Mila (Pamela Bowie) akhirnya memutuskan siap lanjut ke jenjang berikutnya setelah berpacaran lima tahun. Untuk itu, dibuatlah video pre-wedding di mana keduanya mengisahkan hubungan selama ini, mencurahkan isi perasaan masing-masing. Seiring Kelvin dan Mila bercerita, penonton sesekali dibawa mundur ke belakang, menyaksikan dari awal tumbuhnya benih cinta mereka. Namun proses itu justru memancing konflik demi konflik akibat perbedaan pola pikir, dari hal kecil macam lupa akan momen pertemuan pertama hingga hal serius yang mengancam kelangsungan hubungan. Seperti judulnya, kita lebih dulu dibawa masuk ke dunia Mila yang mayoritas diwakili curhatan pada dua sahabatnya, Icha (Ria Ricis) dan Malia (Rani Ramadhany).
Konsep berupa ironi sewaktu keraguan justru timbul di tengah niat mempererat ikatan sejatinya potensial. Sebab dari situ penelusuran menarik soal cinta dua sejoli dapat tersaji. Tentu saya tak berharap tuturan pintar, tetapi ketimbang narasi propernaskah Nataya Bagya (3 Dara, 7/24) menjadikan momen pembuatan video tak ubahnya checklist untuk tiap stereotip yang ujungnya memancing pertengkaran repetitif. Polanya sama: Kelvin dan Mila bermesraan, berbeda pendapat, salah satu marah (biasanya Mila), menutup hari dengan kekacauan. Apalagi tiada pembagian intensitas. Seluruh pertengkaran bagai puncak konflik. Hasilnya melelahkan. 

Bicara penokohan, Kelvin dan Mila sebatas karikatur terhadap gambaran masing-masing gender. Toh tujuannya memang demikian. Eksistensi dua protagonis ini "hanya" selaku representasi "kekhasan" cewek dan cowok. Amat stereotipikal, tapi jangan lupa, stereotip ibarat asap yang takkan muncul tanpa api. Artinya, sangat mungkin penonton merasa terwakili oleh (meski tak semua) banyak poin. Potensi merasa terikat oleh rangkaian peristiwanya cukup besar baik pada penonton pria maupun wanita. Anda bakal tersenyum, mengangguk-angguk karena pernah mengalami hal serupa, entah kegembiaraan tiada tara kala pertama berboncengan, tegang luar biasa merangkai kata ungkapan cinta, atau membaca kepribadian pujaan hati lewat zodiak. 
Deretan peristiwa di atas dikemas jenaka, dan komedi adalah keunggulan terbesar Mars Met Venus. Pamela Bowie melucu bersenjatakan tingkah manja yang seringkali menggemaskan sembari ditopang totalitas berekspresi. Ketika bahagia ia tak segan menari-nari bagai hilang akal, sebaliknya tatkala dikuasai amarah, teriakan bertubi-tubi terlontar. Ketepatan performa Pamela menjaga Mila  yang super posesif dan sensitif  tetap mudah disukai. Sedangkan Ge Pamungkas tak ubahnya perwujudan laku konyol lelaki saat dibuat frustrasi masalah cinta. Ekspresi berlebihan yang menggelikan (in a good way) ditambah celetukan-celetukan lucu yang sepertinya hasil improvisasi cerdik sungguh menguras tawa. Adegan "sate padang" merupakan comic gold yang takkan sebegitu efektif andai tanpa kesempurnaan timing dan respon Ge. 

Seperti telah disinggung, Mars Met Venus lemah seputar narasi yang rawan mempengaruhi fase dramatik. Untungnya walaupun tidak didukung pondasi mumpuni, sutradara Hadrah Daeng Ratu (Super Didi, Heat Beat) paham betul cara merangkai nuansa manis. Contoh terbaik sewaktu Mila mengenang hadiah pemberian Kelvin. Dihiasi mawar merah dan kejutan-kejutan, Hadrah Daeng Ratu menghidupkan imajinasi manis mengenai kenangan berharga bersama sosok tercinta yang menjadi jembatan solid supaya dampak emosi konklusinya tersampaikan. Iringan lagu Dulu, Kini, Nanti milik Citra Scholastika pun ikut menguatkan. Film ini memang kisah cinta generasi milenial yang bisa saja konfliknya dianggap tidak penting dan lebay. Namun lebay juga berarti lebih. Lebih ekspresif, lebih bergelora, lebih menyenangkan. Dan Mars Met Venus (Part Cewe) sangat menyenangkan.


Ulasan film ini juga bisa dibaca di: http://tz.ucweb.com/7_1KBVV

8 komentar :

  1. Asik, recomended berarti kan mas?? Langsung meluncur teater..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yap, super fun. At least bagian komedinya sangat menghibur :)

      Hapus
    2. Oke mas.. Ditunggu part cowo.nya..

      Hapus
  2. Dengan sweet 20 lucuan mana?
    Kalau gw harus milih 1 film utk ditonton The Doll 2 atau film ini?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ada beberapa adegan yang tingkatnya sama, cuma Sweet 20 jauh lebih konsisten.
      Kecuali hardcore fans horor, pilih ini

      Hapus
  3. Udah pasrah aja saya "Mana mungkin sih Bang Rasyid ngereview Mars Met Venus ?". Ehh ternyata saya udah su'udzon aja sama Abang. Maaf Bang, hehehe.

    Ge sebagai juara 1 SUCI Season 1 udah gak usah diraguin lagi soal mimik. Si "1000 wajah" ini gak ngomong aja udah kocak. Beda bgt pas liat Ge di Negeri van Oranye (awal mulai suka sama akting Ge).

    Btw yang Part Cowo-nya juga nanti bakalan nonton, Bang ?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Haha trailer-nya aja ngakak ya pasti nonton.
      Betul, Ge beda sekali, jauh lebih lucu dari akting-akting dia sebelumnya termasuk Comic 8. Aisyah lumayan, cuma porsi dia dikit dan lebih ke drama.

      Pasti nonton :)

      Hapus
    2. Selera humor yang bagus, hehehe.

      Ada peningkatan kualitas akting Ge sebagai lead actor gitu ya, Bang ?

      Para komika dan youtubers makin menggeliat di layar lebar nih. Btw minat nonton The Underdogs gak, Bang ?

      Aih mantap. Biar menyamaratakan perspektif ya, Bang ? hahaha.

      Hapus