Tampilkan postingan dengan label Ge Pamungkas. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ge Pamungkas. Tampilkan semua postingan

REVIEW - GARA-GARA WARISAN

Melakoni debut penyutradaraannya, Muhadkly Acho (juga selaku penulis naskah, posisi yang pernah ia tempati di Kapal Goyang Kapten) mengikuti jejak Ernest Prakasa (menjabat produser film ini) sebagai komika yang mampu menggabungkan humor dengan drama keluarga menyentuh. 

Tapi Gara-Gara Warisan takkan langsung menggigit. Film ini lambat panas. Sekitar 15-20 menit pertama, saya bahkan mengira bakal pulang dengan kekecewaan. Sekuen pembukanya meletakkan pondasi bagi konflik utama, di mana kita mengunjungi Dahlan (Yayu Unru) dan Salma (Lydia Kandou), pasutri pengelola guest house dengan tiga anak. Salma mengidap kanker, lalu meninggalkan suami beserta anak-anaknya. 

Pembukaan tersebut, yang dikemas bak kumpulan fragmen, sayangnya dirangkai kurang rapi, pula kurang intim untuk bisa menghasilkan dampak emosi (seperti replikasi lebih lemah dari Up). Lalu secara bergantian kita menyambangi hidup ketiga anaknya. 

Adam (Oka Antara) si sulung, yang sejak kecil merasa tak dianggap oleh ayahnya, menikahi Rini (Hesti Purwadinata), memiliki satu putera, dan bekerja di bagian customer service. Laras (Indah Permatasari) mengabdi dengan cara mengelola panti wreda bersama Benny (Ernest Prakasa). Si bungsu yang paling dimanja, Dicky (Ge Pamungkas), adalah musisi yang lebih banyak menghabiskan waktu mengonsumsi narkoba bersama Vega (Sheila Dara), pacarnya, ketimbang bermusik.

Semua tengah kesulitan ekonomi, semua punya masalah personal dengan anggota keluarga lain. Adam merasa sang ayah hanya menyayangi Dicky, sedangkan Laras pergi dari rumah karena enggan bertemu ibu tirinya, Asmi (Ira Wibowo). Alurnya terus melompat, harus membagi waktu antar karakter karena bentuknya yang lebih dekat ke arah ensambel ketimbang fokus ke satu sosok. Bukan perkara mudah. Naskah buatan Acho cukup tertatih-tatih di fase ini. Apalagi tatkala serupa banyak produksi Starvision, departemen penyuntingan (vital di film ensambel) bekerja kurang mulus. 

Sampai Dahlan jatuh sakit, kemudian memanggil tiga anaknya, meminta mereka "berlomba" mengelola guest house. Pemenangnya bakal menjadi pimpinan baru guest house. Memasuki titik inilah Gara-Gara Warisan mulai "memanas". Meski masih membawa persoalan masing-masing, tiap tokoh bergerak ke satu tujuan, sehingga memudahkan fokus penceritaan. 

Secara alamiah pun, setelah menghabiskan beberapa waktu mengikuti karakternya, kita mulai mengenal sekaligus terhanyut dalam problematika mereka. Salah satu poin terbaik terkait penokohan naskahnya adalah, tidak ada karakter yang benar-benar patut dicaci maupun sepenuhnya suci. Kadang timbul simpati, namun ada kalanya memancing rasa benci. 

Bukan keluarga harmonis yang ingin ditampilkan, melainkan sekumpulan individu tidak sempurna, dengan beraneka ragam kelebihan/kebaikan dan kekurangan/keburukan. Tinggal bagaimana mereka dapat mengisi lubang masing-masing. Terdapat fase menarik di alurnya yang mewakili gagasan di atas, yakni ketika Adam, Laras, dan Dicky bergantian mengurus guest house. 

Adam selaku petugas customer service menekankan perihal keramahan, mengajari karyawan cara memperlakukan tamu bak raja. Laras yang sarat pengalaman mengelola panti wreda, memaparkan rencana terstruktur, termasuk soal strategi promosi. Sedangkan Dicky yang terbiasa hidup semaunya, fokus pada kebahagiaan karyawan. Ketiga perspektif tersebut sebenarnya komponen penting, yang bila disatukan, akan membentuk kesempurnaan. Sama halnya dengan esensi "bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh" dalam konteks keluarga. Sayang, poin ini tidak diberi payoff memadai. 

Di sela-sela konflik keluarga pelik miliknya, Gara-Gara Warisan menaruh humor sebagai penyegar suasana. Keempat karyawan guest house diberi tugas mengeksekusi humornya. Wiwin (Aci Resti), Ijul (Lolox), Aceng (Ence Bagus), dan Umar (Dicky Difie) sanggup menjadi scene stealer, yang kemunculannya efektif memancing tawa berkat kepiawaian cast. Belum lagi tambahan kekuatan dari beberapa cameo. 

Bagaimana dengan debut Acho di kursi penyutradaraan? Memang belum sempurna, sebab ia sendiri masih meraba-raba cara memperkuat emosi lewat pengadeganan, tanpa harus sepenuhnya bergantung pada akting pemain. Sebuah keributan besar di peralihan menuju third act, yang terasa seperti versi lebih mentah dari adegan serupa di Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini, merupakan contohnya. 

Tapi Acho juga membuktikan potensinya. Di klimaks, tatkala semua (ya, semua) pemeran utama mencurahkan seluruh emosi mereka, Acho tahu mana saja gestur-gestur yang harus ditangkap kamera. Gestur-gestur yang mewakili luapan ekspresi kasih sayang antar anggota keluarga. 

Dipimpin oleh penampilan heartbreaking Yayu Unru, klimaksnya luar biasa dalam mengaduk-aduk perasaan, salah satunya karena perspektif yang ditawarkan. Entah sudah berapa banyak film keluarga kita menjustifikasi kesalahan orang tua dengan mengatasnamakan "niat baik". Gara-Gara Warisan menolak hal tersebut. Filmnya merangkul ketidaksempurnaan. Bahwa orang tua pun bisa salah. Benar-benar salah, tanpa alasan, tanpa pembenaran. Bahwa "memohon pengampunan" bukan cuma ucapan yang patut dilontarkan anak. Ada kalanya mengakui kesalahan justru membuka lembaran baru yang penuh kehangatan.

REVIEW - JUST MOM

Just Mom beberapa kali memakai close-up untuk menangkap wajah sang protagonis. Tapi close-up terpenting adalah yang muncul pertama kali, di menit-menit awal. Saat itu, sadar atau tidak, penonton sudah dihipnotis, ditarik memasuki penjiwaan Christine Hakim bermain peran. Mata sang aktris menangkap hati kita. Sehingga, tatkala filmnya menampakkan ketidaksempurnaannya pun emosi tetap tersampaikan. Ikatan antara penonton dan karakter telah terjalin.

Christine Hakim memerankan Siti, yang tinggal bersama si putera angkat, Jalu (Toran Waibro), dan Mbak Sum (Dea Panendra) selaku asisten rumah tangga. Kondisi fisik Siti mulai melemah akibat kanker, namun baginya, penyakit fisik itu masih tak seberapa dibanding kerinduan akan kedua anaknya, Damar (Ge Pamungkas) dan Pratiwi (Niken Anjani), yang jarang pulang akibat kesibukan masing-masing.

Mungkin kerinduan itu yang mendasari keputusan Siti membawa pulang Murni (Ayushita), wanita hamil penderita gangguan jiwa yang ia temui di jalanan. Kehadiran Murni yang acap kali mengamuk memicu pro-kontra. Pratiwi menentang keras. Demikian pula Mbak Sum, meski penolakan sang ART cenderung dipakai untuk memancing tawa lewat reaksi-reaksi konyol Dea Panendra, yang sekali lagi jadi scene stealer. 

Mengadaptasi novel Ibu, Doa yang Hilang karya Bagas D. Bawono, pasti ada satu pertanyaan yang menyelimuti kepala banyak penonton Just Mom, yakni tentang pemicu kondisi mental Murni. Kenapa jiwanya terguncang?Siapa yang menghamilinya? Kenapa ia berada di jalan? Kenapa ia sangat takut kepada gunting? Tentu mudah menarik kesimpulan lewat beberapa "petunjuk", namun ketiadaan penjelasan itu bukannya kealpaan.

Ditulis oleh sang sutradara, Jeihan Angga, bersama Nadhifa Firyal dan Carine Regina, naskahnya mendefinisikan "keluarga" secara lebih luas. Bahwa keluarga bukan cuma mereka yang punya ikatan darah. Menjaga ambiguitas mengenai masa lalu Murni makin memperkuat pesannya. Serupa Siti, penonton diminta tidak memedulikan latar belakang si gadis malang, memotretnya sebagai sesama manusia yang pantas menerima kasih sayang. 

Di film bertema keluarga, meja makan kerap dipakai menggambarkan wajah sebuah keluarga, baik itu keharmonisan maupun perpecahan. Just Mom pun sama, hanya saja, komposisinya menarik. Saat tokoh-tokohnya makan bersama, praktis hanya Siti, Damar, dan Pratiwi yang sedarah. Murni entah siapa, Jalu adalah anak angkat, bahkan Mbak Sum selaku ART tidak dibiarkan makan secara terpisah. Saat itulah definisi keluarga versi Just Mom terpampang jelas.

Saya yakin banyak penonton terkejut mengetahui Jeihan Angga, yang melakoni debut layar lebarnya melalui Mekah, I'm Coming (2020), kini menggarap melodrama. Jeihan terbukti serba bisa, memiliki sensitivitas yang nampak dari pilihan shot-nya, meski kerap berlebihan memanipulasi emosi. Sedikit saja intensitas sebuah adegan meningkat, musik mengharu biru langsung ia jejalkan ke telinga penonton. Akibatnya, begitu separuh durasi berlalu, pendekatan tersebut membuat filmnya cukup melelahkan.

Tatkala Just Mom mengalami penurunan, di situlah departemen akting unjuk gigi. Tidak perlu lagi rasanya membahas detail kehebatan Christine Hakim. Segala yang ada pada dirinya berbicara. Sementara Ayushita (yang untungnya tak diberi riasan stereotipikal "orang gila") dengan "kehampaan yang tidak kosong" miliknya juga patut diberi apresiasi. 

Tapi sekali lagi, pada dasarnya Jeihan punya sensitivitas. Banyak momen yang andai tak dibarengi musik pun tetap bakal menyentuh. Misalnya, saat pasca suatu peristiwa mengejutkan (sekaligus mengerikan), Jalu, Damar, dan suami Pratiwi (Haru Sandra) menemui sang ibu. Siti duduk, berlinang air mata, sedangkan si menantu bersimpuh di hadapannya. Posisi itu, ditambah pemakaian low-angle, menekankan pada betapa ditinggikannya sosok ibu, terutama di budaya Jawa yang jadi latar film ini. Pun ending ditambah kredit penutupnya, jelas ampuh mengoyak perasaan, selaku penekanan bahwa Just Mom dibuat berdasarkan kerinduan penuh hormat kepada ibu.


(JAFF 2021)

REVIEW - MARRIAGE

Reviu ini mengandung SPOILER

Klik Film kembali merilis beberapa film Indonesia dalam satu hari. Selain Marriage, ada Pesan di Balik Awan dan Balada Sepasang Kekasih Gila. Film yang disebut terakhir hanya kuat saya tonton selama 40 menit, sebelum akhirnya sadar kalau saya bisa lebih gila daripada karakternya andai nekat meneruskan. Sedangkan Marriage, meski belum pantas disebut "solid", setidaknya masih punya sedikit kelebihan. Sekali lagi, "sedikit". 

Pernikahan Mirza dan Vika (diperankan pasutri asli, Ge Pamungkas dan Anastasia Herzigova) terancam kandas. Keduanya selalu bertengkar, menyatakan bahwa selama lima tahun bersama, tak ada satu pun momen bahagia. Bagi Vika, Mirza sangat kekanak-kanakan. Sebaliknya, Mirza tak tahan lagi dengan buruknya regulasi emosi sang istri. Mereka sepakat pisah rumah sembari mengurus proses perceraian. 

Mirza yang kembali ke rumah ibunya (Ira Wibowo), bertemu lagi dengan Dara (Lania Fira), mantan kekasihnya. Cinta lama mulai bersemi kembali. Di sisi lain, Vika bertemu Rio (Axel Matthew Thomas), yang baginya jauh lebih perhatian ketimbang si suami. Tidak sulit menebak bakal dibawa ke mana permasalahan tersebut. 

Tapi di film seperti Marriage, hal terpenting bukanlah destinasi, melainkan proses. Proses agar penonton percaya jika Mirza dan Vika pernah, bahkan masih saling mencintai, kemudian mendukung keduanya supaya rujuk. Di situ asal mula kegagalan naskah buatan Evelyn Afnilla (Keluarga Tak Kasat Mata, Surat dari Kematian, Janin). 

Sebagai individu, saya sulit mendefinisikan kelebihan masing-masing. Mirza adalah psikiater ngawur, yang diam-diam memberi antidepresan pada istrinya, lalu asal melempar diagnosis dengan menyebut kalau Vika bisa saja mengidap bipolar. Vika sendiri bersikap egois dengan mengirim surat cerai ke rumah ibu Mirza, walaupun tahu jantung mertuanya lemah. Secara individual, protagonisnya kekurangan kualitas untuk diberi simpati.

Bagaimana sebagai pasangan? Sejak menit-menit awal, keduanya sudah bersitegang. Seiring bergulirnya durasi, Marriage tak kunjung berhasil meyakinkan, bahwa ada romantisme indah di antara mereka. Sesekali kita sejenak melihat ada tawa, tapi pasangan mana yang tak pernah tertawa? Presentasinya terlalu dangkal, terlalu general untuk bisa menggambarkan betapa spesial hubungan tokoh utamanya.

"Aku kangen kamu yang dulu...kangen kita", begitu ucap Vika. Tapi seperti apa "Mirza yang dulu"? Entahlah. Pasangan ini terlalu asing. Padahal, Ge dan Anastasia tampil cukup menghibur kala bersama. Terutama Anastasia lewat lemparan komentar-komentar menggelitik bernada sarkas. Walau di momen dramatik, biarpun tidak bisa sepenuhnya disebut "buruk", kedua pemain terjebak dalam gaya klise berupa parade teriakan guna meluapkan segala emosi negatif.

Terkait elemen drama, momen terbaik Marriage jatuh pada adegan kala Mirza dan Vika duduk berdua, meneteskan air mata tanpa meraung-raung, sambil membicarakan soal perceraian yang makin dekat. Dikemas oleh penyutradaraan sensitif Danial Rifki (La Tahza, Haji Backpacker, 99 Nama Cinta), rasa sakit terpancar di sana, kala menyadari rumah tangga ini bakal segera berakhir. Mungkin juga ada penyesalan dan keinginan menata ulang, yang urung terucap karena merasa sudah terlambat. 

Sebenarnya ada potensi mengangkat perspektif unik, mengenai cekcok yang justru jadi perekat. Wajar, sebab suatu pertengkaran yang telah lama berlalu, kerap memancing romantisme yang kelak bakal dirindukan. Tapi sekali lagi, naskahnya tak melakukan eksplorasi memadai. Durasi pendek (79 menit) menekan potensi filmnya terasa membosankan, tapi juga mengurangi kesempatan mengulik temanya secara lebih jauh. Babak ketiga menjadi titik nadir naskah, termasuk konklusi yang buru-buru. Tapi kelemahan paling fatal adalah penggambaran karakter Mirza. 

(SPOILER STARTS) Akhirnya Mirza memilih rujuk, namun terkesan, ia melakukan itu bukan karena sungguh-sungguh mencintai Vika sehingga menyadari kekeliruannya, melainkan didorong kekecewaan, sebab Dara tidak seperti yang ia bayangkan. Seumpama Dara "lebih baik", apakah keputusan Mirza tetap sama? Marriage gagal membuat saya percaya bahwa itu akan terjadi. (SPOILER ENDS)


Available on KLIK FILM

REVIEW - PELUKIS HANTU

Mengikuti jejak Bene Dion Rajagukguk selaku sesama komika, Arie Kriting melakoni debut penyutradaraan melalui sebuah horor-komedi (sama-sama dibintangi Ge Pamungkas pula). Hasilnya, karya Bene Dion mungkin lebih solid, tapi Arie menggantungkan ambisi lebih tinggi. Ada luka personal dalam lingkup keluarga, ada luka kolektif dalam lingkup kenegaraan, kemanusiaan, dan sosial masyarakat. Arie, yang menulis naskahnya sendiri, menjadikan pertemuan dua alam sebagai metode penyembuh luka.

Ge memerankan Tutur, seorang pelukis muda yang setia memegang idealisme berupa kejujuran. Dia menolak berbohong soal harga serta makna lukisan, membuatnya kesulitan memperoleh uang, baik untuk memenuhi kehidupan sehari-hari, maupun pengobatan penyakit paru-paru ibunya (Aida Nurmala). Sampai datang tawaran menjadi pelukis hantu di acara televisi horor, yang kita semua tahu, memarodikan program apa.

Awalnya Tutur ragu, karena pekerjaan itu menuntutnya pura-pura bisa melihat hantu. Tapi kesehatan sang ibu yang makin memburuk, membuatnya berubah pikiran. Proses syuting pun tiba. Tutur harus melukis hantu dengan mata tertutup. Di situlah hal mengejutkan terjadi. Tutur dapat melihat hantu. Sesosok kuntilanak (Jenny Zhang), yang juga sempat menampakkan diri di depan Tutur semasa ia kecil. Dibantu Amanda (Michelle Ziudith) si blogger misteri, Tutur coba membongkar alasan di balik kemunculan sang kuntilanak, yang tanpa disangka, berkaitan dengan masa lalunya sendiri.

Salah satu pencapaian terbesar Arie adalah kejelian membagi porsi, kapan harus melucu, kapan tampil serius, dan kapan waktunya meneror. Tidak ada tumpang tindih. Masing-masing genre diberi kesempatan menunjukkan kekuatan, pun tetap terasa sebagai satu kesatuan. Dibantu jajaran komedian dengan porsi kemunculan bervariasi, Arie sanggup menghasilkan komedi yang konsisten memancing tawa. Walau kalau harus disandingkan, humornya belum sepintar Bene Dion di Ghost Writer, yang sanggup menarik kelucuan dari berbagai horror tropes.

Terkait horor, Pelukis Hantu tidak menawarkan banyak keunggulan. Riasan yang dikenakan Jenny Zhang cukup memancing rasa ngeri tiap kamera menaruh fokus di wajahnya, dan Arie berhasil menyelipkan satu jump scare yang efektif menggedor jantung berkat timing kemunculan tak terduga (clue: lukisan), tapi secara keseluruhan, teror sang kuntilanak tak jauh beda dibanding barisan horor lokal formulaik, meski tak bisa disebut buruk.

Sedangkan elemen dramanya, mempertemukan titik terbaik sekaligus terburuk milik Pelukis Hantu. Seperti saya sebutkan di paragraf pembuka, ada ambisi besar dari Arie guna menjadikan debutnya ini lebih dari sekadar hiburan ringan. Ambisi yang melibatkan cabang-cabang penceritaan dengan skala makin membesar seiring bergulirnya kisah, namun Arie memadatkannya secara paksa di paruh akhir, dalam cuplikan-cuplikan singkat yang tak cukup kuat menjalin ikatan emosi antara penonton dengan drama tersebut.

Ge, sebagai salah satu komika yang paling sering diberikan peran dramatis, sayangnya tak cukup mumpuni mengemban kompleksitas dinamika batin Tutur. Apalagi saat dituntut melakoni momen berintensitas emosi tinggi. Dia menangis. Setidaknya ekspresinya terlihat seperti itu. Tapi tidak hatinya. Ge menangis hanya untuk dirinya sendiri. Bukan agar penonton ikut merasakan gejolak serupa. Sedangkan Michelle Ziudith tak cukup diberikan ruang eksplorasi, mengingat naskahnya pun belum cukup matang mengolah penokohan Amanda.

Di balik kejenakaannya, melalui Pelukis Hantu, Arie memaknai mistisisme dari perspektif berbeda. Perihal “arwah dan orang mati” tidak berhenti di ranah menakut-nakuti semata. Ada pertemuan dan perpisahan. Ada tragedi masa lalu dan usaha bangkit demi masa depan. Sensibilitas di gagasan-gagasan tadi belum sepenuhnya muncul di penyutradaraan Arie. Tapi saya rasa ini masalah jam terbang semata. Kelak Arie akan lebih peka, tahu mesti meletakkan fokus kamera di mana, dan bagaimana membungkus detail suatu momen, agar penyaluran rasanya lebih maksimal. Saat hari itu tiba, jalannya sebagai salah satu sineas paling “berbahaya” terbuka lebar.


Available on DISNEY+ HOTSTAR

KAPAL GOYANG KAPTEN (2019)

Setelah (gagal) memancing tawa melalui pembajakan pesawat di Flight 555 tahun lalu, Raymond Handaya melahirkan sau lagi komedi seputar pembajakan transportasi, tapi kali ini, latarnya beralih dari udara ke perairan dan pulau terpencil. Perubahan itu rupanya berdampak, karena cakupan kapal dan pulau tidak sesempit pesawat, yang berarti bertambahnya hal untuk dieksplorasi. Walau tidak lebih pintar, Kapal Goyang Kapten jelas lebih lucu.

Kapal tersebut dimiliki Gomgom (Babe Cabita), pemilik usaha wisata kecil di Manado. Begitu kecil, posisi pemandu tur, sopir bus, dan kapten kapal diemban oleh Gomgom seorang, suatu kondisi yang rutin dijadikan bahan banyolan di paruh awal. Turis yang jadi kliennya sekarang adalah Tiara (Yuki Kato),  Burhan (Arief Didu) beserta istri (Asri Welas) dan puterinya (Romaria Simbolon), pasangan suami-istri Darto (Yusril) dan Salma (Naomi Papilaya), serta tiga mahasiswa Noni (Andi Anissa), Cika (Ryma Gembala) dan Agung (Ananta Rispo).

Sementara itu, pemuda kaya asal Jakarta, Daniel (Ge Pamungkas), juga baru tiba di Manado setelah kabur dari rumah guna membuktikan bahwa ia bisa hidup mandiri tanpa bergantung pada uang ayahnya (Roy Marten). Sementara waktu, Daniel menetap di rumah mantan sopir pribadinya, Cakka (Muhadkly Acho). Cakka sendiri tengah mengalami masalah berupa ketidakmampuan finansial guna mengobati penyakit sang ibu. Bersama Bertus (Mamat Alkatiri), ia berencana membajak kapal Gomgom. Walau awalnya menolak, didorong keinginan membantu Cakka, Daniel memutuskan bergabung.

Bisa ditebak, akibat aksi amatiran ditambah sisi manja Daniel, pembajakan tersebut berantakan. Alih-alih mendapat uang, mereka bertiga, bersama seluruh penumpang, justru terdampar di pulau terpencil setelah kapal kehabisan solar. Kedua belah pihak pun terpaksa mengesampingkan perbedaan, berdamai demi bertahan hidup dann mencari jalan pulang.

Humor recehnya, yang mayoritas berupa kelakar dan plesetan bodoh, tingkah laku bodoh, atau bentuk kebodohan lain, masih sama, namun ketika Flight 555 menyia-nyiakan premis dan latar uniknya, Kapal Goyang Kapten, walau belum bisa disebut maksimal, menanganinya dengan lebih baik. Setidaknya humor datang dari situasi khusus terkait kapal, survival, maupun pembajakan, daripada sekadar kekonyolan acak.

Banyolan semacam itu punya tingkat risiko kegagalan tinggi, tapi duo penulis Muhadkly Acho dan Awwe (Warkop DKI Reborn: Jangkrik Boss! Part 1 & 2) memahami itu, memilih menjadikan lelucon garing sebagai sebuah kesengajaan yang disadari. Contohnya sewaktu puteri Burhan kerap mengomentari ketidaklucuan Gomgom. Sebuah win-win solution cerdik. Bagus jika penonton menganggap lawakan Gomgom lucu, tapi jika tidak, mereka akan menertawakan kritik pedas si gadis cilik.

Kapal Goyang Kapten juga dibantu jajaran pemain yang seolah tengah on fire. Kedua penulis menggunakan polah absurd Babe hingga celetukan-celetukan Arief Didu dengan cara yang tepat, di tempat yang tepat, juga dalam dosis memadai. Tentu tidak seluruhnya mengenai sasaran, namun saya mendapati diri lebih sering tertawa daripada memasang wajah datar sambil garuk-garuk kepala.

Menyentuh pertengahan durasi, karakter baru diperkenalkan, yaitu Pak Sentot (Mathias Muchus), yang sudah terperangkan di pulau selama 10 tahun. Pak Sentot lebih terasa sebagai rip-off Chuck Noland di Cast Away ketimbang parodi dari tokoh yang dipopulerkan oleh Tom Hanks itu. Baik nasib atau tampilan fisik mereka serupa. Bahkan Pak Sentot pun berteman dengan bola voli yang diberi nama Mika (dari Mikasa) sebagaimana Chuck dan Wilson. Beruntung, totalitas sang aktor berhasil menjadikan Pak Sentot karakter menarik. Melihat Mathias Muchus bertingkah eksentrik dibalut riasan meyakinkan, menggendong bola voli layaknya puteri sendiri, merupakan hiburan tersendiri.

Kelemahan terbesar film ini adalah tiap kali menampilkan sisi serius. Meski Ge tampak berusaha sebaik mungkin menangani elemen dramatis, perjalanan Daniel membuktikan kapasitasnya, dipaparkan teramat dangkal, sehingga mustahil bersimpati kepadanya. Begitu pula benih cintanya dengan Tiara, yang dipaksa masuk. Di antara penumpang, Yuki paling vokal menyuarakan kebencian terhadap tiga pembajak, sampai tiba-tiba, hatinya berubah secara radikal dengan begitu mudah. Pun di tengah sederet individu absurd, Daniel dan Tiara selaku “sosok serius” merupakan karakter paling kurang menarik yang tak punya cukup daya guna menggoyang hati penonton.

GHOST WRITER (2019)

Apa yang lebih susah dari membuat komedi lucu? Membuat komedi lucu bertema unik seraya membangun humor sepanjang film berdasarkan tema tersebut. Debut penyutradaraan layar lebar Bene Dion Rajagukguk—sebelumnya menulis naskah dwilogi Warkop DKI Reborn: Jangkrik Boss!, Stip & Pensil, Suzzanna: Bernapas dalam Kubur—ini mampu melaksanakan tugas berat tersebut.

Sesungguhnya, dalam lingkup perfilman, konsep pertemanan atau romansa dua dunia jauh dari kesan baru. Baik vampir, monster, alien, zombie, sampai hantu, semua pernah menjalani hubungan dengan karakter manusia. Tapi Ghost Writer menyimpan kesegaran tersendiri berkat premisnya: What if your ghost writer is a real ghost?

Alkisah, Naya (Tatjana Saphira) adalah penulis yang tengah melalui masa sulit, meski membiayai hidupnya dan sang adik, Darto (Endy Arfian) selepas meninggalnya kedua orang tua. Pasca kesuksesan karya perdananya, ia belum juga menerbitkan novel baru. Alasannya, ia enggan menjual idealisme, menolak pendekatan opera sabun sebagaimana ditawarkan penerbitnya. Naya memang idealis bergengsi tinggi. Walau terhimpit urusan finansial, ia menolak bantuan kekasihnya, Vino (Deva Mahenra) dan ngotot memasukkan Darto ke sekolah bergengsi.

Itulah mengapa ia tak pikir dua kali kala menemukan rumah besar berharga murah. Sebaliknya, Darto curiga harga murah tersebut dikarenakan rumah itu angker. Naya bersikap skeptis menanggapi ketakutan Darto, namun setelah ia mengambil buku harian di loteng lalu berniat menjadikannya sebuah novel, peristiwa-peristiwa mistis mulai menimpanya. Rupanya buku itu milik hantu bernama Galih (Ge Pamungkas) yang meninggal bunuh diri di sana. Nasib tragis Galih menarik atensi penerbit, tapi si hantu menolak rencana mengangkat kisah hidupnya ke dalam novel.

Meski sempat takut, perlahan Naya mulai akrab dengan Galih, berusaha meminta persetujuannya, bahkan menawari posisi sebagai ghost writer. Serupa konsep Death Note Naya bisa melihat dan menyentuh Galih selama ia memegang buku harian tersebut. Hubungan keduanya menggemaskan, penuh kecanggungan menggelitik berkat kecerdikan naskah garapan Bene bersama Nonny Boenawan dalam mengimajinasikan interaksi kasual antara sosok hidup dan mati.

Penampilan dua pemeran utama juga banyak membantu, menghantarkan humor lewat gaya yang mencerminkan kondisi masing-masing karakter. Jika Tatjana begitu hidup, penuh semangat serta antusiasme, dan terkadang tidak tahu malu, Ge memaksimalkan metode deadpan. Kata-kata selalu meluncur dari mulut Naya, dan seringkali ucapan anehnya membuat Galih kehabisan kata. Kekontrasan-kekontrasan itu melengkapi dinamika kedua tokoh utama. Di luar lingkup Naya-Galih, naskahnya tetap konsisten melempar banyolan bertema hantu dan kematian. Contohnya melalui Abdul (Muhadkly Acho) dan Iwan (Arie Kriting), dua karyawan di kantor tempat Naya menerbitkan novelnya, yang tidak pernah jemu berdebat perihal mistis.

Selain penulisan cerdik, penyutradaraan Bene turut berjasa menambah kadar kelucuan. Mengawali karir sebagai komika membuktikan pemahaman Bene soal timing, yang nampak betul dalam caranya menyusun aliran adegan. Belum seluruhnya mulus, tapi secara umum, Bene tahu bagaimana agar saat suatu adegan berakhir, ada rasa penasaran tertinggal di benak penonton. Kita dipancing bertanya, “Kelucuan apa yang sedang menanti?”, sebelum melontarkan jawaban yang dibungkus ketepatan timing. Sayang, kebolehan serupa urung ditemukan kala ia mengarahkan situasi horor, yang mayoritas hadir medioker.

Kekurangan paling nyata dalam Ghost Writer sejatinya merupakan elemen yang kerap ditemukan pada produksi Starvision kebanyakan: Filmnya tampak murah. Misalnya riasan hantu yang kerap kurang merata. Benar bahwa Galih adalah hantu jenaka, tapi sumber kejenakaan itu tak seharusnya bersumber dari tata rias buruk. Berikutnya terkait transisi kasar antara adegan, sebuah penyakit yang bahkan gagal dihindari film-film kelas satu milik Starvision, semisal Cek Toko Sebelah.

Ghost Writer bermula ketika Ernest Prakasa (bertindak selaku produser di sini) membaca sinopsis buatan Nonny Boenawan, peserta kelas penulisan skenario yang ia adakan. Ernest langsung terpikat. Wajar saja, sebab ide Nonny memang brilian. Dan begitu sinopsis tadi berkembang menjadi film, terbukti betapa teknis murah tetap tak kuasa membendung kreativitas kaya.

SUSAH SINYAL (2017)

Apakah Ernest Prakasa kelelahan? Atau ia belum menemukan formula mengolah kisah di luar sentilan kultur Cina yang kali ini hanya muncul sekelebat sebagai balutan humor sesaat? Masih menggunakan perpaduan drama keluarga dan komedi "acak" serupa Ngenest dan Cek Toko Sebelah, kedua unsur tersebut sesekali tersampaikan, namun tak jarang luput dari sasaran, kurang mulus pula dikawinkan. Koneksi dengan penonton timbul tenggelam, kadang lancar, kadang terganggu. Sepertinya film ini tengah mengalami susah sinyal. 

Seperti kebanyakan drama serupa, hubungan berjarak antara orang tua dan anak film ini disebabkan urusan pekerjaan. Ellen (Adinia Wirasti), pengacara sukses sekaligus ibu tunggal, jarang meluangkan waktu bersama puterinya, Kiara (Aurora Ribero), yang lebih terikat dengan kehidupan media sosial dan sang nenek, Agatha (Niniek L Karim). Di suatu malam, sepulang kerja, Ellen berusaha terlibat pembicaraan tentang film favorit Kiara, Moana, tapi justru menyebut Lilo & Stitch. Nenekmu lebih tahu film yang kamu cintai daripada ibumu, yang notabene jarang memberi perhatian. Tentu menyakitkan. 
Alhasil, wajar Kiara amat terpukul saat nenek meninggal. Mengetahui itu, Ellen mengabulkan keinginan Kiara berlibur ke Sumba, sembari berharap menemukan sinyal yang terputus di antara mereka. Tapi liburan ke tempat di mana Asri Welas, Arie Kriting, Abdur Arsyad, Ge Pamungkas, sampai Chew Kin Wah yang menikahi Selfi KDI berkumpul, jelas takkan berlangsung normal. Ernest menyediakan panggung melucu seliar mungkin. Asri yang lebih kalem tetap mengocok perut kala memperagakan capoeira, pun Ge sebagai tokoh penuh trauma yang memfasilitasi gaya ekspresifnya. 

Keliaran komedi, yang acap kali tak terkait alur utama, berhasil sebagai bumbu penyedap dalam Cek Toko Sebelah. Susah Sinyal memunculkan kesan berbeda. Menulis naskahnya bersama sang istri, Meira Anastasia, Ernest bagai menabur bumbu terlalu banyak demi menutupi kekurangan di bahan pokok, alias alur yang tipis. Kelakar Arie dan Abdur misalnya. Menggelitik, namun seketika kehilangan daya bunuh sewaktu hadir berkepanjangan. Titik tertinggi komedi film ini terletak pada guyonan sekilas dengan kesempurnaan timing, seperti Asri Welas yang cenderung serius sehingga dampaknya berlipat ganda saat celotehan yang dinanti tiba, atau absurditas Dodit Mulyanto yang mengisi sesuai kebutuhan, tak dieksploitasi.
Ellen berharap perjalanan ke Sumba merekatkan hubungannya dengan Kiara. Kita menghabiskan sepertiga durasi di sana, melewati berbagai peristiwa, termasuk ketertarikan Kiara pada karyawan hotel bernama Abe (Refal Hady), sayangnya itu semua bukan quality time. Terlampau sering distraksi hadir, keduanya telah menemukan kembali sinyal yang terputus sebelum penonton sempat direnggut oleh gesekan yang terjadi. Film ini membawa karakternya ke Sumba, lalu seolah bingung mesti berbuat apa pada mereka. Aspek teknis pun gagal membantu, baik pilihan shot ala kadarnya (Ernest pernah melahirkan gambar luar biasa kuat berupa Chew Kin Wah bersandar di tiang toko kosong dalam Cek Toko Sebelah) maupun transisi kasar musik selaku cue emosi. 

Untungnya Susah Sinyal punya Adinia Wirasti, seorang aktris langka yang sanggup menyulap obrolan kasual jadi menarik. Bersama debut memikat Aurora Ribero dalam gaya sinis yang menjadikan ketakutan Ellen mendekatinya terasa masuk akal, Adinia menghembuskan nyawa, menghindarkan filmnya dari kehampaan total. Susah Sinyal is a step back. Tapi bukan kemunduran jauh, apalagi suguhan buruk. Ernest selalu belajar, dan itu membuat kepercayaan saya padanya tidak luntur. 

JOMBLO (2017)

Jomblo versi 2017 punya niat mengenalkan nama besar adaptasi novel berjudul sama buatan Adhitya Mulya pada generasi masa kini sembari tetap merangkul penggemar lama, salah satunya dengan mempertahankan Hanung Bramantyo di kursi penyutradaraan. Masalahnya, remake ini bak lupa alasan film aslinya disukai. Jomblo versi 2006 mewakili liku hidup remaja, khususnya mahasiswa yang diisi keliaran menyenangkan, dari menghisap ganja, mencoba seks, sampai merebut pacar sahabat. Poin terakhir dipertahankan, tapi secara keseluruhan lebih "jinak" (tentu empat protagonis bukan lagi perokok berat), hanya tertarik menertawakan kebodohan tingkah para jomblo mencari cinta.

Untuk sedikit melihat gambaran perbandingan dua versi, mari tengok lagu tema masing-masing. Versi lama memiliki BDG 19 OKT dengan petikan lirik "Segala yang kuberi, tak pernah berarti, berat terasa, habiskan darahku, menusuk tulangku, yang lelah" adalah nomor rock seputar curahan hati. Sedangkan remake-nya ditemani Jomblo dengan hook pada bagian "Masih betah jadi jomblo, Since Grow, Sampai kapan jadi jomblo, Since Grow" selaku hip hop nuansa modern yang lebih lugas dan playful. Intinya, didorong menyasar para milenial, Jomblo berusaha tampil (lebih) ringan yang sayangnya berujung simplifikasi kosong.
Empat tokoh utamanya masih sama, Agus (Ge Pamungkas) yang berambisi mengakhiri masa jomblo kala bertemu teman lamanya, Rita (Natasha Rizky), Bimo (Arie Kriting) yang menembak semua wanita, Doni (Richard Kyle) si playboy ganteng, dan Olip (Deva Mahenra) yang takut berkenalan dengan Asri (Aurelie Moeremans). Dari luar, kepribadian pula permasalahan tetap sama. Bedanya, walau konflik meninggi hingga mengancam jalannya persahabatan, kali ini sulit merasa terikat karena jarangnya momen kebersamaan. Benar mereka sempat nongkrong di kampus tetangga atau berlibur ke pantai bersama, tapi semua belum cukup kuat menggambarkan ikatan pertemanan. 

Agar peduli, penonton butuh keintiman, sebagaimana kala Bimo-nya Dennis Adhiswara tersenyum pilu sambil dipeluk tiga sahabatnya. Tanpanya, Jomblo begitu hampa rasa, tidak peduli berapa banyak air mata tumpah maupun seberapa keras pukulan Deva Mahenra ke pipi Richard Kyle ketika perselisihan memanas. Pun keputusan mempertahankan konklusi bittersweet turut nihil dampak. Satu-satunya perubahan positif dari naskah garapan Adhitya Mulya dan Ifan Ismail adalah menjadikan Olip bukan lagi creepy stalker, melainkan pria pemalu yang diakibatkan tekanan untuk selalu berhasil dari latarnya sebagai anak tentara. 
Sisi komedi tampil selaku penyelamat melalui sentuhan humor menghibur yang sesekali terjun ke ranah absurditas. Tapi penekanan terhadap komedi turut membawa efek negatif, yakni karakter utama yang sebatas karikatur ketimbang manusia nyata. Contohnya Ge Pamungkas. Meski ahli memainkan kekonyolan berlebihan, tapi kekonyolan itu pula yang mendorong Agus menjadi sosok komikal nan artificial belaka. Toh itu belum seberapa dibanding Richard Kyle yang bagaikan robot berperut six pack dengan pengucapan kalimat carut-marut. Deva tampil meyakinkan, sehingga patut disayangkan filmnya terlampau menyoroti Agus dan mengesampingkan Olip, padahal dialah tokoh paling kompleks.

Demi menyulut nostalgia, homage diselipkan, pun beberapa komponen film sebelumnya dipertahankan walau banyak di antaranya terkesan asal tempel. Misalnya penokohan Bimo, sebagai orang Papua yang lahir di Jogja. Mengapa tidak sekalian mengubahnya secara menyeluruh? Pilihan ini nihil substansi, tidak dipakai sebagai sumber humor, tidak pula disinggung lagi di kemudian waktu. Jomblo begitu berhasrat menjadi berbeda sampai kehilangan semangat aslinya, tetapi ingin juga mencuri perhatian penggemar lama tanpa memahami sisi yang mereka kagumi atau aspek mana yang perlu disertakan. Dalam usahanya merenggut atensi remaja milenial, Jomblo rupanya serupa sederet dari mereka yang mengalami krisis identitas.

MARS MET VENUS - PART COWO (2017)

Keputusan membagi Mars Met Venus menjadi dua bagian jelas berisiko. Masing-masing film harus mewakili tiap sisi guna menghadirkan perspektif berlainan namun saling melengkapi. Ibarat puzzle, Part Cewe dan Part Cowo mesti bisa menyatu menghasilkan gambaran besar utuh mengenai hubungan dua tokoh utama. Hasil akhirnya campur aduk. Serupa pendahulunya, Part Cowo amat menghibur, tapi menegaskan bahwa proses saling mengisi yang terjadi justru berbentuk tambal sulam. Walau kelemahan Part Cewe seputar dinamika mampu diperbaiki, Part Cowo bagai filler yang menyelip masuk di sela-sela kecil kisah, meninggalkan mayoritas gejolak substansial di film pertama.

Serupa Part Cewe, Part Cowo pun disusun berdasarkan stereotip mengenai gender, dan sebagaimana kita tahu, cowok dikenal atas kebodohan mereka (kami). Itulah mengapa kali ini komedi jauh lebih kental. Berbeda dengan sahabat-sahabat Mila (Pamela Bowie) yang menanggapi curahannya lewat saran, sahabat Kelvin (Ge Pamungkas) adalah apa yang bakal orang-orang definisikan sebagai "idiot". Tidak ada situasi berlalu tanpa tingkah konyol maupun komentar bernada mesum. Fokus pun condong ke komedi, yang akhirnya jadi pembeda urusan dinamika. Kala Part Cewe berisi pertengkaran beruntun nan melelahkan, Part Cowo lebih santai, di mana kebanyakan konflik adalah situasi menggelikan daripada perang urat syaraf. 
Masuk akal mengingat Kelvin memandang kemarahan Mila dengan penuh kebingungan layaknya cowok yang selalu clueless terhadap kekesalan sang kekasih. Dan menyelami sisi cowok seolah memberi kesempatan pada sutradara Hadrah Daeng Ratu bersama penulis naskah Nataya Bagya untuk meluapkan hasrat menggila. "Boys are stupid" jadi kunci. Semisal, alih-alih berkata "ciee selamat ya" tatkala seorang teman berhasil jadian, mereka memilih berbuat konyol seperti tampak dalam salah satu adegan terlucu di film Indonesia tahun ini (let's call it "jangan berantem" scene) yang kemampuan memancing tawanya setingkat momen "sate padang" kepunyaan Part Cewe. 

Tapi ide Nataya atau kemasan absurd Hadrah mungkin urung seefektif itu andai tanpa jajaran cast mumpuni. Keempat personil Cameo Project membuat tokoh pendukung tim Mars jauh lebih menarik dibandingkan tim Venus. Karena telah lama bersama, jalinan chemistry berupa lempar-tangkap lelucon berjalan mulus. Masing-masing memiliki ciri khas. Tingkah "kotor" Bobby (Ibob Tarigan), Martin (Martin Anugrah) yang kerap asal bicara, Steve (Steve Pattinama) dengan wajah sangar tapi hati "lembut", sampai Reza (Reza Nangin) yang paling bijak meski tak kalah bodoh. Sedangkan Ge Pamungkas masih ahli berekspresi. Sebagaimana "sate padang", lelucon "mie" takkan maksimal tanpa pembawaan ekspresifnya. Bahkan di sini Ge membuktikan punya jangkauan cukup baik menangani situasi dramatik. 
Apakah Part Cowo sanggup mewakili perspektif para Mars? Ada detail menarik terkait itu. Mila di Part Cewe mungkin terasa berlebihan, tetapi karena kita terus mengikutinya, sedikit menyelami isi hatinya, sikapnya bisa dimaklumi. Berbeda dengan Mila di sini yang begitu menyebalkan. Bukan kesalahan karakterisasi, melainkan kesengajaan selaku usaha membawa penonton sepenuhnya ada di posisi Kelvin. Kita hanya tahu apa yang Kelvin tahu, sementara Mila jadi sosok asing di luar sana, berperan sebagai faktor eksternal pemicu masalah. Poin ini termasuk satu lagi keunggulan Part Cowo. Berbeda dengan film pertama yang meski menyoroti Mila dan kawan-kawan masih menjadikan Kelvin tokoh dominan hingga kurang pas disebut Part Cewe.

Seperti sudah disinggung di atas, Part Cowo bak filler bagi keseluruhan cerita. Memang ada beberapa peristiwa tambahan yang belum muncul di Part Cewe karena merupakan perspektif Kelvin seorang, namun tidak lebih dari peristiwa selingan, sebutlah soal apa yang terjadi sebelum Kelvin datang meminta nomor Mila. Sisanya, selaku garis besar cerita, sudah kita lihat di Part Cewe. Bahkan deretan konflik penting langsung masuk ke inti persoalan  tanpa pembangunan terlebih dulu. Bertujuan menghindari repetisi bagi penonton yang telah menonton Part Cewe, keputusan itu berpotensi membingungkan bagi yang belum. Padahal "film paket" semacam ini mestinya dapat dinikmati secara terpisah. Alhasil sulit menghilangkan pemikiran bahwa Mars Met Venus akan lebih baik andai dilebur sebagai satu film. Di samping itu, Part Cowo tetap luar biasa lucu, pun sempat terasa manis. Jika pada Part Cewe ada pemberian bunga diiringi Dulu Kini Nanti yang dibawakan Citra Scholastika, kali ini versi Adis Putra menemani momen pameran foto yang tak kalah menyentuh. 


Review film ini juga tersedia di: http://tz.ucweb.com/8_wEBN

MARS MET VENUS - PART CEWE (2017)

Cewek selalu benar, cowok selalu salah. Cewek menghabiskan waktu berjam-jam berdandan dan memilih baju sebelum pergi, cowok asal mandi dan bersiap secepat kilat. Beragam stereotype gender yang lekat pada dinamika pacaran generasi milenial tersebut merupakan basis Mars Met Venus yang dibagi jadi dua bagian, Part Cewe dan Part Cowo yang menyusul rilis 3 Agustus nanti. Ini bukan satir cerdas. Bukan pula eksplorasi mendalam, yang bahkan membuat teori John Gray sang penulis Men Are from Mars, Women Are from Venus  which is very stereotypical  terkesan kokoh. Ini semata-mata media bagi penonton remaja menertawakan lika-liku romantika mereka sendiri. 

Kelvin (Ge Pamungkas) dan Mila (Pamela Bowie) akhirnya memutuskan siap lanjut ke jenjang berikutnya setelah berpacaran lima tahun. Untuk itu, dibuatlah video pre-wedding di mana keduanya mengisahkan hubungan selama ini, mencurahkan isi perasaan masing-masing. Seiring Kelvin dan Mila bercerita, penonton sesekali dibawa mundur ke belakang, menyaksikan dari awal tumbuhnya benih cinta mereka. Namun proses itu justru memancing konflik demi konflik akibat perbedaan pola pikir, dari hal kecil macam lupa akan momen pertemuan pertama hingga hal serius yang mengancam kelangsungan hubungan. Seperti judulnya, kita lebih dulu dibawa masuk ke dunia Mila yang mayoritas diwakili curhatan pada dua sahabatnya, Icha (Ria Ricis) dan Malia (Rani Ramadhany).
Konsep berupa ironi sewaktu keraguan justru timbul di tengah niat mempererat ikatan sejatinya potensial. Sebab dari situ penelusuran menarik soal cinta dua sejoli dapat tersaji. Tentu saya tak berharap tuturan pintar, tetapi ketimbang narasi propernaskah Nataya Bagya (3 Dara, 7/24) menjadikan momen pembuatan video tak ubahnya checklist untuk tiap stereotip yang ujungnya memancing pertengkaran repetitif. Polanya sama: Kelvin dan Mila bermesraan, berbeda pendapat, salah satu marah (biasanya Mila), menutup hari dengan kekacauan. Apalagi tiada pembagian intensitas. Seluruh pertengkaran bagai puncak konflik. Hasilnya melelahkan. 

Bicara penokohan, Kelvin dan Mila sebatas karikatur terhadap gambaran masing-masing gender. Toh tujuannya memang demikian. Eksistensi dua protagonis ini "hanya" selaku representasi "kekhasan" cewek dan cowok. Amat stereotipikal, tapi jangan lupa, stereotip ibarat asap yang takkan muncul tanpa api. Artinya, sangat mungkin penonton merasa terwakili oleh (meski tak semua) banyak poin. Potensi merasa terikat oleh rangkaian peristiwanya cukup besar baik pada penonton pria maupun wanita. Anda bakal tersenyum, mengangguk-angguk karena pernah mengalami hal serupa, entah kegembiaraan tiada tara kala pertama berboncengan, tegang luar biasa merangkai kata ungkapan cinta, atau membaca kepribadian pujaan hati lewat zodiak. 
Deretan peristiwa di atas dikemas jenaka, dan komedi adalah keunggulan terbesar Mars Met Venus. Pamela Bowie melucu bersenjatakan tingkah manja yang seringkali menggemaskan sembari ditopang totalitas berekspresi. Ketika bahagia ia tak segan menari-nari bagai hilang akal, sebaliknya tatkala dikuasai amarah, teriakan bertubi-tubi terlontar. Ketepatan performa Pamela menjaga Mila  yang super posesif dan sensitif  tetap mudah disukai. Sedangkan Ge Pamungkas tak ubahnya perwujudan laku konyol lelaki saat dibuat frustrasi masalah cinta. Ekspresi berlebihan yang menggelikan (in a good way) ditambah celetukan-celetukan lucu yang sepertinya hasil improvisasi cerdik sungguh menguras tawa. Adegan "sate padang" merupakan comic gold yang takkan sebegitu efektif andai tanpa kesempurnaan timing dan respon Ge. 

Seperti telah disinggung, Mars Met Venus lemah seputar narasi yang rawan mempengaruhi fase dramatik. Untungnya walaupun tidak didukung pondasi mumpuni, sutradara Hadrah Daeng Ratu (Super Didi, Heat Beat) paham betul cara merangkai nuansa manis. Contoh terbaik sewaktu Mila mengenang hadiah pemberian Kelvin. Dihiasi mawar merah dan kejutan-kejutan, Hadrah Daeng Ratu menghidupkan imajinasi manis mengenai kenangan berharga bersama sosok tercinta yang menjadi jembatan solid supaya dampak emosi konklusinya tersampaikan. Iringan lagu Dulu, Kini, Nanti milik Citra Scholastika pun ikut menguatkan. Film ini memang kisah cinta generasi milenial yang bisa saja konfliknya dianggap tidak penting dan lebay. Namun lebay juga berarti lebih. Lebih ekspresif, lebih bergelora, lebih menyenangkan. Dan Mars Met Venus (Part Cewe) sangat menyenangkan.


Ulasan film ini juga bisa dibaca di: http://tz.ucweb.com/7_1KBVV

COMIC 8: CASINO KINGS PART 2 (2016)

Saya bukan penggemar franchise buatan Anggy Umbara ini. Baik Comic 8 maupun Casino Kings Part 1 sama-sama gagal memaksimalkan potensi kehadiran banyak komika kelas wahid guna memberi sajian komedi mengocok perut. Permasalahan terbesar ada pada keengganan franchise ini mengakui kebodohannya dan tetap berusaha keras tampil sekeren juga secerdas mungkin menghantarkan alur penuh intrik. Karena itulah menjelang perilisan Casino Kings Part 2, saya tidak lagi menyimpan harapan terlampau besar. Memang begini gaya Anggy Umbara, memang seperti ini wajah franchise-nya. Hingga tanpa diduga filmnya justru cukup memuaskan, bahkan menjadi yang terbaik di antara ketiga film Comic 8.

Melanjutkan kisah film sebelumnya, Casino Kings Part 2 tidak banyak berbasa-basi, langsung membawa penonton terjun ke tengah medan aksi. Bukan saja terjebak di tengah hutan, kedelapan komika masih harus menghadapi para pemburu yang diperankan oleh aktor-aktor senior tanah air (kecuali Sacha Stevenson dan Soleh Solihun). Sementara itu Indro dan Cynthia (Prisia Nasution) mendapat serangan dari anak buah The King (Sophia Latjuba). The King sendiri mulai mengungkap identitas sebenarnya pada Dr. Pandji (Pandji Pragiwaksono). Sebagaimana kasus lain di mana chapter akhir sebuah franchise dipecah ke dalam dua bagian, Casino Kings Part 2 memang didominasi aksi klimaks dan sedikit meminggirkan alur, yang justru merupakan nilai positif.
Menengok dua film sebelumnya, naskah karya Fajar Umbara dan Anggy Umbara memang terlalu berambisi menggabungkan segunung konflik berisi konspirasi penuh twist dengan hanya satu tujuan: mengejutkan penonton tanpa peduli masuk akal atau tidak. Sesungguhnya bukan masalah andai filmnya memang sengaja dikemas bodoh layaknya b-movie kebanyakan. Namun Comic 8 jelas ingin tampak keren dan dianggap serius. Pada Casino Kings Part 2 meski aspek tersebut masih muncul, fokus lebih condong ke arah aksi, yang mana merupakan keunggulan Anggy Umbara ('3' sudah jadi bukti). Sesungguhnya ini hal kecil karena tidak terdapat perbedaan signifikan pada cara penghantaran film ini dengan pendahulunya. Masih penuh sesak oleh lens flare, efek CGI kasar (untuk buaya dan naga), serta slow motion. Walau harus diakui departemen artistik khususnya setting dan kostum masih memanjakan mata.
Hal kecil itu jadi berpengaruh besar tatkala alurnya dinomorduakan. Minim intrik, Casino Kings Part 2 menjelma seutuhnya sebagai b-movie bodoh nan menyenangkan. Karena bagai film kelas b, saya bisa memaafkan buruknya CGI atau kejutan konyol semisal pengungkapan identitas asli dari The King. Kekonyolan itu justru menjadi kekuatan. Termasuk ketika filmnya membuat Prisia Nasution, Hannah Al-Rashid dan Sophia Latjuba sebagai femme fatale sekaligus eye candy. Sentuhan komedi juga tidak dipaksakan hadir setiap saat. Sibuk dengan action, lelucon sekedar muncul sesekali, memberi waktu bagi penonton untuk bernafas sejenak. Kekuatan komedi masih belum mencapai puncak potensi (referensi The Raid sudah ketinggalan jaman) dan makin minimnya eksplorasi karakter tambah mengaburkan ciri khas tiap komika, tapi setidaknya lebih banyak tawa berhasil dihadirkan.

Is it a good movie? Sebenarnya tidak. Masih terdapat beberapa kekurangan yang lagi-lagi berada di seputaran terlalu banyaknya konflik serta karakter coba dilebur menjadi satu. Apabila anda menantikan aksi Barry Prima, Willy Dozan atau Yayan Ruhian mungkin bakal kecewa karena begitu minimnya porsi mereka. Konklusi yang ditawarkan juga masih terasa dipaksakan supaya cepat usai (sekaligus mengejutkan). Tapi sungguh hiburan memuaskan di tengah minimnya blockbuster dalam industri perfilman Indonesia. Saya masih tetap beranggapan gaya dari Anggy Umbara lebih efektif bila diterapkan dalam film pure action macam '3', namun melihat bagaimana ending film ini, tidak bisa dipungkiri saya akan tetap dengan senang hati menantikan sekuel demi sekuel dari Comic 8


Ticket Powered by: ID Film Critics