MARS MET VENUS - PART COWO (2017)

17 komentar
Keputusan membagi Mars Met Venus menjadi dua bagian jelas berisiko. Masing-masing film harus mewakili tiap sisi guna menghadirkan perspektif berlainan namun saling melengkapi. Ibarat puzzle, Part Cewe dan Part Cowo mesti bisa menyatu menghasilkan gambaran besar utuh mengenai hubungan dua tokoh utama. Hasil akhirnya campur aduk. Serupa pendahulunya, Part Cowo amat menghibur, tapi menegaskan bahwa proses saling mengisi yang terjadi justru berbentuk tambal sulam. Walau kelemahan Part Cewe seputar dinamika mampu diperbaiki, Part Cowo bagai filler yang menyelip masuk di sela-sela kecil kisah, meninggalkan mayoritas gejolak substansial di film pertama.

Serupa Part Cewe, Part Cowo pun disusun berdasarkan stereotip mengenai gender, dan sebagaimana kita tahu, cowok dikenal atas kebodohan mereka (kami). Itulah mengapa kali ini komedi jauh lebih kental. Berbeda dengan sahabat-sahabat Mila (Pamela Bowie) yang menanggapi curahannya lewat saran, sahabat Kelvin (Ge Pamungkas) adalah apa yang bakal orang-orang definisikan sebagai "idiot". Tidak ada situasi berlalu tanpa tingkah konyol maupun komentar bernada mesum. Fokus pun condong ke komedi, yang akhirnya jadi pembeda urusan dinamika. Kala Part Cewe berisi pertengkaran beruntun nan melelahkan, Part Cowo lebih santai, di mana kebanyakan konflik adalah situasi menggelikan daripada perang urat syaraf. 
Masuk akal mengingat Kelvin memandang kemarahan Mila dengan penuh kebingungan layaknya cowok yang selalu clueless terhadap kekesalan sang kekasih. Dan menyelami sisi cowok seolah memberi kesempatan pada sutradara Hadrah Daeng Ratu bersama penulis naskah Nataya Bagya untuk meluapkan hasrat menggila. "Boys are stupid" jadi kunci. Semisal, alih-alih berkata "ciee selamat ya" tatkala seorang teman berhasil jadian, mereka memilih berbuat konyol seperti tampak dalam salah satu adegan terlucu di film Indonesia tahun ini (let's call it "jangan berantem" scene) yang kemampuan memancing tawanya setingkat momen "sate padang" kepunyaan Part Cewe. 

Tapi ide Nataya atau kemasan absurd Hadrah mungkin urung seefektif itu andai tanpa jajaran cast mumpuni. Keempat personil Cameo Project membuat tokoh pendukung tim Mars jauh lebih menarik dibandingkan tim Venus. Karena telah lama bersama, jalinan chemistry berupa lempar-tangkap lelucon berjalan mulus. Masing-masing memiliki ciri khas. Tingkah "kotor" Bobby (Ibob Tarigan), Martin (Martin Anugrah) yang kerap asal bicara, Steve (Steve Pattinama) dengan wajah sangar tapi hati "lembut", sampai Reza (Reza Nangin) yang paling bijak meski tak kalah bodoh. Sedangkan Ge Pamungkas masih ahli berekspresi. Sebagaimana "sate padang", lelucon "mie" takkan maksimal tanpa pembawaan ekspresifnya. Bahkan di sini Ge membuktikan punya jangkauan cukup baik menangani situasi dramatik. 
Apakah Part Cowo sanggup mewakili perspektif para Mars? Ada detail menarik terkait itu. Mila di Part Cewe mungkin terasa berlebihan, tetapi karena kita terus mengikutinya, sedikit menyelami isi hatinya, sikapnya bisa dimaklumi. Berbeda dengan Mila di sini yang begitu menyebalkan. Bukan kesalahan karakterisasi, melainkan kesengajaan selaku usaha membawa penonton sepenuhnya ada di posisi Kelvin. Kita hanya tahu apa yang Kelvin tahu, sementara Mila jadi sosok asing di luar sana, berperan sebagai faktor eksternal pemicu masalah. Poin ini termasuk satu lagi keunggulan Part Cowo. Berbeda dengan film pertama yang meski menyoroti Mila dan kawan-kawan masih menjadikan Kelvin tokoh dominan hingga kurang pas disebut Part Cewe.

Seperti sudah disinggung di atas, Part Cowo bak filler bagi keseluruhan cerita. Memang ada beberapa peristiwa tambahan yang belum muncul di Part Cewe karena merupakan perspektif Kelvin seorang, namun tidak lebih dari peristiwa selingan, sebutlah soal apa yang terjadi sebelum Kelvin datang meminta nomor Mila. Sisanya, selaku garis besar cerita, sudah kita lihat di Part Cewe. Bahkan deretan konflik penting langsung masuk ke inti persoalan  tanpa pembangunan terlebih dulu. Bertujuan menghindari repetisi bagi penonton yang telah menonton Part Cewe, keputusan itu berpotensi membingungkan bagi yang belum. Padahal "film paket" semacam ini mestinya dapat dinikmati secara terpisah. Alhasil sulit menghilangkan pemikiran bahwa Mars Met Venus akan lebih baik andai dilebur sebagai satu film. Di samping itu, Part Cowo tetap luar biasa lucu, pun sempat terasa manis. Jika pada Part Cewe ada pemberian bunga diiringi Dulu Kini Nanti yang dibawakan Citra Scholastika, kali ini versi Adis Putra menemani momen pameran foto yang tak kalah menyentuh. 


Review film ini juga tersedia di: http://tz.ucweb.com/8_wEBN

17 komentar :

  1. Kenapa ya film MNC raihan penontonya ga sebanyak Scr*enplay??

    BalasHapus
  2. Faktor cast, bro. Setiap film screenplay pasti yang main cast2 yang sedang diidolai para target penontonnya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya juga sih, saya juga suka sih sama castnya yang masih dedek dedek gemesh. Tapi sayangnya ceitanya kayak pengen kelihatan dewasa tapi justru malah semakin kekanakkan. Ga semua film scre*nplay gitu sih cuma almost seperti itu. Jadi saya pukul rata aja haha :)

      Hapus
    2. Sebenernya memang semua film Screenplay gitu kok. Kartini, Jailangkung & Headshot agak beda karena bareng sama Legacy & Infinite :)

      Hapus
    3. Nah 3 itu sebenernya pengecualian karena beda sutradara dan penulis kalu ya.. Btw Promise sama ILY bareng Legacy juga ya?

      Hapus
    4. Yap 2 itu bareng Legacy. Dan kalau dilihat lagi Screenplay malah termasuk PH yang filmnya lumayan beragam. Romance remaja, drama, action, horror, ada semua.

      Hapus
    5. Yap.. beruntung juga mereka lahir saat film Indonesia sudah punya kepercayaan penuh dari penontonnya.. :)

      Hapus
  3. Entah kenapa baik part cewe ataupun cowo saya lebih bersimpati ke Kelvin ya? #TeamMars

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama. Faktor kedekatan sebagai sesama cowok mungkin :)

      Hapus
  4. film komedi Indonesia lagi rame para komika yang main....

    BalasHapus
    Balasan
    1. Begitulah, walau nggak semua berhasil, kemampuan improvisasi mereka disukai filmmaker

      Hapus
  5. Ketinggalan nonton part cewek nya, pgn nonton part cowok tp kok katanya bakal membingungkan diikuti secara terpisah, hmmm. Beneran bakal bingung ya ?

    Btw, nge review film Berangkat engga nih ?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Rawan tersesat atau kurang ngena di beberapa konflik, tapi soal komedi masih fun & lucu.
      Berangkat terlanjur kelewatan

      Hapus
    2. iya di XXI sini Berangkat juga ga tayang

      Review Rafatar ga Mas Rasyid ? 😄😄

      Hapus
    3. Ini lagi ditulis :D

      Hapus
  6. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  7. Anonim11:03 AM

    Pamela bowie-nya imutnya over dosis

    BalasHapus