HOAX (2018)

17 komentar

Hoax sejatinya telah diputar di Jogja-NETPAC Asian Film Festival 2012, kemudian melanglang buana ke beragam festival internasional sepanjang tahun berikutnya. Saat itu judulnya masih Rumah dan Musim Hujan. Enam tahun berselang, akhirnya film ini rilis di bioskop komersil tanah air setelah berganti judul serta beberapa kru termasuk editor dan penata musik. Perubahan yang sepertinya bertujuan agar filmnya lebih mudah diakses penonton luas. Menurut yang telah menonton versi Rumah dan Musim Hujan (saya belum), Ifa Isfansyah selaku sutradara sekaligus penulis membagi alur menjadi tiga segmen terpisah.

Sementara dalam Hoax gaya narasi interwoven di mana tiap kisah hadir saling bergantian dipakai. Melihat porsi masing-masing karakter, ini keputusan tepat, sebab kualitas antar segmen kurang berimbang. Ketika pengalaman Adhek (Tara Basro) begitu mencekam, pergolakan Ragil (Vino G Bastian) tampil lemah, miskin eksplorasi, pula tak solutif. Menyatukannya membuat ketiga cerita saling melengkapi, menyokong satu sama lain, meski menimbulkan permasalahan baru terkait lompatan tone. Tujuan awal Ifa memang merangkai tiga cerita dengan warna dan genre berbeda.
Hoax dibuka oleh keceriaan buka puasa sekeluarga berkat permainan yang Bapak (Landung Simatupang) bawa dari Korea. Ifa sendiri pernah bersekolah film di Korea. Seusai buka bersama baru kita dihadapkan pada rahasia para tokoh. Ragil yang tinggal bersama Bapak menyimpan fakta di balik kealiman yang mengungguli sang bapak yang menganut kejawen. Bapak menonton televisi, Ragil sudah siap berangkat solat. Bapak bermain wayang, Ragil membaca Al Qur’an. Kakaknya, Raga (Tora Sudiro), gemar berganti pacar dan kali ini giliran Sukma (Aulia Sarah) yang dibawa. Persoalan cinta pelik pun telah menanti. Sedangkan Adhek yang tinggal bersama Ibu (Jajang C Noer) mengalami peristiwa mistis sesampainya di rumah.

“Siapa yang Bohong?”. Demikian tagline film ini. Pertanyaan yang kita sendiri kerap lontarkan di tengah maraknya hoax bertebaran. Ambiguitas informasi mengenai ilmu pengetahuan, isu sosial, seksualitas, sampai agama ditampilkan Ifa, membuat Hoax terasa relevan bagi kondisi sekarang. Sayang, berbagai persoalan di atas belum cukup mencengkeram, terpampang bak sampul semata tanpa mengindahkan dilema batin maupun gesekan sosial, khususnya terkait Ragil yang permasalahannya terkesan disederhanakan. Sebagai bingkai kondisi masyarakat Indonesia, Hoax cuma bermain di permukaan, tetapi sebagai penjaga tensi, penelusuran akan rahasia para tokohnya mampu menjaga dinamika.  
Mengambil alih penyuntingan gambar dari Eddie Cahyono dan Greg Arya, Sentot Sahid berpadu dengan penyutradaraan Ifa memainkan intensitas melalui presisi gerak adegan. Banyak momen diakhiri oleh cliffhanger dan kejutan pemancing rasa penasaran. Eksperimen Ifa untuk membedakan pondasi genre tiap segmen pun menghasilkan alur yang acap kali mengecoh ekspektasi. Berbeda dengan Pesantren Impian, di sini Ifa piawai meramu atmosfer menegangkan melalui permainan tempo serta bahasa visual. Sebuah adegan yang memperlihatkan Ibu sedang solat menjadi puncak intensitas Hoax. Tentu ini tak terlepas dari akting Jajang C Noer. Gestur dan cara bicaranya mengundang kengerian di tengah rumah temaram tatkala identitas jadi hal yang dipertanyakan dan kebenaran nyaris mustahil dipastikan. 

Pemain lain berakting solid sesuai porsi. Khusus untuk Tora, ia mengingatkan kita akan kapasitasnya yang tak terbatas sebagai komedian, pula mampu menjalani lakon serius. Jadi siapa yang bohong? Untungnya Hoax tidak mencoba menjawab gamblang pertanyaan itu, sebab misteri terbaik adalah yang tidak seutuhnya terungkap. Demikian juga soal situasi dewasa ini, bukankah makin sulit menebak siapa penyebar kebohongan, siapa pembawa kebenaran? Ifa memilih setia terhadap realita tersebut demi menjaga relevansi karyanya di samping sebagai drama-thriller yang hadir menegangkan secara konsisten.

17 komentar :

Comment Page:
Ahmad Nizam mengatakan...

Film ghost gak di review ya masm

Anonim mengatakan...

Baru nonton semalem dan di bioskop cm 9 org (kerasa bgt sdkt horor yg bag scene Ade sama ibunya), overall bagus mnrt saya lebih pada campuran genre yg disajikan beserta mitosnya, dan saya paling suka adegan penutupnya plus lagu penutup :)

Rasyidharry mengatakan...

@Ahmad Nggak lah, buang duit dan bikin pusing aja :)

@Anonim Bener, penutupnya itu pas merangkum tema "hoax yang diangkat

Anonim mengatakan...

adegan penutup maksudnya apa ya.. yg mana yg bena2 ibu,

Panca Sona mengatakan...


Saya belum nonton film ini, tapi ada alasan/pnedapat tersendiri gak sih kenapa pengambilan gambar dibuat agak gelap?

Ghost tidak di review? Berarti syirik juga ga di review ya? Padahal kangen sama review2 absurdnya mas rasyid haha..

Rasyidharry mengatakan...

@anonim Emang nggak pernah dijelasin, multiinterpretasi. Bisa emang kembaran ibu atau cuma tara basro yang stress

@panca buat segmen tara emang ada alasab di ceritanya.

Ah, penonton kita udah pinter sekarang,nggak akan nonton film gituan kecuali kebanyakan duit atau terpaksa diajak temen haha

Pramudya Jayawiguna mengatakan...

Dan katanya durasi film buat festival sama buat komersil beda ya, Mas ? Kata Vino sih adegan Ragil sama "pacarnya" dipotong. Emang sih keliatan scene-nya cepet banget.

Rasyidharry mengatakan...

Gimana lagi, daripada ambil resiko dibantai sama orang-orang bego haha

Anonim mengatakan...

Bagus film yg cuma ngambil waktu ngak sampai satu malam, memang film yg buat kita mikir siapa yg bohong, film yg bikin mau nnton 2x buat mikir lagi. Tapi ngak bakal sempat baru sehari jadwal tayang udah dipangkas

Pramudya Jayawiguna mengatakan...

@Mas Rasyid Hahaha (((orang-orang bego))). Biarpun itu film tahun 2012 tapi tetep relate pesan moralnya di tahun 2018. Mantap.

Rasyidharry mengatakan...

@Pramudya Sengaja itu, versi 'Hoax' emang diedit biar lebih relevan ke masa sekarang. Kalau versi 'Rumah dan Musim Hujan' mungkin beda lagi. Kata yang nonton semua, dua versi ini beda banget.

Kus Edi mengatakan...

Ifa Isfansyah jenius.. pemilihan cast juga berhasil.
3 jenis katarsis yg berbeda sy dapatkan semua.
Membaca detail mas Rasyid membuat sy lebih memahami esensi film.
Ending-nya memang.. WOW!
Rate sy ☆☆☆☆☆

Rasyidharry mengatakan...

@Kus Hehe akhirnya Ifa bisa menebus kejelekan Pesantren Impian di drama/thriller ya

Okiyadi Greg mengatakan...

Adegan2 Ade dgn 2 Ibu yang menurut saya paling bagus, mencekam tapi endingnya jg paling n'gantung,suka suka penonton penafsiran, sampai penonton sebelah saya komen "bikin bingung nii endingnya" nah lho gak bijak juga kan penonton yg udah beli tiket dibuat bingung, wk wk wk. ya ending di meja makan itu sebenarnya mau jelasin apa sih selain suasana dingin, gelap, berbanding terbalik dengan adegan meja makan di opening , mungkin Mas Rasyid bisa bantu kasih sedikit pencerahan?? Matur suwun.

Rasyidharry mengatakan...

Ah nggak apa, yang nggak bijak itu kalau penonton udah beli tiket eeeh kualitas filmnya sampah haha.
Adegan terakhirnya itu bisa dimaknai beragam. Di konteks drama keluarga, ya soal gimana selalu ada rahasia di dalam keluarga, dan kondisi di mana sebuah keluarga "bersama tapi tidak bersatu". Makan bareng tetep jalan, tapi apa mereka saling ngerti satu sama lain? Nope. Kalau konteks satir sosial ya balik lagi ke "apa sih yang terjadi setelah orang-orang menyebar hoax"

Okiyadi Greg mengatakan...

Symbolik ya, sekaligus miris, ending yg gak biasa ya perlu legowo buat nerimo. Makasih mas Rasyid

Sandra Psp mengatakan...

Saya suka film ini..
Bikin gemash sendiri dengan alurnya.
Kekurangannya mungkin ganti tone tiap karakter yah,seperti naik roller coaster yg naik,lurus turun.