REVIEW - OMA THE DEMONIC
Mengapa jika dibanding genre lain horor kita terkesan stagnan? Pertama karena horor merupakan ladang uang yang bisa mendatangkan untung dengan biaya minim. Fakta yang oleh para pembuat kerap diterjemahkan sebagai "Kalau jelek saja laku kenapa harus bagus?". Kedua, horor bagus memerlukan orang yang bukan cuma "sering menonton", tapi benar-benar passionate terhadap genrenya. Maka tidak heran ketika Joko Anwar dan Timo Tjahjanto selaku horror aficionado berdiri di garis depan.
Joel Fadly nampaknya bukan horror aficionado. Menyaksikan Oma the Demonic, maupun karya sebelumnya, Nightmare Side: Delusional (2019), saya bahkan ragu ia gemar mengulik horor. Tapi ada satu kengerian yang saya rasakan selama menonton. Bukan karena konten filmnya, melainkan dari fakta bahwa ada sineas yang menganggap ini horor bagus. Mendapati industri kita diisi orang-orang seperti itu amatlah mengerikan.
Fiona (Karina Nadila) sering mendapat penglihatan tentang sosok wanita yang menyuruhnya mendatangi rumah Oma (Jajang C. Noer). Fiona belakangan ini jarang berkomunikasi dengan Oma, walau semasa kecil sering menghabiskan waktu bersamanya. Ditemani dua temannya, Luna (Syahra Larez) dan Jeff (Bobby Rizky), ia memutuskan mengunjungi Oma, tanpa tahu misteri mematikan telah menunggu di rumahnya.
Nenek dikenal sebagai figur penyayang dalam keluarga, dan karena itulah sosoknya kerap jadi sumber teror film horor. Bagaimana kalau di balik kebaikannya tersimpan rahasia kelam? Jajang C. Noer cocok memerankan karakter semacam itu, yang mengubah senyum hangat jadi kejanggalan. Sedangkan di beberapa titik, Karina Nadila membuktikan pantas diberi materi yang lebih mumpuni, walau bakat terbesarnya tetaplah di suguhan komedi.
That's it. Cuma mereka saja (sedikit) nilai positif Oma the Demonic. Ketika lima menit sekali filmnya berusaha menakut-nakuti (tentu saja gagal), menggunakan green screen untuk adegan yang seharusnya bisa diambil secara langsung di lokasi, lalu menampilkan monster CGI yang bagai hasil kawin silang antara babi hutan dengan Blanka dari gim Street Fighter yang dibakar sampai gosong, saya langsung sadar sudah menghamburkan uang 35 ribu rupiah.
Salah satu jenis penonton bioskop yang paling saya benci adalah "mas-mas mulut besar otak kerdil". Spesies laki-laki yang agar dianggap pintar oleh pacarnya, terus bicara selama pemutaran, melempar "kritik" dengan nada sok tahu. Kalau menemui spesies macam itu, biasanya akan saya lempari uang receh. Tapi kali ini saya memilih diam. Selain alasan "bulan puasa", sia-sia rasanya membuang tenaga untuk Oma the Demonic. Penonton lain pun tidak mengeluh. Karena mereka sadar sedang jadi saksi sebuah bencana.
Pilihan shot ngawur yang gagal memahami "kenapa sebuah adegan film horor terasa mengerikan", timing berantakan di segala lini (kapan musik masuk, kapan reaction shot diselipkan, bagaimana urutannya, dll.), hingga desain hantu yang bak mengambil inspirasi dari riasan gembel di prank Atta Halilintar, semua bisa ditemukan di sini. Oma the Demonic adalah horor di mana ketimbang mantera atau ritual, karakternya melempar barang guna melawan hantu. Ingin saya berkata, "Mbak, beliau itu hantu, bukan maling". Daripada memakai kekuatan supernatural, si hantu pun malah kelihatan enjoy.
Naskah buatan Anang Pangestu tidak kalah mengenaskan. Kekacauan timeline menghasilkan kerumitan tak perlu di alur, sementara beberapa poin cerita dimasukkan secara tiba-tiba (termasuk soal ibu Fiona, yang diperankan Diah Permatasari dalam cameo menggelikan) tanpa eksplorasi atau dampak emosi.
Sudah pasti ada twist di penghujung durasi. Twist yang memfasilitasi munculnya dialog ajaib antara dua arwah penasaran, saat sama-sama kaget melihat mata mereka berubah warna jadi putih. Tercium semerbak aroma kebusukan sinema.
REVIEW - JAKARTA VS EVERYBODY
Seksualitas, kisah seputar narkoba yang tidak digiring ke ranah iklan layanan masyarakat atau tearjerker, Jefri Nichol tampil bukan sebagai sosok "bad-but-good boy". Poin-poin tersebut rasanya bakal membuat Jakarta vs Everybody banyak menerima label "berani" dan "berbeda". Keberaniannya memang harus diakui, tetapi karya terbaru sutradara Ertanto Robby Soediskam ini sesungguhnya termasuk suguhan tipikal.
Tipikal sebuah film yang berkeinginan tampil liar, dengan mendesain sang protagonis sebagai individu dengan hidup yang sejauh mungkin menjauhi moralitas, sembari menyelipkan beberapa "adegan panas". Jakarta vs Everybody terlalu sibuk berusaha tampil liar, sampai lupa untuk tampil dalam.
Dom (Jefri Nichol) tengah merasakan kerasnya merantau di ibu kota. Mimpinya menjadi aktor selalu menemui tembok penghalang, dari proses kurang menyenangkan sebagai figuran, hingga casting director nakal. Di tengah keputusasaan, ia bertemu Radit (Ganindra Bimo) dan Pinkan (Wulan Guritno), sepasang kekasih sekaligus bandar narkoba. Demi bertahan hidup, Dom memutuskan bergabung sebagai kurir.
Alur Jakarta vs Everybody didominasi keseharian Dom, yang memakai talenta keaktorannya, memerankan beragam sosok untuk memuluskan aksi. Menyaksikan Dom bermain peran (baca: menyamar), dari sebatas mengenakan seragam kurir pizza hingga bertransformasi jadi waria, lalu mengaplikasikan ilmu "cara mengantar dan menyembunyikan narkoba", adalah pemandangan menarik.
Alih-alih di depan kamera, Dom menerapkan bakat aktingnya di dunia gelap. Terselip ironi, namun naskah buatan Ertanto (berdasarkan cerita buah pikirnya bersama Jefri) lalai membukakan pintu menuju ruang intim karakternya. Jika ngin membangun paralel antara "Dom si aktor" dan "Dom si kurir narkoba", dinamika psikis yang ia lewati di tiap transformasi, pula pertentangan batinnya, perlu dieksplorasi. Jakarta vs Everybody terlalu dangkal memandang konsep akting. Apa yang diperlihatkan di sini tak ubahnya cosplay semata.
Alhasil di beberapa titik filmnya terasa repetitif. Dom menyamar, menaruh narkoba, mengamati si konsumen, selesai. Setidaknya, berkat permainan tempo apik dari sang sutradara, visual berhiaskan warna-warna cantik, pula ditambah selipan humor, film ini tak pernah membosankan sepanjang kurang lebih 101 menit durasinya.
Gerakannya cepat. Terlebih kala departemen penyuntingan menampilkan lompatan-lompatan kasar antar adegan. Bukan kekurangan, melainkan kesengajaan guna mewakili keliaran kisahnya, juga upaya menghidupkan wajah ibu kota yang selalu bergulir kencang seolah tak terkendali.
Jakarta vs Everybody beruntung diisi jajaran cast mumpuni. Ganindra Bimo, Wulan Guritno, pula Jajang C. Noer sebagai Ratih si pengurus apartemen, tampil solid sesuai porsi masing-masing. Sedangkan Jefri menegaskan kelebihan terbesarnya, yang sesungguhnya telah sang aktor kerap perlihatkan, yakni kenaturalan. Serupa Reza Rahadian hanya saja dengan gaya jauh berbeda, Jefri jagonya mempertahankan realisme dalam situasi kasual, sembari melahirkan chemistry alami dengan siapa pun lawan mainnya.
Lalu ada Dea Panendra sebagai Khansa si perias mayat sekaligus salah satu pelanggan Dom. Di antara semua karakter, Khansa, yang memasang foto-foto mayat hasil riasannya di kamar, paling memancing keinginan untuk mengenal lebih jauh. Apalagi Dea kembali unjuk gigi sebagai scene stealer (urusan sensualitas, dia juga yang tampil paling berani di sini). "Alah jembut stereotype" bakal jadi kandidat quote of the year berkatnya.
Sayangnya, meski mempunyai deretan pemain handal, naskah Ertanto Robby Soediskam masih diganggu kelemahan layaknya Ave Maryam (2018), yaitu dorongan memasukkan kalimat bijak nan puitis, tanpa memperhatikan apakah kalimat tersebut terlontar dari mulut orang yang tepat. Misal saat Radit membicarakan perihal konsep realita dan waktu, atau celetukan Khansa mengenai hidup dan mati. Bukan soal gagasan, tapi pilihan diksi yang tak sesuai dengan penokohan keduanya.
Begitulah Jakarta vs Everybody. Ada kalanya menghibur, bersinar, namun tak jarang terjatuh ke dalam lubang-lubang kekurangan. Mungkin filmnya terlalu jauh meresapi nyawa ibu kota, di mana memperoleh segala hal baik sesuai kemauan tanpa direcoki keburukan merupakan kemustahilan.
(Bioskop Online)

.jpeg)









