GONJIAM: HAUNTED ASYLUM (2018)

22 komentar
Saya sudah merasa cukup dengan horor found footage yang menggembar-gemborkan “less is more”. Didasari gagasan bahwa manusia lebih takut pada hal yang tak nampak, penonton dibiarkan berlama-lama menyaksikan ketiadaan, sebelum penantian itu berusaha ditebus oleh klimaks singkat. Dari situ, judul-judul macam The Blair Witch Project (1999) sampai Paranormal Activity (2007) tercipta, yang mana merupakan bentuk filmmaking kreatif, tapi bukan horor menyeramkan, setidaknya bagi penakut seperti saya. Tapi dalam Gonjiam: Haunted Asylum yang berlokasi di salah satu dari “7 tempat terangker” versi CNN, kekosongan terasa mencekam, sementara keheningan memancarkan ketidakamanan. Di satu sisi ini tentang rasa takut akan sesuatu tak terlihat, namun di sisi lain, juga soal rasa takut terhadap hal aneh yang dapat kita lihat.

Gonjiam: Haunted Asylum diisi pemuda-pemudi yang terobsesi meraup jutaan penonton di YouTube, memperoleh uang, juga gemar menguji nyali. Saya benci golongan yang disebut terakhir, karena saya tahu, segala sikap sok jago serta keberanian yang membuncah bakal seketika terhempas begitu para hantu mulai menampakkan diri. Menyenangkan kala filmnya menyajikan hal serupa, menghukum deretan karakternya yang nekat melakukan siaran langsung dari Rumah Sakit Jiwa Gonjiam demi menangkap peristiwa mistis sekaligus mengungkap misteri di dalamnya. Konon, seluruh pasien di sana tewas serentak, sementara sang direktur rumah sakit menghilang. Beragam konspirasi merebak, dari pembunuhan massal oleh sang direktur, sampai eksperimen rahasia pemerintah kepada manusia.
Skenario garapan Jung Bum-shik (juga sutradara) dan Park Sang-min urung memberi banyak porsi untuk eksplorasi misteri Gonjiam, membiarkan segalanya tersimpan di kegelapan. Alurnya sederhana, memakai formula standar found footage yang makan waktu sebelum mengungkap atraksi utama. Tapi momen sebelum karakternya melangkahkan kaki ke rumah sangkit angker itu tidak berjalan membosankan. Jajaran pemain tak memberi akting mendalam (dan memang tidak dituntut demikian), namun mereka tampak meyakinkan dalam bersenang-senang, menularkan perasaan serupa pada penonton, sebagaimana rasa takut berhasil ditularkan juga berkat akting tepat. Nihil penokohan mendalam, sebagai gantinya kita diberi tokoh-tokoh menarik, khususnya para wanita: A-yeon (Oh A-yeon) yang polos, Charlotte (Moon Ye-won) yang ceria nan glamor, Ji-hyun (Park Ji-hyun) yang antusias.

Begitu karakternya memasuki lokasi, siaran langsung dimulai. Filmnya dikemas dengan format serupa, sehingga di banyak kesempatan, kita berada di posisi penonton kanal YouTube Horror Times milik Ha-joon (Wi Ha-joon). Pun format tersebut turut memberi jalan Gonjiam: Haunted Asylum mengulur waktu menggunakan tayangan ulang yang beberapa kali mengiringi siaran langsung. Dengan demikian durasi dapat dihabiskan dan kekosongan alur bisa ditambal tanpa kesan dipaksakan. Untungnya Gonjiam: Haunted Asylum enggan semata bergantung pada trik tersebut. Senjata utama yang mampu dimaksimalkan Jung Bum-shik adalah atmosfer mencekam Rumah Sakit Gonjiam. Gelap, berantakan, memiliki begitu banyak sudut bagi para hantu untuk bersembunyi, tersebar begitu banyak benda untuk mereka “permainkan” guna menebar teror.
Keheningannya menyesakkan, alih-alih melelahkan, seperti dicontohkan tatkala kamera CCTV menyorot satu per satu ruangan rumah sakit. Sepi, kosong, tanpa satu pun penampakan makhluk halus. Biar demikian, kecemasan luar biasa mampu dihadirkan. Kecemasan yang didasari prasangka penonton yang “menanti” para hantu menampakkan wujud mereka. Sekalinya penampakan itu terjadi, Bum-shik mampu mengemasnya dengan efektif, cenderung mengerikan ketimbang mengejutkan. Sang sutradara paham betul, bagian mana dari hantu yang perlu diperlihatkan, dari sudut sebelah mana dan gerakan kamera seperti apa. Kemampuan yang akan menggiring kita menuju parade teror kelas wahid dalam 30 menit terakhir.

Pemandangan paling mengerikan dalam Gonjiam: Haunted Asylum, bahkan di film horor mana pun sepanjang tahun ini hadir pada setengah jam terakhir. Pemandangan yang bagai gabungan The Blair Witch Project (mengkreasi ulang momen paling ikonik di situ) dan Keramat (2009). Kalau anda sudah menonton found footage karya Monty Tiwa itu, tentu akan ingat sosok misterius yang bergerak lewat cara yang aneh. Charlotte dan Ji-hyun jadi karakter yang terlibat dalam teror yang alih-alih terasa selaku hasil rekayasa teknologi film, justru mencuatkan kesan mistis dan tidak beres yang natural. Singkatnya, mengerikan. Begitu mengerikan sampai semua yang hadir setelahnya, meski digarap solid, tak pernah mencapai tingkatan setara. Sajian menyeramkan dengan konklusi tragis yang tak hanya sulit dilupakan, pula memberi tamparan telak bagi kultur populer masa kini.

22 komentar :

Comment Page:
Rayhan Ihsan Nasution mengatakan...

Ditunggu review Lima nya bos

Aliando Bae mengatakan...

30menit terakhirnya memang menyeramkan tapi tdk menghilangkan kebosanan di 1 jam pertama nya.

Ungki Haeri mengatakan...

Adegan A-yeon kesurupan begitu creepy, apalagi pas liat sorot matanya, lebih menakutkan daripada melihat mantan pamer pacar baru, hihi.

Rasyidharry mengatakan...

@Aliando Sejam pertama Gonjiam ini jauh lebih bagus daripada kebanyakan found footage horor sih, at least atmosfernya kuat banget dan interaksi karakternya asyik.

@Ungki Oh itu bangsat. Terus disusul bapak-bapak topless, makin bangsat.

danu pagus mengatakan...

bagus reviewnya

Badminton Battlezone mengatakan...

Spoiler
Bagian paling sakit pas penonton ngira smuanya itu cuman rekayasa *sad*. Hahhaha.

Oya bang,apakah yg di film itu bener2 syuting di tempat aslinya atau hanya rekayasa doank ya tempatnya?

Aliando Bae mengatakan...

Tapi kok bagi saya bosanin ya pas 1 jam pertamanya apalagi sosok menyeramkan nya gak menampakan diri.

Rasyidharry mengatakan...

@danu Thanks :)

@Badminton Yes, mana views ternyata cuma 500-an.

Nggak dong, nggak boleh. Lagian mana berani, ntar filmnya kejadian beneran haha. Itu di Natonal Maritime High School yang di-set ulang biar mirip Gonjiam.

@Aliando Beda treatment, kalo keluar dari awal jadinya horor fun, let's say macam Conjuring. Buat saya, kecuali adegan Charlotte & Ji-Hyun, Gonjiam ini malah lebih serem pas hantu nggak nongol. Begitu nongol ya seru, tapi nggak serem.

Unknown mengatakan...

Mas Rasyid gk nge-review film Steven soderbergh terbaru "Unsane" ?

Rasyidharry mengatakan...

@Unknown Nope, sekarang kan udah nggak review film yang nggak tayang di bioskop. Tapi udah nonton. Lumayan oke. Macam film Hitchcock tapi kemasan b-movie murah.

Isma Wati mengatakan...

Satu jam pertama emang masih aman, tp setengah jam terakhir jarak 2 meter dari laptop :v

Badminton Battlezone mengatakan...

Apalagi pas matanya jadi item terus "kwzqjzxz....jywijszzz...sswssws" wkwkwkwkwk

Gary Lucas mengatakan...

Itu di ending pnontonnya emg cuman 500 ato dari banyak udah turun gara"pada ngira rekayasa, gagal paham sama endingnya

Rasyidharry mengatakan...

@Gary Dari awal cuma 500an, nggak pernah sampai sejuta.

Badminton Battlezone mengatakan...

Menurut saya bisa sampe 1jt itu yg mainin ghostnya sih (soalnya scene yg fliker trus didukung pas ending gambar ghostnya bisa hidup trus hilang).sengaja ngerjain orang2 yg lagi hunting...itu menurut saya ya.ga tau bener ga

Rasyidharry mengatakan...

@Badminton Nah betul, like I sais, ending-nya tragis. Gimana nggak? Mati konyol cuma buat ditonton 500an orang 😁

Lusiana Tawaang mengatakan...

Awalnya ngeliat sinopsis agak skeptis juga sama jalan ceritanya soalnya punya benang merah seperti film teen horror pada umumnya, tapi abis ngeliat review ini wajib masukkin film gonjiam ke waiting list movie 2018.
Kalau boleh gue bilang mas rasyid untuk horror korea sebenarnya punya potensi bagus ya kalau digarap di tangan yang tepat.

Rasyidharry mengatakan...

@Lusiana Jelas. Horor asia potensi buat serem jauh lebih gede dari Hollywood. Ada faktor kultur juga, lebih nggak skeptis sama hal mistis, lebih dekat ke kehidupan sehari-hari.

Puja Damayani mengatakan...

Kesel sama kelakuan 7 anak muda ini, haha hihi ketentengan di awal film, menyebalkan hahaha terus paruh kedua film udah mulai seru, kesurupannya bikin bergidik, serem.

Saya Masih bingung sama viewer yang cuma 500an, kok pas dilihat hampir 1 juta,itu apa dipikiran mereka atau gimana? terus bagian akhir sumpah serem gila, mana nonton malam Idul Fitri, hahaha 30 menit jauhin jarak dari laptop, karena nonton unduhan hihihi

Rasyidharry mengatakan...

@Puja ya itu jebakan hantunya,manipulasi jumlah viewers.

Puja Damayani mengatakan...

Hantu jaman now melek gadget ternyata, film model gini mengingatkan sama The Blair Witch Project, sekumpulan anak muda melakukan penelusuran tempat angker terus ujung-ujungnya tewas.

Akting pemerannya lumayan berhasil juga, saya kesal setengah mati, terus pas mereka diteror penghuni rumkit lega rasanya, hahaha

Unknown mengatakan...

Itu yang endingnya, yg salah satu di kursi..trus ada yg di sekali dalam ruangan, apa itu temen"nya ?