Tampilkan postingan dengan label Jung Bum-shik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Jung Bum-shik. Tampilkan semua postingan
GONJIAM: HAUNTED ASYLUM (2018)
Rasyidharry
Saya sudah merasa cukup dengan horor found footage yang menggembar-gemborkan “less is more”. Didasari gagasan bahwa manusia lebih takut pada hal
yang tak nampak, penonton dibiarkan berlama-lama menyaksikan ketiadaan, sebelum
penantian itu berusaha ditebus oleh klimaks singkat. Dari situ, judul-judul
macam The Blair Witch Project (1999) sampai
Paranormal Activity (2007) tercipta,
yang mana merupakan bentuk filmmaking
kreatif, tapi bukan horor menyeramkan, setidaknya bagi penakut seperti saya.
Tapi dalam Gonjiam: Haunted Asylum
yang berlokasi di salah satu dari “7 tempat terangker” versi CNN, kekosongan
terasa mencekam, sementara keheningan memancarkan ketidakamanan. Di satu sisi
ini tentang rasa takut akan sesuatu tak terlihat, namun di sisi lain, juga soal
rasa takut terhadap hal aneh yang dapat kita lihat.
Gonjiam: Haunted Asylum
diisi pemuda-pemudi
yang terobsesi meraup jutaan penonton di YouTube, memperoleh uang, juga gemar menguji
nyali. Saya benci golongan yang disebut terakhir, karena saya tahu, segala
sikap sok jago serta keberanian yang membuncah bakal seketika terhempas begitu
para hantu mulai menampakkan diri. Menyenangkan kala filmnya menyajikan hal
serupa, menghukum deretan karakternya yang nekat melakukan siaran langsung dari
Rumah Sakit Jiwa Gonjiam demi menangkap peristiwa mistis sekaligus mengungkap
misteri di dalamnya. Konon, seluruh pasien di sana tewas serentak, sementara
sang direktur rumah sakit menghilang. Beragam konspirasi merebak, dari
pembunuhan massal oleh sang direktur, sampai eksperimen rahasia pemerintah
kepada manusia.
Skenario garapan Jung Bum-shik (juga sutradara) dan Park
Sang-min urung memberi banyak porsi untuk eksplorasi misteri Gonjiam,
membiarkan segalanya tersimpan di kegelapan. Alurnya sederhana, memakai formula
standar found footage yang makan
waktu sebelum mengungkap atraksi utama. Tapi momen sebelum karakternya
melangkahkan kaki ke rumah sangkit angker itu tidak berjalan membosankan. Jajaran
pemain tak memberi akting mendalam (dan memang tidak dituntut demikian), namun
mereka tampak meyakinkan dalam bersenang-senang, menularkan perasaan serupa
pada penonton, sebagaimana rasa takut berhasil ditularkan juga berkat akting
tepat. Nihil penokohan mendalam, sebagai gantinya kita diberi tokoh-tokoh
menarik, khususnya para wanita: A-yeon (Oh A-yeon) yang polos, Charlotte (Moon
Ye-won) yang ceria nan glamor, Ji-hyun (Park Ji-hyun) yang antusias.
Begitu karakternya memasuki lokasi, siaran langsung dimulai. Filmnya dikemas dengan format serupa, sehingga di banyak kesempatan, kita berada di posisi penonton kanal YouTube Horror Times milik Ha-joon (Wi Ha-joon). Pun format tersebut turut
memberi jalan Gonjiam: Haunted Asylum mengulur
waktu menggunakan tayangan ulang yang beberapa kali mengiringi siaran langsung. Dengan demikian durasi dapat dihabiskan dan kekosongan alur bisa
ditambal tanpa kesan dipaksakan. Untungnya Gonjiam:
Haunted Asylum enggan semata bergantung pada trik tersebut. Senjata
utama yang mampu dimaksimalkan Jung Bum-shik adalah atmosfer mencekam Rumah
Sakit Gonjiam. Gelap, berantakan, memiliki begitu banyak sudut bagi para hantu
untuk bersembunyi, tersebar begitu banyak benda untuk mereka “permainkan” guna
menebar teror.
Keheningannya menyesakkan, alih-alih melelahkan,
seperti dicontohkan tatkala kamera CCTV menyorot satu per satu ruangan rumah
sakit. Sepi, kosong, tanpa satu pun penampakan makhluk halus. Biar demikian,
kecemasan luar biasa mampu dihadirkan. Kecemasan yang didasari prasangka
penonton yang “menanti” para hantu menampakkan wujud mereka. Sekalinya penampakan
itu terjadi, Bum-shik mampu mengemasnya dengan efektif, cenderung mengerikan
ketimbang mengejutkan. Sang sutradara paham betul, bagian mana dari hantu yang
perlu diperlihatkan, dari sudut sebelah mana dan gerakan kamera seperti apa. Kemampuan
yang akan menggiring kita menuju parade teror kelas wahid dalam 30 menit
terakhir.
Pemandangan paling mengerikan dalam Gonjiam: Haunted Asylum, bahkan di film horor mana pun sepanjang
tahun ini hadir pada setengah jam terakhir. Pemandangan yang bagai gabungan The Blair Witch Project (mengkreasi
ulang momen paling ikonik di situ) dan Keramat
(2009). Kalau anda sudah menonton found
footage karya Monty Tiwa itu, tentu akan ingat sosok misterius yang
bergerak lewat cara yang aneh. Charlotte dan Ji-hyun jadi karakter yang
terlibat dalam teror yang alih-alih terasa selaku hasil rekayasa teknologi
film, justru mencuatkan kesan mistis dan tidak beres yang natural. Singkatnya,
mengerikan. Begitu mengerikan sampai semua yang hadir setelahnya, meski digarap
solid, tak pernah mencapai tingkatan setara. Sajian menyeramkan dengan konklusi tragis yang tak hanya sulit dilupakan, pula memberi tamparan telak bagi kultur populer masa kini.
Mei 31, 2018
Bagus
,
horror
,
Jung Bum-shik
,
Korean Movie
,
Moon Ye-won
,
Oh A-yeon
,
Park Ji-hyun
,
Park Sang-min
,
Wi Ha-joon
Langganan:
Postingan
(
Atom
)



