ANT-MAN AND THE WASP (2018)

31 komentar
Dilihat melalui kacamata mana pun, Ant-Man and the Wasp adalah film keluarga. Semata bertujuan menghibur, bernuansa ringan, dan pastinya, berkisah mengenai keluarga. Rasanya bagai sedang menyaksikan tontonan Minggu pagi yang semakin seru bila dinikmati bersama seisi rumah. Pendekatan ini dibutuhkan selaku jeda pasca segala kedahsyatan Avengers: Infinity War, pun supaya film-film serupa (baca: bersakal besar) produksi Marvel tetap menjadi suatu hal spesial, sebuah puncak, sebuah “event” alih-alih rutinitas. Walau bagi saya, Ant-Man (2015) sendiri adalah sajian spesial.

Alasannya tak lain unsur keluarga. Scott Lang (Paul Rudd) bersedia mengenakan kostum buatan Hank Pym (Michael Douglas) “hanya” demi sang puteri, Cassie (Abby Ryder Fortson). Bukan perkara menyelamatkan dunia. Sedangkan Hank sendiri mengalami rekonsiliasi dengan puterinya, Hope (Evangeline Lilly). Pada sekuelnya, elemen itu dipertahankan. Ant-Man and the Wasp adalah soal menyatukan kembali sebuah keluarga pasca puluhan tahun, dan kini Scott berada di tengah, membantu mewujudkannya. Bukan reuni keluarga biasa saja, sebab ketiganya beruaha menyelamatkan Janet (Michelle Pfeiffer), istri Hank dan ibunda Hope dari quantum realm.

Sesederhana itu. Skalanya kecil, urung melebar dari satu kota, tanpa kehancuran dunia, tanpa penjahat megalomania. Bahkan Ghost (Hannah John-Kamen), sosok misterius yang mampu menembus benda padat, bukan tipikal villain biasa dalam film pahlawan super. Sewaktu villain kebanyakan berambisi memusnahkan kehidupan, Ghost justru ingin mengembalikan kehidupan. Ya, salah satu pembeda bila dibandingkan dengan “film Minggu pagi”, selain tentunya production value yang jauh lebih mewah, yaitu ketiadaan “hitam-putih” pada penokohan. Hank seperti biasa masih pria tua pemarah nan egois, sementara pihak-pihak yang berseberangan pun tidak seutuhnya keliru. Semua soal perbedaan kepentingan. Tapi jangan pula berharap penggalian terkait gesekan serta karakter secara kompleks. Film ini bukan tempatnya.

Mungkin anda akan bertanya, “Bagaimana perabotan dalam laboratorium yang disusutkan itu tidak hancur berantakan setelah dilempar ke sana kemari?”, atau “Mengapa salah satu karakter begitu cepat berubah sikap?”, atau “Kenapa resolusi untuk konflik villain-nya sedemikian mudah?”. Semua itu sempat terbersit di pikiran saya. Tapi kita perlu menjadi layaknya Scott. Dia enggan ambil pusing meski kesulitan memahami tetek bengek sains yang meluncur bertubi-tubi dari mulut Hank, Hope, dan Bill Foster (Laurence Fishburne)—di mana filmnya juga tidak berusaha membuat penonton mengerti—dan memilih menikmati petualangan di hadapannya.

Petualangannya menyenangkan diikuti dan kapasitas sutradara Peyton Reed menggiring penonton menuju kesenagan tak perlu diragukan, walau seperti mayoritas sekuel, kesan segar milik pendahulunya sudah memudar karena di kesempatan kedua, unsur-unsurnya bukan lagi hal baru. Contohnya quantum realm, yang tetap dibungkus visual imajinatif dalam sinematografi buatan Dante Spinotti (X-Men: The Last Stand, Hercules), namun takkan membuat kita terpana lagi oleh vibe surealnya. Sama dengan deretan sekuen aksi menarik yang menampilkan ragam perubahan ukuran ekstrim pada benda-benda hingga kemampuan Ghost menembus hampir semua hal termasuk tubuh manusia. 

Begitu pun urusan komedi, sebab setelah kemunculan James Gunn kemudian disusul Taika Waititi di MCU, semua lelucon bakal terasa “normal”. Biar demikian tawa masih efektif dipancing, entah tatkala Paul Rudd unjuk gigi menangani humor gender swap, atau daur ulang cerdik terhadap momen paling berkesan kepunyaan Luis (Michael Peña) dari film pertama tanpa perlu menjadi repetitif. Tapi sesuai dengan statusnya sebagai film pertama MCU yang mencantumkan nama pahlawan super wanita di judulnya, Ant-Man and the Wasp punya kesearan dalam bentuk lain, yaitu tatkala tiga pemeran wanita sanggup mencuri perhatian.

Evangeline Lilly memamerkan ketenangan sekaligus ketangguhannya yang membuat sosok Hope tampak begitu menikmati berada di medan pertarungan. Lalu si bocah 10 tahun, Abby Ryder Fortson, yang mulus menghidupkan Cassie sebagai gadis cilik lucu, menggemaskan, nan pintar. Apabila memperhatikan beberapa ucapannya plus rumor terkait casting, tidak berlebihan rasanya berasumsi bahwa Ant-Man and the Wasp memberi sekelumit petunjuk soal peran Cassie di film keempat Avengers tahun depan. Terakhir ada Michelle Pfeiffer, yang meskipun total penampilannya tidak melebihi 5 menit, aktris 60 tahun (yang nampak 20 tahun lebih muda) ini menunjukkan satu kekuatan yang makin jarang dimiliki pelakon Hollywood sekarang: pesona bintang. Suatu ketika, Kevin Feige berkata, “...in a room full of movie stars, Michelle Pfeiffer rises to the top.”, dan saya mengamini itu.

Apakah film ini menyenangkan? Ya. Spesial? Tidak. Bahkan bukan termasuk salah satu installment teratas MCU. Tapi tanpa hiburan ringan macam Ant-Man and the Wasp, yang saya yakin oleh banyak kalangan akan dipandang sebelah mata dan dianggap selingan, “event movie” alias film bersifat kulminasi niscaya kehilangan gereget. Tatkala satu per satu studio dengan ambisi membangun shared universe tumbang akibat kebingungan, Ant-Man and the Wasp jadi contoh kejelian Feige dan timnya menyusun struktur penceritaan dinamis. Hanya saja, cerita itu bukan mengalir selama 2 jam durasi, melainkan satu dekade lebih.

31 komentar :

Comment Page:
Totti Fausta mengatakan...

yahh kok jadi ragu mau nonton yaaa.. pdahal sy kira bakal jadi film fun/seru kyak deadpool gitu. dan di rotten tomatoes jg 86%.

Anonim mengatakan...

Setelah nonton film ini, gue makin jatuh cinta sama Evangeline Lilly ;D

Chan Hadinata mengatakan...

katanya ada mid credit scene yg mana yah mas??
Betul sih kata mas rasyid.. bahkan villainnya yah gitu doank
Emang filmnya totally pure buat fun/rileks diantara gempuran "epic" film marvel lainnya

A-Bye mengatakan...

Mid credit scene nya membuka kembali luka lama :o

Panca Sona mengatakan...

Ant Man & The Wasp wajib dan perlu ditonton. ya walaupun sebagai bisa dikatakan hanya jd selingan Avenger tapi fans MCU pasti jg jadi penasaran sama mid dan post credit yg berharap terkait dengan infinity war.
Nonton ah malam ini :)

Anonim mengatakan...

Yang terbersit di pikiran juga kok ga ada yang menyadari, minimal warga yang melihat dr. Hank menyusutkan lab nya di tengah kota.
Oh iya, saran saya ga usah nunggu post-creditnya, nonton mid-credit nya aja, hehe..

Rasyidharry mengatakan...

@Totti Loh itu dari reviewnya apalagi kalo bukan fun & seru? 😅 Dan jangan disamai sama Deadpool, gayanya jauh banget

@Chan Yang referensi ke IW itu mid. Wets, nggak bilang villain-nya gitu doang yak. Malah menarik, karena bukan villain kayak biasanya.

@A-bye Ya, kayak lagi nongkrong sama temen lalu dia ngomong "nih mantan lo udah jadian lagi"

@Panca Yes, tetep hiburan yang sangat layak, karena nggak semua film harus kayak Infinity War.

Billy Simamora mengatakan...

Yes filmnya menghibur, dan memang terlihat sebatas 'selingan'.. Tapi sebagai orang yang ngikutin MCU, tetap wajib ngikutin film ini..

Gw ngerasa Wasp lebih benderang sinarnya dibanding Ant-Man sendiri.. Kayaknya film solo Wasp bukan hal yang musatahil ya?

Fokus film ini emang seputar cara membawa Janet dari Quantum Realm.. Tapi pas udah masuk credit scene pertama, wowwwww....

(Credit scene paling akhir gausah ditungguin, ga penting -_-)

Rasyidharry mengatakan...

@Billy Film solo Wasp nggak mustahil, tapi kemungkinannya kecil. Mid-credit scene kasih alasan kenapa peluangnya kecil (Marvel tetep lebih memeberatkan Ant-Man ketimbang Wasp). Well, yang kedua itu credit scene paling jelek dari Marvel, ngalahin Irona Man 3. Bukan cuma nggak penting, tapi udah nongol di trailer.

Ilham Ramadhan mengatakan...

[SPOILER ALERT!]

sedikit diskusi dan pertanyaan mas rasyid,
1. waktu ant man ke 2 ini apakah sama dengan waktu IW terjadi? misal ant man lg rebut2an lab, terus IW sedang berlangsung?

2. alasan ant man tidak ada di infinity war, apa karena handphone scott lang dihancurkan dia sendiri atau ada alasan lain? soalnya yang tampak di saya cuma karena handphone sih. kalau merujuk ke mid scene, sepertinya itu sudah di akhir IW terjadi.

Anonim mengatakan...

@Ilham Ramadhan
Kalau mau teori lebih lanjut, tongkrongin Official Thread MCU Kaskus gan.

Rasyidharry mengatakan...

@Ilham
1. Sebelumnya. Karena jangka waktu IW kan sebenernya pendek banget. Dari Stark & Strange ketemu sampai ending nggak sampai sehari. Jadi seluruh plot Ant-Man and the Wasp & credit scene-nya itu jarak beberapa waktu.

2. Belum dijelasin, tapi karena Hawkeye juga nggak ada, kemungkinan Avengers emang nggak mau ngontak mereka yang pilih "pensiun" dan fokus ke keluarga. Dan balik ke IW yang jangka waktunya pendek, ya nggak ada yang kepikiran buat rekrut Ant-Man.

Satria Wibawa mengatakan...

Untuk urusan drama komedi ringan mah peyton reed ga usah diragukan lagi sih.Udah terlanjur cinta sama bring it on nya dia

Ilham Ramadhan mengatakan...

@anonim : thanks infonya, tp lg gk main kaskus lagi gan hehe :D

@mas rasyid : iya juga ya. masuk akal. apalagi ant man berhari2, dn gk ada kepanikan besar seperti di IW yg terlihat selama film ant man 2 ini.

kirain ada yg terlewat dari yg saya tonton. soalnya memang salah satu alasan itu yg dicari.

ok thank you infonya, mas :)

Totti Fausta mengatakan...

ohh gituu, jadi penyampaian humor nya beda jauh ya? dan aku liat deadpool khusus D17+. jadi film ini lebih ringan ya hehe

M Riefqi mengatakan...

Seneng liat film sjperhero berani bda di villain nya. Biasanya kan villain tu ngancam kota dan memberi kehancuran..lah ini cuma mw sembuh
Makin jatuh cinta sama Mbak Eva
Kedua tokoh utama ini makin tua makin rupawan setuju gak bang?

Fun, renyah, kocak dan kekeluargaannya mantap
Hbis dibikin terpukau dg IW yg lumayan agak serius, dpt selingan fun yg nyaman gini
4/5

Rasyidharry mengatakan...

@Totti beda 180 derajat. Deadpool meta jokes dewasa, kalo ini family friendly.

@Riefqi Nah itu dia. Ghost itu ada kemiripan sama Thanos, tujuan utamanya menyelamatkan nyawa tapi buat mencapai itu harus menghilangkan nyawa.

Kurang kalo 2, soalnya Pfeiffer juga makin cakep dan kelihatan muda 😁

Anonim mengatakan...

IMO, funnier than DP2. Keluar bioskop masih bertanya-tanya.
.
.
Spoiler !!!

Itu mrs. janet gmn bs nyembuhin ghost cm dg menyentuh nya ya? Apakah dy dpt kekuatan stlh keluar dr quantum realm ?

Salma Maysa mengatakan...

apakah scott lang gaikut IW karena under house arrest, atau karna hal lain? seingetku waktu di IW sempet disinggung itu gak sihh

bais mustaqim mengatakan...

seandainya sutradaranya masih Edgar wright bakal spt apa Installment ant man menurut bang rasyid? apa bisa melebihi ragnarok dan gotg

angga 7 mengatakan...

Cuma ningguin munculnya opa Stan Lee, kirain nongol di kantor FBI. Hahaha

Rasyidharry mengatakan...

@Salma Ya, ada dialog IW yang merujuk ke house arrest. Alasan Scott nggak ikut bisa dicek di komentar atas, udah sedikit dijelasin 😊

@bais Gayanya lebih unik, itu pasti, dan nggak akan se-family friendly versi Reed.

Diagra mengatakan...

Menurut aku memang tensi lebih padat dan mengalir di film yang pertama.Namun aku tetep terpukau dengan kreatifitas dan kejelian tinggi perkara merangkai adegan action ditambah visual yang unik banget,terutama third act waktu kejar-kejaran ditambah hank yang sibuk mencari janet,ibaratnya sih kalo di film pertama mereka malu-malu sekarang seluruh idenya dikerahkan.Meski dibilang film filler buat Avengers 4,menurutku marvel enggak menggarap dengan asal-asalan dan tetep harus disimak dan sangat menarik dan tentunya.Soal ceritanya yang ringan tentu itu yang membuat saya semakin jatuh cinta pada ant-man(apalagi hope ya hehe),tidak perlu ide yang berat ataupun berusaha dark.Menurut saya sih lebih bagus dari Homecoming.Btw ini filmnya ngambil sekitaran habis civil war ya?soalnya lagi ketat-ketatnya sokovia accord.

Rasyidharry mengatakan...

@Diagra Betul, nggak semua film itu harus dark, berat, groundbreaking, baru, dan segala macem. Ya, dari dialognya, 2 tahun setelah Civil War.

Valdy Friansyah mengatakan...

Lah kalo mengacu sama rotten tomatoes tinggi an antman ketimbang deadpool bro.

Afif Abid mengatakan...

SPOILER!!

itu terakhir si scott gimana ya nasibnya?apa bakal ditampilin di avengers 4 ya gimana cara dia keluarnya?nunggu si hank dll bangkit?

Rasyidharry mengatakan...

@Afif Dari foto set udah confirm Scott ada, ikut Battle of New York di Avengers pertama malah. Scott yang sama apa dari timeline/universe yang beda itu yang masih belum tahu.

Gary Lucas mengatakan...

Wahh baru aja nonton film ini bareng keluarga, mungkin emg ga masuk slera saya ya mskipun ngikutin smua film"MCU dan DC, bagi saya ga suka aja sma ga ngrasain fun nya justru jatoh nya bored banget, soalnya udh tau gafa stakes sama skali dan smua djadiin jokes mirip dengan Ragnarok yg untung set piece nya lebih megah, ga krasa sperti film superhero mskipun ya Marvel diakuin sangat kompeten bikinnya, jauh terhibur sama sicario

Gary Lucas mengatakan...

Sama kmaren baru nnton watchmen versi extended cut nya, banyak kritikus bilang itu salah satu pionir film superhero, dan baru nyadar kalo Thanos caranya sama persis dengan karaktwr villain di watchmen yg tujuannya baik dengan me nuklir berapa juta untuk nylametin miliaran buat perdamaian (apakah MCU mencomot ide film ini mengingat rilisnya tahun 2009 dan kalu dilihat ending nya pun hampir sama dengan IW) cuma org ga banyak yg tau aja dgn watchmen

Rasyidharry mengatakan...

@Gary Kalo ngomongin "superhero", justru 2 film Ant-Man ini kembali ke basic kepahlawanan. Bukan soal menyelamatkan dunia, tapi keluarga. Family comes first.

Soal Thanos, nggak bisa disebut mencomot juga, soalnya, biar di film masih sedikit, motivasi serupa di komik itu udah banyak. Bahkan beberapa jadi motivasi heronya sendiri, bukan lagi villain.

Badminton Battlezone mengatakan...

Jokes ngerap storyline dan saat scott dirasuki mamanya hope ,GA MUNGKIN gagal membuat penonton tertawa 😂😂😂