JARAN GOYANG (2018)

10 komentar
Jaran Goyang dibuka saat seorang wanita berlari ketakutan dari kejaran kuda berwarna hitam di tengah hutan pada malam hari. Rupanya itu sekedar mimpi. Mendadak filmnya melompat memperlihatkan penari wanita—juga di tengah hutan—yang didatangi kuda tersebut. Kalimat dari mulut si penari memberi informasi bahwa kuda itu adalah perwujudan ilmu pengasih “Jaran Goyang”, dan si penari pernah memakainya. Belum sempat saya berkenalan lebih jauh, lompatan kembali terjadi, kali ini menuju cameo Trio Macan yang menyanyikan lagu Jaran Goyang bersama satu personel tambahan. Apakah personel itu wanita yang tadi bermimpi dikejar kuda? Entah. Sulit mencerna sekuen pembuka ini akibat gerakan liar seperti orang kesurupan. Samar-samar saya pun mendengar teriakan “KOPIIII!”.

Tapi mungkin semua itu disengaja. Mungkin film keempat sutradara Findo Purwono HW (EL, Menculik Miyabi) sepanjang 2018 ini memang didesain agar penonton merasakan hal serupa korban ilmu jaran goyang. Mungkin, Jaran Goyang memang sengaja membuat otak penonton bergoyang, lalu menjadi gila sebagaimana korbannya. Mungkin, sekali lagi MUNGKIN, tagline-nya yang terdengar bagai modifikasi dipaksakan dari Jelangkung, yakni “Datang sinting, pulang tergila-gila” memiliki arti terselubung. Sama seperti kelebihan filmnya yang luar biasa terselubung, tersimpan rapat, sampai sulit ditemukan.

Korban dari ilmu jaran goyang di sini tak lain Elena (Cut Meyriska) yang sebelumnya kita saksikan bernyanyi bersama Trio Macan.  Elena merupakan pernyanyi ternama, meski setelah sekuen pembuak tadi, tak sekalipun tampak ia bernyanyi. Sementara sang adik, Tania (Laura Theux) menjadi manajernya. Belum lama kita berkenalan dengan mereka, keanehan terjadi. Di tengah perjalanan, keduanya berpapasan dengan seekor kuda hitam di siang bolong. Kuda itu menghilang seketika, tetapi tapalnya tertinggal. Tania menyimpan tapal tersebut. “Unik”, begitu katanya. Orang kaya memang sering bertingkah eksentrik termasuk mengoleksi benda tak biasa. Di Italia, ada pria kolektor lebih dari 8.650 label botor air minum. Jadi tapal kuda bisa diterima bukan?

Sedangkan si pemilik ilmu jaran goyang adalah Dirga (Ajun Perwira), tukang kebun di rumah Elena, yang lagi-lagi tak pernah tampak mengurus kebun. Dirga jatuh cinta (baca: terobsesi) pada Elena, namun tentu saja cintanya ditolak. Sakit hati, ia mendatangi tantenya di kampung, Srinthil (Nova Eliza), yang tak lain merupakan penari di adegan pembuak tadi. Dirga meminta ilmu jaran goyang, yang akhirnya Srinthil berikan dengan syarat, Dirga tidak memakainya untuk pelampiasan nafsu. Srinthil ini seperti pengedar narkoba yang berpesan kepada pembeli agar tidak menyalahgunakan obat-obatan terlarang itu.

Di film yang lebih baik, kisah di atas berpotensi menghasilkan observasi mendalam tentang bagaimana hasrat menguasai karakternya, perlahan menariknya menuju kegelapan. Tapi Jaran Goyang bukan film demikian. Naskah Wahyu S. Nugroho bagai diangkat dari kisah majalah Hidayah berjudul “Memakai Ilmu Jaran Goyang, Tubuh Jenazah Hangus Seperti Arang”. Tapi bisa jadi, awalnya sang penulis naskah berniat menyusun studi karakter kuat, sebelum produser menyela, “Kenapa you bikin drama?! Crazy! Stupid! You tambahin horornya!”. Jadilah muncul hantu-hantu acak yang tidak jelas sebab musabab maupun asal muasalanya, akibat sang penulis tak mampu membedakan mana “tersirat”, mana “tidak jelas”. Mana “subtil”, mana “nihil”. Untungnya, naskahnya masih bersedia menyediakan cerita ketimbang gempuran jump scare beberapa menit sekali. Ya, ini dia nilai positif Jaran Goyang.

Saya bersyukur kuantitas jump scare-nya dibatasi, sebab saat muncul, kualitasnya pun terbatas. Setiap hantu meneror, selalu ada hal-hal berwarna hitam. Bayangan hitam, asap hitam, bulatan hitam, yang bisa jadi adalah siluman tahi lalat raksasa. Selain visual, aspek audio pun tak kalah terbatas kala suara yang diproduksi kerap timbul-tenggelam. Tapi saya sadar bahwa Jaran Goyang bukan menyasar cinephile atau horror aficionado. Film ini memang menyasar penonton dari kalangan menengah ke bawah dan pemirsa televisi. Adegan ketika Dirga memukul kekasih Elena, Robert (Cris de Lima) yang diulang hingga tiga kali demi efek dramatis hingga twist bertema “Keluarga yang terpisah” jelas merujuk pada kitab suci sinetron tanah air. Itulah sebabnya saya menikmati beberapa momen tatkala adegan dramatik berubah jadi komedi pemicu tawa karena penulisan dialog maupun akting buruk jajaran pemainnya.

Saya menikmatinya sebagai momen “so-bad-its-good”, yang sayangnya cuma mengisi di sebagian kecil durasi. Dan ketika secara sengaja film ini berusaha melucu lewat kehadiran dukun konyol nan bodoh bernama Mbah Rondi (Mudy Tailor), saya hanya sanggup mengelus dada. Begitu film berakhir, terdengar seorang bocah berteriak, “BERUBAH! JADI KUDA!!!”. Apa saya bilang. Jaran Goyang berhasil menggoyang otak serta mengguncang jiwa penontonnya.

10 komentar :

Comment Page:
Ungki Haeri mengatakan...

Macam mana ya Siluman tahi lalat? Penasaran. Hehe. Btw. Kirain ini film di skip. Suka sekali membaca review dari Mas Rasyid yang berlabel "sangat jelek". Hehe. Nunggy review Bodyguard Ugal-Ugalan sm Koki-Koki Cilik buat pertimbangan mana yang harus d tonton. Hehe

Albert Yaputra mengatakan...

Terhibur kalau saya sih bang. Terhibur baca kalimat2 reviewnya hehehe. koki2 cilik ajalah, mungkin film anak2 lebih menghibur

Panca Sona mengatakan...

Masih ada aja waktu nonton ginian mas..Saya liat trailernya aja ga berani..haha
Oiya btw, tumben dipostingan ini cuma ada poster biasanya ada potongan foto2 dari film yg direview. Sejelek itu??

Rasyidharry mengatakan...

@Panca Kalo bukan ditugasin ID Film Critics juga ogah 😅

Oh itu udah sebulan terakhir kok nggak pake.

Ricky Manurung mengatakan...

Mksd tagline datang sinting pulang tergila gila, apakah buat para penontonnya mas? Hahaha...

Mofan Elzein mengatakan...

Kalimat penutup yg epic!!! "Jaran Goyang berhasil menggoyang otak serta mengguncang jiwa penontonnya". Selalu ngakak kalo baca review film2 jelek... wkwkwk

Asrul DN mengatakan...

Epic...

Dirga meminta ilmu jaran goyang, yang akhirnya Srinthil berikan dengan syarat, Dirga tidak memakainya untuk pelampiasan nafsu. Srinthil ini seperti pengedar narkoba yang berpesan kepada pembeli agar tidak menyalahgunakan obat-obatan terlarang itu.

eko sutrisno mengatakan...

So-bad-its-good kata2 yang menginspirasi saya untuk menonton film ini 😂😂

jonatan lumbantoruan mengatakan...

KOPIII!!!

jonatan lumbantoruan mengatakan...

Kayanya ini masuk salah satu film guilty pleasurenya mas rasyid, iya ga mas? Wkwkwk