BUFFALO BOYS (2018)

17 komentar
Pada sebuah adegan, protagonis kita, Jamar (Ario Bayu) dan Suwo (Yoshi Sudarso) bersama sang paman, Arana (Tio Pakusadewo) berkesempatan menyelesaikan misi balas dendam mereka. Senapan telah diarahkan tepat ke tubuh Van Trach (Reinout Bussemaker). Awalnya senapan dipegang Jamar. Kita menunggu, tapi titik tembak yang jelas tak kunjung didapat. Giliran Arana mengangkat senjata. Kita menunggu lagi, peluru tak juga meletus. Setelah beberapa menit, aksi yang dinanti akhirnya urung terlaksana. Perasaan serupa selalu terulang sepanjang 102 menit Buffalo Boys, yang terasa seperti perjalanan melelahkan sepanjang tiga jam.

Ketika Sam Peckinpah meletakkan senjata, dia menunjukkan keintiman dan kerapuhan di balik machismo para koboi. Sewaktu Sergio Leone meletakkan senjata, ia mengeksplorasi ambiguitas moral, dunia brutal, atau pembangunan yang sama—kalau tidak lebih—menegangkan dari showdown-nya. Sedangkan saat Buffalo Boys meletakkan senjata, filmnya tidak memberi apa pun, kecuali penantian yang tak pernah ditebus. Dunia barat yang gersang nan keras dipidahkan ke Indonesia di era kolonialisme, yang meski hijau, tetaplah keras. Para koboi pun bukan pengembara tanpa tujuan atau segerombolan pria tangguh amoral yang akhirnya tergerak angkat senjata demi menegakkan keadilan. Mungkin, karena biar bagaimana, ini negeri Timur.

Jamar dan Suwo jelas tak berada di garis abu-abu. Keduanya pemuda baik. Hal personal, tepatnya balas dendam atas kematian ayah mereka di tangan Van Trach si penjajah jadi tujuan. Ditempa sejak kecil di Amerika, bersama Arana, mereka kembali ke Indonesia, berjumpa dengan sekelompok warga desa yang dikepalai Sakar (Donny Damara), yang juga korban penindasan Van Trach beserta kaki-tangannya. Sakar memiliki dua puteri, Sri (Mikha Tambayong) yang tak punya peranan selain untuk diselamatkan (damsel in distress) dan Kiona (Pevita Pearce) yang digambarkan jago memanah sambil menunggangi kerbau, namun substansi karakternya pun layak dipertanyakan.

Ditulis oleh sutradara Mike Wiluan bersama Raymond Lee, naskahnya luput menyampaikan duka dan amarah dalam hati protagonis. Ketika para jagoan western beristirahat di malam hari di depan api unggun, sesekali sambil bernyanyi atau bermain harmonika, itulah waktu bagi penonton mengenal mereka. Karena di keheningan malam yang damai, jagoan tertangguh sekalipun bisa berubah melankolis. Buffalo Boys tak menghadirkan keintiman serupa, pula alpa memaparkan isi kepala juga hati Jamar dan Suwo. Hanya Arana dengan kisah mengenai masa lalu dan alasan kenapa dua keponakannya itu harus balas dendam yang rutin terdengar. Kita berulang kali dicekoki alasan “mengapa”, namun urung dilibatkan, karena akhirnya, koboi-koboi tanah air ini cuma dua pemuda nihil kepribadian. Sulit merasa terikat, apalagi mengantisipasi hadirnya “momen besar” ketika target mereka berhasil dicapai. Seolah, kita dibawa melakukan perjalanan panjang menaiki kuda (atau kerbau) di hamparan tanah kosong tanpa sesuatu untuk ditunggu.

Tentu Ario Bayu, dengan jenggot lebat, kulit sawo matang, dan riasan “kotor” di sekujur tubuh cocok sebagai karakter yang menghabiskan waktu lama tinggal di wild west, sementara Yoshi Sudarso, berbekal pengalamannya memainkan Koda/Ranger biru di Power Rangers Dino Charge, tampa meakinkan melakoni porsi laga. Jauh lebih meyakinkan dari kemampuannya melafalkan Bahasa Indonesia. Bisa dimaklumi mengingat bagi Suwo, Bahasa Indonesia bukan “bahasa ibu”, andai di saat bersamaan, Jamar punya kapasitas tak jauh beda. Masalahnya, jarak di antara mereka terlalu lebar.

Pun kedua tokoh utama kita ini kalah menarik ketimbang jajaran pemain pendukung, termasuk para villain yang punya dandanan sekaligus perilaku unik cenderung aneh macam Alex Abbad dan Hannah Al-Rashid, yang walau muncul singkat, paling mencuri perhatian berkat performa over-the-top yang jelas lebih menarik bila disejajarkan dengan para protagonis yang datar. Sunny Pang turut ambil bagian. Sayang, kemampuan bela dirinya disia-siakan, sebagaimana beberapa Van Trach beserta anak buahnya (kecuali Alex dan Hannah) gagal dimanfaatkan potensinya, tak diberi kesempatan memberi ancaman pada Jamar dan Suwo. Sekalinya antagonis di atas angin, kesan bila kedua protagonis bakal membalikkan keadaan dengan cepat nan mudah langsung terasa. Di luar tokoh-tokoh yang terlibat baku hantam dan tembak, terselip Seruni, budak wanita Van Trach, yang diperankan Happy Salma, yang memperlihatkan akting dengan kepekaan rasa jauh mengungguli penampil lainnya.

Gelaran aksinya bukan rendah di kualitas, melainkan kuantitas. Terdapat elemen kekerasan dan hentakan di tiap-tiap aksi, yang meski dampaknya menurun akibat dibarengi usaha menghindari gunting sensor lewat penyampaian tak terlalu eksplisit, masih cukup efektif “menampar” guna menghilangkan kantuk yang disebabkan lemahnya narasi. Masalahnya adalah pemilihan sudut yang dipakai Mike Wiluan. Beberapa “hook”, yang telah berkurang efektivitasnya karena keengganan direpotkan urusan sensor tadi, makin lemah ketika urung disokong sudut kamera yang mendukung. Kadang, apa yang harusnya terlihat justru di luar frame, apa yang mestinya diambil dari dekat justru dibungkus wide shot, vice versa. Ditambah minimnya kuantitas laga, bertambah melelahkan film ini.

Anda bisa berargumen bahwa berbagai judul western terbaik tak memiliki banyak aksi. Betul, namun di antaranya, terdapat sesuatu untuk disampaikan, sebutlah isu sosial, kemanusiaan, hingga problema personal. Buffalo Boys telah mempunyai pondasi guna melangkah ke sana. Selain kisah balas dendam, ini juga paparan soal kolonialisme, yang berujung tumpul ketika filmnya sebatas menunjukkan dari jauh, dari luar, tanpa menggiring kita masuk dan ikut merasakannya sendiri. Buffalo Boys bisa menjadi gambaran alternatif terhadap pertempuran skala kecil bersifat kedaerahan yang banyak meletus di tengah perang meraih kemerdekaan dahulu. Namun potensi itu tenggelam bersama poin-poin cerita yang berakhir sebatas latar bagi sebuah film melelahkan tanpa hal menarik di sela-sela hujan pelurunya.

Saya begitu menantikan Buffalo Boys karena variasi tema dipadu sumber daya kelas internasional miliknya. Memang film ini terlihat (cukup) mahal. Production value-nya layak dinikmati, tetapi tata suara, terlebih sewaktu karakternya mengucap dialog, kerap terbenam. Jadi ya, entah dari perspektif aksi, nuansa western, maupun produksi berskala besarnya, film ini mengecewakan. Buffalo Boys merupakan kekecewaan terbesar tahun 2018.....sejauh ini.

17 komentar :

Comment Page:
Totti Fausta mengatakan...

dr jm 3 sore udh cek 4 kali review 'mamma mia here we go again' blm muncul2, pdhl rencana nnton hari ini wkwk. tapi gabole egois sihh.. kira2 kpn bg review mamma mia2 ??

Yuni Novia mengatakan...

udah semangat 45 buat nonton karena triller nya tapi jadi lemes baca reviewnya nunggu mission impossible 6 aja deh

Rasyidharry mengatakan...

@Totti Nontonnya besok malem, tapi karena lagi di luar kota, review kapan belum pasti. Bisa minggu siang, bisa senin.

@Yuni nggak apa, masih layak coba kok. Cuma ya turunin ekspektasi.

yazuli al amin mengatakan...

Ngak tau ekpektasi gua ketinggian atau memang mengeceewakan tak pernah nnton film action sengantuk ini

Intun moon mengatakan...

Dari trailernya langsung ngingetin Magnificent Seven bang

nasrullah sr mengatakan...

Gue sih suka. Pake banget malah. Film ini yg buat gue kembali nnton film Indonesia lagi. Terakhir saat The Raid pertama tayang. 😂😂😂

Sy rasa stiap film aksi Indonesia memang dialognya kadang sulit didengar. The Raid 2 begitu. Bahkan meski pake sub indo. 🤣🤣🤣

Rasyidharry mengatakan...

@yazuli Kebanyakan western emang slow, tapi nggak kosong. Ini bosen karena kosong

@Intun Ya, sama-sama western yang energinya modern.

@nasrullah Siip, walau personally nggak suka, selama bisa bikin kepercayaan penonton balik, selalu seneng. Semoga terus nonton lainnya ya :)

Ya itu masalahnya sama. Ditulis orang yang Bahasa Indonesia belum lancar, jadi kebanyakan dialog hasil translate kasar, aneh. Dan sutradaranya kurang ngeh jadi misal pas take belibet, dia nggak nyadar.

Tanto Dhaneswara mengatakan...

Hmm... kalau menonton film ini dengan ekspektasi ingin sekedar melihat "some good cowboy things..." alias aksi jedar-jeder di dalem salon dengan revolver (kayak saya), pasti puas. Cuma problemnya ya... entah mengapa set-up dari satu plot poin ke plot lain terasa sedikit "janggal" (kalau gak mau dibilang "jelek" atau "kurang logis"). Yang lumayan keliatan yang pas sebelum adegan "bakar2an" itu sih.

Oh ya. Saya sependapat juga sama isi review ini, soalnya saya ngerasa film ini punya beberapa potensi yang membuat nuansa "kearifan lokal"-nya terasa sedikit lebih powerfull, cuma belum bisa dimanfaatin secara optimal (contoh: keris)

Kim 1412 mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
Intun moon mengatakan...

Bang, coba deh nonton Revenge. Yang film Perancis itu. Penasaran, kalo dibahas sama kritikus gimana. Hahaha..

Anonim mengatakan...

adegan ario bayu mandi di sungai yang bikin mata melek. sisanya biasa aje. respect karna udah ngasih warna baru di film indo tahun ini.

Rasyidharry mengatakan...

@Tanto hehe tapi malah beberapa yang ekspektasi cuma lihat eksyen lebih kecewa, soalnya porsi dikit. Soal plot mah malah bisa dibilang non-existence alias kosong.

@Kim Tuh udah ada reviewnya semua 2 film itu. Sabrina oke, 22 Menit yang memble.

@Intun Revenge oke, tema balas dendam ke pemerkosa (yang ngelakuin, yang membiarkan, yang menutupi) kuat. Sebagai film balas dendam juga brutalnya fun, cuma bisa lebih seru kalo treatment-nya lebih trashy, ini kan rada artsy.

Asep Medan mengatakan...

mas review Inuyashiki dong, baru nonton hasilnya film gila keren, ternyata Jepang bisa juga bikin film superhero keren walau dari adaptasi manga, berasa nonton Superman versi Jepang, 10/10

endah shanaya mengatakan...

Hehe dlu film "magnificent seven" Yg menurutku bgs bgt n seru abis aja ratingnya abang kasih jelek, apalagi film tiruannya ini 😋

Rasyidharry mengatakan...

@endah Kalau itu mah iya, film original The Magnificent Seven keren gitu :D

Novi Damayanti mengatakan...

Dari awal liat poster udah agak pesimis sih meski castnya cukup menjanjikan,khawatir dan tidak yakin bagaimana jadinya kalau dimainkan oleh orang Indonesia,pasalnya pure western,bukan satay western genre baru yang dilahirkan mouly surya tahun lalu lewat marlina.Apalagi setelah melihat review bang rasyid udah fix ngeskip film ini.

Rasyidharry mengatakan...

@Novi Yah, padahal ini kesempatan melebur unsur western dengan budaya Indonesia. Rasa tetep western klasik, tapi elemennya lokal. Sayang.