Tampilkan postingan dengan label Pevita Pearce. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pevita Pearce. Tampilkan semua postingan
SEBELUM IBLIS MENJEMPUT (2018)
Rasyidharry
Kenapa kualitas horor lokal tak berbanding lurus seiring
dengan peningkatan kuantitasnya belakangan? Kemungkinan besar karena mayoritas
pembuatnya, meski sering menonton horor (who
doesn’t?), tidak menaruh rasa cinta terhadapnya, sehingga kurang memahami
seluk beluknya akibat miskin referensi. Sebab horor sendiri beraneka ragam
cabangnya. Dari trashy sampai artsy, dari slasher sampai supranatural. Selain Joko Anwar yang sudah kita
saksikan pembuktiannya lewat Pengabdi
Setan, ada Timo Tjahjanto yang sebelumnya mempersembahkan Rumah Dara (sebagai Mo Brothers bersama
Kimo Stamboel) juga Safe Haven
(berduet dengan Gareth Evans) selaku segmen dalam antologi V/H/S/2 (2013).
Harapan publik, termasuk saya, kepada karya terbaru Timo, Sebelum Iblis Menjemput, luar biasa
besar. Apalagi setelah menanti hampir setahun, belum ada horor lokal mumpuni
penerus prestasi Pengabdi Setan. Sebelum Iblis Menjemput dibuat atas
dasar kekaguman Timo atas Sam Raimi, khususnya trilogi Evil Dead. Teror datang dari entitas jahat yang merasuki manusia,
mengubah mereka jadi makhluk buas seperti Deadite, lengkap dengan riasan serupa
(plus sedikit pengaruh dari Pazuzu-nya The
Exorcist?), yang pada salah satu serangannya, melompat dalam balutan POV shot sebagaimana gemar dipakai
Raimi.
Ceritanya masih memakai formula “cabin in the wood”, tapi alih-alih sekelompok remaja penuh hasrat,
tokohnya terdiri atas anggota keluarga disfungsional. Ketika Lesmana (Ray
Sahetapy), mantan pengusaha sukses yang telah bangkrut terbaring di rumah sakit
akibat penyakit misterius, puteri dari pernikahan pertamanya, Alfie (Chelsea
Islan) terpaksa kembali pulang. Alfie masih terluka karena dahulu Lesmana
meninggalkan ia dan ibunya, yang kemudian tewas bunuh diri, untuk menikahi
artis ternama, Laksmi (Karina Suwandi). Pernikahan kedua ini memberi Lesmana
tiga buah hati: Maya (Pevita Pearce), Ruben (Samo Rafael), dan si bungsu Nara
(Hadijah Shahab).
Berniat menguasai harta sang suami, Laksmi mengajak ketiga
anaknya mengunjungi vila milik Lesmana guna mencari barang berharga yang bisa “diamankan”.
Tapi mereka, termasuk Alfie yang datang karena enggan membiarkan Laksmi berbuat
seenaknya, justru menemukan rahasia mengerikan serta teror mematikan yang
disembunyikan sang ayah. Jangan berharap rekonsiliasi emosional di antara
mereka. Melalui Sebelum Iblis Menjemput,
Timo hanya ingin memindahkan neraka dan segala isinya ke dunia manusia. Menghadirkan
kengerian audiovisual merupakan tujuan tunggal film ini.
Departemen audio, selain lagu bernuansa lawas berjudul Hampa, diisi scoring karya Fajar Yuskemal (The
Raid, Killers) yang mengkombinasikan denting piano ritmis bernada tinggi di
satu kesempatan, dengan bunyi synth
yang memunculkan kesan serupa music score era 70-80an macam Tubular Bells (lagu tema The Exorcist) di kesempatan lain. Tidak
heran, sebab sengaja atau tidak, Sebelum
Iblis Menjemput juga mengingatkan pada film buatan William Friedkin itu. Apabila
Friedkin sesekali menyelipkan “wajah iblis” secara sembunyi-sembunyi, Timo pun
sempat memasukkan sekilas penampakan yang mungkin penonton lewatkan (hint: Chelsea Islan dan bus).
Salah satu pertanyaan yang sering diajukan seputar film ini
tentu terkait kadar gore. Sebab berkat
itulah karya Timo banyak digandrungi pecinta horor. Sebelum Iblis Menjemput boleh tidak seeksplisit Rumah Dara, pun tak menumpahkan darah
sebanyak itu, namun cukup untuk membuat anda meringis ngeri sambil menutup
mata. Beberapa elemen gore juga
berfungsi melengkapi jump scare, yang
Timo kemas agar tidak asal mengageti, pula berdampak. Saat iblis menyeret tubuh
karakternya, kita melihat kuku-kuku si karakter terlepas, berdarah, sebagai
akibat usaha melarikan diri. Iblis muncul bukan cuma untuk “setor muka”, melainkan ada usaha nyata
mendatangkan maut bagi korbannya.
Timo, seperti sutradara horor bertalenta lain, pandai memainkan
ekspektasi. Salah satu sekuen paling menegangkan, melibatkan Nara di kamar
tidur. Timo paham kapan penonton menduga jump
scare bakal menyerbu. Berbekal itu, saya dipaksa menahan nafas,
terombang-ambing di tengah penantian tidak pasti, sambil secara perlahan, dibarengi
keheningan, wajah asli teror diungkap. Sedangkan alur berjalan penuh
kesabaran, terkadang pelan, tetapi tak pernah melepakan cengkeraman berkat ketelatenan Timo, yang turut menulis naskahnya, menjabarkan poin-poin kisah secara bertahap. Pemilihan timing-nya tepat, kapan mesti menggeber kengerian, kapan mesti berhenti sejenak guna bernarasi. Begitu teror diluncurkan, hadrilah pertunjukan mengenai cara
memacu adrenalin berbekal kekacauan situasi.
Pujian wajib diberikan untuk tiga pemeran wanitanya. Berkat
mereka, “Neraka Dunia” ciptaan Timo tampak meyakinkan. Chelsea Islan akhirnya
menemukan film yang sempurna memfasilitasi gaya aktingnya, yang acap kali terkesan
berlebihan di berbagai drama. Di sini luapan emosinya sesuai dengan kengerian
yang karakternya hadapi. Pevita, walau belum sekuat rekannya, mampu mengangkat
tensi klimaks di mana sosok Maya berperan besar. Walau menyaksikan keduanya
berbagi layar bagai impian yang jadi kenyataan, Karina Suwandi muncul sebagai
kekuatan tak terduga. Sang aktris menggila, bak pelayan buas Bafomet yang bertugas
mengacaukan seisi dunia.
Kelemahan Sebelum Iblis
Menjemput terletak di third act
yang gagal menandingi dinamika parade teror sebelumnya. Timo menolak menginjak
pedal gas lebih kencang, menjadikannya terkesan diulur. Lagipula, durasi 110
menit bagi horor berskala kecil macam ini memang agak terlalu lama, ketika 90an
menit saja rasanya cukup. Bukan berarti klimaksnya buruk. Adegan-adegan yang
muncul sebelumnya lah yang levelnya sukar dikejar. Sama seperti keseluruhan
filmnya, yang meneruskan tongkat estafet dari Pengabdi Setan untuk menempatkan standar tinggi terhdap film horor Indonesia.
Semoga tidak perlu menunggu satu tahun lagi sampai judul memikat berikutnya
menjemput.
Agustus 05, 2018
Bagus
,
Chelsea Islan
,
Fajar Yuskemal
,
Hadijah Shahab
,
horror
,
Indonesian Film
,
Karina Suwandi
,
Pevita Pearce
,
Ray Sahetapy
,
REVIEW
,
Samo Rafael
,
Timo Tjahjanto
BUFFALO BOYS (2018)
Rasyidharry
Pada sebuah adegan, protagonis kita, Jamar (Ario Bayu) dan
Suwo (Yoshi Sudarso) bersama sang paman, Arana (Tio Pakusadewo) berkesempatan
menyelesaikan misi balas dendam mereka. Senapan telah diarahkan tepat ke tubuh
Van Trach (Reinout Bussemaker). Awalnya senapan dipegang Jamar. Kita menunggu, tapi
titik tembak yang jelas tak kunjung didapat. Giliran Arana mengangkat senjata.
Kita menunggu lagi, peluru tak juga meletus. Setelah beberapa menit, aksi yang
dinanti akhirnya urung terlaksana. Perasaan serupa selalu terulang sepanjang
102 menit Buffalo Boys, yang terasa seperti
perjalanan melelahkan sepanjang tiga jam.
Ketika Sam Peckinpah meletakkan senjata, dia menunjukkan
keintiman dan kerapuhan di balik machismo para koboi. Sewaktu Sergio Leone
meletakkan senjata, ia mengeksplorasi ambiguitas moral, dunia brutal, atau
pembangunan yang sama—kalau tidak lebih—menegangkan dari showdown-nya. Sedangkan saat Buffalo
Boys meletakkan senjata, filmnya tidak memberi apa pun, kecuali penantian
yang tak pernah ditebus. Dunia barat yang gersang nan keras dipidahkan ke
Indonesia di era kolonialisme, yang meski hijau, tetaplah keras. Para koboi pun
bukan pengembara tanpa tujuan atau segerombolan pria tangguh amoral yang
akhirnya tergerak angkat senjata demi menegakkan keadilan. Mungkin, karena biar
bagaimana, ini negeri Timur.
Jamar dan Suwo jelas tak berada di garis abu-abu. Keduanya
pemuda baik. Hal personal, tepatnya balas dendam atas kematian ayah mereka di
tangan Van Trach si penjajah jadi tujuan. Ditempa sejak kecil di Amerika,
bersama Arana, mereka kembali ke Indonesia, berjumpa dengan sekelompok warga
desa yang dikepalai Sakar (Donny Damara), yang juga korban penindasan Van Trach
beserta kaki-tangannya. Sakar memiliki dua puteri, Sri (Mikha Tambayong) yang
tak punya peranan selain untuk diselamatkan (damsel in distress) dan Kiona (Pevita Pearce) yang digambarkan jago
memanah sambil menunggangi kerbau, namun substansi karakternya pun layak
dipertanyakan.
Ditulis oleh sutradara Mike Wiluan bersama Raymond Lee, naskahnya
luput menyampaikan duka dan amarah dalam hati protagonis. Ketika para jagoan western beristirahat di malam hari di
depan api unggun, sesekali sambil bernyanyi atau bermain harmonika, itulah
waktu bagi penonton mengenal mereka. Karena di keheningan malam yang damai,
jagoan tertangguh sekalipun bisa berubah melankolis. Buffalo Boys tak menghadirkan keintiman serupa, pula alpa memaparkan
isi kepala juga hati Jamar dan Suwo. Hanya Arana dengan kisah mengenai masa
lalu dan alasan kenapa dua keponakannya itu harus balas dendam yang rutin
terdengar. Kita berulang kali dicekoki alasan “mengapa”, namun urung
dilibatkan, karena akhirnya, koboi-koboi tanah air ini cuma dua pemuda nihil
kepribadian. Sulit merasa terikat, apalagi mengantisipasi hadirnya “momen besar”
ketika target mereka berhasil dicapai. Seolah, kita dibawa melakukan perjalanan
panjang menaiki kuda (atau kerbau) di hamparan tanah kosong tanpa sesuatu untuk
ditunggu.
Tentu Ario Bayu, dengan jenggot lebat, kulit sawo matang, dan
riasan “kotor” di sekujur tubuh cocok sebagai karakter yang menghabiskan waktu
lama tinggal di wild west, sementara
Yoshi Sudarso, berbekal pengalamannya memainkan Koda/Ranger biru di Power Rangers Dino Charge, tampa
meakinkan melakoni porsi laga. Jauh lebih meyakinkan dari kemampuannya
melafalkan Bahasa Indonesia. Bisa dimaklumi mengingat bagi Suwo, Bahasa
Indonesia bukan “bahasa ibu”, andai di saat bersamaan, Jamar punya kapasitas
tak jauh beda. Masalahnya, jarak di antara mereka terlalu lebar.
Pun kedua tokoh utama kita ini kalah menarik ketimbang
jajaran pemain pendukung, termasuk para villain
yang punya dandanan sekaligus perilaku unik cenderung aneh macam Alex Abbad dan
Hannah Al-Rashid, yang walau muncul singkat, paling mencuri perhatian berkat
performa over-the-top yang jelas
lebih menarik bila disejajarkan dengan para protagonis yang datar. Sunny Pang
turut ambil bagian. Sayang, kemampuan bela dirinya disia-siakan, sebagaimana
beberapa Van Trach beserta anak buahnya (kecuali Alex dan Hannah) gagal
dimanfaatkan potensinya, tak diberi kesempatan memberi ancaman pada Jamar dan
Suwo. Sekalinya antagonis di atas angin, kesan bila kedua protagonis bakal
membalikkan keadaan dengan cepat nan mudah langsung terasa. Di luar tokoh-tokoh
yang terlibat baku hantam dan tembak, terselip Seruni, budak wanita Van Trach,
yang diperankan Happy Salma, yang memperlihatkan akting dengan kepekaan rasa
jauh mengungguli penampil lainnya.
Gelaran aksinya bukan rendah di kualitas, melainkan
kuantitas. Terdapat elemen kekerasan dan hentakan di tiap-tiap aksi, yang meski
dampaknya menurun akibat dibarengi usaha menghindari gunting sensor lewat
penyampaian tak terlalu eksplisit, masih cukup efektif “menampar” guna
menghilangkan kantuk yang disebabkan lemahnya narasi. Masalahnya adalah
pemilihan sudut yang dipakai Mike Wiluan. Beberapa “hook”, yang telah berkurang efektivitasnya karena keengganan
direpotkan urusan sensor tadi, makin lemah ketika urung disokong sudut kamera
yang mendukung. Kadang, apa yang harusnya terlihat justru di luar frame, apa yang mestinya diambil dari
dekat justru dibungkus wide shot, vice versa. Ditambah minimnya kuantitas
laga, bertambah melelahkan film ini.
Anda bisa berargumen bahwa berbagai judul western terbaik tak memiliki banyak
aksi. Betul, namun di antaranya, terdapat sesuatu untuk disampaikan, sebutlah
isu sosial, kemanusiaan, hingga problema personal. Buffalo Boys telah mempunyai pondasi guna melangkah ke sana. Selain
kisah balas dendam, ini juga paparan soal kolonialisme, yang berujung tumpul
ketika filmnya sebatas menunjukkan dari jauh, dari luar, tanpa menggiring kita
masuk dan ikut merasakannya sendiri. Buffalo
Boys bisa menjadi gambaran alternatif terhadap pertempuran skala kecil
bersifat kedaerahan yang banyak meletus di tengah perang meraih kemerdekaan
dahulu. Namun potensi itu tenggelam bersama poin-poin cerita yang berakhir
sebatas latar bagi sebuah film melelahkan tanpa hal menarik di sela-sela hujan
pelurunya.
Saya begitu menantikan Buffalo
Boys karena variasi tema dipadu sumber daya kelas internasional miliknya.
Memang film ini terlihat (cukup) mahal. Production
value-nya layak dinikmati, tetapi tata suara, terlebih sewaktu karakternya
mengucap dialog, kerap terbenam. Jadi ya, entah dari perspektif aksi, nuansa western, maupun produksi berskala
besarnya, film ini mengecewakan. Buffalo
Boys merupakan kekecewaan terbesar tahun 2018.....sejauh ini.
Juli 20, 2018
Action
,
Alex Abbad
,
Ario Bayu
,
Donny Damara
,
Hannah Al-Rashid
,
Happy Salma
,
Indonesian Film
,
Kurang
,
Mike Wiluan
,
Mikha Tambayong
,
Pevita Pearce
,
REVIEW
,
Tio Pakusadewo
,
Western
,
Yoshi Sudarso
THE GUYS (2017)
Rasyidharry
Raditya Dika tengah bertransisi. Sejak Koala Kumal usungan temanya mulai mengalami pendewasaan, setidaknya dewasa dalam konteks Dika yang biasanya melulu soal putus cinta dan usaha move on ke lain hati. Hanya selang empat bulan pasca Hangout, ia menelurkan karya berjudul The Guys. Namun kali ini Dika bagai kelelahan akibat film yang dia sutradarai sekaligus tulis naskahnya rilis amat berdekatan tanpa putus dalam dua tahun terakhir, menyebabkannya kering ide. Apalagi usaha bertambah dewasa belum berhasil mulus. The Guys adalah bentuk Dika menjauhi keklisean komedi khasnya tetapi berujung jatuh dalam keklisean humor yang jauh lebih umum.
Coba tengok beberapa situasi berikut. Alfi (Raditya Dika) diajak sahabatnya, Rene (Marthino Lio) makan di restoran Italia mahal memakai voucher demi mengangkat derajat keduanya di mata pasangan sebelum terungkap voucher itu sudah habis masa berlakunya. Juga ketika Alfi, Rene, Sukun (Pongsiree Bunluewong) dan Aryo (Indra Jegel) mendapati roti mereka basi tapi Aryo tetap menyantapnya sampai habis. Paling familiar tentu ketika Alfi salah mengira Amira (Pevita Pearce) akan memeluknya di pertemuan pertama mereka. Kondisi tersebut entah telah berapa ratus kali dimunculkan komedi lokal, sehingga di titik ini, paling banter hanya memancing senyum ketimbang gelak tawa.
Ketika penulisan lelucon Dika minim ide segar ditambah pembawaan deadpan dan sekilas olok-olok terhadap tinggi badannya semakin menjemukan, The Guys patut berterimakasih pada Marthino Lio dan Pongsiree Bunluewong. Adegan Rene sakit perut di tengah presentasi adalah highlight berkat totalitas ekspresi Lio, sementara Pongsiree Bunluewong memikat lewat kelakuan clueless "lost in translation" untuk menggambarkan kesulitan Sukun berbahasa Indonesia yang kerap membuatnya mengucapkan kata berbeda arti.
Pada tatanan cerita, Dika berambisi menyatukan kisah cinta, persahabatan, plus keluarga. Tercipta kondisi unik sewaktu ayah Amira sekaligus bos Alfi, Pak Jeremy (Tarzan) menyukai ibu Alfi, Yana (Widyawati Sophiaan). Alfi dan Amira pun terjebak dilema, hendak memilih cinta mereka sendiri atau membahagiakan kedua orang tua yang sama-sama dirundung kesepian setelah ditinggal pasangan masing-masing. Apabila skenario diolah dengan baik, ada potensi romantika kompleks kala karakter bukan sekedar memikirkan bagaimana mengambil hati sang pujaan, namun dibenturkan pergulatan seputar keluarga. Sayang, ambisi para penulisnya menghapuskan potensi tersebut.
Cabang cerita berdesakan, mengaburkan fokus, meminimalisir porsi eksplorasi tiap-tiapnya. The Guys berorientasi pada garis finish, lupa agar konklusi berdampak maksimal, butuh pemaparan proses, supaya penonton memahami pergulatan tokohnya. Hubungan Alfi dan Amira tiada terkesan romantis. Pasca pengorbanan Alfi menyelamatkan Amira dari amarah Pak Jeremy, praktis kebersamaan mereka berkurang, tertutupi keping-keping cerita lain, padahal momentum awalnya menjanjikan, tersaji manis ditemani lagu Bila Bersamamu milik Nidji. Jalinan chemistry Dika dan Pevita lemah dan canggung, ditambah lagi Alfi bukan sosok protagonis yang layak didukung akibat berbagai tindakan tak simpatik seperti membiarkan Amira menunggu kemudian membatalkan janji atau mengacaukan makan malam.
Ketika kisah-kisahnya mencapai resolusi, tidak bisa dipungkiri ada cengkeraman haru, namun segalanya terasa manipulatif. Emosi terpantik karena peristiwa yang (tiba-tiba) terjadi secara alamiah mudah menyentuh perasaan, serupa iklan layanan masyarakat berbalut pesan moral kesukaan masyarakat. Kita langsung disuguhi peristiwa mengguncang tanpa mengenal siapa tokohnya, tak tahu kehidupan mereka sebelum itu. Tidak bermaksud menyuguhkan studi, sebatas berharap menguras air mata penonton. Manipulatif.
Lihat kisah Alfi dan teman-teman. Sepanjang film penonton hanya tahu mereka tinggal seatap dan pamer kebodohan. Momen persahabatan hangat cuma tampil melalui dialog singkat berkonteks nostlagia, bukan diperlihatkan langsung. Pilihan konklusi pun sama sekali terpisah dengan konflik-konflik mereka sepanjang film alias mendadak muncul. Sedangkan soal drama keluarga, lagi-lagi kita langsung melihat Alfi mengambil keputusan, entah bagaimana tahapan proses pikir yang ia lalui. Jika ada guratan emosi alami, itu didasari akting kuat Widyawati yang lewat senyum simpul atau ragam respon non-verbal lain menyiratkan bermacam kecamuk dalam hati Bu Yana. Menjadi timpang kala disandingkan bersama Tarzan yang piawai unjuk kejenakaan tapi tidak untuk drama.
Dika seperti terjebak dalam krisis identitas seiring usahanya berkembang. The Guys bisa berujung sajian kuat apabila menekankan satu persoalan saja, misal office comedy, menggali kelucuan para pegawai kantoran di tempat kerja yang mana berbanding lurus dengan hasrat Dika menuju pendewasaan tutur. Alih-alih demikian, Dika tak ubahnya karakter-karakter yang ia sering perankan: susah move on, memaksa menyertakan formula aman nan familiar demi memuaskan penggemar lama ketimbang menarik minat kelompok baru. Mungkin Raditya Dika butuh rehat sejenak.
April 14, 2017
Comedy
,
Indonesian Film
,
Indra Jegel
,
Kurang
,
Marthino Lio
,
Pevita Pearce
,
Pongsiree Bunluewong
,
Raditya Dika
,
REVIEW
,
Tarzan Srimulat
,
The Guys
,
Widyawati Sophiaan
Langganan:
Postingan
(
Atom
)








