THE HOWS OF US (2018)

4 komentar
The Hows of Us—yang kini resmi menjadi film Filipina terlaris sepanjang masa dengan ₱810 juta atau sekitar $15 juta—mengajak kita mempercayai suratan takdir, terus melangkah maju bersamanya, meski di awal terasa menyakitkan dan destruktif. Karena seperti matahari, takdir bakal menenggelamkan hidup kita, meninggalkannya di kegelapan untuk sementara waktu, sebelum terbit kembali sembari memancarkan cahaya luar biasa benderang.

Filmnya dibuka melalui time-lapse yang memperlihatkan satu demi satu perabotan mengisi sebuah rumah kosong, sementara perbincangan dua tokoh utama, yang menggambarkan progres hubungan mereka, terdengar di belakang. Sebagaimana romansa menjadi lengkap saat sepasang kekasih saling mengisi, kondisi serupa berlaku untuk rumah beserta barang-barang di dalamnya. Tapi ketika terlalu banyak barang tergeletak tanpa ditata rapi, kita hanya akan menemui ruang penuh sesak, kacau, dan berantakan.

Primo (Daniel Padilla) dan George (Kathryn Bernard) adalah pasangan yang akan kita ikuti perjalanannya. Mereka bertemu semasa kuliah di sebuah kompetisi debat mengenai peran gender, yang berujung konklusi kalau perbedaan pria dan wanita bukan masalah sebab keduanya ditakdirkan untuk saling melengkapi. Kesetaraan gender bukan topik utama filmnya, tapi saya suka fakta bahwa terdapat dua momen terpisah saat mereka saling terpesona oleh tubuh masing-masing. Terpikat pada fisik lawan jenis bukan eksklusif milik pria semata, dan selama tak ada tindakan kelewatan yang mengikuti, itu merupakan suatu kewajaran.

Keduanya jatuh cinta, lalu tinggal bersama di rumah mendiang nenek George, Tita Lola (Susan Africa), yang berpesan agar merawat rumah tersebut. George ingin menjadi dokter, Primo terus mengejar ambisinya sebagai musisi. Tapi seiring bergulirnya hidup, mereka semakin menjauh dari mimpi-mimpi itu, juga satu sama lain.

Tidak diragukan lagi, ini kesalahan Primo. Kesuksesan yang ia janjikan tak kunjung datang, dan mereka pun kesusahan membayar tagihan. Tapi ia enggan menyerah. Saat Primo sibuk berusaha terbang, ia tak menyadari jika George susah payah menahan permukaan tempatnya berpijak agar tidak runtuh. George rela banting tulang membagi brosur di pinggir jalan, bahkan melewatkan National Medical Admission Test (NMAT) demi menjemput Primo yang terlalu mabuk bahkan untuk berdiri.

George merasa menyia-nyiakan hidupnya, sedangkan Primo lupa kalau mereka mesti berjuang bersama. Sampai pada suatu malam gelap  di bawah guyuran hujan lebat, George tiba di batas ketahanannya, mengusir Primo, yang akhirnya pergi, tak pernah kembali atau sekedar memberi kabar.....hingga dua tahun berselang, sewaktu George telah mulai menata lagi hidupnya dan berniat menjual rumah peninggalan Tita Lola.

The Hows of Us memaparkan perjalanan panjang tanpa coba melakukan simplifikasi. Seluruh proses diperlihatkan, seluruh usaha yang menyatukan, seluruh pertengkaran yang memisahkan. Hasilnya, tiap perasaan karakternya mudah dimengerti, dan timbul bukan tanpa alasan. Naskah yang ditulis empat orang termasuk sang sutradara, Cathy Garcia-Molina (Seven Sundays, You Changed My Life, A Very Special Love), enggan buru-buru guna memaksa penonton menangis secepat mungkin, melainkan perlahan membangun momen demi momen, yang walau tampil sedikit terlampau panjang ketika beberapa situasi terus bergulir meski tujuan eksistensinya telah dicapai, menghasilkan penebusan sepadan berupa puncak emosi. Tapi betul, film ini tidak perlu berjalan selama 117 menit.

Musik gubahan Jessie Lasaten (Unexpectedly Yours, Seven Sundays) nyaris tak pernah absen, konsisten mengalunkan nada melankolis yang urung terdengar manipulatif. Sebelum waktunya tiba, musiknya sebatas latar, ketika Cathy Garcia-Molina membiarkan makna di balik tiap momen serta performa dua pemeran utama mengarahkan jalan. Pasca kembalinya Primo, sebagai komedi-romantis, The Hows of Us mulai menyuguhi kita bagian komedinya, yang tampil lucu sekaligus manis berkat pesona di balik kengototan Daniel Padilla untuk memenangkan kembali pujaan hatinya, juga gaya “malu-malu-mau” dari Kathryn Bernardo yang bakal merekahkan senyum di bibir anda.

Di satu titik, lokasinya berpindah ke Amsterdam. Dalam sebuah adegan yang tersaji indah dari balik lensa kamera sinematografer Noel Teehankee (My Perfect You, Fangirl Fanboy), kedua karakternnya mengarungi taman bunga bersama, di bawah siraman cahaya matahari senja, mengingat masa lalu, memori-memori yang tersimpan, berkontemplasi, kemudian bertanya, “Apa jadinya jika hari itu mereka tak berpisah? Apakah itu jaminan hubungan mereka bakal awet? Apakah mereka dapat belajar menjadi orang yang lebih baik dan dewasa seperti sekarang?”. Tidak ada yang tahu, tapi mungkin ungkapan “Indah pada waktunya” bukan cuma omong kosong.

4 komentar :

Comment Page:
maulanatomm mengatakan...

nonton dimana bang rasyid?

Nino Fredi mengatakan...

Review istimewa bang

Rasyidharry mengatakan...

@maulanatomm Di bioskop. Memang terbatas sih, cuma di beberapa kota.

@Nino Filmnya istimewa soalnya :)

Ryan Valent mengatakan...

bang review film coen brother sama alfonso cuaron yg netflix nggak?