WAHANA RUMAH HANTU (2018)

23 komentar
Urusan pekerjaan kemarin sungguh melelahkan. Segelas es teh manis dan berbatang-batang rokok menemani istirahat sore hari saya. Kemudian saya mendapati, alih-alih Jumat seperti film India biasanya, Thugs of Hindostan telah dirilis. “Capek begini nonton epic action asyik kali ya”, begitu pikir saya. Berharap melepas penat, tiket pun siap dibeli. Tapi sesaat sebelum tulisan “Pay Now” dipencet, masuklah pesan itu. Pesan yang mengubah arah, memberi twist untuk kehidupan saya pada Kamis, 8 November 2018.

Pesan itu dikirim oleh admin Indonesian Film Critics (IDFC). Isinya singkat saja, namun sanggup mengalahkan gelegar guntur yang meraung-raung di langit mendung sore itu. “Oy, Rumah Hantu yaks”, demikian bunyinya. Sejenak tertegun, saya berusaha menenangkan diri. “Saya sanggup bertahan menghadapi Arwah Tumbal Nyai, jadi kali ini pun pasti akan baik-baik saja, ya kan? Ya kan?? Ya kaaaan????”. Oh boy, I’ve never been so wrong.

Selang beberapa jam, kembali saya tertegun. Andai bisa, ingin rasanya menghubungi Rapi Amat, menyuruhnya sungkem pada orang-orang di balik Wahana Rumah Hantu. Bagaimana tidak? Film karya sutradara Anto Lupus ini berhasil menggulingkan horor Go-Pay miliknya dari tahta film Indonesia terburuk 2018. Dan rasanya posisi ini takkan berubah lagi. Film yang lebih jelek dari Wahana Rumah Hantu sebaiknya diungsikan saja ke Planet Pluto. Oh, Pluto bukan planet? Berarti, judul-judul berkualitas di bawah Wahana Rumah Hantu pun bukan film.

Is this a movie though? Ditinjau dari makna literalnya, yakni “moving picture”, ya, Wahana Rumah Hantu berisi gambar bergerak. Bergerak menuju kehancuran. Biasanya saya membuat catatan mengenai kelebihan dan/atau kekurangan film yang sedang ditonton, tapi kali ini, saya menyerah. Terlalu banyak keburukan di tiap momennya, dalam segala aspek. Kalau tetap mencatat, begitu film berakhir, saya akan menyelesaikan skripsi kedua saya.

Wahana Rumah Hantu mengisahkan kakak-beradik, Aurel (Adzwa Aurell) dan Sky (Sky Azhura), yang sama-sama mampu melihat hantu, dan SEPERTINYA dahulu berprofesi sebagai pengusir hantu. Kenapa “sepertinya”? Karena kita hanya mendengar itu dari pernyataan singkat Aurel. Menariknya, begitulah cara film ini—yang naskahnya juga ditulis sang sutradara—bergulir, yaitu melalui cerita yang karakternya tuturkan secara verbal.

Di satu titik, filmnya memperkenalkan subplot tentang arwah penasaran seorang siswi yang mati di kelas. Tanpa aba-aba, mendadak kita melihat kehebohan kelas karena KATANYA sebuah buku (atau lemari?) terbuka sendiri. Kenapa “katanya”? Lagi-lagi karena karakternya mengatakan itu, dan peristiwa mistis yang dimaksud tak muncul di layar. Seolah ada adegan yang hilang (hilang atau lupa di-shoot hayooo??). Pun sebesar apa pun perhatian dicurahkan, besar kemungkinan anda bakal tetap tersesat dalam labirin membingungkan penuh cabang dan jalan buntu, yang disebut “plot” oleh film ini. Lalu kisah si arwah penasaran diakhiri menggunakan voice over.

Ya, VOICE OVER! Bayangkan andai sebelum klimaks di Wakanda, Avengers: Infinity War berakhir, tanpa pertempuran, dan hanya terdengar Tony Stark berkata, “Kami bertempur mati-matian. Satu tim di Titan, tim lain di Wakanda. Sayangnya Thanos berhasil menjentikkan jarinya dan menghapus separuh kehidupan di alam semesta termasuk beberapa jagoan, di antaranya Spider-Man, yang sebelum kematiannya, menangis di dekapanku”. Saya yang bodoh ini cuma bisa plonga-plongo, membayangkan kondisi di balik layar yang kemungkinan seperti ini:

Demikian awal kelahiran film ini, yang meski berjudul Wahana Rumah Hantu, tapi wahananya sendiri baru muncul di pertengahan, sembari melahirkan satu lagi subplot nihil substansi mengenai kecurangan para karyawan yang ingin mengakuisisi tempat tersebut, sebelum selipan reliji turut serta mengakhiri konflik. Tidak perlu kaget, toh sejak awal filmnya sudah menegaskan bahwa derajat setan ada di bawah manusia. Buktinya, setan di sini bisa disuruh mengerjakan PR. Ghost slavery FTW!

Tapi, jika anda manusia bernyali baja, silahkan langkahkan kaki menuju Wahana Rumah Hantu. Setidaknya anda bisa menertawakan akting aneh yang acap kali memancing pertanyaan, “Emosi apa yang aktornya ingin tampilkan?”, penampakan hantu asal-asalan, twist soal identitas karakter yang mundur jauh hingga ke era Kerajaan Majapahit (saya serius), sampai kerumitan alur yang niscaya membuat David Lynch terkesima lalu bersembah sujud. Percayalah, review ini baru menggambarkan sekian persen keburukan Wahana Rumah Hantu. Film jelek, biaya murah, pemain dan kru nihil pengalaman, semua bisa dimaafkan selama ada niat berkarya sebaik mungkin. But this? This is just an act of ingorance.

23 komentar :

Comment Page:
Ilham Ramadhan mengatakan...

wkwkwkw zero star?
kalau bisa gak perlu star, mas.
kosong aja :D haha

Teguh Yudha Gumelar mengatakan...

doakan saya mas
wis beli tiketnya

Okiyadi Greg mengatakan...

Yang tabah ya mas Rasyid wk wk ujian banged bikin review nya (tapi jadi super nulisnya), apalagi pas depan layar.

Muhammad Faisal Aulia mengatakan...

Anjay udah 5 film masuk ke daftar trash bang rasyid.

Anggaplah satu film durasi 1,5 jam x 5 film = 7,5 jam bang rasyid mensia-siakan kesempatan hidup yang diberikan Tuhan :v

Rasyidharry mengatakan...

@Ilham kalo gak pake bintang ntar dikira lupa, atau dikira bagus banget sampai 5 bintang gak cukup

@Teguh Semoga felemnya barokah ya

@Okiyadi Untuk pertama kalinya ngerasa reviewnya belum sepenuhnya mewakili perasaan haha

@Muhammad Mending kalo 1,5 jam, lha ini 115 menit yang berasa 115 jam

Chan Hadinata mengatakan...

Pengen gw kasi liat ni review ke sutradara sm produsernya.. krn dengan penuh kesadaran mereka sdh bikin org hilang waktu dan biaya buat nnton karya sampahnya
Wkwk

Teguh Yudha Gumelar mengatakan...

sungguh review yang kurang lengkap hahaha
saya mau solat taubat dulu abis nonton film ini
karena telah menyianyiakan waktu yang diberikan Tuhan

Aaron mengatakan...

Dari posternya aja sudah tahu bakal seperti apa ini film. Bisa-bisanya buat film beginian, nanti ada Arwah Tumbal Sialan, trilogi paling ngawur

Abdi_Khaliq mengatakan...

WTH... Kirain Bang Rasyid cuman omong kosong doang waktu bilang "mending nonton Wahana bla..bla... ketimbang Hanum dan Rangga!" Eh ternyata beneran!
Ini Bang Rasyid sampai rela nonton nih film dibayar kah? Tiket gratis kah? Atau punya uang berlebih?
Karena mana ada sih Bang, penduduk bumi yang mau nonton film beginian. Liat posternya saja masih mendingan poster Jodoh Wasiat Bapak.
Kok saya yang justru emosi ya! Hehehehe

Panca Sona mengatakan...

Dari Posternya saja Film ini penuh kejutan.yaitu : Judulnya sampai ditulis 2x, Si anak yang nangis darah melotot seolah2 menegaskan film ini jelek bukan maen, nama2 jajaran castnya dipampang rapi dan ada cast yang namanya MEMPERKENALKAN CAHAYA ILMI (saya cari sosmednya ga ketemu), ada akun sosmed @dulungsquad yang siap anda blokir. Sekian.
Selamat menikmati karya KOMANDO PICTURES :)

jefry punya cerita mengatakan...

Bang melihat trailer suzanna bernafas dalam kubur, gimana pendapat abang?

Rahmad Pratama mengatakan...

Nonton dimana dah -_-

Rasyidharry mengatakan...

@Chan Bah, kayaknya mereka juga nggak peduli filmnya mau dicaci kayak gimana

@Teguh Mandi wajib dulu, ikuti saran Kak Okto.

@Abdi Tuh, kayak udah ditulis di atas, perintah baginda admin IDFC. Ya dibayarin tiketnya sih. Tapi ternyata ada aja yang mau bayar hahaha

@Panca Bangsat hahaha baru nyadar judulnya ada 2. Sungguh teliti. Berarti harus nonton felemnya!

@jefry Looks promising. Paling nggak gabungan horor/komedi masih dipertahankan.

@Rahmad Bioskop dong :)

Zha93 mengatakan...

Paling seneng baca review film beginian haha. Sangat menghibur~~ Dari poster sampai trailernya aja udah ketahuan ini film ga jelas alurnya mau dibawa kemana. Trailernya aja kayak potongan sinetron azab. Dan sangat hebat dan baik hati sekali yg mau nonton film ini di bioskop (termasuk mas rasyid) hahaha

Mofan Elzein mengatakan...

ah, akhirnya ada lagi review film jelek...bahagianya baca review nya bang... :D

jerry kevin mengatakan...

Comic kongxkong masih juara bertahan?

Bentar lagi ada film nyai raffi ahmad part ayu ting ting tu mungkin jadi saingan terberat

Rasyidharry mengatakan...

@Zha bukan hebat, lebih ke arah keras kepala sih 😂

@Jerry Oh masih, lebih ngaco lagi itu. Trilogi Arwah Tumbal Nyai sih ketiganya kayaknya bakal jelek banget, tapi bukan spesies yang bakal dapet 0 (semoga)

Anonim mengatakan...

Dilihat untuk dikata sampah , mending gausa sekalian ga sih

Iio somnia mengatakan...

apa daya mas. sudah tugas

Raid Mahdi mengatakan...

SARAN LABEL!

Bintang= ZERO

Label= CURSED ONE!

Mas Rasyid... kasian sangad kamu maz...

ei andieni mengatakan...

Wkwkwkwk.... kalau saya kutip dari berita saat launching film nya, disebutkan....

"....film ini membawa pesan moral yang bisa dijadikan pelajaran bagi pemirsanya di kehidupan nyata..."

Bubblewrap Bandung mengatakan...

Harusnya juga bikin list film dengan poster yang ngasal ada, kayak film ini

리안LIANA BEATRIX LARASANI mengatakan...

Rapi amat mas...