THE HUSTLE (2019)

2 komentar
The Hustle selaku remake dari Dirty Rotten Scoundrels (1988) yang juga hasil remake Bedtime Story (1964) tidak semestinya dibuat. Serupa banyak film daur ulang masa kini (Ghostbusters, Ocean’s 8, What Men Want), gender protagonis diubah menjadi perempuan, dengan harapan menambah relevansi.Tapi cara The Hustle menangani materi adaptasinya justru bagai menarik pesan women’s empowerment-nya mundur beberapa langkah.

Tonton Dirty Rotten Scoundrels, dan anda akan menyadari jika filmnya bergerak bak sajian seksis sebelum twist finalnya datang membalikkan keadaan. Ditulis naskahnya oleh Jac Schaeffer (Captain Marvel, Black Widow), The Hustle mempertahankan twis tersebut, tapi karena perubahan gender karakternya, efek yang dihasilkan pun berlawanan.  

Pun ini adalah reka ulang yang malas, khususnya di paruh pertama. Bukan cuma alur, banyak sudut kamera bahkan dialognya sama persis dengan Dirty Rotten Scoundrels. Rasanya seperti menonton film yang sama, namun bukannya Michael Caine, kita melihat Anne Hathaway memamerkan karisma, sementara pesona penuh warna Steve Martin digantikan kekonyolan Rebel Wilson.

Josephine (Anna Hathaway) dan Penny (Rebel Wilson) sama-sama seorang penipu ulung, hanya saja “berbeda kasta”. Ketika Josephine lebih berkelas dan menjalankan aksinya di kasino mewah, Penny memilih bar biasa sebagai lahan mencari mangsa. Target mereka selalu sama, yaitu laki-laki. Tanpa disengaja, keduanya bertemu di kereta, sama-sama sedang menuju Beaumont-sur-Mer.

Dari situlah kompetisi bermula, sewaktu Josephine dan Penny tak hanya menipu para korban, pula satu sama lain demi ambisi menguasa teritori. Alhasil, taruhan dilakukan. Siapa yang berhasil merampas uang sebesar $500 ribu dari seorang penemu aplikasi populer bernama Thomas (Alex Sharp) jadi pemenangnya.

Perbedaan mendasar The Hustle dibanding pendahulunya adalah soal gaya melucu. Banyolan bodoh sarat slapstick jadi andalan, yang sesungguhnya cukup efektif memancing tertawa di beberapa bagian berkat Anne Hathaway dan Rebel Wilson yang memang ahli melakoni kekonyolan. Ditambah lagi, penyutradaraan Chris Addison sama bertenaganya. 

Tapi sekali lagi, tidakkah itu mengkhianati intensi pembuatan remake ini? Pemilihan humornya, ditambah keputusan mempertahankan twist milik Dirty Rotten Scoundrels sebagaimana saya singgung di atas, membuat para wanita film ini sepenuhnya jadi sosok bodoh. Tidak sekalipun saya dibuat percaya bahwa keduanya merupakan jenius di bidang tipu-menipu.

Jac Schaeffer seperti kurang memahami sumber adaptasinya, sehingga tiap kali ia melakukan perubahan, ketimbang memperoleh penyegaran, filmnya justru memburuk di berbagai aspek, entah soal penyampaian pesan, penokohan, atau komedi. Ambil contoh “adegan rolet”.

Pada Dirty Rotten Scoundrels, situasi itu muncul dua kali. Kemunculan pertama berfungsi mengukuhkan modus operandi Lawrence (Michael Caine), di mana ia memasang taruhan di angka yang sama dengan  sang target, lalu berharap kalah (yang kemungkinan besar akan terjadi) guna menyedot simpati. Alhasil, saat dalam situasi kedua Lawrence malah terus meraup kemenangan, tercipta kelucuan. Sementara The Hustle hanya memiliki situasi kedua, berujung melemahkan dampak kejenakaan berbalut ironinya.

Melangkah ke paruh kedua, The Hustle makin berani menerapkan perubahan. Paling kentara dialami Josephine, yang pelan-pelan kehilangan ketenangan dan wibawa. Hal itu dilakukan supaya kelucuan meningkat, meski sayangnya, hasil yang didapat lagi-lagi berlawanan dari keinginan. Buddy comedy macam ini baru akan efektif jika kedua tokoh utama punya ciri berlawanan, yang artinya, menjadikan Josephine karakter konyol serupa Penny, berakibat melemahkan komedinya.

Durasi The Hustle hampir 20 menit lebih pendek ketimbang pendahulunya karena Schaffer memangkas banyak momentum, yang alih-alih menambah dinamika filmnya selaku hiburan bertempo cepat, justru terasa bak simplifikasi konflik, serta wujud ketergesaan penceritaan. Seolah film ini tidak sabar mempresentasikan kejutan besarnya.

Terakhir, usaha menghembuskan rasa melalui romansa yang juga bertindak selaku perlawanan terhadap standar kecantikan, turut menemui kegagalan. Rasa yang hendak diciptakan tertutupi oleh kekonyolan. Tapi jika anda belum menonton Dirty Rotten Scoundrels dan tak ambil pusing tentang alasan eksistensi remake ini, besar kemungkinan, The Hustle adalah tontonan yang cukup untuk mengembangkan senyum kepuasan.

2 komentar :

Comment Page:
Unknown mengatakan...

Mas Rasyid,

Walaupun ber'label "kurang" dari Movfreak, gw masih berharap bakal terhibur seperti pas gw nuntun Ocean's 8.

Gw bingung, olang² di belakang gw pada ngakak nuntun film ini.. sedangkan gw?

Bwt gw, Ocean's 8 jauh lebih menghibur..

Rasyidharry mengatakan...

Sama, seisi bioskop waktu itu juga ngakak. Emang tipe komedi yang "aman" dalam arti gampang disukai mayoritas