TWIVORTIARE (2019)

10 komentar
“Saat bayi kembar siam dipisahkan, mereka akan mempunyai jantung, suhu tubuh, dan organ-organ lain sendiri-sendiri”, begitu kira-kira penjelasan Beno (Reza Rahadian) kepada Alex (Raihaanun). Begitu pula pasangan, atau dalam konteks film ini perceraian suami-istri. Twivortiare, selaku adaptasi novel berjudul sama (plus sebagian kisah Divortiare) karya Ika Natassa, mengupas bagaimana sepasang insan yang saling mencintai berjuang mengatasi perbedaan-perbedaan individual tersebut.

Pastikan anda tak ketinggalan sedikit pun adegan pembuka yang menata pondasi hubungan kedua tokoh utama. Merasa pernikahan mereka telah kehilangan nyawa, Beno dan Alex memutuskan bercerai. Dua tahun berselang, rupanya cinta itu belum padam. Ketika Beno pelan-pelan berusaha merebut lagi hati si mantan istri, Alex kesulitan beranjak pergi walau tengah berpacaran dengan Denny (Denny Sumargo).

Keduanya pun mengikat janji suci untuk kali kedua, berjanji bakal bersikap lebih baik. Alex berjanji akan melatih kesabaran, sementara Beno perlu meluangkan waktu di luar kesibukan sebagai dokter bedah. Tapi tidak ada hubungan tanpa gesekan. Di sini menariknya Twivortiare. Dipandu naskah buatan Alim Sudio (Surga yang tak Dirindukan, Ayat-Ayat Cinta 2) sutradara Benni Setiawan (Sepatu Dahlan, Toba Dreams, Insya Allah Sah), kisahnya bukan menawarkan buaian romantika manis bahwa “semua akan baik-baik saja”. Karena semua tidak akan (selalu) baik-baik saja.

Kita diajak melihat Beno dan Alex bertengkar, berbaikan, bertengkar lagi, berbaikan lagi, begitu seterusnya. Tidak secara asal, sebab segala pertengkaran itu dipicu alasan serupa. Biarpun mencapai pertengahan kesan repetitif gagal dihindari, dari situ, naskahnya berhasil menyuguhkan proses belajar secara bertahap guna saling mengenali, memahami, agar dapat memperbaiki. Pertengkaran jelas berarti masalah, namun bukan musibah, bukan pula bukti ketiadaan cinta.

Twivortiare merupakan cerita cinta berbasis karakter yang mengedepankan pasangan itu sendiri ketimbang elemen-elemen lain. Alhasil, kepiawaian duet penampil utama jadi faktor terpenting. Dan saya berani menyatakan bahwa urusan chemistry, Reza-Raihaanun merupakan kombinasi tanpa tanding. Tidak berlebihan menyebut mereka salah satu pasangan terbaik yang pernah saya saksikan.

Bagaimana interaksi verbal dituturkan begitu dinamis lewat penghantaran kaya variasi ditambah kejelian mengatur tempo hingga bagaimana rasa dihidupkan di layar dalam otentitas luar biasa yang dengan mudah “menulari” penonton, jadi beberapa bukti kehebatan Reza dan Raihaanun mengagkat standar “on-screen couple” ke tingkat lebih tinggi, yang tidak pernah saya bayangkan mampu dicapai film negeri ini.

Sedangkan di jajaran pendukung, Anggika Bolsterli dan Boris Bokir, masing-masing sebagai dua sahabat Alex, Wina dan Ryan, berjasa mencairkan suasana lewat kejenakaan yang sesekali terselip di antara intensitas konflik. Anggika seperti biasa bersenjatakan antusiasme bertenaga, sementara Boris jeli melontarkan kelakar-kelakar singkat namun segar.

Padukan akting Reza dan Raihaanun dengan pengarahan Benni Setiawan yang kembali menemukan sensitivitas sejak Toba Dreams (2015)—sambil sesekali dibarengi lagu manis Kembali ke Awal dari Glenn Fredly—jadilah sajian emosional bahkan sejak menit-menit awal. Benni enggan mencoba macam-macam. Memahami esensi kisah (berbasis karakter) sekaligus kapasitas dua pemeran utamanya, Benni “cuma” berusaha membangun keintiman dua sejoli. Daripada gambar cantik, kamera berfokus untuk sesempurna mungkin menangkap permainan rasa Reza dan Raihaanun. Rasa yang begitu kuat sehingga memancing pertanyaan, “Inikah cinta?”.

10 komentar :

Comment Page:
Arif Hidayat mengatakan...

Komentar ini aman dari serangan fans jokan

Ulik mengatakan...

Jangan anggap remeh kekuatan pilaparez

Mba Modern mengatakan...

Bagus banget filmnya, sedia tissue deh sblm ntn

Dewa mengatakan...

Raihanuun keren gila acting ya, nyantai tp pas bgt

Ryan mengatakan...

Dibanding mantan manten bagusan mana?

Rasyidharry mengatakan...

Fansnya ngamuk padahal reviewer & filmmakernya damai πŸ˜‚

Rasyidharry mengatakan...

Masih sedikit lebih suka Mantan Manten, tapi 2 film ini fokus & bentuknya beda

Meuthia Nabila Pratiwi mengatakan...

Yaah om kuranh panjang nih reviewnya? πŸ˜…

hilpans mengatakan...

Belom bisa move-on dari Adinia wirasti..pasangan Reza paling favorit

Puja Damayani mengatakan...

Belum nonton film ini, sedikit malas karena yang main Reza πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚ hmm bosan, apakah ada dialog khas novel Ika yang bertaburan Indonesia vs Inggris difilm ini?