REVIEW - RUROUNI KENSHIN: THE FINAL

2 komentar

Diproduksi secara back-to-back dengan film kelima sekaligus penutup serinya (The Beginning), The Final menandai kembalinya adaptasi live action layar lebar untuk manga Rurouni Kenshin, setelah The Legend Ends tujuh tahun lalu. Semuanya masih sama. Keishi Ōtomo masih menyutradarai sekaligus menulis naskah, Kenji Tanigaki masih bertugas membuat koreografi aksi, hampir semua cast juga kembali, kecuali Kaito Oyagi yang digantikan oleh Riku Ōnishi sebagai Yahiko. 

Sehingga, hasil akhirnya pun tidak jauh berbeda. Jika anda menyukai tiga judul pertama, film ini bakal memuaskan. Jika tidak (yang besar kemungkinan terjadi karena anda bukan pembaca manganya), narasi Rurouni Kenshin: The Final bakal kurang bersahabat. 

Mengadaptasi Jinchū Arc selaku arc penutup manga Rurouni Kenshin, kisahnya membawa Kenshin Himura (Takeru Satoh) berhadapan dengan Enishi Yukishiro (Mackenyu Arata), adik Tomoe Yukishiro (Kasumi Arimura), istri Kenshin yang tewas 15 tahun lalu. Bersama anak buahnya, Enishi menebar teror ke seantero Tokyo, guna membalas dendam atas kematian sang kakak. Kenshin pun dipaksa menatap kembali luka-luka masa lalunya, yang seperti bekas luka di pipinya, seolah menolak hilang meski telah sekian lama berlalu.

Di manga, romansa Kenshin-Tomoe yang kompleks (karena melibatkan benturan antara dendam dengan cinta) disampaikan secara tuntas dalam chapter khusus, di sela-sela cerita utama. Pembaca pun mendapat pemahaman utuh mengenai dinamika seluruh karakter. Mengapa sang istri amat berarti bagi Kenshin, mengapa Kenshin merupakan sumber kesedihan sekaligus kebahagiaan terbesar bagi Tomoe, mengapa Enishi menyimpan dendam sebegitu mendalam, dan sebagainya.

Di film, flashback juga diselipkan, namun hanya sambil lalu, menyuguhkan poin-poin ambigu, yang alih-alih memperkuat penokohan lewat tambahan informasi baru, justru tampil membingungkan, terlebih untuk yang belum membaca sumber adaptasinya. Daripada elemen cerita substansial, flashback-nya bak extended teaser untuk Rurouni Kenshin: The Beginning. Kelamahan ini membuat pergolakan batin Kenshin terasa dangkal nan hambar. Rasa bersalah sebagai battousai selalu jadi motivasi, dan semestinya film ini membawa gejolak itu ke ranah personal. Patut dicatat, bahwa saya tidak mengeluhkan keputusan membagi cerita menjadi dua film. Karena hal itu bukan masalah, selama ditangani dengan baik. Sayangnya itu tidak terjadi. 

Memasuki film keempat, sebagai pembaca manga sekaligus penonton animenya, saya sudah menerima beberapa ketidakakuratan yang sempat mengganggu kala Rurouni Kenshin dirilis sembilan tahun lalu. Sanosuke (Munetaka Aoki) yang lebih mirip preman kampung, Saito yang less-pyschopatic (Yōsuke Eguchi did a great job though), jadi beberapa contoh. Semua adalah wujud interpretasi suatu adaptasi. Modifikasi-modifikasi pun dilakukan oleh The Final, termasuk cameo dari salah satu tokoh paling populer selaku fan service. 

Perubahan terbesar hadir dalam pemangkasan alur, yang atas nama penghematan durasi, dapat dimengerti. Tapi hilangnya fase tatkala Enishi mampu menjatuhkan Kenshin ke lubang terdalam, justru melukai karakternya. Kalau Shishio adalah antagonis yang berhasil menyudutkan sang protagonis dalam hal fisik, Enishi sebaliknya (meski tetap punya skill pedang mumpuni), menghadirkan ujian psikis terberat. Menghilangkan itu, yang otomatis menurunkan stake penceritaan, turut menghapus daya tarik Enishi. 

Secara narasi, The Final memang mengecewakan (ditinjau dari potensi yang dapat dicapai). Bagaimana dengan aksinya? Tentu sulit menandingi foursome di The Legend Ends (2014), tapi kombinasi pengarahan Keishi Ōtomo, koreografi Kenji Tanigaki, sinematografi Takuro Ishizaka, serta kemampuan Takeru Satoh menjual tiap jurus secara meyakinkan, masih melahirkan suguhan memukau, khususnya memasuki third act.

Sejak film pertama, pencapaian utama adaptasi ini adalah soal membawa adu pedang over-the-top di manga, ke ranah live action yang lebih realistis, tanpa harus kehilangan kekhasan dan keseruannya. Visual-visual bombastis di panel manga diterjemahkan menjadi camerawork yang mampu menangkap visi imajinatif sang sutradara, yang dipenuhi koreografi kompleks, serta musik intens garapan Naoki Satō. Aksinya sempurna. Mungkin tidak sampai menjadikan Rurouni Kenshin: The Final pantas disebut "bagus", namun bagi para penggemar lama, maupun penonton yang datang murni demi melihat para jago pedang beradu jurus, "babak semifinal" ini punya cukup amunisi untuk memberi kepuasan.


Available on NETFLIX

2 komentar :

Comment Page:
aan mengatakan...

Koreografi duel pedangnya memang sangat keren.imajinatif dan indah...

Unknown mengatakan...

Well done