REVIEW - RUROUNI KENSHIN: THE BEGINNING
The Beginning adalah pilihan berani. Ketika franchise lain memilih tampil seepik mungkin di babak pamungkas, di film kelimanya, Rurouni Kenshin justru mengambil pendekatan melodrama berskala lebih kecil, lebih sunyi, lebih lambat, seraya mengajak penonton menengok ke masa lalu, guna memahami alasan Battosai mengakhiri legenda "si pembantai".
Kisahnya sederhana saja, yakni menyoroti puncak kejayaan (kalau bisa disebut demikian) Kenshin Himura alias Battosai (Takeru Satoh), yang membantai banyak orang demi terciptanya zaman baru. Selama sejalan dengan tujuan tersebut, nyawa siapa pun yang melayang, bukan jadi soal. Begitulah ideologi Kenshin.
Mengambil latar kala Kenshin masih menjadi Battosai, walau kental unsur drama, ditambah penerapan tempo bertutur lambat oleh Keishi Ōtomo selaku sutradara, The Beginning tetap tersaji brutal tiap memasuki sekuen aksi, meski kuantitasnya menurun dibanding empat film sebelumnya. Sebab, bagaimana mungkin film dengan protagonis seorang pembantai tidak menumpahkan darah? Bahkan The Beginning adalah installment paling brutal. Entah faktanya demikian, atau sebatas "ilusi" karena penuturannya paling mendekati realisme, sehingga tiap tetes darah terasa lebih berdampak.
Lalu terjadilah pertemuan Kenshin dan Tomoe Yukishiro (Kasumi Arimura), kakak dari antagonis The Final, Enishi Yukishiro (Mackenyu Arata). Hanya berniat menolong sang gadis yang pingsan di hadapannya, kehadiran Tomoe justru perlahan mengguncang ideologi Kenshin. Keduanya jatuh cinta (bagi penonton yang masih asing dengan Rurouni Kenshin, akan ada twist di penghujung second act), dan romansa inilah yang Ōtomo pakai untuk menjabarkan transformasi Kenshin.
Interaksi keduanya (dikemas menggunakan tone sendu oleh Ōtomo) membuat Kenshin menyadari, bahwa orang-orang yang ia habisi, memiliki sosok-sosok yang menantikan kepulangan mereka. Setelah merasakan jatuh cinta, Kenshin bisa membayangkan sakitnya kehilangan orang tercinta. Ideologinya goyah, dan mulailah proses transisi sang protagonis, dari "pembantai yang ingin berbuat BENAR" menjadi "pengembara yang ingin berbuat BAIK".
Di media mana pun (khususnya manga, mengingat versi anime baru mengangkat kisah ini melalui OVA Rurouni Kenshin: Trust & Betrayal yang tayang setahun selepas seri asli berakhir), hubungan Kenshin-Tomoe amat krusial. Berkatnya, perubahan Kenshin lebih memiliki bobot emosi. Fase ini memang pantas dibuatkan filmnya sendiri. Nilai plus bagi Ōtomo dan tim, atas keberanian mengambil risiko.
Kekurangannya, The Beginning jelas tidak diperuntukkan bagi semua kalangan. Penonton awam yang berharap disuguhi aksi pedang tanpa henti, bisa jadi terkejut kemudian kecewa. Sebaliknya, para penggemar pasti sudah mengantisipasi tempo lambatnya, meski beberapa mungkin berpikiran seperti saya, yang menyayangkan keputusan Ōtomo terus menyuguhkan kesenduan sepanjang 137 menit durasi.
Benar bahwa fase hubungan Kenshin-Tomoe tidak se-playful kisah-kisah lain, namun kala membaca manganya, saya masih bisa sesekali dibuat tersenyum. Biarpun alasan menghindari inkonsistensi tone dapat diterima, meniadakan warna lain dalam interaksi dua tokoh utamanya malah melemahkan romantisme mereka.
Romantisme itu baru terasa, sewaktu Kenshin dan Tomoe terpaksa pindah ke suatu rumah terpencil, pasca pasukan Hajime Saito (Yōsuke Eguchi) bersama seluruh pasukan Shinsengumi, memukul mundur pergerakannya. Orkestra indah buatan Naoki Satō mengiringi hari-hari pertama mereka di sana, saat Kenshin menemukan kehidupan baru yang mendatangkan rasa damai dan bahagia.
Babak puncaknya menawarkan keseimbangan antara aksi dan drama. Seperti biasa, koreografi Rurouni Kenshin selalu luar biasa. Over-the-top, cepat, dan kali ini makin variatif, di mana selain beradu pedang, Kenshin harus melewati ledakan bom, juga perangkap-perangkap mematikan (for me, these traps are the highlight). Di ranah drama, voice over Kasumi Arimura membacakan buku harian Tomoe terdengar menyentuh, sekaligus menampakkan kompleksitas karakternya.
Tapi satu hal cukup mengganjal. (SPOILER ALERT) Di manga, Tomoe memberi laporan palsu mengenai kelemahan Battosai. "Cara dia tidur", ungkapnya. Padahal Tomoe tahu, kelemahan terbesar Kenshin adalah kebaikan hati, yang jauh dari citranya sebagai si pembantai. Monolog internal ini penting, karena memberi pemahaman, tentang mengapa dendamnya berubah jadi cinta. Menghapus elemen signifikan. Adaptasi live action Rurouni Kenshin memang kerap terjangkit "penyakit" satu ini, walau bagi non-fans, rasanya bukan masalah besar.
Available on NETFLIX
REVIEW - RUROUNI KENSHIN: THE FINAL
Diproduksi secara back-to-back dengan film kelima sekaligus penutup serinya (The Beginning), The Final menandai kembalinya adaptasi live action layar lebar untuk manga Rurouni Kenshin, setelah The Legend Ends tujuh tahun lalu. Semuanya masih sama. Keishi Ōtomo masih menyutradarai sekaligus menulis naskah, Kenji Tanigaki masih bertugas membuat koreografi aksi, hampir semua cast juga kembali, kecuali Kaito Oyagi yang digantikan oleh Riku Ōnishi sebagai Yahiko.
Sehingga, hasil akhirnya pun tidak jauh berbeda. Jika anda menyukai tiga judul pertama, film ini bakal memuaskan. Jika tidak (yang besar kemungkinan terjadi karena anda bukan pembaca manganya), narasi Rurouni Kenshin: The Final bakal kurang bersahabat.
Mengadaptasi Jinchū Arc selaku arc penutup manga Rurouni Kenshin, kisahnya membawa Kenshin Himura (Takeru Satoh) berhadapan dengan Enishi Yukishiro (Mackenyu Arata), adik Tomoe Yukishiro (Kasumi Arimura), istri Kenshin yang tewas 15 tahun lalu. Bersama anak buahnya, Enishi menebar teror ke seantero Tokyo, guna membalas dendam atas kematian sang kakak. Kenshin pun dipaksa menatap kembali luka-luka masa lalunya, yang seperti bekas luka di pipinya, seolah menolak hilang meski telah sekian lama berlalu.
Di manga, romansa Kenshin-Tomoe yang kompleks (karena melibatkan benturan antara dendam dengan cinta) disampaikan secara tuntas dalam chapter khusus, di sela-sela cerita utama. Pembaca pun mendapat pemahaman utuh mengenai dinamika seluruh karakter. Mengapa sang istri amat berarti bagi Kenshin, mengapa Kenshin merupakan sumber kesedihan sekaligus kebahagiaan terbesar bagi Tomoe, mengapa Enishi menyimpan dendam sebegitu mendalam, dan sebagainya.
Di film, flashback juga diselipkan, namun hanya sambil lalu, menyuguhkan poin-poin ambigu, yang alih-alih memperkuat penokohan lewat tambahan informasi baru, justru tampil membingungkan, terlebih untuk yang belum membaca sumber adaptasinya. Daripada elemen cerita substansial, flashback-nya bak extended teaser untuk Rurouni Kenshin: The Beginning. Kelamahan ini membuat pergolakan batin Kenshin terasa dangkal nan hambar. Rasa bersalah sebagai battousai selalu jadi motivasi, dan semestinya film ini membawa gejolak itu ke ranah personal. Patut dicatat, bahwa saya tidak mengeluhkan keputusan membagi cerita menjadi dua film. Karena hal itu bukan masalah, selama ditangani dengan baik. Sayangnya itu tidak terjadi.
Memasuki film keempat, sebagai pembaca manga sekaligus penonton animenya, saya sudah menerima beberapa ketidakakuratan yang sempat mengganggu kala Rurouni Kenshin dirilis sembilan tahun lalu. Sanosuke (Munetaka Aoki) yang lebih mirip preman kampung, Saito yang less-pyschopatic (Yōsuke Eguchi did a great job though), jadi beberapa contoh. Semua adalah wujud interpretasi suatu adaptasi. Modifikasi-modifikasi pun dilakukan oleh The Final, termasuk cameo dari salah satu tokoh paling populer selaku fan service.
Perubahan terbesar hadir dalam pemangkasan alur, yang atas nama penghematan durasi, dapat dimengerti. Tapi hilangnya fase tatkala Enishi mampu menjatuhkan Kenshin ke lubang terdalam, justru melukai karakternya. Kalau Shishio adalah antagonis yang berhasil menyudutkan sang protagonis dalam hal fisik, Enishi sebaliknya (meski tetap punya skill pedang mumpuni), menghadirkan ujian psikis terberat. Menghilangkan itu, yang otomatis menurunkan stake penceritaan, turut menghapus daya tarik Enishi.
Secara narasi, The Final memang mengecewakan (ditinjau dari potensi yang dapat dicapai). Bagaimana dengan aksinya? Tentu sulit menandingi foursome di The Legend Ends (2014), tapi kombinasi pengarahan Keishi Ōtomo, koreografi Kenji Tanigaki, sinematografi Takuro Ishizaka, serta kemampuan Takeru Satoh menjual tiap jurus secara meyakinkan, masih melahirkan suguhan memukau, khususnya memasuki third act.
Sejak film pertama, pencapaian utama adaptasi ini adalah soal membawa adu pedang over-the-top di manga, ke ranah live action yang lebih realistis, tanpa harus kehilangan kekhasan dan keseruannya. Visual-visual bombastis di panel manga diterjemahkan menjadi camerawork yang mampu menangkap visi imajinatif sang sutradara, yang dipenuhi koreografi kompleks, serta musik intens garapan Naoki Satō. Aksinya sempurna. Mungkin tidak sampai menjadikan Rurouni Kenshin: The Final pantas disebut "bagus", namun bagi para penggemar lama, maupun penonton yang datang murni demi melihat para jago pedang beradu jurus, "babak semifinal" ini punya cukup amunisi untuk memberi kepuasan.
Available on NETFLIX



