REVIEW - BUDI PEKERTI

40 komentar

Tidak ada film Indonesia, setidaknya dalam beberapa tahun terakhir, yang mampu menangkap fenomena sebuah era seperti yang Budi Pekerti lakukan. Segala keresahan diutarakan. Keresahan akan era mengerikan di mana individu dituntut bersikap sempurna, diharuskan untuk selalu berperilaku "benar", padahal konsep benar/salah sedang mencapai titik paling ambigu, bukan lagi kepastian sederhana layaknya pelajaran budi pekerti di ruang kelas. 

Prani (Sha Ine Febriyanti) adalah guru BK yang dikenal lewat metode uniknya dalam mendidik. Alih-alih menghukum, ia memakai teknik "refleksi". Misal, saat ada siswa mengumpat temannya dengan kata-kata kasar, Prani menyuruh siswa tadi mengulangi kata-kata tersebut di depan tumbuhan yang ia tanam, lalu mengukur, "Mana yang tumbuh lebih tinggi? Apakah yang diberi makian, atau yang tidak?".  

Prani punya dua anak: Tita (Prilly Latuconsina) yang aktif menyuarakan ketidakadilan melalui musik, dan Muklas (Angga Yunanda) yang angkat nama sebagai influencer dengan ratusan ribu pengikut. Suaminya, Didit (Dwi Sasono), menderita bipolar pasca bisnisnya bangkrut akibat pandemi. 

Masalah muncul saat video Prani marah-marah di hadapan penjual putu viral di media sosial. Prani tertangkap kamera berteriak "asui" (anjing lah). Dia berkelit, berusaha meluruskan bahwa yang sesungguhnya ia ucapkan adalah "ah suwi" (ah lama). Tapi warganet selaku hakim telah mengetuk palu, sehingga Prani pun dihujat habis-habisan. 

Selama sekitar 110 menit, Budi Pekerti membawa kita mengikuti upaya sang protagonis membersihkan reputasinya. Tidak mudah, sebab tiap langkah yang diambil, entah bersifat pasif atau proaktif, malah kerap mendatangkan masalah baru. 

Perlukah kita menelanjangi diri dengan menceritakan semua hal, termasuk yang bersifat personal, demi menggaet kepercayaan publik, saat sejatinya mereka cuma tertarik memercayai apa yang ingin mereka percaya? Itulah satu dari sekian banyak keresahan yang tertuang dalam naskah hasil tulisan sang sutradara, Wregas Bhanuteja. 

Wregas turut menyentil setumpuk fenomena lain. Intensi "media edgy" dengan sikap kritisnya disentil, kesungguhan orang-orang yang vokal menyuarakan keadilan di media sosial juga turut dipertanyakan. Serupa Penyalin Cahaya, tendensi institusi pendidikan yang cuma mementingkan reputasi kembali dikritik. Apa pun keresahan yang kita pendam, besar kemungkinan Budi Pekerti mampu menyuarakannya. Naskahnya amat kaya, namun tertulis rapi sehingga tidak penuh sesak. 

Budi Pekerti ampuh untuk mengaduk-aduk emosi penonton. Muncul rasa kesal menyaksikan penghakiman yang dialami Prani sekeluarga. Menariknya, dinamika rasa itu bisa Wregas bungkus secara ringan. Film ini adalah karya paling pop miliknya sejauh ini, dengan sempilan humor di sela-sela penderitaan dan amarah. 

Bukannya Wregas mengorbankan kualitas. Sebaliknya, saya melihat Budi Pekerti sebagai titik ia mencapai keseimbangan sebagai sineas. Karya kritis tidak melulu berat, dan sebaliknya, tontonan ringan bukan berarti kosong. Di beberapa adegan, Wregas masih memamerkan sensitivitas yang jadi ciri khasnya. 

Misal sewaktu Prani beserta dua anaknya jatuh ke jurang keputusasaan terdalam. Muklas tantrum, berteriak sembari membenturkan kepala ke pintu. Ketimbang memaksakan situasi melodramatik, Wregas memilih pendekatan lebih "cantik". Lebih subtil namun tidak kalah (bahkan lebih) menusuk. Sama halnya dengan momen paling menyentuh di filmnya, ketika jelang akhir, dibarengi guyuran hujan serta lantunan Dan Hujan kepunyaan Gardika Gigih, Budi Pekerti menyibak jati dirinya sebagai kisah mengenai balas budi. 

Sedangkan di departemen akting, kuartet Sha Ine Febriyanti, Angga Yunanda, Prilly Latuconsina, dan Dwi Sasono saling berbagi tugas menjadi motor penggerak rasa Budi Pekerti. Satu yang spesial adalah terkait penggunaan Bahasa Jawa. Entah proses apa yang dijalani sampai Prilly dan Angga, yang notabene bukan "orang Jawa", dapat sedemikian fasih. 

Serupa filmnya, pencapaian terbaik dalam akting Ine adalah soal menampilkan ambiguitas. Kita tahu ia menderita, tapi apa sebenarnya yang berkecamuk dalam hati Prani? Tatkala Prani menerjemahkan ah suwi dan asui ke berbagai bahasa di Google Translate, muncul tanda tanya. Apakah ia meratapi kesialan karena dua ujaran itu terdengar mirip di Bahasa Jawa tapi tidak di bahasan lain, atau sebaliknya, merasa lega sebab kemiripan tersebut memberinya alasan untuk berkelit? Apakah pria yang ia tegur di depan penjual putu memang menyerobot antrian, atau sama seperti para penghujatnya di internet, Prani sudah berprasangka?

Prani memang tidak sempurna. Demikian pula metode "refleksi" yang sangat ia banggakan. Lalu siapa yang paling pantas disalahkan? Warganet? Prani? Si penyerobot antrian? Muklas yang menolak perintah ibunya membeli putu? Gora (Omara Esteghlal), mantan murid Prani yang merekomendasikan putu tersebut? Atau pihak lain? 

Rasanya tidak perlu ada jawaban. Sekali lagi, realita berbeda dengan mata pelajaran budi pekerti. Kebenaran bukan bersifat hakiki. Berbeda pula dengan ujian di sekolah, masalah di kehidupan nyata tidak selalu dapat dipecahkan. Daripada memaksakan diri mencari jawaban hanya untuk memenuhi hasrat menghakimi, ada kalanya kita cukup melangkah maju. 

40 komentar :

Comment Page:
vian mengatakan...

Filmnya sepertinya bagus, tapi jujur pegel liat jejeran pemain film bagus sepertinya harus mereka2 melulu. Kenapa tdk ada kesempatan bagi aktor lain (walau cuma peran pendukung kecil... 😃)

Anonim mengatakan...

nonton di mana ya 🤣😂😂

Anonim mengatakan...

di cari bioskop mana pun sampai kepala kejedot tidak ada layar yang belum tayang

Anonim mengatakan...

wow netflix, let's go...wkwkwkwkwkwkwkw

Anonim mengatakan...

prank & reality

Anonim mengatakan...

Kemarin udah ada penayangan duluan di jogja sblm ny ada di JFW TAYANG SERENTAK 2 november

Anonim mengatakan...

Masak sih film indonesia yg udah tayang banyak ga semua pemain mereka lo aja lebay

Anonim mengatakan...

Film ny emang bagus wajar dapet 17 nominasi FFI

vian mengatakan...

Biasa aja tolol. Ini pendapat gw pribadi. Anonim sampah

Anonim mengatakan...

skip dulu deh, trigger warning banget, jika mau nonton perlu ada pendamping di bioskop, jangan lupa

Anonim mengatakan...

Sha Ine Febriyanti spesialis 1000 karakter, layak dapat CITRA 2023

Anonim mengatakan...

diantara semua karakter, Dwi Sasono, hidden gem dalam film ini

Anonim mengatakan...

Prilly Latuconsina & Angga Yunanda, ternyata...bisa main karakter dalam film juga, the best

Anonim mengatakan...

Wregas Bhanuteja adalah spesialis menyuguhkan realita dalam horror sesungguhnya ke dalam layar film, nggak dulu mas : skip, terlalu overscare, bikin bulu bergidik, takut banget sampai nggak mau ke toilet terus pandangi layar bioskop

slowburn horror, skor film : 9.5/10

Anonim mengatakan...

Serius nanya Bang. Bahasa jawanya dominan gak? Bukan apa-apa. Aku paling gak bisa nonton film pake bahasa Jawa yang terlalu kental dan dominan meski ada subtitle.

Eldwin Muhammad mengatakan...

Gak review film Saranjana?

Syaeful Basri mengatakan...

Calon wakil indo di oscar 🔥🔥🔥

Anonim mengatakan...

Salah satu film yg paling aku tunggu dan emang dr trailer udh kelihatan mengaduk2 emosi dan isunya sedekat dan serelate itu dgn sekarang .. semoga kedepan aku bisa buat karya seperti Budi Pekerti juga...

Anonim mengatakan...

biasa, film bagus, flop di bioskop

Anonim mengatakan...

film seperti ini nggak laku di jual di bioskop indonesia, heran mandra

Anonim mengatakan...

horror realita itu menyakitkan, maaf nggak minat, terlalu serem banget cuy bikin ke trigger pengen gaplok tuh para orang ngehe di sosmed

Andi Suhendar mengatakan...

Mau reza rahadian?

Anonim mengatakan...

luarbiasa lele laila bareng main sama reza rahardian ya nominasi oscar dan citra 2023, mantap

Anonim mengatakan...

tanggal muda, 2 nopember tayang di bioskop kesayangan anda, minat

Anonim mengatakan...

kagum saya sama reza rahardian, aktingnya nggak ada saingannya selain warkop dki, keren

Anonim mengatakan...

ANJIR, FILM BUDI PEKERTI SEKELAS CITRA TAYANG TERBATAS DI BIOSKOP 2 NOPEMBER 2023

AMPUN DEH PENGEN KETAWA KUNTILANAK

DIBERI FILM BAGUS, CUMA TAYANG TERBATAS DI HARI PERTAMA UNTUK UMUM

Anonim mengatakan...

budi pekerti kalah dengan junkfood kultus iblis di layar gede segaban bioskop

Anonim mengatakan...

hallo XXI, why kok terbatas, nggak cuan ya

Anonim mengatakan...

film nya bagus

Anonim mengatakan...

ayo copy an nya yang banyak ya di bioskop agar tayang di semua layar bioskop

Ahmad fachriza mengatakan...

Tar di kasih model kayak film "ohh jadi elo", protes juga karna blom bisa akting

Anonim mengatakan...

Interpretasi bu prani mengecek pelafalan kata asui di google translate keren juga. Keren, aku ga sampe kepikiran wkwkw

Anonim mengatakan...

film budi pekerti sebentar lagi lenyap di libas the marvels


Yuk Segera Nonton Film Bagus Anak Bangsa ini

Anonim mengatakan...

film budi pekerti yang trigger & horror banget aja nggak laku di bioskop

gue sampai merem melek & gemes lihat film horror ini bikin nge trigger gue pengen tonjok tuh bapa berkaos elang & ketua media online najis

Anonim mengatakan...

pengen boker gue lihat film budi pekerti saking bagusnya sehorror itu, njleb ngenes bagi guru yang akhirnya resign akibat desakan netizen tolol

Cinema Paradiso mengatakan...

Bocil FF pas last scene: kek org gilak org dua ini basah2an

Anonim mengatakan...

film budi pekerti yang bercerita abaikan komentar stupid dari netizen goblok

Anonim mengatakan...

film horror terbaik 2023

Anonim mengatakan...

aktor aktris the best of the best

Anonim mengatakan...

intinya : jangan sok jadi hero, bikin hidup loe ancur di rujak