REVIEW - ZOOTOPIA 2
Serupa film pertama, Zootopia 2 punya bangunan dunia kokoh, di mana seluruh elemennya terasa hidup dan berjalan dengan aturan-aturan jelas. Keserakahan antagonisnya bukan sebatas kejahatan tanpa arti, tapi sebagai hewan teritorial, ia memang punya tendensi memperluas wilayah kekuasaan. Kulit luar filmnya memang dibuat over-the-top atas nama hiburan semua umur, namun jiwanya bergerak sebagaimana realita.
Jeda antar kedua film hampir satu dekade (sebuah anomali mengingat Zootopia mengeruk untung besar), tapi alur sekuelnya hanya berjarak seminggu dari konklusi pendahulunya. Judy Hopps (Ginnifer Goodwin) dan Nick Wilde (Jason Bateman) yang dielu-elukan bak pahlawan kini secara resmi berpartner di ZPD (Zootopia Police Department). Seekor kelinci dan rubah merah pun bersatu.
Nyatanya bukan perkara mudah menjalin relasi lintas spesies. Judy yang terlalu positif dan Nick yang cenderung negatif terus mengalami gesekan, berujung setumpuk kekacauan yang membuat posisi keduanya di kepolisian terancam. Ketimbang menyiasati konflik lewat obrolan hati ke hati, dua jagoan kita memilih menampik adanya masalah, memupuk disfungsi yang patut jadi bahan observasi setiap pasangan.
Naskah buatan Jared Bush (turut menyutradarai bersama Byron Howard) menjaga hubungan dua protagonisnya tetap di ranah platonik. Penonton anak bakal memandangnya sebagai persahabatan biasa, tapi di mata penonton dewasa lah keintiman yang urung berkembang ke arah percintaan ini akan terlihat unik. Isian suara Ginnifer Goodwin dan Jason Bateman yang sarat chemistry makin menguatkan pesona dua karakter utama. Mereka adalah individu yang benar-benar hidup, di tengah dunia yang tak kalah hidup.
Di balik peliknya friksi interpersonal tersebut, Judy dan Nick mesti mengusut kemunculan ular viper bernama Gary (Ke Huy Quan) yang ditengarai mengancam stabilitas kota. Sudah bertahun-tahun sejak ular (atau reptil secara general) yang ditakuti dan dipandang selaku ancaman, menginjak tanah Zootopia, yang seiring waktu akan kita telusuri sejarah kelamnya.
Komponen misteri berlandaskan subgenre komedi buddy cop yang cukup efektif menggamit atensi pun digelar, digerakkan oleh duo sutradaranya dengan tempo tinggi yang terbukti menjaga sisi hiburan filmnya. Humor yang enggan asal konyol, tapi secara cerdik terus merujuk pada mekanisme ekosistem yang telah dibangun pun tampil segar, sementara para pecinta sinema bakal kembali dipuaskan oleh sederet referensi, termasuk penghormatan terhadap salah satu karya Stanley Kubrick di babak ketiganya.
Progresi ceritanya tak pernah keluar dari pakem familiar khas animasi semua umur dalam lingkup arus utama Hollywood, pula tanpa dampak emosi yang manjur mengobrak-abrik perasaan penonton, namun Zootopia 2 adalah spektakel dengan daya pikat yang sukar ditolak. Shakira kembali memerankan Gazelle si diva, lalu membawakan lagu berjudul Zoo yang mudah menempel di kepala sekaligus memancing hentakan kaki. Keseluruhan film ini pun kurang lebih berlangsung demikian.
Sebuah twist telah menanti jelang babak akhir, yang bukan cuma mengejutkan, juga mendukung subteks kisahnya. Zootopia 2 memberi ruang bagi mereka yang merasa tidak pernah diterima, serta dikucilkan baik karena perbedaan fisik maupun perangai. Relevan, biarpun tidak seberapa menyentuh perasaan.

%20(1).png)
Tidak ada komentar :
Comment Page:Posting Komentar