REVIEW - THE TESTAMENT OF ANN LEE
Kita cenderung terlampau ringan menghakimi suatu perihal berdasarkan perspektif hasil bentukan norma umum. Misal kala melabeli ritual suatu sekte dengan cap "sesat" namun mewajarkan ibadah agama-agama yang "diakui". Bila mengupasnya lebih jauh dari ini, niscaya saya pun bakal dianggap menistakan ajaran.
The Testament of Ann Lee menampilkan kisah hidup figur pemimpin dari sekte Shakers yang berkembang di abad 18. Dipresentasikan bak hikayat dengan segala "konon" yang terucap dari mulut naratornya, alih-alih upaya menyebarkan kesesatan, film ini bertujuan memotret bagaimana paham religius lahir dari keresahan umat manusia.
Ann Lee (Amanda Seyfried) menemukan pencerahan spiritualnya kala menghadiri pertemuan kelompok Shakers yang dipimpin oleh pasutri Jane (Stacy Martin) dan James (Scott Handy). Nama aneh tersebut diambil dari cara beribadah yang mengharuskan penganutnya menggetarkan tubuh mereka sembari mengeluarkan teriakan liar selaku cara detoksifikasi dosa.
Di kursi sutradara, Mona Fastvold mempresentasikan jalannya ibadah kelompok Shakers dalam bentuk musikal yang tampil bak ritual sakral. Setiap gerakan dan nyanyian adalah wujud katarsis atas emosi-emosi yang tak diberi ruang untuk meletup di luar lingkup sekte, dan pengadeganan musikal dari Fastvold memastikan penonton dapat menangkap emosi yang karakternya lepaskan. Hasilnya menghipnotis.
Melalui pertemuan kelompok Shakers pula Ann Lee bertemu suaminya, Abraham (Christopher Abbott). Pernikahan keduanya tidak berlangsung mulus. Ann Lee terganggu dengan kesukaan Abraham pada sadomasokisme, yang membangkitkan lagi trauma masa kecil kala menyaksikan sang ayah menyetubuhi ibunya secara kasar. Baginya, hubungan badan semacam itu adalah dosa. Ditambah lagi, Ann Lee kehilangan empat anak yang semuanya meninggal sebelum menginjak usia setahun.
Duka tersebut yang mendorong Ann Lee makin aktif menyusuri jalan religi, bahkan menjadi salah satu pentolan Shakers, hingga sempat dijebloskan ke penjara akibat dianggap mengganggu ketertiban. Di tengah pengurungan, Ann Lee memperoleh penglihatan yang membuat anggota Shakers percaya bahwa ia merupakan mesiah yang telah lama dinantikan.
Penglihatan itu Ann Lee dapat tatkala ia melakukan aksi mogok makan dan minum. Bisa jadi semuanya cuma halusinasi bukan? Benar, tapi filmnya enggan menghakimi secara instan. Timbul sebaris pertanyaan provokatif: Apa yang membedakan pengalaman spiritual Ann Lee dengan penglihatan yang didapat para figur agama?
"Mother Ann", begitu ia dipanggil sejak peristiwa tadi. Ajaran Shakers pun semakin gencar disebarkan, termasuk soal penolakan atas aktivitas seksual yang dipandang selaku dosa terbesar. Memang aneh, pun penonton dipersilakan berpikir demikian. The Testament of Ann Lee menjabarkan alasan di baliknya, yang tidak pernah bermuara pada penyimpulan benar/salah.
Semua kembali pada trauma masa lalu Ann Lee, yang entah sadar atau tidak, memandang seks sebagai medium para lelaki memamerkan kendali mereka. Itulah keresahan yang Ann Lee beserta banyak anggota perempuan Shakers rasakan. Mereka mendambakan kesetaraan, baik seputar gender maupun ras (Ann Lee menentang keras perbudakan terhadap kulit hitam, dan menjalin kekerabatan dengan suku Indian). Bukan agama lain yang ingin Ann Lee lawan, melainkan kemapanan.
Penampilan Amanda Seyfried begitu piawai menyedot atensi. Sosoknya tak seberapa karismatik, tapi saya rasa itulah citra yang ingin dibangun oleh Mona Fastvold. Berbeda dengan banyak pemimpin sekte laki-laki, Ann Lee enggan menggunakan metode manipulasi, tapi meyakinkan para pengikutnya bahwa ia berbagi keresahan dan luka yang sama dengan mereka, dan mungkin juga kita.
(Disney+)


Tidak ada komentar :
Comment Page:Posting Komentar