REVIEW - BUGONIA

Tidak ada komentar

Seiring masyarakat yang semakin mengedepankan sifat individualis, saya merasa upaya saling memahami antar individu pun semakin melemah. Tutur kata sesama manusia dipandang bak kebisingan semata, alih-alih petunjuk untuk mengerti jalan pikirannya. 

Itulah kenapa saya mengagumi Bugonia, yang bertindak selaku remake dari film Korea Selatan, Save the Green Planet! (2003). Dia pintar. Bukan karena twist gilanya yang hanyalah bumbu penyedap bagi bahan pokok berupa naskah kuat (ditulis oleh Will Tracy) yang menempatkan penonton di tengah perdebatan dua karakter. Kita diajak memahami mereka, daripada buru-buru menghakimi.  

Michelle Fuller (Emma Stone) dan Teddy Gatz (Jesse Plemons) jadi figur yang saling bentrok. Michelle adalah CEO perusahaan farmasi, sedangkan Teddy si penggila teori konspirasi meyakini kalau perempuan sukses tersebut sejatinya merupakan bagian spesies alien bernama "Andromedans" yang berencana menghancurkan Bumi. Dibantu Don (Aidan Delbis), sepupunya yang autis, Teddy menculik Michelle dengan tujuan memaksanya membatalkan niatan tersebut. Apakah tudingan itu berdasar atau sebatas teori konspirasi liar? 

Jurang kelas yang memisahkan keduanya tidak mungkin lebih lebar lagi. Sewaktu Teddy berolahraga dengan gerakan-gerakan canggung nan ngawur yang ia pelajari sendiri, Michelle membekali diri dengan pelatih pribadi serta teknologi berbiaya tinggi. Jika kediaman Teddy ditampilkan dalam kesemrawutan berhiaskan warna-warna mencolok, sinematografi arahan Robbie Ryan banyak menerapkan wide shot guna menangkap rumah serba teratur kepunyaan dengan sentuhan warnanya yang memudar. 

Harta melimpah, rumah mewah, seluruh tubuh yang terawat. Tanpa harus berasal dari galaksi Andromeda pun, Michelle sudah nampak bagai alien di hadapan Teddy. Tapi jangan buru-buru menghakimi. Bugonia lebih dari sekadar gesekan kelas biasa. Kelak, bentangan lanskap yang mendominasi di paruh awal bakal perlahan dikurangi kuantitasnya, berganti dengan close-up seiring menguatnya intensitas. Kita tidak lagi melihat gambaran luar dan mulai dibawa menelisik lebih jauh ke dalam.

Yorgos Lanthimos adalah sutradara hebat yang paham betul jika ia diberkahi dua aktor hebat. Mengambil gambar dari jarak dekat memungkinkan Emma Stone memainkan gurat-gurat mikro di wajahnya, menghadirkan performa menggelitik sekaligus janggal yang menyedot atensi bak magnet berdaya tarik tinggi. Sementara Jesse Plemons memunculkan dualisme menarik sebagai laki-laki yang omongannya seolah penuh keyakinan tetapi rautnya menguarkan keraguan. 

Baik Michelle maupun Teddy sama-sama bukan figur simpatik, dan memang tidak perlu menjadi demikian. Daripada dipusingkan soal mesti kepada siapa menaruh simpati, kita diajak mengobservasi benturan dua individu yang membawa kebenaran mereka masing-masing. Banyak terjadi aksi saling manipulasi, pun tampuk kekuasaan silih berganti, sementara musik gubahan Jerskin Fendrix terdengar menggelegar untuk menggarisbawahi betapa pentingnya obrolan yang tak ubahnya debat kusir konyol ini.

Dibanding film orisinalnya, Yorgos memilih pendekatan yang cenderung "membisukan" luapan emosi. Terkadang memang sedikit melelahkan, tapi kesabaran penonton untuk mencurahkan perhatian bakal terbayar lunas di babak ketiga. 

Ditemani lantunan sendu lagu Where Have All the Flowers Gone versi Marlene Dietrich, Bugonia menunjukkan rapuhnya manusia dengan mortalitas mereka. Kekayaan maupun kekuasaan tak ada artinya di hadapan akhir dari segalanya. Seketika timbul pertanyaan "nakal" di kepala saya: Apakah kita memang pantas dihukum akibat kegagalan mengasihi dunia, atau Sang Pencipta yang banyak dipuja sejatinya cuma entitas sadis belaka? 


(HBO MAX)

Tidak ada komentar :

Comment Page: