REVIEW - DISCLOSURE DAY

1 komentar

Jangan keliru berekspektasi, sebab ketimbang film UFO konvensional, Disclosure Day lebih dekat memposisikan dirinya ke arah triler konspirasi berbalut aksi. Steven Spielberg yang untuk kali pertama sejak Indiana Jones and the Kingdom of the Crystal Skull (2008) kembali berkolaborasi dengan David Koepp selaku penulis naskah, lebih tertarik menyoroti perdebatan mengenai perlu atau tidaknya eksistensi entitas luar angkasa diungkap ke umat manusia alih-alih sebatas terpukau atasnya. 

Filmnya dibuka dengan peristiwa berikut: Daniel (Josh O'Connor) berupaya menyelamatkan kekasihnya, Jane (Eve Hewson), yang diculik gara-gara keputusannya mencuri data rahasia dari Wardex Corporation, perusahaan tempatnya bekerja, yang di bawah pimpinan Noah (Colin Firth), bertugas menutupi bukti keberadaan alien. 

Unik, sebab kita seperti mendadak dipindahkan ke pertengahan sebuah film yang konfliknya telah memanas. Spielberg dan Koepp tidak tertarik berbasa-basi. Kebenaran tentang Alien dan UFO segera ditekankan, dan Daniel nekat bertindak karena merasa publik pantas mendapat suplai fakta tersebut.

Di lain pihak ada Margaret (Emily Blunt), pembaca berita meteorologi televisi yang tiba-tiba sanggup berbicara banyak bahasa. Blunt memberi kompleksitas rasa, sambil menyeimbangkan sisi dramatik dengan bumbu komedik, sebagai individu yang dibuat kewalahan oleh gempuran tiba-tiba dari barisan fakta mencengangkan, yang memang Disclosure Day perlukan selaku spektakel arus utama. 

Di satu titik, Margaret mulai mampu mengintip jauh ke dalam ruang personal orang lain cuma dengan menatap mata mereka. Setiap fenomena aneh itu terjadi, raut wajah Blunt tampak bak wadah bercampurnya berbagai fenomena ruwet dalam hati manusia, di mana keterkejutan berpadu dengan empati. 

Jalan hidup Margaret dan Daniel bakal bertaut seiring anomali yang mereka alami. Hugo (Colman Domingo) yang juga mantan karyawan Wardex menjembatani perkenalan itu. Setiap Hugo muncul, di sekelilingnya senantiasa berlangsung aktivitas konstruksi, yang mana menyediakan remah-remah petunjuk bagi penonton mengenai babak ketiga filmnya yang disimpan rapat-rapat di materi promosi.

Kucing-kucingan pun berlangsung antara Wardex dengan Daniel dan Margaret. Babak pertama dan kedua Disclosure Day memang ibarat satu sekuen kejar-kejaran raksasa. Sesekali kita singgah sejenak di area peristirahatan, sementara tokoh-tokohnya terlibat diskusi yang naskahnya pakai guna mengajukan pertanyaan soal kehidupan ekstraterestrial, baik dari perspektif humanis maupun religi. 

Masalahnya Koepp bukan seorang "provokator" atau penanya kritis. Diskusi yang ia lemparkan sebatas berlangsung di tatanan permukaan, pula acap kali terdengar terlampau naif. Tanda tanya kompleks tentang keimanan pun diberi jawaban sesederhana "memercayai umat manusia".  

Babak ketiganya menyuguhkan payoff memuaskan yang niscaya memantik euforia memabukkan bagi para penggila teori konspirasi. Tapi aroma kenaifan naskahnya sekali lagi menguar. Benarkah di era serumit sekarang, di tengah potensi meletusnya peperangan (Disclosure Day juga mengambil latar saat Perang Dunia III hampir terjadi), pengungkapan akan entitas ekstraterestrial bakal sebegitunya mengubah hidup manusia hingga seisi dunia seolah berhenti berputar? 

Beberapa pihak menyebut Disclosure Day sebagai karya terbaik Spielberg dalam 20 tahun terakhir. Perihal penceritaan saya harus menyatakan ketidaksetujuan, tapi bila yang diperbincangkan adalah kemampuan mengarahkan sang sutradara, maka 145 menit filmnya memang tidak pernah berhenti menyulut decak kagum. 

Disclosure Day ibarat museum berisi pameran "seni menyusun spektakel tingkat tinggi." Saya yakin, tracking shot yang bermuara pada adegan mobil menghunuskan moncongnya ke sebuah rumah, kelak akan melahirkan setumpuk video esai YouTube mengenai kepiawaian Spielberg dan penata sinematografinya, Janusz KamiƄski. 

Momen kala Emily Blunt dan Josh O'Connor bergelantungan di tubuh kereta menyediakan bahan studi perihal metode membangun kecemasan lewat situasi berskala besar dalam suguhan blockbuster, sedangkan aktivitas remeh sewaktu Jane melakukan panggilan telepon di suatu restoran jadi contoh bagaimana permainan foreground sederhana berpeluang membangun ketegangan luar biasa jika dibarengi kecerdikan sang sineas mempermainkan asumsi penontonnya. 

Disclosure Day takkan mengubah hidup siapa pun terkait fenomena UFO dan alien. Keabsahannya sebagai karya terbaik Spielberg dalam dua dekade terakhir pun layak diperdebatkan. Tapi di luar sana, saya percaya ada bocah yang bercita-cita menciptakan karya layar lebar, sedang terpana karena baru saja menemukan kitab sucinya. 

1 komentar :

Comment Page:
Razor mengatakan...

Is it me or... Colin Firth in this movie looks like Slamet Rahardjo from certain angles?