REVIEW - BACKROOMS
Bersama judul-judul seperti Obsession, Talk to Me, Iron Lung, dan masih banyak lagi, Backrooms mengokohkan era kejayaan horor hasil buah pikir kreatif para "YouTuber filmmakers" yang bermodalkan kecintaan terhadap genrenya serta ambisi tampil beda, berani menjauh dari kekolotan pakem industri.
Backrooms bermula dari creepypasta internet tentang suatu ruang liminal di luar realita kita, yang kemudian diangkat oleh Kane Parsons selaku sutradara film ini menjadi seri web berjudul sama pada 2022. Bagi generasi lawas materi tersebut mungkin bakal dipandang sebelah mata. "Kurang menjual", "terlalu remeh", "terlalu aneh", "tidak jelas", dan entah kata-kata bernada mengerdilkan apa lagi yang terucap.
Tapi bagi Parsons, yang baru genap 20 tahun kala proses produksi film panjangnya dimulai, kehampaan Backrooms memberi ruang eksplorasi tanpa dinding pembatas. Latarnya adalah dunia analog era 90-an, di mana rutinitas Clark (Chiwetel Ejiofor), arsitek gagal yang banting setir jadi pemilik toko furnitur yang juga gagal, merupakan sentral dari naskah buatan Will Soodik.
Bukan cuma karir, pernikahan Clark pun menemui kegagalan. Karenanya ia mencari pertolongan dari terapis bernama Dr. Mary Kline (Renate Reinsve). Reinsve menyuntikkan kedalaman bagi karakter Mary yang turut menyimpan traumanya sendiri, lewat kompleksitas rasa di raut wajahnya yang sempat mendatangkan komentar dari Clark, "Kamu adalah terapis yang tidak jago memasang poker face."
Toko milik Clark yang serba kosong akibat sepi pengunjung sekaligus minim stok barang, menciptakan ruang liminal bahkan sebelum kita dan sang protagonis menemukan backrooms di basemen tokonya. Jika realitanya saja sudah sebegitu hampa dan mengurung, apakah Clark mesti takut terhadap backrooms?
Berbeda dengan cara banyak horor arus utama memperlakukan elemen supernatural, Parsons enggan sebatas menjadikan backrooms selaku medium yang memfasilitasinya melempar teror malas semau sendiri. Ruang liminal tersebut diberi substansi, yakni sebagai manifestasi alam bawah sadar tempat manusia mengubur dalam-dalam beragam hal, yang memungkinkan Parsons menyoroti perihal kenyamanan individu akan kemonotonan, juga proses koping atas luka masa lalu.
Perjalanan mengunjunginya mencuatkan ketidaknyamanan, tidak hanya berkat tata sinematografi arahan Jeremy Cox yang menonjolkan kesan liminal, juga musik atmosferik gubahan Kane Parsons dan Edo Van Breemen yang ampuh memantik kecemasan. Rasa kagum turut hadir seiring kita menyaksikan kepiawaian departemen artistik menyusun kejanggalan kreatif di tiap sudut backrooms yang nampak bak museum instalasi seni absurd.
Pengalaman pertama penonton menyatroni backrooms bersama Clark memang agak berlarut-larut di mana Parsons sendiri bak terhipnotis oleh ruang liminal ciptaannya. Barulah pada kunjungan berikutnya, kala sang protagonis mengajak dua karyawannya, Kat (Lukita Maxwell) dan Bobby (Finn Bennett), kepiawaian Parsons mengolah intensitas semakin kentara, termasuk saat ia jeli memaksimalkan ketegangan khas format mokumenter yang sempat beberapa menit diterapkan secara efektif.
Selama sekitar 110 menit, Backrooms mengobrak-abrik pakem horor arus utama yang sudah sedemikian melelahkan dengan sentuhan surealismenya, juga alur yang menampik struktur formulaik, sewaktu kedatangan Mary di toko Clark, selain menggerakkan narasi ke arah tak terduga, membuat filmnya seperti memiliki second act ganda. Backrooms tidak sekalipun bersedia patuh pada aturan, dan saya pun semakin antusias menyambut era baru sinema horor ini.

.png)
Tidak ada komentar :
Comment Page:Posting Komentar