REVIEW - OBSESSION

Tidak ada komentar

Film horor sudah secara aktif mencerminkan ketakutan masyarakat suatu era, dari destruksi oleh nuklir pada 1950-an sampai teknofobia dan lenyapnya ruang personal di 2000-an. Obsession karya Curry Barker menggemakan salah satu ketakutan generasi masa kini: Hanya ada kepalsuan dalam cinta, sehingga kelak kita akan terdorong menuju lubang kesepian gelap nan tanpa ujung. 

Alkisah, Bear (Michael Johnston), Nikki (Inde Navarrette), Ian (Cooper Tomlinson), dan Sarah (Megan Lawless) adalah empat sahabat yang bekerja di toko musik kepunyaan ayah Sarah. Bear ingin mengutarakan cintanya pada Nikki, namun kekhawatiran akan penolakan senantiasa menutup pintu keberaniannya. 

Kesempatan bukannya enggan mampir di hadapan Bear. Nikki bahkan sempat secara terang-terangan menanyakan apakah Bear menyukainya, yang langsung ia sangkal. Ketimbang merengkuh peluang di depan mata, Bear justru mengambil jalan pintas dengan menggunakan "One Wish Willow", sebuah mainan yang konon mampu mengabulkan segala jenis permintaan. Bear meminta supaya Nikki mencintainya lebih dari siapa pun di dunia. 

Bukan cuma pengecut, banyak laki-laki cenderung berpikiran pendek, termasuk mengharapkan sesuatu yang tak benar-benar mereka pahami. Mereka sekadar mendambakan permukaan, tanpa mau mengupas lapisan-lapisan yang mungkin menyelubungi suatu harapan tatkala menjadi kenyataan. Bear merupakan representasi sempurna dari spesies laki-laki semacam itu. 

Singkat cerita, harapan Bear terkabul. Nikki terobsesi padanya, meminta untuk bermalam di rumahnya, mengajaknya berbaring bersama di ranjang, menanggalkan pakaiannya lalu meminta Bear mendekap tubuhnya. Malam itu adalah realisasi dari fantasi para laki-laki yang menomorsatukan nafsu daripada otak maupun hati. 

Tapi segera saja, Bear diingatkan ke ungkapan "be careful what you wish for". Perilaku Nikki semakin aneh, dari sekadar memamerkan senyuman janggal, mengamati Bear saat terlelap di malam hari, hingga hal-hal lain yang jauh lebih ekstrim. Bear ketakutan, tapi patutkah ia diberi status "korban"?

Dari sinilah naskah buatan Barker menyediakan observasi berlapis. Penceritaannya memberi penonton ruang guna mengamati detail situasi. Hipotesis pun diutarakan, bahwa sejatinya Bear merupakan pelaku. Di satu titik, identitas asli Nikki menyeruak ke permukaan, dan ia meminta Bear mengakhiri penderitaannya. Bear menolak. 

Protagonis kita menikmati obsesi yang Nikki curahkan, hanya saja tak ingin semua melesat ke luar kendalinya. Inilah satu lagi contoh dari kecenderungan laki-laki mengambil keuntungan dari penderitaan perempuan. Sejatinya bukan Nikki yang Bear dambakan, melainkan citra tentangnya yang dia ciptakan dalam dunia fantasinya. 

Tapi toh poin-poin di atas tidak menampik fakta kalau perilaku Nikki memang mengerikan. Curry Barker secara jeli menyerap prinsip dari konsep uncanny valley untuk menebar teror. Contoh terbaiknya tentu pada adegan yang seketika memantik ingatan terhadap momen penampakan legendaris di Kairo (2001) karya Kiyoshi Kurosawa. 

Selain mencekam, adegan tersebut membuktikan kreativitas sang sutradara yang ogah menyalin mentah-mentah lalu bersembunyi di balik topeng "penghormatan". Barker memodifikasinya, kemudian melahirkan entitas angker yang sepenuhnya baru. Beberapa jumpscare-nya memiliki daya kejut tinggi tanpa perlu bergantung pada tata suara berisik berkat pengaturan timing yang cerdik, pun segelintir elemen kekerasannya mujarab menyulut teriakan penonton. Departemen penyutradaraan Obsession luput dari cela. 

Menariknya, hapuskan keberadaan "One Wish Willow", dan besar kemungkinan segala peristiwanya bakal tetap berlangsung, walau dalam taraf keekstriman yang menurun. Mainan itu bukan artefak berbahaya, mengingat kutukan sebenarnya bersumber dari hasrat yang mengiringi permintaan Bear. Alih-alih hantu, iblis, atau monster, yang menyeruak ke permukaan sewaktu terjadi fenomena supernatural di Obsession adalah sisi gelap manusia. 

Segala sudut Obsession berpusat pada manusia. Itulah sebabnya ia terasa begitu dekat dan cengkeramannya teramat kuat. Manusia yang mendapat sorotan paling benderang adalah Inde Navarrette. Performanya tidak melulu soal pertunjukan seringai aneh khas horor konvensional. Selain untuk mengatrol efek kejut, tindak-tanduknya yang sarat akan ketidakterdugaan berfungsi sebagai penegas kalau Nikki berperilaku di luar kendalinya. 

Ketika tiba waktunya diri Nikki yang asli mengambil alih kesadaran biarpun hanya beberapa detik, ekspresi yang Navarrette hadirkan menampakkan sekelebat luka seorang perempuan yang direnggut dari kebebasannya untuk menyetir jalan kehidupan menuju ke arah yang ia inginkan. 

Saya punya sedikit saran. Ajak pacar atau teman kencan laki-laki kalian menonton dua film, yaitu (500) Days of Summer dan Obsession. Jika dia memandang masing-masing protagonis laki-lakinya sebagai korban, segera lari sejauh mungkin. 

Tidak ada komentar :

Comment Page: