REVIEW - MASTERS OF THE UNIVERSE
Bagaimana sosok jagoan kekar berjuluk "He-Man" dengan testosteron mengalir begitu deras sampai machismo era 80-an seolah menubuh sempurna pada dirinya bisa tetap memiliki tempat di masa sekarang? Masters of the Universe punya jawaban sederhana: buat dia tetap kuat secara fisik, tetap berotot, tapi pastikan si jagoan punya kualitas lain.
Sebagaimana citra feminin pada perempuan, laki-laki pun sudah sekian lama diharapkan menapaki standar maskulinitas. Adam (Nicholas Galitzine) selaku pangeran dari planet Eternia terjebak dalam problematika serupa. Bagi Raja Randor (James Purefoy), si putra mahkota yang kurang menikmati latihan bertarung di bawah arahan Duncan alias Man-At-Arms (Idris Elba), tidak cukup maskulin.
Ketika Skeletor (Jared Leto) beserta pasukannya menginvasi Eternia, Adam pun dikirim ke Bumi, guna melindungi pedang pusaka yang konon menyimpan kekuatan luar biasa. Bagaimana Adam kecil mampu menghidupi dirinya selama belasan tahun, di dunia yang selalu menertawakan kisahnya mengenai Eternia? Rasanya sempilan montase pendek sebagai penjelas takkan melukai narasi yang sudah terlanjur panjang (140 menit).
Masters of the Universe dengan bangga mengenakan ragam estetika khas 80-an yang cenderung jenaka bila disaksikan sekarang, lalu menjadikannya identitas audiovisual unik. Tengok betapa kerennya jajaran pengawal kerajaan dengan kostum serta kekuatan aneh mereka, dari Ram-Man (Jon Xue Zhang), Fisto (Jóhannes Haukur Jóhannesson), hingga Mekaneck (James Wilkinson). Pun karakter bernama segenerik Dian (Christiaan Bettridge) diberi kesempatan memamerkan gaya bertarung yang spektakuler.
Sedangkan kolaborasi Daniel Pemberton dengan Brian May niscaya bakal mengecoh kuping penonton, membuat kita mengira sedang disuguhi lagu-lagu epik nan autentik dari masa lalu. Travis Knight selaku sutradara juga tidak kalah jeli perihal merumuskan komposisi gambar bertabur warna-warni cerah, lengkap dengan beberapa visual cues ala spektakel kepahlawanan 80-an yang kemunculannya bisa seketika membangkitkan jiwa nerdy penonton, terutama saat Adam mengangkat pedangnya sembari berteriak lantang, "I have the power!"
Selang 15 tahun pasca pelariannya, Adam, dibantu sahabat kecilnya yang juga putri angkat Duncan, Teela (Camila Mendes), memutuskan kembali ke Eternia guna menggulingkan Skeletor.
Petualangan mereka tersaji menyenangkan, seiring kegemaran naskahnya (digarap "keroyokan" oleh Chris Butler, Aaron Nee, Adam Nee, dan David Callaham) menertawakan kenorakan beberapa elemen dari waralaba kepunyaan Mattel ini, termasuk soal penamaan karakter yang terkesan malas, demi menyesuaikan dengan pola pikir sederhana para bocah sebagai target pasar mainan dan serial animasinya dahulu (1983-1985). Alhasil beberapa kebodohan alurnya pun lebih bisa dimaklumi.
Satu elemen 80-an yang filmnya pilih untuk modifikasi tentunya terkait lekatnya figur Adam alias He-Man dengan maskulinitas berlebih. Petuah dari Sorceress (Morena Baccarin) si penyihir Eternia, yang terdengar bak sentilan bagi machismo budaya populer dekade lama, menjadi kunci. Disebutnya bahwa para jawara dari era lalu hanya mengandalkan kekuatan fisik, tanpa empati maupun rasa kemanusiaan sebagaimana dimiliki Adam.
Bukan berarti Adam mesti dilucuti dari kekuatan fisiknya. Dia tetap sanggup berjibaku dengan luar biasa tangguh hingga musuh-musuhnya nampak bak pecundang. Tapi ia wajib menyimpan kualitas lain, dan tidak seperti protagonis dalam lagu Boys Don't Cry milik The Cure, harus dibebaskan mengutarakan perasaan, yang tak semestinya dikonotasikan secara negatif.
Diperankan begitu dinamis oleh Jared Leto yang menyeimbangkan kejenakaan dan kengerian, Skeletor diposisikan oleh filmnya sebagai contoh, apa jadinya tatkala laki-laki gagal mengatasi insekuritas diri. Seolah mempunyai wajah tengkorak tidak cukup, ia menduduki singgasana yang terbuat dari tulang, bahkan melancarkan genosida atas nama membangun citra "tangguh". Tapi masyarakat modern sudah cukup pintar untuk menyadari bahwa figur-figur seperti ini justru yang paling lemah dan menyedihkan.

%20(1).png)
Tidak ada komentar :
Comment Page:Posting Komentar