REVIEW - ALL WISHES COME TRUE!
All Wishes Come True! yang diangkat dari legenda mengenai Eight Immortals merupakan bukti sahih bahwa sinema animasi Cina telah mengokohkan pondasinya. Bukan soal teknologi, melainkan kejelian memanfaatkan sifat tanpa batas dari mediumnya, untuk mengeksplorasi kekayaan cerita rakyatnya yang sarat keajaiban.
Tengok saat kita pertama menjejakkan kaki di Gunung Penglai. Detail animasinya mumpuni, tapi yang paling memukau adalah visi Mu Zhengyang selaku sutradara sekaligus penulis naskah, perihal presentasi keajaiban dunia Penglai.
Entitas ilahi, dan manusia yang berbondong-bondong tiba guna mengungsi dari bencana alam tanpa henti, hidup berdampingan di tengah semesta anakronistis hasil buah pikir Mu Zhengyang. Kadang Penglai nampak sesuai dengan citra kisah-kisah legenda, tapi ada kalanya ia terlihat futuristik (kendaraan bak mobil terbang, terowongan bertabur neon, sistem para dewa mengabulkan doa manusia yang sudah terkomputerisasi).
Dunianya aneh tetapi hidup. Di situlah kita bertemu Lü Dongbin (Li Shaozhe), yang meminta bantuan mantan kakak seperguruannya yang kini alih profesi menjadi pencuri, Zhongli Quan (Chen Hao), guna mencari lentera keramat yang konon dapat menghentikan segala bencana. Lentera tersebut dipercaya ada dalam ruang harta milik dewa.
Nantinya, enam manusia lain bakal turut serta menantang superioritas dewa: He Xiangu (Lidong), Han Xiangzi (disuarakan bergantian oleh Dong Tianyi, Yu Pengli, dan Huang Yushuo seiring proses tumbuh kembangnya), Cao Guojiu (Zhang Yunqi), Lan Caihe (Cao Zhishan), Zhang Guolao (Deng Xiansen), dan Li Tieguai (Guozi Gege). Rencana pencurian lentera dijalankan, sementara delapan makhluk fana tersebut pun berupaya mencuri peluang memperbaiki nasib.
Sayang, rencana rancangan Mu Zhengyang terlampau sederhana untuk bisa melahirkan cerita heist seru. Kedelapan tokoh utamanya melakukan penggalian supaya bisa menerobos ruang harta melalui bawah tanah. Hanya itu. Tanpa misi sampingan yang menuntut kebolehan spesial tiap karakter, tiada pula trik cerdik yang menyulut kekaguman penonton.
Paparan heist-nya amat berlawanan dengan kompleksitas mitologi yang ditawarkan All Wishes Come True!. Ada kalanya kompleksitas itu agak membuat kewalahan, akibat eksposisi verbal serba ngebut yang bak menganggap seluruh penonton sudah mempelajari tiap detail cerita rakyat Cina sampai khatam.
Babak kedua memang jadi titik nadir yang dihadang pelbagai kekurangan, tidak terkecuali soal pendalaman karakter. Di samping Lü Dongbin dan Zhongli Quan, dinamika antara eight immortals luput dikulik secara memadai. Akibatnya, tatkala delapan jagoan kita kembali bersatu pasca sempat hancur selepas hadirnya batu sandungan yang merusak mental mereka, proses penyatuan itu terkesan dipaksakan. Tiada alasan meyakinkan yang membuat penonton percaya bahwa ikatan emosional mereka sudah seerat itu.
Situasi berbalik 180 derajat begitu figur antagonis yang sebelumnya lebih banyak beraksi di balik layar akhirnya diungkap. Saya akan membiarkan sosoknya tetap jadi misteri. Satu yang pasti, bila pemahaman terbesar anda mengenai legenda-legenda Cina berasal dari serial Journey to the West yang populer di era 90-an, eksistensinya bakal menghadirkan kejutan menyenangkan.
Sang antagonis menuntun All Wishes Come True! menuju final bombastis yang memiliki segala elemen wajib sebuah spektakel, dari parade visual epik, gelaran aksi seru yang mendorong para protagonis sampai ke titik batas kemampuan, barisan karakter yang akhirnya sukses mengundang simpati lewat tindakan heroik mereka, juga twist yang secara tidak terduga membuktikan kalau film ini senantiasa mengingat statusnya sebagai sajian heist. Begitu keseruan usai, Mu Zhengyang secara resmi sudah mengabulkan satu permintaan saya: menonton film animasi yang hebat.

%20(1).png)
1 komentar :
Comment Page:Alhamdulillah
Posting Komentar