REVIEW - EMPAT MUSIM PERTIWI

Tidak ada komentar

"Beneran diperkosa?", ucap seorang polisi merespon sebuah aduan. Di negeri ini, pengakuan perempuan tentang pelecehan yang ia alami memang kerap dimentahkan, seolah itu sama tak lazimnya dengan laporan mengenai kemunculan UFO. Apa jadinya bila perkosaan sungguh terjadi hingga merenggut nyala hidup seorang manusia? Pun apa jadinya kalau UFO benar-benar eksis, dan skeptisme merenggut kemungkinan-kemungkinan untuk kita melompat lebih tinggi dalam hidup?

Setelah 20 tahun mendekam dalam bui, Pertiwi (Putri Marino) pulang ke kampungnya, yang direspon seluruh warga dengan kecemasan. Mereka khawatir Pertiwi bakal memantik kekacauan lagi, sebagaimana kala terjadi pembunuhan yang dituduhkan padanya dua dekade lalu. Menurut pengakuan Pertiwi, tindakannya adalah bentuk pembelaan diri. 

Pertiwi sendiri bukannya pulang dengan hati riang. Sesekali ia perlu menghitung sampai empat (tidak pernah lebih) guna mengais ketenangan batin. Sebuah langkah terapeutik yang turut memotret bagaimana sang protagonis masih terpenjara dalam siklus kekerasan terhadap perempuan, sama halnya dengan ketidakmampuan "ibu pertiwi" lepas dari siklus empat musimnya. 

Semua laki-laki memandang Pertiwi bak ancaman mematikan, atau gagal memahami dirinya. Sang ayah (Iswadi Pratama) yang jadi kacung Pak Sapto (Donikus Indarto) yang menancapkan kuasa di desa lewat usaha listriknya, mengira mangut lele kesukaannya pun merupakan makanan favorit putrinya. 

Sedangkan Bisma (Arya Saloka) si mantan kekasih yang kini justru menikahi Niken (Hana Malasan), sahabat Pertiwi, memberi "bunga ungu favoritnya", di saat bunga kuning jadi pilihan Pertiwi untuk disematkan di tasnya. Cara subtil nan efektif dari naskah buatan sang sutradara, Kamila Andini, guna memotret persoalan dinamika gender. 

Listrik sudah menerangi seisi desa tetapi Pertiwi tetap bergulat dalam gelap, dianggap hantu menyeramkan oleh warga, di saat dia sendiri senantiasa dibuntuti hantu berwujud monster hitam bertubuh besar dengan mata merah menyala, yang jadi representasi trauma perempuan. Raras (Hanna Aretha), gadis bisu anak dukun kuda lumping (Maryam Supraba), juga kerap disatroni si monster. 

Di tengah rutinitas mengunjungi warung Mak Ira (Christine Hakim) di area Gunung Bromo, atau memenuhi panggilan Fajar (Totos Rasiti) selaku kepala desa yang resah atas kepulangannya, sesekali Pertiwi terlempar ke masa lalu, mengunjungi memori-memori destruktif yang memperlihatkan cara unik Empat Musim Pertiwi mempertontonkan kilas balik. 

Kenangan Pertiwi diputar ulang dalam bentuk tayangan televisi serta siaran radio, seolah listrik yang selama ini pernah mengaliri barang-barang elektronik tersebut, jadi saksi bisu perekam jejak kelam desanya. Tersimpan relasi antara Pertiwi dan listrik desa yang dipasok oleh perusahaan Sapto. Selalu terjadi gangguan daya ke mana pun Pertiwi melangkah. Eksistensinya bagai disrupsi bagi sistem busuk yang Sapto tancapkan ke seluruh penjuru desa. Satu lagi contoh kelihaian Kamila Andini menerapkan kesubtilan bercerita tanpa harus kehilangan kelantangan suaranya. 

Sinema fiksi ilmiah sudah kerap mengajari kita bahwa gangguan terhadap aliran listrik merupakan pertanda kemunculan makhluk ekstraterestrial. Pertiwi pun ibarat alien. Individu yang terbuang, dialienasi karena dianggap mengancam dan/atau berbeda. Begitu pun Mak Ira, Raras, dan Kuntet (Dwika Pradnyana), sahabat karib Pertiwi yang dikurung bak hewan buas akibat mengidap skizofrenia. 

Banyak karakter dimunculkan. Saya bahkan belum menyebut Jonet (Nagra Kautsar Pakusadewo), putra Pak Sapto yang hendak mencalonkan diri sebagai kepala desa berikutnya, juga Rahma (Cut Mini Theo) yang berkontribusi besar menjaga harkat hidup Pertiwi. Saya tak menganggap filmnya terlalu membengkak, sebab mereka bukannya tanpa peran. Masing-masing individu mewakili fragmen (baik berukuran besar atau kecil) dari dunia si tokoh utama. Tanpa satu saja dari mereka, kisah Pertiwi, kepiluannya, kebangkitannya, kontribusinya bagi masyarakat, takkan terpotret secara utuh.

Kelak, sekumpulan manusia yang teralienasi berkumpul dalam suaka yang Pertiwi ciptakan, bekerja sama menyambung hidup tanpa perlu bergantung pada sistem sarat kecurangan. Salah satunya dengan membuat PLTS (Pembangkit Listrik Tenaga Surya). Ketika penguasa lalim memegang kendali atas cahaya, karakternya mengejar cahaya mereka sendiri dengan berserah pada kuasa semesta. 

Kamila Andini membawa Empat Musim Pertiwi menuju ranah magical realism yang pernah ia sambangi di Sekala Niskala (2017), saat memposisikan alam beserta makhluk-makhluk mistisnya, yang belum ternodai racun materialisme selaku sekutu bagi para individu yang diasingkan oleh sesamanya. Tatkala seorang karakter menemui ajal, ia kembali dalam wujud arwah yang membantu Pertiwi. Tubuhnya menyala terang bak lampu kendati tanpa aliran listrik. Ditemukannya cahaya begitu lepas dari cengkeraman tangan-tangan gelap penguasa.

Di luar kepiawaian Kamila Andini bercerita sembari mengulik metafora, Empat Musim Pertiwi juga memperoleh daya dari penampilan jajaran pelakonnya. Putri Marino yang wajahnya kerap kita saksikan dari dekat melalui close-up menampilkan kediaman yang jauh dari senyap. Dipotretnya amarah perempuan yang sudah terlalu lama diredam. Cela di aktingnya hanya satu: percampuran Bahasa Indonesia dan Jawa yang kurang natural. 

Christine Hakim yang meletup-letup lewat rentetan sumpah serapah, Maryam Supraba sebagai ibu yang kenaifannya perlahan digoncang oleh amarah, Hana Malasan dalam gurat-gurat ketidakberdayaan perempuan di hadapan laki-laki berpengaruh di wajahnya, sampai Hanna Aretha dengan ledakan emosi yang meremukkan hati, bersatu memproduksi hasil kerja kolektif yang menunjukkan kapasitas seni peran sebagai cerminan rasa realita. 

Adegan saat Raras menumpahkan traumanya sungguh memilukan. Kamila Andini membantah anggapan bahwa mempertontonkan perkosaan secara eksplisit merupakan keharusan bila ingin membuat penonton memahami apa yang korban rasakan. Menurut sang sineas, kita hanya perlu mendengarkan kisah sang korban secara saksama. 

Itulah yang coba Kamila sampaikan ketika menempatkan kamera begitu dekat di hadapan wajah Hanna Aretha. Semua detail ekspresinya adalah corong bagi luka yang telah sekian lama menghantui, sedangkan gerak-gerik bahasa isyaratnya bak pisau yang menghunus tepat ke jantung penonton selaku pendengar katarsisnya. 

Empat Musim Pertiwi memang jadi ruang untuk ledakan female rage yang selama ini coba diheningkan oleh paham patriarki. Jejaknya bertebaran di sepanjang durasi, dari kalimat "Fuck them all!" dari Mak Ira, sampai momen Pertiwi membacakan puisi di atas panggung diiringi Melukis Memar di Langit Ibu milik Rekah, yang bagi saya merupakan salah satu pemakaian musik hardcore terbaik di sinema Indonesia. Kamila mengerti bahwa esensi musik keras bukanlah media bertingkah sok jagoan, melainkan ungkapan perlawanan. 

Sayang babak puncaknya kurang memuaskan, akibat pertumpahan darah yang datang mendadak alih-alih buah pikir yang disusun secara bertahap. Bukannya tanpa maksud. Sebagaimana diutarakan jelang babak ketiga, akibat paksaan kondisi, privilese Pertiwi untuk dapat mencanangkan rencana jangka panjang telah direnggut darinya. Dia hanya mampu melangkah setapak demi setapak. Pilihan narasi tersebut berasalan, namun di saat bersamaan, turut merenggut efektivitas momennya. 

Tapi sekali lagi, klimaksnya berhasil memberi ruang sempurna bagi representasi female rage. Amarah tersebut memerlukan intervensi ilahi, sebab ketika dunia nyata memilih berpangku tangan, atau tak lagi punya kemampuan melawan, mistisisme pun jadi satu-satunya jalan guna merengkuh keadilan, kemudian memutus siklus yang telah terlalu lama memayungi perempuan dengan kegelapan. 

Tidak ada komentar :

Comment Page: