REVIEW - STREET FIGHTER
Keragu-raguan adalah resep untuk kegagalan. Street Fighter tidak menyisakan ruang bagi rasa ragu. Dia tahu apa yang hendak diraih, pula penyebab kegagalan banyak adaptasi layar lebar untuk fighting game (termasuk dari waralabanya sendiri), kemudian mengambil langkah pasti nan mantap menuju targetnya.
Naskah buatan T. J. Fixman beserta sang sutradara, Kitao Sakurai, tidak tertarik menyampaikan "kisah asal-usul". Alurnya bermula kala Ryu (Andrew Koji) menyabet juara pada turnamen bela diri dunia pertama (peristiwa gim Street Fighter pertama, yang sebagaimana semua kilas balik film ini, dilukiskan dalam animasi 2D cantik) di depan saudara seperguruannya, Ken Masters (Noah Centineo).
Enam tahun pun berlalu. Ryu menghilang, Ken bertransformasi jadi megabintang televisi, sementara hubungan persaudaraan mereka hancur pasca tragedi yang merenggut nyawa sang guru, Gouken (Don Lee). Saat itu bangunan dunianya telah berdiri. Setiap petarung pun, dengan reputasi yang sudah masing-masing mantapkan, saling mengenal satu sama lain. Tiada basa-basi.
Sampai M. Bison (David Dastmalchian) sang diktator penguasa Shadaloo, menginisiasi turnamen bela diri dunia kedua, di mana Chun-Li (Callina Liang) dikirim untuk merekrut para peserta, tanpa ada yang sadar kalau terselip intensi terselubung dari Bison di balik keputusannya menggelar kejuaraan.
"Berikan apa yang orang-orang mau", demikian kalimat yang berulang kali ditegaskan Dan Hibiki (Andrew Schulz) selaku manajer Ken. Mayoritas lini Street Fighter pun dirumuskan berbasis prinsip serupa. Khususnya perihal akurasi melalui kemunculan pelbagai ciri khas gimnya, dari suara komentator ring, bonus level berupa aksi menghancurkan mobil, hingga jurus tiap karakter yang secara sempurna diterjemahkan ke format live action tanpa kehilangan sisi absurdnya.
Tentu kemiripan visual karakter mendapat perhatian ekstra. Sama seperti persoalan jurus di atas, interpretasi tampilan para jagoan sepenuhnya menanggalkan aliran realis demi menjaga akurasi. Semisal bagaimana Guile (Cody Rhodes) akhirnya mengenakan rambut sapu ijuk yang ditanggalkan di versi Van Damme.
Jajaran pelakonnya bukan sebatas bermain kostum. Noah Centineo dengan apik memposisikan kekonyolan perilaku Ken sebagai manifestasi inferioritas, Andrew Koji bak master bela diri yang insting geraknya bak telah menyatu dengan semesta, Callina Liang pun senantiasa memenuhi layar dengan karisma.
Mungkin hanya performa David Dastmalchian yang belum sepenuhnya memuaskan. Sang aktor berupaya maksimal menonjolkan sisi psikosis Bison lewat pendekatan bigger than life, namun figurnya tak menguarkan aroma intimidatif yang dahulu ditebarkan oleh interpretasi Raul Julia dalam penampilannya.
Di ranah penulisan, Street Fighter mampu menyiasati problematika film adaptasi fighting game. Sepenuhnya memusatkan waktu bagi turnamen bela diri bakal melahirkan penceritaan tipis nan repetitif, namun meniadakannya juga berpotensi mengubah jati diri hingga melenyapkan akurasi.
Film ini pun memilih jalan tengah dengan menjadikan turnamen sebagai kedok semata bagi rencana sang antagonis sesungguhnya. Sadar bahwa mustahil membagi fokus berimbang di kedua hal (turnamen dan rencana asli Bison), naskahnya melompati laga-laga minim substansi, bahkan secara sengaja menyusun lelucon berulang (running joke) dari situasi tersebut. Cerdik, dan sekali lagi, membuktikan keberanian para pembuatnya dalam mengambil keputusan.
Keunggulan serupa ditampakkan terkait karakterisasi. Hampir semua tokoh dijadikan komedian yang gemar berseloroh tiap ada kesempatan, termasuk melontarkan one-liner kala saling bakum hantam (poin ini sesuai dengan gimnya). Alhasil, bila pernak-pernik visual di tubuh mereka ditanggalkan, karakternya cenderung senada.
Tapi itu pun suatu kesengajaan. Street Fighter enggan berpura-pura jadi tontonan kaya substansi. Disadarinya bahwa upaya sungguh-sungguh mengembangkan karakter di tengah turnamen hanya akan melahirkan produk setengah matang. Tontonan konyol yang enggan memandang serius dirinya sendiri pun jadi identitas yang dikenakan.
Di sebuah kesempatan, filmnya menyoroti punggung tanpa busana dari Chun-Li yang melangkah ke kamar mandi. Kamera bergerak perlahan mengikutinya dari belakang, sebelum mendadak bertransisi memperlihatkan puting E. Honda (Hirooki Goto) yang sedang berpeluh dalam sauna. Jika keisengan semacam itu membuatmu tertawa, maka Street Fighter adalah tontonan yang sempurna.
Momen absurd di atas turut membuktikan pemahaman film ini, bukan cuma mengenai konten Street Fighter tapi juga perilaku ekosistemnya, terutama soal tendensi seksualisasi atas karakter Chun-Li. Secara menggelitik, disentilnya pikiran kotor para konsumen. Karakter Martin (Kyle Mooney) yang terangsang melihat Chun-Li memamerkan kepiawaian berkelahinya pun eksis dengan tujuan serupa.
Bodoh, konyol, bertenaga, kosong, namun menyenangkan. Demikianlah film ini, yang menandai kesuksesan Kitao Sakurai mencapai golnya menekankan wajah Street Fighter yang lebih cerah nan kaya warna, sebagaimana diwakili oleh tata sinematografi arahan Ken Seng yang sarat akan nyala benderang dari lampu-lampu neon di tiap sudut latarnya.
Sekuen pertarungannya pun, kendati tidak pernah mencapai puncak intensitas, berbagi semangat bersenang-senang yang sama melalui deretan cartoonish shot khas fighting game yang secara lihai Kitao Sakurai sematkan di titik-titik puncak baku hantam.
Apakah gim Street Fighter hanya soal tumpah ruah suasana cerah yang acap kali konyol? Tentu tidak, tapi adaptasi satu ini cukup bijak dengan enggan mencampuradukkan semuanya. Filmnya menentukan pilihan, kemudian mengayunkan tinju dengan mantap guna menumbangkan segala keraguan dalam proses merumuskan karya.

%20(1).png)
Tidak ada komentar :
Comment Page:Posting Komentar