REVIEW - NAZA

Tidak ada komentar

Orkestra kesunyian dimainkan di tengah kedamaian malam sebuah kota. Terlihat dari balik jendela, para manusia luruh dalam peristirahatan, entah menonton televisi atau sekadar melepas lelah bersama pasangan. Kemudian cahaya rudal nampak membelah langit, yang hanya memancing respon minimum dari mereka. Hidup berjalan seperti biasa di Tel Aviv, di mana manusia memupuk rasa damai berbekal pengabaian atas genosida di Gaza yang cuma berjarak 70 km. 

Tanpa disadari siapa pun, terjalin obrolan diam-diam antara Yuval Abraham, yang menyutradarai film ini bersama Rachel Szor (keduanya turut membidani No Other Land bersama Basel Adra dan Hamdan Ballal), dan 24 anggota IDF dari badan intelijen. Di situlah barisan kontributor genosida mengakhiri kebisuan mereka lewat pembicaraan lirih yang takkan memecah hening kota. 

Penjelasan soal istilah yang dipakai sebagai judul, yaitu NAZA, jadi pembuka dialektika. Kata tersebut merupakan akronim IDF untuk "Nezek Agavi" alias "collateral damage". "We say 15 NAZA. We don't say 15 people killed and certainly not that 15 children and women will be killed." ucap seorang narasumber. Di depan kebiadaban zionis, nyawa rakyat Palestina ibarat sampah yang bisa dibuang begitu saja. 

Lalu dijabarkanlah detail metode yang badan intelijen IDF pakai. Mikrofon dan kamera ponsel seluruh rakyat Palestina diretas, terutama milik anggota keluarga dari individu yang ditengarai merupakan anggota Hamas. Jika target diyakini telah berada di rumah, serangan bom pun segera dilancarkan. Bayi-bayi turut jadi korban? Bukan masalah. Mereka adalah "NAZA". 

Berapa pun "NAZA" yang tewas bukan masalah selama target berhasil dilenyapkan. Di suatu kasus, lesatan bom IDF menewaskan lebih dari 500 rakyat sipil hanya untuk membunuh satu anggota Hamas. Angka tersebut setara dengan populasi sebuah kota kecil di Israel. 

Sistem bernama "Lavender" diciptakan guna mengidentifikasi kemungkinan seseorang merupakan agen Hamas. Konon sistem itu punya tingkat akurasi 85%. Bagaimana IDF menyikapi 15% dari ketidakakuratan sistemnya? "Lavender" pernah keliru menandai nenek berusia 80 tahun, dan IDF tetap melepaskan bom yang membunuh ia beserta semua keluarganya. 

Kita tahu bahwa di belahan dunia mana pun, pemerintah memata-matai gerak-gerik warga negaranya, termasuk dengan meretas akses data pribadi. Bukan modus operandi IDF yang terasa mencengangkan di film ini, melainkan bagaimana data tersebut diolah dan dipakai untuk apa. AI dengan segala celanya digunakan sebagai basis pengambilan keputusan yang menyangkut hilangnya hidup manusia. Cuma entitas dengan kekejian melampaui setan yang mampu melakukannya. 

Setelah No Other Land membuka mata atas kebrutalan zionis dengan mengajak terjun langsung ke pusat genosida, NAZA adalah progresi natural darinya. Sekarang waktunya mengenal musuh kita lebih jauh. Jika No Other Land ibarat tusukan agresif ke dada penonton, maka NAZA membuka ruang bagi perenungan, yang pada akhirnya juga menusuk hati kita secara perlahan pula dalam diam. 

Terkadang obrolannya mengambil rehat sejenak, kemudian kamera kembali menyoroti lingkungan sekitar. Misal sebuah berita televisi berupa pidato Netanyahu yang menyebut tindakan Hamas sebagai bentuk kekejian, sedangkan Israel hanya berupaya melindungi rakyatnya. Bahkan ketika narasumber sedang berhenti menyampaikan kisahnya, NAZA tetap bercerita, tanpa putus menelanjangi tipu daya pelaku genosida. 

Selain sayup-sayup ambiens yang menguatkan atmosfer menyesakkan, filmnya nihil musik. Kedua sutradara enggan mendramatisasi secara berlebihan, seolah menampik modus operandi ala zionis yang sarat akan kebohongan. Emosi penonton tidak perlu terlalu jauh dimanipulasi, sebab tiap sisi penuturan narasumbernya sudah cukup mengaduk-aduk perasaan. 

Tidak jarang narasumbernya berusaha berkelit dari kontribusi dalam genosida. "Kami hanya menjalankan misi" merupakan kalimat yang jadi primadona. "Saya tidak membunuh secara langsung di lapangan karena cuma mengembangkan sistem" juga kerap dipakai sebagai sanggahan. 

Tapi Yuval selaku pewawancara enggan memaklumi. Setiap justifikasi senantiasa dibalas dengan pertanyaan susulan, yang secara berani mengonfrontasi upaya narasumbernya untuk berkilah. NAZA tidak berniat mengundang simpati lalu memberi tepukan di pundak para pelaku genosida hanya karena mereka bersedia bicara karena ingin menghapus dosa. Sebab toh seusai wawancara, mayoritas dari mereka tetap bisa berbaring di bawah naungan rumah mewah yang dibayar memakai darah rakyat Palestina yang tumpah. 

Tidak ada komentar :

Comment Page: