Tampilkan postingan dengan label Girry Pratama. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Girry Pratama. Tampilkan semua postingan
KAIN KAFAN HITAM (2019)
Rasyidharry
Saya mengira Kain Kafan Hitam bakal menghasilkan satu lagi bencana di industri
perfilman Indonesia. Sungguh salah kaprah yang parah. Dalam debut
penyutradaraan yang dilakukan bersama Yudhistira Bayuadji, siapa sangka Maxime
Bouttier berani bereksperimen guna melahirkan horor arthouse yang menyatukan jiwa Roma-nya
Alfonso Cuaron, pendekatan Terrence Malick, gerakan Dogma 95 yang diprakarsai
Lars von Trier dan Thomas Vinterberg, dan surealisme David Lynch.
Mari kita bedah satu per satu. Roma merupakan lukisan aktivitas
sehari-hari, sebagaimana Kain Kafan Hitam
bercerita soal Evelyn (Haico Van Der Weken) yang sedang mencari rumah baru
ditemani kekasihnya, Bimo (Maxime Bouttier). Pencarian tersebut berujung di
sebuah rumah besar dengan harga sewa murah. Ketimbang hanya mengintip beberapa
sudut mengerikan, film ini mengajak kita mengikuti paket lengkap tur
berkeliling yang dipandu Egi (Egi Fedly) si penjaga rumah.
Egi memamerkan seluruh penjuru,
pelan-pelan menjelaskan “ini ruang apa”, “ruang itu di mana”, dan sebagainya. Beberapa
kali, gemuruh keras musik buatan Joseph S. Djafar (Jailangkung, Jaga Pocong, Orang Kaya Baru) datang menemani meski
tiada satu pun peristiwa supranatural terjadi. Hingga akhirnya Evelyn menetap
di sana, hal-hal aneh mulai menampakkan wujudnya.
Adik-adiknya lebih dulu jadi
korban. Suatu malam, saat Arya (Rayhan Cornellis) si bungsu henak buang air
kecil, hantu berwajah mirip versi busuk dari topeng Aku Aku di serial gim Crash Bandicoot menerornya. Ketakutan,
Arya pun ngompol. Berikutnya kita menyaksikan: Evelyn membawa Arya ke kamar – Evelyn mencari
celana ganti – Evelyn menggantikan celana Arya – Evelyn menidurkan Arya. Film
mana yang amat murah hati mau memperlihatkan proses mengganti celana secara
lengkap? Bahkan musik yang sepanjang durasi punya kebiasaan menggedor gendang
telinga pun seketika senyap. Apa ini kalau bukan usaha Maxime menciptakan post-horror ala A24?
Sutradara muda harapan bangsa ini
bahkan menggerakkan filmnya selambat mungkin. Para skeptis akan berkata bahwa
itu sebatas usaha mengakali naskah tipis karya Girry Pratama (Revan & Reina) yang mungkin cuma
berisi sekitar 30-40 halaman. Tapi saya berbeda pendapat. Saya yakin, Maxime berusaha
meniru kesabaran Ari Aster kala merangkai tempo Hereditary.
Kain Kafan Hitam juga merupakan penghormatan terselubung kepada
Terrence Malick. Sang sutradara legendaris gemar mengambil gambar tanpa naskah,
membiarkan aktor berimprovisasi demi memperoleh kejujuran luapan rasa. Bukan
mustahil, para pemain Kain Kafan Hitam juga
bernasib sama seperti Brad Pitt di The
Tree of Life atau Ben Affleck di To
the Wonder, yakni hanya menerima arahan singkat di secarik kertas tiap
hari, yang kurang lebih berbunyi, “Hari ini kamu berjalan keliling rumah, lalu
buka semua gorden. Lakukan perlahan. Resapi cahaya matahari yang menyelinap di
antara kisi-kisi jendela”.
Hasilnya bisa kita saksikan, ketika
Haico Van Der Weken berakting sama naturalnya dengan Yalitza Aparacio. Caranya
membuka gorden sungguh meyakinkan, bisa saja suatu hari nanti lapangan kerja
baru sebagai pembuka gorden ia ciptakan. Akting Maxime masih secanggung
biasanya, namun bisa dimaklumi. Dia mengampu tugas berat membuat horor
eksperimental, sehingga wajar bila tugasnya di depan kamera agak terbengkalai.
Walau tidak begitu kental, jejak
Dogma 95 yang berprinsip pada micro-budget
filmmaking masih dapat kita temui di sini lewat kemunculan beberapa establishing shot dengan resolusi rendah
yang bak diambil memakai kamera telepon genggam.
Menginjak 15 menit akhir,
eksperimen Kain Kafan Hitam menggila.
Ranah surealisme berani dijamah sewaktu menampilkan kilas balik yang bila
dilihat dengan mata telanjang, timing kemunculannya
terasa dipaksakan. Tapi melalui kacamata sinematik tingkat tinggi, surat cinta
kepada gaya David Lynch yang sering mendadak membawa alur melompat ke dunia
absurd bisa dirasakan. Di dalam dunia Lynchian,
tindakan maupun motivasi yang melatarinya terkadang sukar dipahami.
Sama seperti di film ini, tatkala
seorang ibu mertua mendorong menantunya yang sedang hamil tua dari tangga
hingga tewas. Dia memutuskan mengubur sang menantu diam-diam, membungkus
jenazahnya memakai gorden berwarna hitam alih-alih kain kafan. Kenapa ia tidak
berbohong saja, mengatakan jika menantunya tidak sengaja jatuh dari tangga alias
kecelakaan. Melihat kondisi kehamilannya, kebohongan tersebut sejatinya lebih
aman, logis, sekaligus mudah dilakukan. Tapi sekali lagi, ini eksperimentasi.
Lupakan logika beserta hal-hal mudah lain. Now
please welcome Mr. Maxime Bouttier, the new auteur of Indonesian cinema.
Gosh, I need Vodka.
Februari 16, 2019
Egi Fedly
,
Girry Pratama
,
Haico Van Der Weken
,
horror
,
Indonesian Film
,
Joseph S. Djafar
,
Maxime Bouttier
,
Rayhan Cornellis
,
REVIEW
,
Sangat Jelek
,
Yudhistira Bayuadji
Langganan:
Postingan
(
Atom
)

