Tampilkan postingan dengan label Maxime Bouttier. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Maxime Bouttier. Tampilkan semua postingan

KUNTILANAK 2 (2019)

Dunia horor lokal belakangan ibarat siswa yang sedang belajar. Prosesnya cukup lambat. Bukan buku demi buku, bukan pula halaman demi halaman, melainkan kalimat demi kalimat. Setelah beberapa waktu, kita akhirnya sampai di fase “mengurangi kuantitas jump scare”. Tapi kita belum mencapai usaha memperbaiki kualitas trik menakut-nakuti, setidaknya tidak secara signifikan. Begitulah ekspektasi yang sebaiknya anda pasang untuk Kuntilanak 2.

Si hantu wanita tituler baru menampakkan taring setelah film menyentuh durasi sekitar 30 menit, dan meski impresi pertama terhadap terornya cukup baik, tidak demikian dengan jalan menuju ke sana. Pasca peristiwa film pertama, para jagoan anak kita kini tinggal di bawah asuhan Donna (Nena Rosier) dan puterinya, Julia (Susan Sameh). Mereka hidup bahagia hingga datang wanita misterius bernama Karmila (Karina Suwandi), mengaku sebagai ibu kandung Dinda (Sandrinna Skornicki).

Ketiadaan bukti membuat Donna meragukan kebenaran pengakuan tersebut, tapi Dinda, yang merindukan kasih sayang seorang ibu, memaksa untuk mengunjungi Karmila. Ditemani bocah-bocah lain juga Julia dan kekasihnya, Edwin (Maxime Bouttier dengan penampilan canggung seperti biasa), Dinda mengunjungi rumah Karmila yang terletak di tengah hutan terlarang. Anda tidak perlu menjadi paranormal kelas satu guna menebak identitas Karmila sesungguhnya.

Naskah buatan Alim Sudio (Surga yang tak Dirindukan, Rumput Tetangga) mengajak kita mengarungi perjalanan panjang sebelum menggedor melalui teror. Walau niatan untuk menyampaikan cerita ketimbang kompilasi jump scare pantas diapresiasi, tanpa atmosfer memadai maupun modal cerita solid, yang hadir hanyalah kekosongan. Sejatinya banyak elemen berpotensi digali, seperti mitologi kuntilanak hingga drama hangat seputar pencarian keluarga, tapi tak satu pun cukup kuat guna mengatrol kualitas film secara signifikan.

Presentasi misteri mengenai identitas Karmila cenderung berupa rekap daripada investigasi sungguhan, drama keluarganya urung memproduksi ikatan batin meyakinkan di antara karakter (khusus aspek ini, film pertamanya lebih baik), sementara elemen mitologinya sebatas aksesoris kecil yang tak kuasa menghembuskan kesegaran bagi cerita maupun teror.

Tapi urusan menakut-nakuti, Kuntilanak 2 mengalami sedikit peningkatan, bahkan layak disebut sebagai horor terbaik yang pernah dirilis tepat di hari lebaran. Membaiknya penyutradaraan Rizal Mantovani (Jelangkung, Kuntilanak, Antologi Rasa) jadi faktor penting penghasil teror solid tak murahan. Sayangnya, setelah penantian panjang, beberapa “teror solid” belum cukup. Film ini butuh situasi “all hell break loose”, juga lebih banyak kreativitas dan dinamika supaya penantian tersebut layak dilalui.

Setidaknya Karina Suwandi kembali memamerkan penampilan mengerikan. Figurnya, dengan rambut lurus hitam panjang serta tatapan dingin, memancarkan aura mencekam sebagaimana saya bayangkan dimiliki oleh sesosok Kuntilanak. Ditambah gestur tak manusiawi yang sebelumnya pernah membuat penonton mencengang di Sebelum Iblis Menjemput, pula riasan ala horor kelas b yang mengingatkan kepada The Evil Dead (1981) kepunyaan Sam Raimi, Kuntilanak versi Karina adalah antagonis yang pantas mendapatkan film lebih baik.

Minimal klimaks yang lebih baik, sebab Kuntilanak 2 punya potensi memberi ride menyenangkan melalui presentasi babak ketiganya. Tapi pesona Karina Suwandi, pula musik garapan Stevesmith Music Production (Mata Batin, Sabrina, Antologi Rasa) yang cakap menyelipkan suara gamelan dalam scoring miliknya, dikecewakan oleh pacing lemah sekaligus ketidakmampuan Rizal Mantovani menjaga intensitas. Klimaksnya pun menjadi perjalanan melelahkan.

KAIN KAFAN HITAM (2019)

Saya mengira Kain Kafan Hitam bakal menghasilkan satu lagi bencana di industri perfilman Indonesia. Sungguh salah kaprah yang parah. Dalam debut penyutradaraan yang dilakukan bersama Yudhistira Bayuadji, siapa sangka Maxime Bouttier berani bereksperimen guna melahirkan horor arthouse yang menyatukan jiwa Roma-nya Alfonso Cuaron, pendekatan Terrence Malick, gerakan Dogma 95 yang diprakarsai Lars von Trier dan Thomas Vinterberg, dan surealisme David Lynch.

Mari kita bedah satu per satu. Roma merupakan lukisan aktivitas sehari-hari, sebagaimana Kain Kafan Hitam bercerita soal Evelyn (Haico Van Der Weken) yang sedang mencari rumah baru ditemani kekasihnya, Bimo (Maxime Bouttier). Pencarian tersebut berujung di sebuah rumah besar dengan harga sewa murah. Ketimbang hanya mengintip beberapa sudut mengerikan, film ini mengajak kita mengikuti paket lengkap tur berkeliling yang dipandu Egi (Egi Fedly) si penjaga rumah.

Egi memamerkan seluruh penjuru, pelan-pelan menjelaskan “ini ruang apa”, “ruang itu di mana”, dan sebagainya. Beberapa kali, gemuruh keras musik buatan Joseph S. Djafar (Jailangkung, Jaga Pocong, Orang Kaya Baru) datang menemani meski tiada satu pun peristiwa supranatural terjadi. Hingga akhirnya Evelyn menetap di sana, hal-hal aneh mulai menampakkan wujudnya.

Adik-adiknya lebih dulu jadi korban. Suatu malam, saat Arya (Rayhan Cornellis) si bungsu henak buang air kecil, hantu berwajah mirip versi busuk dari topeng Aku Aku di serial gim Crash Bandicoot menerornya. Ketakutan, Arya pun ngompol. Berikutnya kita menyaksikan:  Evelyn membawa Arya ke kamar – Evelyn mencari celana ganti – Evelyn menggantikan celana Arya – Evelyn menidurkan Arya. Film mana yang amat murah hati mau memperlihatkan proses mengganti celana secara lengkap? Bahkan musik yang sepanjang durasi punya kebiasaan menggedor gendang telinga pun seketika senyap. Apa ini kalau bukan usaha Maxime menciptakan post-horror ala A24?

Sutradara muda harapan bangsa ini bahkan menggerakkan filmnya selambat mungkin. Para skeptis akan berkata bahwa itu sebatas usaha mengakali naskah tipis karya Girry Pratama (Revan & Reina) yang mungkin cuma berisi sekitar 30-40 halaman. Tapi saya berbeda pendapat. Saya yakin, Maxime berusaha meniru kesabaran Ari Aster kala merangkai tempo Hereditary.

Kain Kafan Hitam juga merupakan penghormatan terselubung kepada Terrence Malick. Sang sutradara legendaris gemar mengambil gambar tanpa naskah, membiarkan aktor berimprovisasi demi memperoleh kejujuran luapan rasa. Bukan mustahil, para pemain Kain Kafan Hitam juga bernasib sama seperti Brad Pitt di The Tree of Life atau Ben Affleck di To the Wonder, yakni hanya menerima arahan singkat di secarik kertas tiap hari, yang kurang lebih berbunyi, “Hari ini kamu berjalan keliling rumah, lalu buka semua gorden. Lakukan perlahan. Resapi cahaya matahari yang menyelinap di antara kisi-kisi jendela”.

Hasilnya bisa kita saksikan, ketika Haico Van Der Weken berakting sama naturalnya dengan Yalitza Aparacio. Caranya membuka gorden sungguh meyakinkan, bisa saja suatu hari nanti lapangan kerja baru sebagai pembuka gorden ia ciptakan. Akting Maxime masih secanggung biasanya, namun bisa dimaklumi. Dia mengampu tugas berat membuat horor eksperimental, sehingga wajar bila tugasnya di depan kamera agak terbengkalai.

Walau tidak begitu kental, jejak Dogma 95 yang berprinsip pada micro-budget filmmaking masih dapat kita temui di sini lewat kemunculan beberapa establishing shot dengan resolusi rendah yang bak diambil memakai kamera telepon genggam.

Menginjak 15 menit akhir, eksperimen Kain Kafan Hitam menggila. Ranah surealisme berani dijamah sewaktu menampilkan kilas balik yang bila dilihat dengan mata telanjang, timing kemunculannya terasa dipaksakan. Tapi melalui kacamata sinematik tingkat tinggi, surat cinta kepada gaya David Lynch yang sering mendadak membawa alur melompat ke dunia absurd bisa dirasakan. Di dalam dunia Lynchian, tindakan maupun motivasi yang melatarinya terkadang sukar dipahami.

Sama seperti di film ini, tatkala seorang ibu mertua mendorong menantunya yang sedang hamil tua dari tangga hingga tewas. Dia memutuskan mengubur sang menantu diam-diam, membungkus jenazahnya memakai gorden berwarna hitam alih-alih kain kafan. Kenapa ia tidak berbohong saja, mengatakan jika menantunya tidak sengaja jatuh dari tangga alias kecelakaan. Melihat kondisi kehamilannya, kebohongan tersebut sejatinya lebih aman, logis, sekaligus mudah dilakukan. Tapi sekali lagi, ini eksperimentasi. Lupakan logika beserta hal-hal mudah lain. Now please welcome Mr. Maxime Bouttier, the new auteur of Indonesian cinema.

Gosh, I need Vodka.

MATT & MOU (2019)

Tidak semua film perlu cerita kompleks atau mengusung konflik berat. Terkadang, kesederhanaan dan sentuhan ringan justru opsi terbaik. Semua tergantung kebutuhan. Matt & Mou adalah contoh terkini tentang bagaimana kegagalan menyadari itu berujung melemahkan filmnya, yang sebenarnya merupakan romansa remaja ceria nan menyenangkan, andai tak dibarengi hasrat “melakukan lebih”.

Di antara Matt (Maxime Bouttier) dan Mou (Prilly Latuconsina) terjalin hubungan “kakak-adik” yang bersemi sejak keduanya bertemu semasa kecil. Matt dan Mou tinggal bersebelahan, dalam dua rumah yang—sama semaraknya dengan pertemanan mereka—dikelilingi warna-warni pastel juga motif bunga-bunga menghiasi dinding. Sebuah sentuhan artistik apik yang sempurna mewakili hubungan dua tokoh utamanya.

Bentuk interaksi mereka pun menggemaskan, dari memanggil diri sendiri memakai nama hingga bicara melalui telepon kaleng yang menghubungkan kedua kamar. Mereka begitu dekat, sampai Mou membutuhkan persetujuan Matt tentang siapa lelaki yang pantas menjadi kekasihnya. Matt sendiri belum pernah berpacaran, dan kita tahu pasti alasan yang ia pilih untuk pendam.

Sampai suatu hari, Mou benar-benar jatuh hati kepada Reza (Irsyadillah), penyanyi cafe yang dikenalnya lewat Instagram. Tentu Matt enggan semudah itu memberi Reza jalan. Syarat-syarat berat ia ajukan sebelum merestui Reza dan Mou berpacaran. Di sinilah Matt & Mou semestinya “berhenti”. Di situlah sebaiknya naskah buatan Alim Sudio (Kuntilanak, Chrisye, Ayat-Ayat Cinta 2), yang mengadaptasi novel berjudul sama Wulanfadi, meletakkan fokus alih-alih melangkah menuju rangkaian problematika kelam.

Mou berasal dari keluarga yang jauh dari kata harmonis. Elemen ini bukanlah permasalahan, selama bertujuan menguatkan serta memperdalam penokohan. Bahkan eksistensi Matt bisa saja menjadi lebih bermakna karena elemen tersebut. Tapi sayangnya tidak demikian. Matt & Mou memilih memperluas cakupan begitu mencapai sebuah titik balik berupa twist. Sejak itu, alur bukan lagi mengetengahkan relasi dua protagonis, yang akhirnya melemahkan intimasi yang semestinya merupakan menu utama.

Titik balik itu pun terlalu kelam, memberi distraksi dan inkonsistensi tone bila disandingkan rasa manis yang dijadikan jualan utama filmnya, walau paling tidak, berkat aspek tersebut, kita berkesempatan melihat performa solid Marthino Lio sebagai sang antagonis. Tidak jelas apa yang coba diraih twist-nya selain untuk membuat penonton tercengang. Jika tujuan akhirnya adalah menggambarkan kuatnya perasaan Matt, maka momen ketika ia merestui hubungan sahabatnya (selama Reza berjanji bakal terus menjaga Mou) justru lebih efektif.

Perubahan jalur filmnya pun tak memfasilitasi performa bertenaga Prilly, yang berjasa menjadi mesin penggerak Matt & Mou. Sewatu Maxime masih belum juga mampu memberi penampilan natural yang nyaman disaksikan (terlebih caranya bicara), Prilly berhasil menghidupkan sosok lovable, yang termasuk salah satu alasan mengapa karir layar lebarnya pantas dihargai lebih dari sekadar “That lead actress from ‘Danur’ movie series”.

Konklusi milik Matt & Mou berusaha membawa kembali atmosfer jenaka nan menggemaskan sebagaimana di paruh awal. Hasilnya memuaskan. Matt & Mou sukses ditutup dengan manis, bahkan berpotensi mengharukan bagi sebagian penonton. Penyutradaraan Monty Tiwa pun masih menunjukkan kehandalan merangkai momen romantis emosional bermodalkan situasi sederhana. Meski di saat bersamaan, mengembalikan "rasa cotton candy” membuat tonal jump pasca titik balik di babak keduanya semakin kentara.

THE PERFECT HUSBAND (2018)

Sepertinya sineas kita masih sulit membedakan antara “lelaki pantang menyerah” dengan “lelaki penguntit”. Setelah Dilan (Dilan 1990) dan Nick (Arini), The Perfect Husband, selaku adaptasi novel berjudul sama karya Indah Riyana, mengenalkan kita pada Arsen (Dimas Anggara) seorang pilot yang ngotot mengantar-jemput Ayla (Amanda Rawles), calon istri dari proses perjodohannya, meski sang gadis yang berusia jauh lebih muda (siswi SMA) menolak keras. Arsen pun mengikuti Ayla ke mana saja ia pergi, bahkan berani menggendong secara paksa di depan teman-temannya, di lingkungan sekolah pula. Dan tatkala Ayla mengaku tak lagi perawan, Arsen mengungkapkan kekecewaan sambil berkata bahwa semestinya Ayla lebih menghargai dirinya sendiri.

Saya tidak setuju anggapan film harus mendidik atau mengusung pesan. Namun pada masa di mana gerakan-gerakan positif soal “kemerdekaan diri” maupun “mencerdaskan bangsa” tengah vokal didengungkan, The Perfect Husband bagai proses mundur beberapa langkah. Betapa tidak? Filmnya seolah mendukung perjodohan paksa yang berujung pernikahan dini selepas SMA. Menghadapi persoalan itu, pikiran Ayla tentu kacau. Terlebih ia telah memiliki seorang kekasih, vokalis band rock bernama Ando (Maxime Bouttier), yang tampil di acara bernama “Indienight”, mengenakan dandanan rock ‘n roll yang tidak lagi dipakai rockstar mana pun, tapi menyanyikan lagu pop-punk berlirik galau. Bagaimana Ayla bisa mencintainya adalah pertanyaan besar. Mungkin anak SMA memang sebodoh itu.
Ucapkan selamat tinggal kepada potensi dinamika serta tensi cinta segitiga, sebab Ando dan Arsen jelas timpang saat disandingkan. Selain penokohan Ando yang terlampau menggelikan untuk menjadi pesaing serius, pesona Dimas Anggara dengan mudah menghempaskan Maxime Bouttier dan tato spidolnya. Di sisi lain, Amanda Rawles menghasilkan kesegaran memerankan gadis remaja yang bertingkah sekaligus bicara seenaknya. Pun berkat Amanda pula bumbu humornya mampu bekerja cukup baik, khususnya di paruh awal yang sempat memberi ilusi bahwa The Perfect Husband bakal jadi film terbaik produksi Screenplay yang lebih “manusiawi”, urung mengandalkan dialog puitis.

Apalagi ada Slamet Rahardjo sebagai Tio, ayah Ayla, yang seperti biasa mulus menangani tiap momen, kecuali ketika menyebut nama sang puteri. Dua kali ia luput menyebut “Alya”. Mungkin Rudy Aryanto (Surat Cinta untuk Starla) selaku sutradara segan mengoreksi si aktor senior. Mengapa Tio kukuh menjodohkan Ayla yang belum lulus SMA tentu mengundang tanya. Bisa ditebak ada hal yang Tio dan para penulis naskahnya sembunyikan demi menyulut konflik. Karena, andai Tio mengutarakan alasan perjodohan sedari awal, yang mana merupakan pilihan logis, film ini bakal selesai dalam 15 menit.
Pun sewaktu akhirnya diungkap, rahasia itu tak lebih dari elemen paling klise yang mampu dipikirkan seorang penulis kisah melodrama, yang kebetulan juga ciri khas judul-judul produksi Screenplay. Film Screenplay di bawah arahan Asep Kusdinar memang berlebihan mendramatisasi, tetapi setidaknya keputusan itu menghadirkan ketepatan porsi melodrama. Di tangan Rudi Aryanto, momen yang seharusnya menyajikan puncak emosi justru berujung canggung nan kaku. Rudi cukup sukses di Surat Cinta untuk Starla karena dibantu nomor-nomor balada ciptaan Virgoun. Tanpanya, sang sutradara bak hilang akal dan kekurangan amunisi.

Kembali sejenak menuju fakta yang Tio sembuynikan, rahasia tersebut gagal memberi justifikasi terhadap problematika perjodohan dan nikah muda. Ada begitu banyak alternatif cara menuturkan pesan mengenai bakti anak pada orang tua. Menurut The Perfect Husband, menikah setelah lulus SMA merupakan jalan keluar pemberi kebahagiaan sekaligus bukti bakti terhadap orang tua yang telah memberi segalanya untuk anak. Ya, segalanya kecuali kebebasan menjalani hidup sesuai kemauan sendiri. Dengan pola pikir demikian, jangan heran jika negeri ini dipenuhi orang bodoh. The Perfect Husband menanggalkan gaya Screenplay yang makin repetitif hanya untuk menemukan kelemahan baru yang lebih fatal.


Untuk ulasan versi vlog bisa ditonton di sini:

MEET ME AFTER SUNSET (2018)

Meet Me After Sunset adalah film romansa, sehingga saat tokoh utama laki-laki melihat perempuan misterius berjalan sendiri di tengah malam, membwa lentera sambil bersenandung untuk kemudian tiba-tiba hilang di balik kabut, bukan jadi hal menyeramkan. Si laki-laki justru makin tertarik dengan si perempuan. Di film horor, peristiwa itu bakal disebut penampakan. Sementara di kehidupan nyata, saya akan menutup jendela rapat-rapat, berbaring sambil mendengarkan lagu riang. Namun dengan begitu takkan ada drama, takkan ada film.

Si laki-laki bernama Vino (Maxime Bouttier), remaja tampan asal Jakarta yang terpaksa menuruti keinginan orang tuanya pindah ke Ciwidey, Bandung. Walau digilai seisi sekolah, Vino terlanjur kepincut pada perempuan bertudung merah tadi. Gadis (Agatha Chelsea) namanya. Orang-orang memandangnya aneh karena jangankan bersekolah, keluar rumah pun hanya di malam hari, menuju bukit, menari di tengah kunang-kunang. Gadis hanya memiliki seorang sahabat, yakni Bagas (Billy Davidson), yang tahu segala rahasianya.
Usaha Vino merebut hati Gadis dengan cara mewujudkan mimpi-mimpinya pun dimulai. Apabila Vino bagai pangeran dari negeri dongeng, wajar. Sebab Meet Me After Sunset memang ingin terasa dan terlihat seperti dongeng. Negeri dongeng di mana rumah kampung bertembok anyaman bambu memiliki perabot unik berwarna-warni ketimbang nuansa cokelat dari kayu yang telah usang. Di luar, rembulan selalu benderang di malam hari, sedangkan kala sore, langit selalu memamerkan warna khas magic hour tanpa pernah dirundung mendung.

Plotnya bergerak semata demi memfasilitasi sinematografi arahan Gunung Nusa Pelita memamerkan gambar-gambar yang meski acap kali artificial, tampak cantik. Meet Me After Sunset memang enak dilihat berkat komponen visual unik. Tidak hanya sinematografi, pilihan kostum termasuk pemakaian baju astronot saat Vino dan Gadis berkencan meletakkan garis pembeda dibanding romansa remaja di kebanyakan film kita. Aspek ini cukup membantu selaku penawar bagi alur lemah penuh peristiwa yang dipaksakan.
Mengapa Gadis tidak bisa ke Bandung? Bukankah Bagas atau ayahnya (Iszur Muchtar) bisa mengantar? Bagaimana mungkin sang ayah tidak tahu anaknya tidak suka badut atau cokelat? Daftar pertanyaan seputar kejanggalannya bisa diteruskan tetapi akan terlalu panjang. Sisi positifnya, skenario ciptaan Haqi Achmad dan Fatmaningsih Bustamar mampu menggambarkan dilema Gadis yang terjebak cinta segitiga dengan baik. Alasan kebingungannya jelas, biarpun pembagian waktu—kapan penonton mesti mendukung Vino sang protagonis, kapan mesti ikut merasa dilematis—tersaji kusut. Resolusi masalah tersebut kurang berdasar, tapi bukankah cinta tak perlu alasan logis?

Filmnya ditutup oleh twist yang—berbeda dengan paparan konfliknya—tidak datang mendadak. Beberapa benih ditebar sepanjang durasi sehingga penonton yang jeli dapat mengira-ira apa yang bakal terjadi. Sementara iringan lagu Dulu Kini Nanti milik Citra Scholastika tak pernah gagal menyuntikkan rasa manis sekaligus haru pada sebuah adegan film (sebelumnya dipakai oleh Mars Met Venus). Agatha Chelsea cocok mewakili nuansa manis tersebut, sedangkan Maxime Bouttier untuk ke depannya perlu lebih berhati-hati memilah, mana bad boy unik pula asyik, mana yang sebatas tengil dan menyebalkan. Jefri Nichol selalu siap mengajari.

ONE FINE DAY (2017)

Bertaburan bintang idola kaum remaja, mengusung tumbuhnya asmara di setting luar negeri, wajar apabila banyak pihak skeptis akan produksi teranyar Screenplay Films ini. Terlebih Asep Kusdinar juga Tisa TS masing-masing tetap ada di kursi sutradara dan penulis naskah. Tidak bisa disalahkan. Itulah formula kemenangan yang menghasilkan dua film dengan jumlah penonton di atas sejuta. Andai berubah pun sifatnya takkan ekstrim dan tiba-tiba. Namun ketika beberapa bulan lalu Promise "hanya" meraih sekitar 655 ribu penonton, terendah dibanding film Screenplay lain, sedikit modifikasi rasanya perlu, dan One Fine Day melakukan itu.

Kini giliran Barcelona menjadi panggung sewaktu Mahesa (Jefri Nichol), musisi amatir sekaligus penipu ulung pemeras uang wanita-wanita yang dipacarinya, bertemu Alana (Michelle Ziudith). Mudah bagi Alana menyukai Mahesa yang hangat nan romantis mengingat sikap posesif sang kekasih, Danu (Maxime Bouttier) yang sampai mengirim bodyguard untuk mengawalnya ke mana saja. Berikutnya bisa ditebak, One Fine Day berkutat pada cinta segitiga, tepatnya pertarungan Danu si kaya yang sombong melawan Mahesa yang apa adanya tapi penuh kebebasan. Sesederhana itu.
"Sederhana" sesungguhnya kurang pas disematkan bagi karya Screenplay, pun One Fine Day yang diisi jalan-jalan mengelilingi Barcelona. Namun ketimbang judul-judul sebelumnya, film ini tak lagi disusun oleh barisan kutipan "romantis". Sesekali kalimat bernada puitis terucap tapi dalam kadar normal. Meski harus diakui, jalinan asmaranya tetap bergulir dangkal di mana kebahagiaan identik dengan montage jalan-jalan ditemani lagu Te Amo Mi Amor sambil memaksakan Alana (si pencari kebahagiaan) tertawa menanggapi apapun tingkah Mahesa (si pemberi kebahagiaan). 

Setidaknya dibandingkan Promise atau dwilogi London Love Story, glamoritas berupa mengendarai mobil mewah di luar negeri atau berkencan di restoran mahal bukan pondasi. Didorong pemanfaatan tepat setting di mana kemeriahan kultur serta musik menghadirkan tarian kegembiraan, kedua tokoh utama tampak murni mencari cinta. Kali ini setting luar negeri bukan sekedar memfasilitasi hedonisme karakternya, melainkan usaha mereka mengejar kebahagiaan. Hal ini didukung pula oleh sosok Mahesa yang dari luar tak sesempurna protagonis pria lain milik Screenplay. 
Jefri Nichol jelas piawai melakoni peran bad boy, walau resiko typecast perlu ia perhatikan demi daya tahan karirnya. Satu detail yang agak mengganggu adalah ketika Nichol beberapa kali bermain gitar tanpa memindahkan kunci. Sementara Michelle Ziudith dengan tangisannya niscaya bakal mudah membuat penonton remaja ikut berurai air mata. Walau cukup disayangkan, penokohan Alana yang cenderung pasif kurang memberinya kesempatan unjuk gigi keahlian mencuri perhatian sebagai gadis bersemangat. Padahal barter sindiran antara Ziudith dan Nichol bakal memberi nyawa lebih untuk percikan asmara filmnya.

Kembali menyoal penyederhanaan, memilih tidak lagi memaksakan keberadaan rahasia atau twist "besar" yang senantiasa jadi "penyakit" Screenplay jelas nilai tambah dalam One Fine Day. Pergerakan alur pun berakhir lebih lancar, tanpa terbebani pengungkapan kejutan tak masuk akal selaku konklusi. Lupakan keraguan sembari menyadari tujuan serta target pasar filmnya, maka anda akan menemukan One Fine Day sebagai rilisan terbaik Screenplay Films sejauh ini.