REVIEW - HAPPY NEW YEAR
Selain para pesaing musim penghargaan, akhir tahun juga identik dengan film liburan. Jenis film yang takkan bergelimang piala, namun jika sukses, hati penonton yang bakal didapatkan. Happy New Year termasuk salah satunya. Sebuah komedi romantis penuh bintang yang akan mengisi hati para penonton dengan perasaan-perasaan positif.
Berlatar malam Natal hingga tahun baru, alurnya berpusat di Hotel Emros, yang mempertemukan orang-orang dari berbagai latar belakang. Sang CEO hotel, Yong-jin (Lee Dong-wook), yang terobsesi pada angka genap, terpikat pada Yi-young (Won Jin-a), si karyawan kontrak dengan mimpi menjadi aktris musikal. Kisah keduanya terdengar seperti materi Kdrama romansa soal cinta beda kelas, mengenai cinta yang membuat seseorang tak memedulikan hal lain (begitu terpikatnya Yong-jin pada Yi-young, ia melupakan obsesi angka genapnya tiap tengah bersama). Klise, tetapi bekerja dengan baik berkat karisma Lee Dong-wook dan Won Jin-a yang likeable.
Faktanya, deretan kisah lain juga minim memodifikasi formula. Si manajer hotel, So-jin (Han Ji-min), kurang lancar dalam hubungan cinta, namun bersedia menolong Jin-ho (Lee Jin-wook), seorang pengunjung yang tiap Sabtu menghadiri kencan buta di hotel walau selalu berujung kegagalan. Terpukul atas kegagalan di ujian pegawai negeri serta ditinggalkan sang kekasih, Jae-yong (Kang Ha-neul) memutuskan bunuh diri saat pergantian tahun di Hotel Emros, sebelum menemukan lagi kebahagiaan, berkat obrolan bersama Soo-yeon (Lim Yoon-A), yang membangunkannya setiap pagi lewat panggilan telepon.
Sekali lagi, klise, namun menjadi tidak penting karena ensemble cast-nya. Kondisi demikian hanya bisa muncul di negara-negara, di mana star power masih berperan besar dalam industri hiburannya. Korea Selatan termasuk salah satunya. Penonton ingin menyaksikan para bintang, pun baik pembuatnya maupun si bintang, memahami keinginan penonton itu, sehingga tahu betul kemasan pengadeganan dan penampilan seperti apa yang mesti dimunculkan.
Han Ji-min piawai menangani protagonis wanita ala komedi romantis yang muda disukai, sedangkan Kang Ha-neul sanggup menyulap rangkaian peristiwa menyedihkan karakternya jadi pemandangan jenaka. Yoon-A tampil sebentar, hanya beberapa menit di babak ketiga, namun di waktu singkat itu, ia mendefinisikan "star power". Hanya punggungnya yang nampak selama beberapa detik di kemunculan perdana, dan sudah cukup membuat penonton menantikan momen ketika wajah sang aktris akhirnya tertangkap kamera.
Tetap ada beberapa kisah yang bernuansa agak berbeda. Sang-gyu (Jung Jin-young) si pramupintu hotel, bertemu lagi dengan cinta pertamanya, Catherine (Lee Hye-young) setelah berpisah 40 tahun. Ditambah sedikit bumbu mistis/fantasi, ada romantisme seputar takdir dan cinta sejati dalam cerita mereka. Ada juga persahabatan antara Yi-kang (Seo Kang-joon) si penyanyi ternama dan manajernya, Sang-hoon (Lee Kwang-soo). Selain membawa angin segar di antara setumpuk percintaan film ini, akting solid Kwang-soo berjasa menambah bobot emosinya.
Layaknya mayoritas film bergaya penuturan serupa, kisah-kisah Happy New Year terkesan setengah matang, pun dijahit secara kurang rapi. Kekurangan yang hampir mustahil dihindari, sehingga penyutradaraan memegang kunci. Terpenting bukan penuturan, melainkan momen. Bagaimana cerita-cerita yang tak seberapa kuat bisa mengandung satu-dua momen romantis dan/atau menyentuh (Love Actually dikenang bukan karena alur solid, tapi adegan ikonik "to me you are perfect").
Beruntung, Happy New Year ditangani oleh Kwak Jae-young, yang bisa dibilang berjasa membangkitkan popularitas genre romansa Korea Selatan lewat My Sassy Girl (2001), The Classic (2003), dan Windstruck (2004). Alhasil, peristiwa yang melibatkan "bersatunya dua insan", setidaknya selalu berhasil memancing senyum. Happy New Year memang tontonan penuh senyuman tentang menyongsong tahun baru dengan harapan baru.
REVIEW - JOSÉE
Selepas sukses besar memerankan Nam Do-san si
tikus got tidak tahu terimakasih di Start-Up, Nam Joo-hyuk bereuni dengan
Han Ji-min, di mana keduanya pernah berduet di salah satu drama Korea tersukses
sekaligus terbaik sepanjang masa, The
Light in Your Eyes. Merupakan remake dari
film Jepang Josee, the Tiger and the Fish
(2003) yang diadaptasi dari buku berjudul sama karya Seiko Tanabe, Josée adalah romansa yang membicarakan
tentang kebebasan, dan tentu saja cinta. Cinta yang cukup dirasakan, tidak
perlu dimengerti, pula tidak membutuhkan alasan.
Lee Young-seok (Nam Joo-hyuk) adalah
mahasiswa yang tak pernah menetap di satu hati. Dari junior hingga dosen, semua
berakhir di ranjang. Suatu hari ia menolong seorang wanita (Han Ji-min) yang
terjatuh dari kursi roda. Dibawalah wanita itu ke rumahnya. Sebuah rumah kumuh
tempatnya tinggal bersama sang nenek. Wanita itu memperkenalkan diri dengan
nama Josée, yang kelak Young-seok
tahu, diambil dari nama karakter novel buatan Françoise Sagan, Wonderful Clouds. Young-seok mulai rutin
berkunjung untuk makan gratis dan perlahan menaruh rasa kepada Josée.
Di bawah pengarahan sutradara Kim Jong-kwan
yang turut menulis naskahnya, Josée mungkin
bakal mengejutkan bagi penonton yang datang demi melihat Nam Do-san 2.0 atau
suguhan melodrama mengharu biru. Filmnya mengalun lembut, dengan kesenduan yang
diperkuat oleh latar bersalju d beberapa bagian, juga musik berbasis dentingan
piano dan petikan gitar gubahan Narae. Ditambah lagi, Josée selalu berbicara
lirih, cenderung berbisik.
Orientasi Josée adalah rasa yang dibangun melalui mood situasi. Melalui keheningan, melalui dinginnya salju di luar
rumah, melalui semburat cahaya matahari yang menembus masuk dari jendela,
melalui tatapan-tatapan, melalui cinta yang mengawang-awang di udara alih-alih
diutarakan secara meledak-ledak. Gaya yang rasanya takkan sesuai untuk semua
penonton, namun jika bisa menerimanya, anda akan terhanyut, dan secara tidak
sadar sudah tenggelam di tengah cinta kedua tokoh utama.
Kekuatan terbesar Nam Joo-hyuk adalah membuat
karakter problematik menjadi likeable. Prestasi
itu telah ia tunjukkan di Start-Up, dan
mampu diulanginya di sini. Anda bakal menganggap tendensi Young-seok berganti-ganti
pasangan sebagai kebodohan, tapi takkan membencinya. Sedangkan Han Ji-min melahirkan
sosok penuh kesepian yang menolak merasa sepi. Sosok penuh keterbatasan yang
menolak dibatasi. Sosok misterius yang terus mengundang rasa penasaran penonton
untuk lebih memahaminya.
Pertanyaan (dan mungkin keluhan) sepertinya
bakal banyak ditujukan terhadap konklusi filmnya. Selepas timeskip lima tahun, kisahnya memberi titik balik kepada hubungan
dua karakter tanpa alasan pasti. Tapi jika diperhatikan, Josée memang bukan soal kepastian. Protagonisnya berbohong tentang
nama, pula latar belakang hidupnya. Karena sekali lagi, ini tentang rasa. Tentang
cinta. Tidak ada yang bisa menjelaskan alasan pasti mengapa cinta datang dan
pergi.
Kekurangan sebenarnya dari Josée justru terkait kurang lantangnya film ini dalam menyuarakan pesan mengenai berbagai wajah dari “kebebasan”. Bahwa apa yang kerap dipandang sebagai kekangan malah mungkin saja merupakan bentuk kebebasan lain. Bahwa sebuah kepedihan yang bagi banyak orang menghancurkan, bagi orang lain bisa saja memberi suntikkan untuk bangkit mengejar kebebasan. Semuanya dipaparkan lewat ambiguitas alegori-alegori (ikan, harimau, dll.) yang tak pernah sepenuhnya meninggalkan kesan.

