Tampilkan postingan dengan label J. A. Bayona. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label J. A. Bayona. Tampilkan semua postingan
JURASSIC WORLD: FALLEN KINGDOM (2018)
Rasyidharry
Di titik ini saya sudah tak lagi mengharapkan “sense of wonder” dari seri Jurassic Park, apalagi dari installment yang memilih seminimal
mungkin memakai variasi lagu tema gubahan John Williams. Rasa itu biarkan
eksklusif jadi milik film pertamanya. Jurassic
Park berevolusi menjadi film monster secara total lebih cepat ketimbang
proses Dr. Henry Wu (B. D. Wong) mengkreasi ulang DNA dinosaurus. Tapi sebagai
film monster, apabila mengikuti jalur tradisional, Jurassic World dan sekuel-sekuelnya cuma punya sedikit opsi guna
melanjutkan kisah. Itu pun kental repetisi: taman dibangun-dihancurkan
dinosaurus-taman ditutup-mengunjungi taman lagi-kembali ke awal. Fallen Kingdom dibuat untuk membuka
pintu alternatif, walau akhirnya cuma berakhir sebatas “jembatan pendek” yang
dipaksa berjalan selama 2 jam lebih.
Aspek penting hanya terletak di paruh awal, saat alurnya
dibuat menyerupai film bencana, kemudian pada konklusi. Babak pertengahan
bermain-main di pesan lama yang kita sudah hafal betul, mengenai keserakahan
manusia dan bagaimana tindakan “bermain Tuhan” menghasilkan hukuman setimpal,
supaya mereka belajar agar tidak mencampuri proses alam. Terlampau familiar,
walau salah satu elemen cukup mampu memancing dilema. Dinosaurus terancam punah
(lagi) akibat letusan gunung berapi di Isla Nublar tempat ekosistem mereka
berkembang secara natural. Haruskah manusia turun tangan menyelamatkan
dinosaurus? Haruskah manusia kembali mengganggu seleksi alam? Apalagi menyelamatkan
dinosaurus berarti mengancam keberlangsungan hidup umat manusia sendiri.
Dr. Ian Malcolm (Jeff Goldblum dalam peran sebatas cameo) berargumen bahwa itu cara Tuhan
mengembalikan stabilitas ekosistem, dan manusia tak perlu ikut campur. Artinya,
membiarkan dinosaurus (yang mereka hidupkan lagi) punah. Claire (Bryce Dallas
Howard) yang kini seorang aktivis hak dinosaurus berpikiran sebaliknya. Fallen Kingdom mengambil langkah tepat
saat enggan memberi jawaban konklusif atas isu tersebut, karena memang tidak
ada. Tapi Claire, yang diam-diam merasa bersalah telah berkontribusi
menciptakan Indominus Rex, kukuh pada prinsipnya. Harapannya terjawab kala Sir
Benjamin Lockwood (James Cromwell), mantan partner John Hammond (Richard
Attenborough), memintanya memimpin misi penyelamatan, memindahkan beberapa
spesies dinosaurus ke pulau kosong lain.
Bisa ditebak, misi itu membuatnya bereuni dengan Owen (Chris
Pratt), yang antara film ini dan Jurassic
World (2015) rupanya telah memutuskan hubungan asmaranya dengan Claire.
Kenapa Owen mesti ikut? Pertama, karena Blue si Velociraptor terakhir yang
dahulu ia latih termasuk salah satu prioritas misi penyelamatan. Kedua, karena
Pratt adalah action hero semua
kalangan yang bisa diandalkan. Dia mampu melompat di antara gigi-gigi tajam
Tyrannousaurus maupun lari dari letusan gunung berapi selincah Indiana Jones.
Pun sebagaimana kita tahu, kemampuannya menangani komedi jadi jualan utama,
termasuk komedi fisik, seperti ia perlihatkan dalam adegan ketika Owen, yang
badannya tengah lumpuh akibat bius, mesti menghindari aliran lava.
Tapi apa guna jagoan tangguh tanpa musuh seimbang? Kini
ada Indoraptor, dinosaurus hibrida perpaduan DNA antara, well, INDOminus dan VelociRAPTOR. Sanggup
mendeteksi pancaran laser, menipu manusia, merusak pintu lift, membuka jendela,
dan lain-lain, Indoraptor adalah dinosaurus cerdas yang didesain sebagai
senjata perang dan berpotensi menjadi musuh menarik walau dari perspektif
desain, sosoknya mudah dilupakan pula tanpa kekhasan. Tugas menangani teror
sang monster kini diemban J. A. Bayona (The
Impossible, A Monster Calls), yang kembali membuktikan bahwa ia punya
insting visual mumpuni yang membuat para dinosaurus tampak megah layaknya raja yang
berkuasa di puncak rantai makanan. Pun beberapa jump scares tampil lumayan efektif. Sayang, Fallen Kingdom tak memiliki cukup momen “Dino Madness”. Letusan gunung sampai pertarungan Blue melawan
Indoraptor tampil menghibur, tapi film ini kekurangan satu kegilaan besar
sebagaimana Jurassic World berikan
lewat threesome
Tyrannosaurus-Blue-Indominus Rex.
Ditulis oleh Colin Trevorrorw (Jurassic World) dan Derek Connolly (Jurassic World, Kong: Skull Island), naskahnya mengandung dua pilihan
narasi berani, yang baru mengisi menjelang konklusi, meninggalkan mayoritas
durasi dalam balutan cerita setipis kertas. Keduanya mengejutkan, secara
ekstrim mengubah jalur yang dibangun Jurassic
Park, namun sejatinya merupakan progres natural. Fallen Kingdom “menipu” penonton agar berpikir film ini sebatas
mengulangi The Lost World (1997) lalu
berakhir layaknya kebanyakan film monster. Tidak sepenuhnya keliru. Beberapa
plot poin memang serupa dengan sekuel mengecewakan itu. Bedanya, Fallen Kingdom menghasilkan posibilitas
menarik bagi masa depan franchise-nya
sembari membawa kita mengintip “lingkaran kehidupan”, di mana suatu hari,
tatkala manusia kurang berhati-hati, termakan ketamakan lalu terkena dampak
aksinya sendiri, peradaban bakal runtuh dan kembali ke zaman pra-sejarah.
Note: Ada post-credits scene, tapi kecuali anda
punya waktu luang, melewatkannya takkan jadi masalah.
Juni 07, 2018
Action
,
Adventure
,
B. D. Wong
,
Bryce Dallas Howard
,
Chris Pratt
,
Colin Trevorrow
,
Cukup
,
Derek Connolly
,
J. A. Bayona
,
James Cromwell
,
Jeff Goldblum
,
REVIEW
,
Science-Fiction
Langganan:
Postingan
(
Atom
)

