Tampilkan postingan dengan label Chris Pratt. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Chris Pratt. Tampilkan semua postingan

REVIEW - JURASSIC WORLD DOMINION

Kesulitan terbesar membuat installment Jurassic Park adalah adanya  perbandingan dengan film pertama. Jangankan menyamai, sebatas mendekati kualitasnya pun luar biasa sulit, sampai Spielberg sendiri gagal melakukannya di The Lost World: Jurassic Park (1997). Bahkan Jurassic World (2015) selaku sekuel terbaik yang memberi franchise ini nyawa baru saja masih belum mencapai level serupa. 

Sehingga penting disadari, menandingi mahakarya Spielberg tersebut merupakan kemustahilan. Sense of wonder kala menyaksikan dinosaurus berjalan lagi di muka bumi dalam balutan efek spesial spektakuler takkan bisa direplikasi. Kesadaran itu bakal memudahkan penonton menikmati sekuelnya, termasuk Jurassic World Dominion, yang bukan bertujuan memberi keajaiban, melainkan aksi penuh dinosaurus sekaligus konklusi bagi seluruh protagonis seri Jurassic Park. 

Ya, semua. Selain Owen Grady (Chris Pratt) dan Claire Dearing (Bryce Dallas Howard) yang kini bertindak sebagai figur orang tua untuk Maisie (Isabella Sermon), turut menandai reuni trio Alan Grant (Sam Neill), Ellie Sattler (Laura Dern), dan Ian Malcolm (Jeff Goldblum) sejak film orisinalnya. Naskah buatan sang sutradara, Colin Trevorrow, dan Emily Carmichael, menangani pertemuan dua generasinya dengan baik, dan terpenting, dengan rasa hormat. 

Perusahaan Biosyn yang dipimpin Lewis Dodgson (Campbell Scott), jadi jembatan penghubung. Di Jurassic Park (1993) ia muncul sekilas di awal (diperankan Cameron Thor) yang menyuap Dennis Nedry (ada easter egg soal peristiwa itu). Dodgson berencana menculik Maisie, lalu memakai DNA-nya untuk riset Dr. Henry Wu (BD Wong), sebagai bagian misinya menguasai pangan dunia lewat serangan wabah belalang raksasa. Alan dan Ellie berusaha mengungkap rencana busuk Biosyn. Ian Malcolm? Dia adalah konsultan perusahaan tersebut.

Sebenarnya garis besar alur Jurassic World Dominion tak memerlukan keterlibatan dinosaurus secara fisik, tapi karena hak suaka atas mereka dipegang Biosyn, para protagonis pun harus menghadapi ancaman reptil purba itu. Alurnya bergantian menyoroti Owen-Claire dan Alan-Ellie-Ian, membagi porsi kedua generasi dengan seimbang. Sebagaimana Top Gun: Maverick, film ini mencontohkan bahwa tongkat estafet tidak melulu harus dioper. Seringkali, memegangnya bersamaan justru jadi opsi terbaik. 

Narasinya bukan tanpa halangan. Walau perpaduan dua cerita menambah variasi, di sisi lain, tatkala adegan aksi absen, penurunan intensitas terjadi dua kali lebih banyak. Second act-nya yang cukup draggy menunjukkan itu, meski penampilan kuat Isabella Sermon ditambah celotehan khas Jeff Goldblum (terbukti Ian Malcolm lebih pas dijadikan pemain tim alih-alih solo lead layaknya di The Lost World) rutin menghasilkan daya tarik.  

Beruntung, sebagaimana Jurassic World, tidak ada keluhan mengenai cara Trevorrow membungkus aksi. Temponya cepat. Sangat cepat, di luar permasalahan second act tadi, durasi 146 menitnya terasa jauh lebih singkat. Pengarahan cekatan Trevorrow tampak betul di sekuen kejar-kejaran antara Owen dan Atrociraptor. Formulaik, sebatas kebut-kebutan di sepanjang jalanan Malta, namun bertenaga. 

Klimaksnya kembali mengedepankan momen "dino fight". Kali ini musuh besarnya adalah Giganotosaurus, sang karnivora terbesar. Belum se-epic Jurassic World, tapi kembali menegaskan kapasitas Trevorrow mengemas money shot, pula tampil bak penebusan atas pertarungan kontroversial di Jurassic Park III (2001). 

Tapi titik terbaik justru dihadirkan sebuah kombinasi dua sekuen. Pertama, menampilkan upaya Claire kabur dari kejaran Therizinosaurus. Kedua, berupa pertarungan Owen dan Kayla (DeWanda Wise) melawan Pyroraptor. Terbaik, karena masing-masing dikemas lewat gaya berbeda. Sekuen pertama lebih atmosferik, sedangkan sekuen kedua cenderung dinamis. Menyuguhkan keduanya secara berurutan, menguatkan kesan bahwa film ini variatif, juga luasnya jangkauan pengarahan Trevorrow.

Konklusinya memuaskan. Jurassic World Dominion menjawab pertanyaan dari tiga dekade lalu. Bisakah manusia dan dinosaurus hidup harmonis? Di sinilah akhirnya dinosaurus dipandang sebagai hewan yang hidup sesuai hakikat mereka. Termasuk Raptor, yang bukan lagi "psikopat film slasher versi dinosaurus". Sementara sekuen penutupnya menawarkan keindahan. Salah satu momen terindah di sejarah Jurassic Park. Keindahan bernama "harmoni".

REVIEW - THE TOMORROW WAR

(Tulisan ini mengandung SPOILER)

Invasi alien merupakan salah satu formula favorit di blockbuster. Alien menyerbu, dunia terancam kiamat, manusia di ambang kepunahan. Tapi berapa banyak yang mampu benar-benar menerjemahkan situasi tersebut? Sense of urgency kerap dikesampingkan demi aksi sebesar mungkin. The Tomorrow War, selaku debut penyutradaraan live action dari Chris McKay (The Lego Batman Movie) termasuk satu dari segelintir judul yang sanggup melakukannya.

Desember 2022, dunia dikejutkan oleh kedatangan pasukan dari tahun 2051. Mereka memperingatkan soal invasi alien bernama Whitespikes, yang dalam waktu singkat telah menghancurkan peradaban manusia. Bala bantuan tentara dikirim ke masa depan, namun hanya 20% berhasil selamat, meski setiap penugasan hanya berlangsung seminggu. Alhasil, sekitar setahun berselang, warga sipil mulai dikirim, menimbulkan pertanyaan, "Apakah perlu mempertaruhkan nyawa demi perang yang bukan milik kita?". 

Berita di televisi, cerita-cerita dari mereka yang berhasil selamat, semua sarat sense of urgency. Ketegangan. Perasaan bahwa kondisi dunia memang sedang di ujung tanduk. Lalu tibalah giliran protagonis kita, Dan Forester (Chris Pratt), mantan militer yang coba beralih jadi peneliti, dikirim ke medan perang. Dia terpaksa meninggalkan istrinya, Emmy (Betty Gilpin), serta sang puteri, Muri (Ryan Kiera Armstrong). 

Tentu berat bagi Dan. Bahkan ia sempat mencoba mangkir, dengan meminta bantuan ayahnya, James (J. K. Simmons dalam sisi paling badass-nya), veteran Perang Vietnam yang kini beralih jadi ekstrimis anti-pemerintah. Tapi renggangnya hubungan mereka, membatalkan niatan tersebut. Dan akhirnya berangkat, sambil mengusung motivasi paling murni yang bisa dimiliki jagoan film aksi: keluarga. Dan berperang di masa depan dan demi masa depan. Masa depan puterinya. Tidak ada tendensi heroisme, yang mana dimanfaatkan oleh naskah buatan Zach Dean, guna melahirkan momen-momen emosional.

Sesampainya di masa depan, pasukan Dan tidak punya waktu berleha-leha. Misi sudah menanti, juga para Whitespikes yang siap merenggut nyawa kapan saja. Saat itu, jelas pula bahwa Chris Pratt memang sempurna melakoni perannya. Pratt tampak meyakinkan, bukan saja sebagai action hero, juga figur pemimpin. Turut bersama Dan adalah dua karakter pendukung, Charlie (Sam Richardson) dan Dorian (Edwin Hodge).

Charlie murni berstatus comic relief, dan walau Richardson berusaha maksimal, humor di naskahnya terlalu kering untuk dapat memancing tawa. Sebaliknya, Dorian cukup menarik. Sosoknya tidak ramah dan intimidatif. Sudah tiga kali ia terjun berperang, sementara di lehernya, tergantung kalung berbahan gigi Whitespikes. Sekilas Dorian sama seperti karakter haus darah yang biasa kita temui di film-film serupa. Nyatanya ia berbeda. Meski dengan caranya sendiri, Dorian bersedia bekerja sebagai tim. Obsesinya pada pertempuran belum mengubur sisi kemanusiaannya. 

Kembali soal sense of urgency, kesan itu McKay munculkan di deretan aksinya, yang tersaji masif, intens, penuh kekacauan yang dikemas rapi, ditemani musik menggelegar gubahan Lorne Balfe, yang senantiasa mengingatkan penonton soal betapa berbahayanya tiap pertarungan. Bentuknya pun beragam, dari misi SAR (search and rescue) hingga memburu alien untuk ditangkap. Pun masing-masing mengandung beberapa variasi aksi, seperti saat McKay menjadikan baling-baling helikopter sebagai senjata ampuh selain senapan. 

Kita bisa menaruh fokus pada aksi tanpa harus memusingkan tetek bengek perjalanan waktu. Naskah buatan Dean berhasil meramu elemen tricky ini secara sederhana, melalui penjelasan terkait banyak fenomena (salah satunya tentu saja paradoks), yang bisa diterima kalangan awam. The Tomorrow War tidak berambisi melakukan sesuatu yang ada di luar jangkauannya. 

(SPOILER STARTS)

Perjalanan Dan ke masa depan jadi lebih personal setelah bertemu Muri dewasa (Yvonne Strahovski), yang menjabat sebagai kolonel. Di sini bobot emosi filmnya meningkat. Ada sedikit kesan puitis dalam pengalaman Muri, bertemu sosok ayah dari masa kecilnya, kala ia masih layak jadi panutan, serta penuh kasih sayang. Kita semua pasti pernah merindukan kenangan indah masa lampau. Tapi sekuat apa pun kita mencoba, kenangan mustahil terulang. Muri menjalani kemustahilan tersebut. Dia merasakan lagi kenangan indah yang ingin diulanginya. 

(SPOILER ENDS)

Sayang, intensitas menurun di babak ketiga, setelah memindahkan latar waktu. Aksinya bukan lagi soal upaya putus asa untuk bertahan hidup, melainkan baku tembak medioker. Tatkala berubah jadi baku hantam, koreografi maupun tata kameranya kurang mumpuni. Tidak cukup dinamis. Tapi setelah apa yang disajikan sebelumnya, The Tomorrow War masih salah satu blockbuster paling memuaskan tahun ini. Andai filmnya berkesempatan tayang di layar lebar.....


Available on PRIME VIDEO

ONWARD (2020)

Melalui Onward, Pixar kembali mengkreasi dunia imajinatif mereka sendiri. Bayangkan Zootopia, tapi ganti para hewan yang berperilaku dan hidup bagai manusia, dengan makhluk-makhluk mitologi. Unicorn berebut makanan di tempat sampah seperti kucing liar, naga menggantikan peran anjing selaku peliharaan, centaur berprofesi sebagai polisi, dan lain-lain. Dan dalam dunia berisi deretan makhluk ajaib tersebut, tidak ada keajaiban berupa sihir sebagaimana selalu kita lihat di berbagai kisah fantasi yang melibatkan mereka.

Lebih tepatnya, sihir sudah menghilang, digantikan oleh teknologi yang penggunaannya lebih praktis. Tidak perlu merapal mantra, tidak perlu melalui latihan intens. Konsep menarik, walau sulit menghilangkan harapan bahwa naskah buatan sutradara Dan Scanlon (Monsters University) bersama Keith Bunin (Horns) dan Jason Headley (A Bad Idea Gone Wrong) lebih mengeksplorasi cara kerja dunianya, sebagaimana selalu jadi keunggulan judul-judul terbaik Pixar.

Di dunia inilah protagonis kita hidup. Namanya Ian (Tom Holland), elf remaja yang canggung dalam bersosialisasi. Kakaknya, Barley (Chris Pratt) terobsesi pada sejarah dunia khususnya ilmu sihir beserta petualangan ajaibnya. Sedangkan sang ibu, Laurel (Julia Louis-Dreyfus), sepeninggal suaminya, tengah menjalin hubungan dengan polisi centaur, Colt Bronco (Mel Rodriguez).

Ian tidak pernah bertemu sang ayah, dan cuma bisa mengenalnya lewat cerita-cerita Barley, beberapa lembar foto, serta sebuah kaset berisi rekaman suaranya. Hati seperti ditusuk-tusuk saat melihat Ian menciptakan obrolan imajiner dengan ayahnya menggunakan rekaman tersebut. Jika momen itu terasa jujur dan intim, mungkin karena ide kisahnya sendiri Scanlon dapat dari pengalaman personal kala sewaktu remaja, ia menerima rekaman suara mendiang ayahnya dari seorang kerabat.

Lalu bertepatan dengan ulang tahun ke-16 Ian, Laurel memberi kejutan. Sebuah kado dari sang ayah. Semakin mengejutkan, karena kado itu adalah tongkat sihir beserta mantra yang dapat membangkitkan orang mati selama sehari. Tapi akibat kurang pengalaman, Ian hanya berhasil mengembalikan kaki ayahnya. Maka, Ian dan Barley harus berpacu dengan waktu, menjalani misi guna mengembalikan ayah mereka secara utuh.

Sepanjang misi yang mempertemukan keduanya dengan berbagai rintangan, mulai dari geng motor fairy, hingga gua rahasia penuh teka-teki dan jebakan, Ian turut melatih kemampuannya sebagai penyihir muda. Keberadaan ilmu sihir (dan elemen fantasi secara umum), membantu Onward tampil lebih segar, biarpun alurnya mengusung pakem standar film road trip. Khususnya perihal spektakel, di mana Scanlon menunjukkan perkembangan pesat sebagai sutradara pasca menjalani debutnya tujuh tahun lalu.

Disokong visual memikat yang membantu menghidupkan dunia imajinatifnya (meski bukan produk visual terbaik Pixar), Scanlon menyuguhkan petualangan mengasyikkan, yang melibatkan aksi seru nan menegangkan dan proses memecahkan teka-teki sederhana. Sihir memang kerap jadi jalan penyelesai masalah, tapi tidak berakhir sebagai jalan keluar yang (terlalu) mudah, sebab Onward memastikan bahwa Ian harus belajar dan bertumbuh lebih dulu. Alhasil, pertarungan besar di klimaks jadi luar biasa memuaskan, sebab di situlah protagonis kita akhirnya membuktikan perkembangannya setelah proses panjang.

Holland dan Pratt tidak kesulitan menghidupkan figur remaja canggung dan pemuda nyeleneh, mengingat peran semacam itu sudah beberapa kali keduanya lakoni. Hal serupa berlaku pada Pixar, yang dikenal sebagai jagonya mengaduk-aduk perasaan penonton. Di sini, bahkan pemandangan kecil seperti sepasang kaki yang saling bersentuhan saja bisa begitu bermakna. Justru momen besarnya, yang diharapkan memberi puncak emosi, mungkin takkan bisa diterima semua penonton.

Pertama, perlu dipahami dahulu, pesan apa yang Onward ingin sampaikan. Seperti judulnya, ini adalah kisah soal melangkah maju. Bukan tentang mengejar masa lalu, melainkan bagaimana masa lalu berguna untuk masa kini dan nanti. Sosok ayah yang telah tiada (masa lalu) membantu Ian menyadari betapa berharganya Barley (masa kini). Ilmu sihir (masa lalu), berkontribusi pada proses tumbuh kembang Ian (masa depan). Sementara di lingkup keluarga, Onward mengajak untuk lebih memperhatikan orang-orang tercinta yang masih berada di samping kita, bukannya tenggelam pada kerinduan terhadap sosok tercinta lain yang telah tiada.

Secara dampak emosi, resolusinya bisa jadi dianggap antiklimaks, atau malah mengkhianati, oleh sebagian penonton, walau sebenarnya, pilihan konklusi itu sesuai dengan tujuan filmnya. Sepertinya Onward juga bentuk terapi pribadi bagi Scanlon sendiri. Bisa dipahami. TAPI, filmnya terlanjur memberondong dengan ekspektasi yang melibatkan hati. Dan setelah semua itu, tidak keliru bila ada penonton yang merasa dicurangi. Meminjam istilah Jawa, apa yang Onward lakukan itu “bener ning ora pener”.

THE LEGO MOVIE 2: THE SECOND PART (2019)

“Batman adalah jagoan murung yang selalu menderita pula kesepian karena itulah keinginan penggemar” merupakan salah satu lelucon sindiran paling akurat sepanjang film. Selepas trilogi The Dark Knight, menurut konsensus publik, menjadikan Batman kelam adalah keharusan. Sebenarnya bukan untuk The Caped Crusader saja. Seolah-olah, kini agar jagoan dalam film dianggap keren, mode suram harus diaktifkan sepanjang waktu.

Persepsi tersebut jadi sasaran tembak The Lego Movie 2: The Second Part. Keren tidak melulu harus gritty, dan pendewasaan bukan berarti meninggalkan kesenangan, warna-warni, atau kekonyolan dalam hidup. Dari situ, saya tidak butuh alasan lain untuk menyukai film karya Mike Mitchell (Shrek Forever After, Trolls), biarpun setelah empat film, kesegarannya jauh berkurang, yang juga jadi penyebab The Lego Ninjago Movie (2017) berakhir mengecewakan, baik secara kualitas atau pendapatan.

Lima tahun pasca peristiwa film pertama, kedamaian Bricksburg terusik oleh rentetan invasi alien berbentuk Duplo (set lego bagi anak berusia 1,5-5 tahun). Dunia pun hancur, berubah menjadi tanah gersang bernama Apocalypseburg. Ketika orang-orang termasuk Lucy (Elizabeth Banks) bersikap negatif, gemar berkontemplasi soal merananya kehidupan sambil memandang jauh ke ujung cakrawala layaknya tokoh-tokoh cerita fiksi bertema post-apocalyptic, tidak demikian dengan Emmet (Chris Pratt).

Emmet masih memandang segalanya lewat kacamata positif, mendendangkan lagu Everything Is Awesome tiap hari, meski Lucy beranggapan bahwa sikap tersebut kekanak-kanakan. Tidak semestinya orang dewasa yang telah diberondong banyak permasalahan, kekecewaan, kehilangan, dan hal-hal negatif lain, bertingkah senaif itu. Jadi bagaimana seharusnya manusia dewasa bersikap?

The Lego Movie 2: The Second Part menawarkan perspektif bijak yang dapat kita simak dalam lirik lagu Everything’s Not Awesome berikut: “Everything's not awesome / Things can't be awesome all of the time / It's not realistic expectation / But that doesn't mean we shouldn't try / To make everything awesome”. Rasanya tidak ada definisi “pendewasaan” yang lebih dewasa dari itu.

Ujian bagi Emmet kemudian datang, ketika mimpi buruknya tentang “Our-Mom-Ageddon” rupanya bukan sekadar mimpi. Pasukan Duplo dari Systar System yang dipimpin Jenderal Sweet Mayhem (Stephanie Beatriz) menculik Lucy, Batman (Will Arnett), Benny (Charlie Day), MetalBeard (Nick Offerman), dan Unikitty (Alison Brie), memaksa mereka menghadiri pernikahan Ratu Watevra Wa-Nabi (Tiffany Haddish).

Demi membuktikan ketangguhannya kepada Lucy, Emmet nekat terbang seorang diri menuju Systar System, sebelum akhirnya bertemu Rex Dangervest, yang juga diisi suaranya oleh Pratt, selaku gabungan karakter-karakter sang aktor (Star-Lord, Owen Grady, Joshua Faraday) dan yang dirumorkan bakal dia perankan (Indiana Jones). Rex dengan segala machismo miliknya berusaha mengajari Emmet bagaimana menjadi pria dewasa nan tangguh.

Di balik petualangan yang masih dibalut gelaran visual mencolok, musik-musik catchy (salah satu lagu yang paling menancap di ingatan punya judul “Catchy Song”), humor meta, serta aksi seru—meski Mike Mitchell belum dianugerahi bakat menyajikan kekacauan gila seperti duet Lord-Miller—The Lego Movie 2: The Second Part sebenarnya menyimpan drama menyentuh hati soal keluarga, khususnya hubungan kakak-adik.

Serupa film pertama, kejadian-kejadian di dunia lego merefleksikan peristiwa di dunia manusia. Kali ini tentang Finn (Jadon Sand), bocah di film pertama yang mulai beranjak remaja dan terganggu oleh keinginan sang adik, Bianca (Brooklynn Prince), untuk bermain bersamanya. Naskah karya Lord dan Miller sekali lagi berhasil menjalin koneksi antara dua dunia (tapi jangan mengharapkan keberadaan penjelasan logis) yang bermuara pada kisah manis nan menyentuh. Tidak ada sosok murni jahat di sini, hanya pihak-pihak yang terluka, korban salah paham, atau tidak mampu menyampaikan perasaan.

Empat film dan lima tahun berlalu, keunikan yang ditawarkan The Lego Movie kini telah menjadi tren. Humor meta sarat referensi yang tadinya baru sekarang bertebaran di mana-mana. Alhasil, tawa yang dilahirkan pun tak lagi sebanyak dulu ketika elemen-elemen yang bakal dijadikan bahan banyolan dapat dideteksi bahkan sebelum humor dilontarkan. Beruntung, komedi-komedi tak terduga—baik dari segi tema atau timing—masih kerap ditemukan (that “Bruce Willis joke” is the funniest for me), sementara jajaran pengisi suaranya mampu menghembuskan kekhasan dalam masing-masing tokoh.

JURASSIC WORLD: FALLEN KINGDOM (2018)

Di titik ini saya sudah tak lagi mengharapkan “sense of wonder” dari seri Jurassic Park, apalagi dari installment yang memilih seminimal mungkin memakai variasi lagu tema gubahan John Williams. Rasa itu biarkan eksklusif jadi milik film pertamanya. Jurassic Park berevolusi menjadi film monster secara total lebih cepat ketimbang proses Dr. Henry Wu (B. D. Wong) mengkreasi ulang DNA dinosaurus. Tapi sebagai film monster, apabila mengikuti jalur tradisional, Jurassic World dan sekuel-sekuelnya cuma punya sedikit opsi guna melanjutkan kisah. Itu pun kental repetisi: taman dibangun-dihancurkan dinosaurus-taman ditutup-mengunjungi taman lagi-kembali ke awal. Fallen Kingdom dibuat untuk membuka pintu alternatif, walau akhirnya cuma berakhir sebatas “jembatan pendek” yang dipaksa berjalan selama 2 jam lebih.

Aspek penting hanya terletak di paruh awal, saat alurnya dibuat menyerupai film bencana, kemudian pada konklusi. Babak pertengahan bermain-main di pesan lama yang kita sudah hafal betul, mengenai keserakahan manusia dan bagaimana tindakan “bermain Tuhan” menghasilkan hukuman setimpal, supaya mereka belajar agar tidak mencampuri proses alam. Terlampau familiar, walau salah satu elemen cukup mampu memancing dilema. Dinosaurus terancam punah (lagi) akibat letusan gunung berapi di Isla Nublar tempat ekosistem mereka berkembang secara natural. Haruskah manusia turun tangan menyelamatkan dinosaurus? Haruskah manusia kembali mengganggu seleksi alam? Apalagi menyelamatkan dinosaurus berarti mengancam keberlangsungan hidup umat manusia sendiri.

Dr. Ian Malcolm (Jeff Goldblum dalam peran sebatas cameo) berargumen bahwa itu cara Tuhan mengembalikan stabilitas ekosistem, dan manusia tak perlu ikut campur. Artinya, membiarkan dinosaurus (yang mereka hidupkan lagi) punah. Claire (Bryce Dallas Howard) yang kini seorang aktivis hak dinosaurus berpikiran sebaliknya. Fallen Kingdom mengambil langkah tepat saat enggan memberi jawaban konklusif atas isu tersebut, karena memang tidak ada. Tapi Claire, yang diam-diam merasa bersalah telah berkontribusi menciptakan Indominus Rex, kukuh pada prinsipnya. Harapannya terjawab kala Sir Benjamin Lockwood (James Cromwell), mantan partner John Hammond (Richard Attenborough), memintanya memimpin misi penyelamatan, memindahkan beberapa spesies dinosaurus ke pulau kosong lain.

Bisa ditebak, misi itu membuatnya bereuni dengan Owen (Chris Pratt), yang antara film ini dan Jurassic World (2015) rupanya telah memutuskan hubungan asmaranya dengan Claire. Kenapa Owen mesti ikut? Pertama, karena Blue si Velociraptor terakhir yang dahulu ia latih termasuk salah satu prioritas misi penyelamatan. Kedua, karena Pratt adalah action hero semua kalangan yang bisa diandalkan. Dia mampu melompat di antara gigi-gigi tajam Tyrannousaurus maupun lari dari letusan gunung berapi selincah Indiana Jones. Pun sebagaimana kita tahu, kemampuannya menangani komedi jadi jualan utama, termasuk komedi fisik, seperti ia perlihatkan dalam adegan ketika Owen, yang badannya tengah lumpuh akibat bius, mesti menghindari aliran lava.

Tapi apa guna jagoan tangguh tanpa musuh seimbang? Kini ada Indoraptor, dinosaurus hibrida perpaduan DNA antara, well, INDOminus dan VelociRAPTOR. Sanggup mendeteksi pancaran laser, menipu manusia, merusak pintu lift, membuka jendela, dan lain-lain, Indoraptor adalah dinosaurus cerdas yang didesain sebagai senjata perang dan berpotensi menjadi musuh menarik walau dari perspektif desain, sosoknya mudah dilupakan pula tanpa kekhasan. Tugas menangani teror sang monster kini diemban J. A. Bayona (The Impossible, A Monster Calls), yang kembali membuktikan bahwa ia punya insting visual mumpuni yang membuat para dinosaurus tampak megah layaknya raja yang berkuasa di puncak rantai makanan. Pun beberapa jump scares tampil lumayan efektif. Sayang, Fallen Kingdom tak memiliki cukup momen “Dino Madness”. Letusan gunung sampai pertarungan Blue melawan Indoraptor tampil menghibur, tapi film ini kekurangan satu kegilaan besar sebagaimana Jurassic World berikan lewat threesome Tyrannosaurus-Blue-Indominus Rex.

Ditulis oleh Colin Trevorrorw (Jurassic World) dan Derek Connolly (Jurassic World, Kong: Skull Island), naskahnya mengandung dua pilihan narasi berani, yang baru mengisi menjelang konklusi, meninggalkan mayoritas durasi dalam balutan cerita setipis kertas. Keduanya mengejutkan, secara ekstrim mengubah jalur yang dibangun Jurassic Park, namun sejatinya merupakan progres natural. Fallen Kingdom “menipu” penonton agar berpikir film ini sebatas mengulangi The Lost World (1997) lalu berakhir layaknya kebanyakan film monster. Tidak sepenuhnya keliru. Beberapa plot poin memang serupa dengan sekuel mengecewakan itu. Bedanya, Fallen Kingdom menghasilkan posibilitas menarik bagi masa depan franchise-nya sembari membawa kita mengintip “lingkaran kehidupan”, di mana suatu hari, tatkala manusia kurang berhati-hati, termakan ketamakan lalu terkena dampak aksinya sendiri, peradaban bakal runtuh dan kembali ke zaman pra-sejarah.


Note: Ada post-credits scene, tapi kecuali anda punya waktu luang, melewatkannya takkan jadi masalah.  

AVENGERS: INFINITY WAR (2018)

Avengers: Infinity War bukanlah film pahlawan super pertama yang mencoba menerjemahkan crossover event dari buku komik ke layar lebar. Marvel Studios sendiri telah berulang kali melakukannya sejak The Avengers sampai Captain America: Civil War. Tapi baru Infinity War yang benar-benar memberi definisi sempurna, menontonnya menghadirkan perasaan serupa membaca crossover event. Fakta bahwa filmnya berjalan lancar merupakan buah kesabaran Kevin Feige dan tim membangun puluhan karakter beserta universe luas selama satu dekade lewat 19 film. Tanpanya, ditambah beberapa kekurangan yang tak bisa dihindari, Infinity War bakal berujung kekacauan besar yang mudah terlupakan. This is one of a kind.

Kalau familiar dengan komik superhero, tentu anda pernah menikmati crossover event seperti Infinity Gauntlet, Civil War, Secret Wars, dan lain-lain. Sedikit penjabaran bagi non-pembaca, sebuah even memiliki seri utama yang menuturkan konflik utama pula. Sebagai pengiring, dirilis tie-ins yang mengetengahkan kisah sampingan maupun detail peristiwa yang menimpa masing-masing tokoh. Bagi pembaca komik yang tak terlalu akut seperti saya, demi menghemat waktu, rasanya pernah melewatkan tie-ins dan langsung menyantap seri utama. Alhasil, garis besar cerita tetap bisa dipahami, namun terasa betul ada detail yang terlewat, emosi yang tak maksimal, atau kejadian yang sekelebat lalu. Inifnity War tampil demikian, sehingga bagi penonton yang asing dengan pengalaman membaca seperti itu, mungkin bakal tersisa ketidakpuasan.
Tapi jangan khawatir. Russo Brothers (The Winter Soldier, Civil War) paham betul bagaimana menampilkan momen-momen yang akan terus dikenang hingga tahun-tahun ke depan, dari kemunculan karakter dan aksi keren yang mampu memancing gemuruh tepuk tangan (ketika saya menonton sekitar 4-5 kali tepuk tangan penonton pecah) sampai perasaan tersentak mendapati jagoan-jagoan kita ditempatkan pada bahaya yang belum pernah mereka alami. Dibantu penataan kamera Trent Opaloch yang sudah berkolaborasi bersama Russo Brothers sejak The Winter Soldier, rentetan gambar ikonik pun diciptakan. Tapi sejak awal, tantangan terbesarnya adalah menyatukan sekian banyak tokoh dengan sekian banyak cerita. Dan duo penulis naskah Christopher Markus dan Stephen McFeely menyanggupi tantangan itu.

Avengers dibagi beberapa kelompok. Tim Iron Man (Robert Downey Jr.) menanti Thanos di Planet Titan, kampung halamannya, Captain America (Chris Evans) bersatu dengan Black Panther (Chadwick Boseman) guna menghadapi invasi keempat Black Orders yang menyebut diri sebagai anak-anak Thanos, Thor (Chris Hemsworth) bersama Rocket (Bradley Cooper) dan Groot (Vin Diesel) berusaha menciptakan senjata untuk melawan si Titan Gila, sedangkan Star-Lord (Chris Pratt) memimpin Guardians melakukan serbuan dadakn. Markus dan McFeely melakukan apa yang mereka bisa, menyatukan segala sub-plot serapi mungkin dibantu penyuntingan Jeffrey Ford dan Matthew Schmidt yang menghasilkan transisi mulus. Saya bersyukur kedua penulis naskah tetap memasukkan komedi yang masih efektif memancing tawa, meski penulisan humor mereka belum setajam Gunn atau Waititi. Sebab dengan tokoh-tokoh seperti Guardians of the Galaxy dan Iron Man, sepenuhnya melucuti komedi adalah bentuk menyia-nyiakan potensi. Sebagaimana aliran alur, perpindahan tone pun berlangsung mulus. Sesuatu yang awalnya bak kemustahilan, seperti halnya kesuksesan Russo Brothers mempertahankan ciri masing-masing franchise, misalnya Guardians dengan musik dan celotehannya.
Satu hal pasti, Thanos (Josh Brolin) menjadi sentral segalanya. Enam tahun pasca kemunculan perdananya, Thanos mulai bergerak mengumpulkan Infinity Stones. Power Stone di Xandar, Space Stone yang diam-diam dibawa Loki (Tom Hiddleston), Time Stone di bawah perlindungan Doctor Strange (Benedict Cumberbatch), Reality Stone di koleksi The Collector (Benicio del Toro), Mind Stone yang menghidupkan Vision (Paul Bettany), dan Soul Stone yang keberadaannya masih jadi misteri. Berbagai teori mengenai letak batu terakhir bertebaran di internet, dan semuanya meleset. Bahkan setelah merilis dua trailer plus setumpuk klip promosi, Infinity War masih sanggup menyimpan kejutan, baik soal alur, bagaimana sebuah adegan aksi dieksekusi, dan tentunya kematian (dan kembalinya) karakter.

Bukan spoiler bila saya menyebut ada karakter yang meregang nyawa. Tanpa itu, sulit menegaskan status Thanos sebagai musuh besar yang kehadirannya sudah dibangun bertahun-tahun. Tapi bukan (cuma) itu alasan Thanos layak masuk jajaran villain terbaik MCU, melainkan keberhasilan menjadikan ia sosok dengan kepribadian. Thanos tidak sepenuhnya jahat. Ambisinya bukan menguasai atau menghancurkan dunia, namun menyeimbangkannya, atau kalau boleh disebut, menyembuhkannya. Thanos bukan monster tanpa perasaan. Ada sensitivitas terselubung yang mampu Josh Brolin salurkan lewat ekspresi. Begitu film berakhir, kehilangan serta kehancuran yang Thanos rasakan sama besarnya dengan para superhero. Dia sosok sedih yang gila. Kegilaan selaku produk kekacauan dunia dan bisa kita temukan di keseharian. Bedanya, orang-orang di dunia nyata dengan pola pikir serupa takkan gamblang mengutarakan pemikirannya, sebab mereka akan dianggap gila dan berbahaya. Terlebih lagi, tidak ada infinity stones dalam genggaman untuk merealisasikan niat itu.
Membicarakan enam infinity stones akan terasa problematik. Muncul ambiguitas terkait seberapa jauh kapasitas tiap-tiap batu. Untungnya, Russo Brothers memastikan setiap Thanos memamerkan kekuatan batunya, sekuen yang dikemas apik ikut mengiringi. Karena soal adegan aksi, tiada satu pun yang tersia-sia berkat koreografi menawan yang makin memikat saat Russo Brothers sering menampilkan para superhero bekerja sama sebagai tim, juga kesan mengancam yang senantiasa menggelayuti. Bahkan The Outriders yang menyerbu Wakanda di klimaks bukan pasukan alien lemah macam Chitauri. Walau sejenak, The Outriders mampu menekan Avengers sampai ke titik batas mereka. Pun kualitas CGI-nya sesuai dengan bujet $300-400 juta yang dikeluarkan. Banyak mengunjungi ragam lokasi luar angkasa, masing-masing planet—khususnya jika anda menyaksikan film ini dalam format IMAX 3D—terlihat meyakinkan.

Bermodalkan lingkup besar yang mencakup berbagai sudut alam semesta, konsekuensi yang dipertaruhkan, juga ending yang akan selalu lekat di ingatan, Infinity War memang terasa seperti pertempuran menuju akhir dunia, kulminasi yang sesuai setelah perjalanan satu dekade, tepatnya separuh dari itu. Ya, biar bagaimana, kesan film ini merupakan paruh pertama dari satu babak epic tetap tertinggal. Apabila merujuk gaya drama tiga babak, maka 19 film sebelumnya adalah first act, Infinity War bertindak sebagai second act, sebelum akhirnya Avengers 4 (Avengers: Endgame sepertinya judul yang pas), menjadi third act sekaligus penutup. Avengers: Infinity War, dengan tetap memperhatikan kelemahan-kelemahannya, telah mengubah peta perfilman superhero. Film-film berikutnya, termasuk rilisan Marvel Studios, akan berada di bawah bayang-bayang film ini. 


Ulasan versi vlog bisa ditonton di sini:

GUARDIANS OF THE GALAXY VOL. 2 (2017)

James Gunn dan Guardians of the Galaxy adalah contoh sempurna bagaimana menjalankan waralaba lewat proses menanam dan menuai. Tiga tahun lalu, langkah berani memperkenalkan lima a-holes tak dikenal sukses melahirkan idola baru berkat penokohan solid pula interaksi menarik. Hasilnya, begitu penonton bertemu mereka lagi di sekuelnya, timbul kelekatan secara emosional guna memaksimalkan penceritaan yang lebih personal. Selain mempertahankan kejeniusan Gunn merangkai komedi, Vol. 2 menegaskan posisi franchise ini sebagai drama keluarga, tepatnya tentang sekelompok individu yang kehilangan keluarga, menemukan satu sama lain, tumbuh bersama membentuk keluarga baru.

Kisahnya didasari pertanyaan film sebelumnya mengenai identitas ayah Peter Quill / Star-Lord (Chris Pratt), yang rupanya adalah sosok celestial bernama Ego (Kurt Russell). Demi menebus hangatnya hubungan ayah-anak yang tak pernah mereka punya, Ego mengundang Peter, Drax (Dave Bautista) dan Gamora (Zoe Saldana) ke planet miliknya, sedangkan Rocket (Bradley Cooper) dan Baby Groot (Vin Diesel) tinggal guna memperbaiki Milano pasca pertempuran melawan pasukan Sovereign sambil menjaga Nebula (Karen Gillan). Sementara Ayesha (Elizabeth Debicki), sang Pendeta Sovereign menyewa Yondu (Michael Rooker) dan Ravagers untuk menangkap Guardians yang mencuri barang kepunyaannya. 
Guardians of the Galaxy dipersenjatai winning formula yang saking ampuhnya, memberi template bukan hanya bagi film MCU (warna vibrant), pula rilisan studio lain dalam pemakaian lagu era 70 hingga 80-an. Ada rasa khawatir Gunn dan tim berlebihan menggunakan formula tersebut. Kekhawatiran itu sempat menguat di 15-20 menit awal kala lagu-lagu bertumpuk silih berganti terdengar, setiap kalimat karakternya berintensi melucu, sampai eksploitasi Baby Groot pada opening credit. Terasa melelahkan ketimbang menyenangkan akibat kesan memaksakan diri menyamai bahkan menggandakan keasyikan pendahulunya. Tanpa pemanasan, penonton langsung diajak mengarungi parade sok asyik yang Gunn jejalkan.

Kondisi berubah setelah Ego datang membawa Mantis (Pom Klementieff), alien berkemampuan emphatic yang ia besarkan. Tidak pernah mengalami interaksi sosial membuatnya polos (cenderung bodoh), sisi utama pemancing gelak tawa. Bicara kebodohan, tentu Guardians memiliki Drax yang selalu bicara terus terang. "Mulut busuk" Drax plus keluguaan Mantis menciptakan interaksi komedi kelas satu, di mana kepiawaian Bautista melontarkan ejekan (baca: kejujuran pedas) menggelitik direspon sempurna ekspresi kosong Klementieff. Tiap kali keduanya bersama adalah jaminan tawa tak berujung, "memanaskan" penonton supaya siap terhibur oleh deretan humor berikutnya.
Selanjutnya, Guardians of the Galaxy Vol. 2 bagai mesin penghasil tawa yang enggan berhenti beroperasi. Gunn jeli melihat sisi lucu bermacam hal, dan berbeda dengan paruh awal durasi, makin pintar memilih timing menyelipkan beragam lelucon, entah olok-olok nama Taserface (Chris Sullivan) atau humor seksual. Ketika Drax dan Mantis berjasa di comic timing, Baby Groot merupakan salah satu tokoh paling menggemaskan yang pernah hadir di layar lebar. Lebih naif dari Groot dewasa, tingkahnya mengundang kecintaan, menyesakkan sewaktu melihatnya terancam bahaya di puncak pertempuran.

Dibanding film pertama dengan politik luar angkasa ditambah pencarian infinity stone, Vol. 2 berjalan sederhana dibalut cerita yang layak disebut tipis. Namun fokus filmnya memang bukan kompleksitas alur, melainkan hubungan karakter yang ditautkan benang merah berupa kekeluargaan antara anggota Guardians, Gamora dan Nebula, sampai Peter dan ayahnya. Salah satu credit scene pun memperlihatkan Guardians of the Galaxy tak ubahnya perjalanan tumbuh kembang dalam keluarga. Poin itu berhasil sebab kita sudah terikat dan terpikat dengan karakternya sedari film pertama, dan sekuel ini berfungsi menegaskan bahwa di samping tingkah seenaknya pun saling ejek yang rutin terjadi, para penjaga galaksi ini menyimpan kebaikan hati, peduli satu sama lain.
Niat Gunn menjadikan filmnya bukan saja spectacle megah terlaksana kala klimaks. Bukan epic macam The Avengers, pertarungan menyakitkan ala Captain America: Civil War, maupun keunikan kreatif seperti Ant-Man (tiga third act terbaik MCU sejauh ini), Guardians of the Galaxy Vol. 2 mengutamakan dampak emosional hasil dramatic arc-nya. Melihat Peter meluapkan kesedihan seorang anak, Yondu si father figure coba menebus dosa, saling tolong Nebula dan Gamora selaku dua saudari yang selalu berseteru, hingga usaha Drax menolong Mantis memancing gejolak perasaan. Gunn sanggup menekankan ikatan erat para protagonis beserta aksi heroik mereka ketimbang pertunjukan bombastis belaka. 

Proses menanam dan menuai tak berakhir di tataran karakter, juga soal masa depan Marvel Cinematic Universe khususnya seputar dunia kosmik. Pengenalan sosok celestial, peran singkat Sylvester Stallone, dua dari lima credit scene, bahkan cameo Stan Lee menanam benih yang berpotensi mengembangkan dunia kosmik ke jangkauan lebih luas yang bukan tidak mungkin bakal berperan besar pada MCU pasca invasi Thanos berakhir di kemudian hari. Tapi untuk sekarang, nikmati dahulu kembalinya tim pahlawan super Marvel yang lebih mampu mengocok perut pula mencuri hati ketimbang Avengers di Bumi lengkap dengan kemeriahan visual berhiaskan warna-warna mencolok.