REVIEW - JURASSIC WORLD DOMINION
Kesulitan terbesar membuat installment Jurassic Park adalah adanya perbandingan dengan film pertama. Jangankan menyamai, sebatas mendekati kualitasnya pun luar biasa sulit, sampai Spielberg sendiri gagal melakukannya di The Lost World: Jurassic Park (1997). Bahkan Jurassic World (2015) selaku sekuel terbaik yang memberi franchise ini nyawa baru saja masih belum mencapai level serupa.
Sehingga penting disadari, menandingi mahakarya Spielberg tersebut merupakan kemustahilan. Sense of wonder kala menyaksikan dinosaurus berjalan lagi di muka bumi dalam balutan efek spesial spektakuler takkan bisa direplikasi. Kesadaran itu bakal memudahkan penonton menikmati sekuelnya, termasuk Jurassic World Dominion, yang bukan bertujuan memberi keajaiban, melainkan aksi penuh dinosaurus sekaligus konklusi bagi seluruh protagonis seri Jurassic Park.
Ya, semua. Selain Owen Grady (Chris Pratt) dan Claire Dearing (Bryce Dallas Howard) yang kini bertindak sebagai figur orang tua untuk Maisie (Isabella Sermon), turut menandai reuni trio Alan Grant (Sam Neill), Ellie Sattler (Laura Dern), dan Ian Malcolm (Jeff Goldblum) sejak film orisinalnya. Naskah buatan sang sutradara, Colin Trevorrow, dan Emily Carmichael, menangani pertemuan dua generasinya dengan baik, dan terpenting, dengan rasa hormat.
Perusahaan Biosyn yang dipimpin Lewis Dodgson (Campbell Scott), jadi jembatan penghubung. Di Jurassic Park (1993) ia muncul sekilas di awal (diperankan Cameron Thor) yang menyuap Dennis Nedry (ada easter egg soal peristiwa itu). Dodgson berencana menculik Maisie, lalu memakai DNA-nya untuk riset Dr. Henry Wu (BD Wong), sebagai bagian misinya menguasai pangan dunia lewat serangan wabah belalang raksasa. Alan dan Ellie berusaha mengungkap rencana busuk Biosyn. Ian Malcolm? Dia adalah konsultan perusahaan tersebut.
Sebenarnya garis besar alur Jurassic World Dominion tak memerlukan keterlibatan dinosaurus secara fisik, tapi karena hak suaka atas mereka dipegang Biosyn, para protagonis pun harus menghadapi ancaman reptil purba itu. Alurnya bergantian menyoroti Owen-Claire dan Alan-Ellie-Ian, membagi porsi kedua generasi dengan seimbang. Sebagaimana Top Gun: Maverick, film ini mencontohkan bahwa tongkat estafet tidak melulu harus dioper. Seringkali, memegangnya bersamaan justru jadi opsi terbaik.
Narasinya bukan tanpa halangan. Walau perpaduan dua cerita menambah variasi, di sisi lain, tatkala adegan aksi absen, penurunan intensitas terjadi dua kali lebih banyak. Second act-nya yang cukup draggy menunjukkan itu, meski penampilan kuat Isabella Sermon ditambah celotehan khas Jeff Goldblum (terbukti Ian Malcolm lebih pas dijadikan pemain tim alih-alih solo lead layaknya di The Lost World) rutin menghasilkan daya tarik.
Beruntung, sebagaimana Jurassic World, tidak ada keluhan mengenai cara Trevorrow membungkus aksi. Temponya cepat. Sangat cepat, di luar permasalahan second act tadi, durasi 146 menitnya terasa jauh lebih singkat. Pengarahan cekatan Trevorrow tampak betul di sekuen kejar-kejaran antara Owen dan Atrociraptor. Formulaik, sebatas kebut-kebutan di sepanjang jalanan Malta, namun bertenaga.
Klimaksnya kembali mengedepankan momen "dino fight". Kali ini musuh besarnya adalah Giganotosaurus, sang karnivora terbesar. Belum se-epic Jurassic World, tapi kembali menegaskan kapasitas Trevorrow mengemas money shot, pula tampil bak penebusan atas pertarungan kontroversial di Jurassic Park III (2001).
Tapi titik terbaik justru dihadirkan sebuah kombinasi dua sekuen. Pertama, menampilkan upaya Claire kabur dari kejaran Therizinosaurus. Kedua, berupa pertarungan Owen dan Kayla (DeWanda Wise) melawan Pyroraptor. Terbaik, karena masing-masing dikemas lewat gaya berbeda. Sekuen pertama lebih atmosferik, sedangkan sekuen kedua cenderung dinamis. Menyuguhkan keduanya secara berurutan, menguatkan kesan bahwa film ini variatif, juga luasnya jangkauan pengarahan Trevorrow.
Konklusinya memuaskan. Jurassic World Dominion menjawab pertanyaan dari tiga dekade lalu. Bisakah manusia dan dinosaurus hidup harmonis? Di sinilah akhirnya dinosaurus dipandang sebagai hewan yang hidup sesuai hakikat mereka. Termasuk Raptor, yang bukan lagi "psikopat film slasher versi dinosaurus". Sementara sekuen penutupnya menawarkan keindahan. Salah satu momen terindah di sejarah Jurassic Park. Keindahan bernama "harmoni".
REVIEW - THE TOMORROW WAR
(Tulisan ini mengandung SPOILER)
Invasi alien merupakan salah satu formula favorit di blockbuster. Alien menyerbu, dunia terancam kiamat, manusia di ambang kepunahan. Tapi berapa banyak yang mampu benar-benar menerjemahkan situasi tersebut? Sense of urgency kerap dikesampingkan demi aksi sebesar mungkin. The Tomorrow War, selaku debut penyutradaraan live action dari Chris McKay (The Lego Batman Movie) termasuk satu dari segelintir judul yang sanggup melakukannya.
Desember 2022, dunia dikejutkan oleh kedatangan pasukan dari tahun 2051. Mereka memperingatkan soal invasi alien bernama Whitespikes, yang dalam waktu singkat telah menghancurkan peradaban manusia. Bala bantuan tentara dikirim ke masa depan, namun hanya 20% berhasil selamat, meski setiap penugasan hanya berlangsung seminggu. Alhasil, sekitar setahun berselang, warga sipil mulai dikirim, menimbulkan pertanyaan, "Apakah perlu mempertaruhkan nyawa demi perang yang bukan milik kita?".
Berita di televisi, cerita-cerita dari mereka yang berhasil selamat, semua sarat sense of urgency. Ketegangan. Perasaan bahwa kondisi dunia memang sedang di ujung tanduk. Lalu tibalah giliran protagonis kita, Dan Forester (Chris Pratt), mantan militer yang coba beralih jadi peneliti, dikirim ke medan perang. Dia terpaksa meninggalkan istrinya, Emmy (Betty Gilpin), serta sang puteri, Muri (Ryan Kiera Armstrong).
Tentu berat bagi Dan. Bahkan ia sempat mencoba mangkir, dengan meminta bantuan ayahnya, James (J. K. Simmons dalam sisi paling badass-nya), veteran Perang Vietnam yang kini beralih jadi ekstrimis anti-pemerintah. Tapi renggangnya hubungan mereka, membatalkan niatan tersebut. Dan akhirnya berangkat, sambil mengusung motivasi paling murni yang bisa dimiliki jagoan film aksi: keluarga. Dan berperang di masa depan dan demi masa depan. Masa depan puterinya. Tidak ada tendensi heroisme, yang mana dimanfaatkan oleh naskah buatan Zach Dean, guna melahirkan momen-momen emosional.
Sesampainya di masa depan, pasukan Dan tidak punya waktu berleha-leha. Misi sudah menanti, juga para Whitespikes yang siap merenggut nyawa kapan saja. Saat itu, jelas pula bahwa Chris Pratt memang sempurna melakoni perannya. Pratt tampak meyakinkan, bukan saja sebagai action hero, juga figur pemimpin. Turut bersama Dan adalah dua karakter pendukung, Charlie (Sam Richardson) dan Dorian (Edwin Hodge).
Charlie murni berstatus comic relief, dan walau Richardson berusaha maksimal, humor di naskahnya terlalu kering untuk dapat memancing tawa. Sebaliknya, Dorian cukup menarik. Sosoknya tidak ramah dan intimidatif. Sudah tiga kali ia terjun berperang, sementara di lehernya, tergantung kalung berbahan gigi Whitespikes. Sekilas Dorian sama seperti karakter haus darah yang biasa kita temui di film-film serupa. Nyatanya ia berbeda. Meski dengan caranya sendiri, Dorian bersedia bekerja sebagai tim. Obsesinya pada pertempuran belum mengubur sisi kemanusiaannya.
Kembali soal sense of urgency, kesan itu McKay munculkan di deretan aksinya, yang tersaji masif, intens, penuh kekacauan yang dikemas rapi, ditemani musik menggelegar gubahan Lorne Balfe, yang senantiasa mengingatkan penonton soal betapa berbahayanya tiap pertarungan. Bentuknya pun beragam, dari misi SAR (search and rescue) hingga memburu alien untuk ditangkap. Pun masing-masing mengandung beberapa variasi aksi, seperti saat McKay menjadikan baling-baling helikopter sebagai senjata ampuh selain senapan.
Kita bisa menaruh fokus pada aksi tanpa harus memusingkan tetek bengek perjalanan waktu. Naskah buatan Dean berhasil meramu elemen tricky ini secara sederhana, melalui penjelasan terkait banyak fenomena (salah satunya tentu saja paradoks), yang bisa diterima kalangan awam. The Tomorrow War tidak berambisi melakukan sesuatu yang ada di luar jangkauannya.
(SPOILER STARTS)
Perjalanan Dan ke masa depan jadi lebih personal setelah bertemu Muri dewasa (Yvonne Strahovski), yang menjabat sebagai kolonel. Di sini bobot emosi filmnya meningkat. Ada sedikit kesan puitis dalam pengalaman Muri, bertemu sosok ayah dari masa kecilnya, kala ia masih layak jadi panutan, serta penuh kasih sayang. Kita semua pasti pernah merindukan kenangan indah masa lampau. Tapi sekuat apa pun kita mencoba, kenangan mustahil terulang. Muri menjalani kemustahilan tersebut. Dia merasakan lagi kenangan indah yang ingin diulanginya.
(SPOILER ENDS)
Sayang, intensitas menurun di babak ketiga, setelah memindahkan latar waktu. Aksinya bukan lagi soal upaya putus asa untuk bertahan hidup, melainkan baku tembak medioker. Tatkala berubah jadi baku hantam, koreografi maupun tata kameranya kurang mumpuni. Tidak cukup dinamis. Tapi setelah apa yang disajikan sebelumnya, The Tomorrow War masih salah satu blockbuster paling memuaskan tahun ini. Andai filmnya berkesempatan tayang di layar lebar.....
Available on PRIME VIDEO

%20(1).png)

















