Tampilkan postingan dengan label Jessica Rothe. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Jessica Rothe. Tampilkan semua postingan
HAPPY DEATH DAY 2U (2019)
Rasyidharry
Jika setelah Happy Death Day 2U Jessica Rothe masih belum juga memperoleh peran signifikan
di film berskala besar, artinya para pelaku industri di Hollywood memang bodoh,
atau sang agen makan gaji buta. Karakter yang Rothe perankan boleh terperangkap
dalam lingkaran waktu repetitif, namun tidak dengan penampilannya. Dia terus
menampilkan beragam varian jenaka agar Tree tetap menjadi sosok yang
menyenangkan diikuti.
Demikian pula filmnya. Saya sempat
khawatir bila usaha menjelaskan lingkaran waktu lewat penambahan unsur
fiksi-ilmiah justru bakal membuat filmnya memaksakan diri melebarkan mitologi.
Sebuah penyakit yang lumrah menjangkit seri slasher.
Tapi rupanya, sutradara Christopher Landon (Paranormal
Activity: The Marked Ones, Happy Death Day) yang mengambil alih penulisan
naskah dari Scott Lobdell, berhasil memanfaatkannya selaku pembuka jalan masuk
untuk lebih banyak hiburan yang mengacungkan jari tengah kepada logika serta
keseriusan.
Belum sempat menikmati keberhasilan
kabur dari lingkaran waktu, Tree terpaksa berada di situasi serupa, ketika sang
pembunuh bertopeng bayi beraksi lagi. Kali ini, Carter (Israel Broussard) dan
teman sekamarnya, Ryan (Phi Vu) turut diincar. Tree pun harus kembali mengulangi
harinya untuk menggagalkan rencana pembunuhan tersebut, sembari mencari tahu
penyebab terjadinya kondisi aneh itu.
Sebagai cara menjelaskan lingkaran
waktunya, Landon menambah elemen fiksi-ilmiah, kali ini termasuk alternate universe. Presentasinya cukup
berantakan, pun penonton butuh meluangkan usaha ekstra guna mencerna seluruh peristiwa,
yang setelah tiap keping puzzle terkumpul, sebenarnya mampu membentuk satu kesatuan
cerita yang saling melengkapi, selama anda tidak mengharapkan paparan ilmiah
cerdas.
Lagipula, mematuhi nalar memang
bukan fokus Happy Death Day 2U. Filmnya
membenamkan diri ke dalam ketidaklogisan supaya penonton bisa terhibur
menyaksikan Tree yang sekali lagi harus mati berulang kali. Ketika film
pertamanya bermasalah dengan repetisi tatkala tiap lingkaran waktu terasa
serupa satu sama lain, sekuelnya selalu muncul dengan hal kreatif, lucu, dan over-the-top. Semakin konyol cara Tree
meregang nyawa, semakin mengasyikkan.
Sebagai sutradara, Landon masih
piawai membuat montase dinamis nan menggelitik yang juga merupakan highlight pendahulunya. Kalau Confident-nya Demi Lovato menemani usaha
Tree mencari identitas pembunuh di film pertama, sekarang giliran Hard Times milik Paramore melatari
montasenya, yang lebih berani menumpahkan darah dan sadisme tanpa sedikitpun
kehilangan sentuhan komedi yang kuantitasnya ditingkatkan di sini.
Tentu hasilnya takkan sebaik itu
andai tak ada Jessica Rothe, yang sanggup membuat kita tertawa (dan pastinya
jatuh cinta) lewat segala cara, dari penyampaian kalimat bernada sarkasme,
tatapan yang akan membuatmu merasa layaknya orang paling bodoh sedunia, sampai
teriakan histerikal yang memancing rasa penasaran, “Apa jadinya jika sang
aktris berperan dalam film komedi-romantis?”. Menyaksikan penampilan Rothe,
melakoni peran komedik seolah tampak begitu mudah.
Walau selepas melewati titik tengah
mulai melemah sebagaimana kondisi Tree pasca tewas belasan kali, Happy Death Day 2U tak pernah kekurangan
daya untuk menggaet atensi, yang mampu dilakukan berkat keengganan tampil
realistis. Alhasil, alurnya bebas melangkah ke mana saja, menekan kemungkinan
munculnya rasa bosan akibat arah yang mudah ditebak. Bahkan film ini memiliki
hati, melalui aspek drama manis yang menghasilkan penutup sempurna bagi perjalanan
protagonisnya. Dan setelah mid-credits scene-nya,
seri Happy Death Day bisa bergerak
menuju teritori baru yang lebih besar dan gila.
Februari 14, 2019
Christopher B. Landon
,
Comedy
,
horror
,
Israel Broussard
,
Jessica Rothe
,
Lumayan
,
Phi Vu
,
REVIEW
,
Science-Fiction
HAPPY DEATH DAY (2017)
Rasyidharry
"It's my birthday, and I'm gonna pick up the phone". Lirik nada dering super catchy tersebut niscaya melekat erat, baik di kepala penonton maupun Theresa alias Tree (Jessica Rothe) si tokoh utama. Bagaimana tidak? Lagu itu setia menyambut Tree bangun dari tidurnya, di satu pagi yang sama secara berulang-ulang dalam film yang mempertemukan unsur time loop ala Groundhog Day dengan slasher remaja akhir 90-an macam Scream hingga I Know What You Did Last Summer ini. Dan seperti judul-judul itu melambungkan Neve Campbell dan Jennifer Love Hewitt, Happy Death Day bakal mendorong popularitas Jessica Rothe yang sempat pula memainkan peran kecil di La La Land.
Tree mewakili ciri atau tepatnya stereotip mahasiswi anggota sorority: angkuh, tidak ramah, sangat memperhatikan penampilan. Diperlihatkan jelas oleh adegan pembuka berupa rutinitas Tree, dari terbangun di kamar Carter (Israel Broussard) setelah mabuk berat semalaman, membuang cupcake selaku kejutan ulang tahun untuknya yang dibuat Lori (Ruby Modine) si teman sekamar, sampai berselingkuh dengan dosen. Alhasil ketika di malam hari sosok bertopeng membunuhnya, kita tahu bahwa semua orang adalah tersangka yang punya motif. Bersama Tree yang kembali terbangun dan menjalani hari kematiannya terus menerus, kita digiring pada teka-teki mengenai identitas pelaku.
Tree percaya lingkaran waktu tersebut hanya akan berhenti begitu jati diri pelaku terungkap. Setiap kesempatan dia pakai guna mencari petunjuk sembari berusaha menyelamatkan diri. Tapi naskah garapan Scott Lobdell kurang memanfaatkan konsep time loop, baik dalam perihal pencarian petunjuk atau variasi situasi. Satu per satu kematian seharusnya menjadi proses tokohnya belajar memecahkan misteri sekaligus mengakali sang pembunuh. Namun seolah ikut terjebak di repetisi waktu, Happy Death Day sekedar mengulang kematian Tree dengan modifikasi minim signifikansi yang mayoritas hanya mengubah lokasi kematian. Padahal, terdapat setumpuk probabilitas yang menarik dimainkan secara kreatif.
Filmnya pun cukup lemah soal presentasi slasher dan trik menakut-nakuti. Sutradara Christopher B. Landon yang berpengalaman menulis empat seri Paranormal Activity mengandalkan segelintir jump scare medioker tanpa ketegangan plus metode pembunuhan tak kreatif (salah satu daya tarik slasher) yang makin kehilangan tenaga akibat usaha mendapatkan rating PG-13. Bisa ditebak, eksekusinya terlampau jinak di mana blackout sesaat sebelum Tree terbunuh jadi andalan. Menariknya, Landon dan Lobdell justru lebih piawai bersenang-senang menangani situasi komedik ketimbang ketegangan serius sisi horornya.
Bergerak lambat di paruh pertama, memasuki 40 menit durasi, diawali montage saat Tree mulai beradaptasi di lingkaran waktu diiringi Confident milik Demi Lovato, Happy Death Day pun mulai menemukan pesonanya. Pengadeganan Landon dibantu penyuntingan oleh Gregory Plotkin berubah dinamis, sementara Lobdell bagai terfasilitasi menuangkan sederet banyolan, semisal "Stop staring at me like I just took a dump on your mom’s head" selaku respon Tree atas kebingungan Carter kala mendengar ceritanya tentang time loop, yang bukan mustahil jadi salah satu kalimat paling lucu tahun ini.
Tapi highlight film ini tentu Jessica Rothe. Melalui ucapan pedas atau lontaran bernada ironi khas komedi gelap lewat gaya deadpan, kemampuan menyulap kata-kata sederhana (contoh: Silence!) terdengar menggelitik pula adorable, hingga ketepatan ekspresi yang membuat adegan mengintip pun nampak begitu lucu, Rothe melapangkan jalan untuk "naik kelas". As a "scream queen", every scream is an over-the-top, hillarious hysteria. Happy Death Day membalut kisahnya dengan drama soal menjadi seseorang yang lebih baik demi masa depan yang lebih baik. Kini masa depan terlihat amat benderang bagi Jessica Rothe.
Oktober 19, 2017
Christopher B. Landon
,
Comedy
,
Cukup
,
horror
,
Israel Broussard
,
Jessica Rothe
,
REVIEW
,
Ruby Modine
,
Scott Lobdell
Langganan:
Postingan
(
Atom
)





