Tampilkan postingan dengan label Ludi Lin. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ludi Lin. Tampilkan semua postingan

REVIEW - MORTAL KOMBAT

Kalau di tengah minimnya penjabaran film ini anda tahu apa itu Earthrealm, Netherrealm, dan Outworld, besar kemungkinan reboot untuk adaptasi layar lebar Mortal Kombat ini bakal memuaskan. Artinya anda termasuk penggemar, yang mana, mendengar istilah-istilah seperti test your might hingga (tentunya) fatality saja sudah memberikan kesenangan tersendiri. Sedangkan penonton umum mungkin mengeluhkannya sebagai fan service yang dipaksakan. 

Bukan berarti tanpa kekecewaan. Berbeda dengan citranya di mata publik awam, Mortal Kombat tidak sebatas turnamen berdarah tempat para petarung mencincang tubuh lawan (atau sesekali mengubahnya jadi bayi). Tersimpan mitologi kompleks luar biasa panjang melibatkan berbagai alam, dewa-dewa, bahkan perjalanan waktu. Debut penyutradaraan Simon McQuoid ini luput membahasnya. Bahkan alasan digelarnya turnamen Mortal Kombat pun takkan ditemukan.

Mengambil pondasi alur dari gimnya ditambah beberapa elemen milik animasi Scorpion's Revenge (film Mortal Kombat terbaik sejauh ini), Mortal Kombat dibuka saat Bi-Han alias Sub-Zero (Joe Taslim) dari klan Lin Kuei membantai Hanzo Hasashi (Hiroyuki Sanada) dari klan Shirai Ryu beserta keluarganya. Seperti kita tahu Hanzo nantinya kembali sebagai Scorpion guna menuntut balas. 

Tapi sebelum itu kita lebih dulu diajak berkenalan dengan para jagoan Earthrealm dari masa kini. Salah satunya Cole Young (Lewis Tan), mantan petarung MMA yang telah habis masa jayanya. Memilih Cole sebagai protagonis sebenarnya patut dipertanyakan. Pertama ia adalah karakter baru, dan kedua, bahkan setelah mampu membangkitkan kemampuan spesialnya, Cole masih jadi karakter tanpa daya tarik, dengan kostum serta kekuatan membosankan, apalagi saat disandingkan bersama jajaran figur ikonik Mortal Kombat.

Berkat informasi dari dua mantan pasukan militer khusus, Jax (Mehcad Brooks) dan Sonya Blade (Jessica McNamee), Cole mengetahui kalau tato naga di dadanya bukan tanda lahir biasa, melainkan tanda bahwa ia merupakan salah satu petarung yang terpilih mewakili Earthrealm dalam turnamen Mortal Kombat. Selain ketiganya, ada Liu Kang (Ludi Lin) dan Kung Lao (Max Huang), yang di bawah bimbingan Raiden (Tadanobu Asano) sang dewa petir, mesti bertarung melawan pasukan Outworld yang dipimpin Shang Tsung (Chin Han).

Berikutnya, naskah buatan Dave Callaham (The Expendables, Zombieland: Double Tap, Wonder Woman 1984) dan Greg Russo menyuguhkan alur setengah matang dengan pergerakan melompat-lompat, yang diperburuk oleh penyuntingan kasar. Penonton yang tak mengetahui sedikitpun perihal gimnya akan sering dibuat kebingungan. Kenapa peristiwa A terjadi? Bagaimana bisa karakter B muncul lagi? 

Muncul kesan, di fase pengonsepan terjadi kebimbangan, apakah ingin menjalin cerita sarat mitologi atau sepenuhnya menanggalkan itu, dan fokus pada baku hantam saja. Di satu sisi, kisahnya kerap terlalu lama mengalihkan filmnya dari pertarungan, namun di sisi lain, seperti sudah disebutkan, kekayaan dunia Mortal Kombat gagal dieksplorasi. 

Perbedaan terbesar reboot ini dengan versi Paul W. S. Anderson adalah terkait tone. Nuansa cheesy ditanggalkan demi memfasilitasi kebrutalan. Pertanyaannya, perlukah pendekatan gritty, di saat gimnya sendiri begitu over-the-top pun tak jarang konyol? Pada film di mana karakternya mengeluarkan celetukan "flawless victory" pasca membelah tubuh musuh, rasanya keseriusan kurang pas diterapkan. Terjadilah inkonsistensi tone. Liu Kang lewat segala tata krama ala biarawan terlihat menggelikan di antara penuturan serius filmnya. Pun bisa jadi, jika dikemas cheesy, ada tempat bagi lagu tema legendaris Techno Syndrome untuk muncul alih-alih versi adaptasinya (meski sebenarnya sudah cukup membangkitkan nostalgia dan antusiasme). 

Selain Liu Kang dan Kung Lao yang nampak bak bocah kemarin sore ketimbang petarung harapan bumi (khususnya Kung Lao, selaku keturunan "The Great Kung Lao", jawara Mortal Kombat pertama dari Earthrealm), presentasi karakter lain cenderung memuaskan, baik soal desain maupun penokohan. Bahkan filmnya sempat menyelipkan nod cerdik tentang Noob Saibot. Mengenai karakterisasi, Kano (Josh Lawson) tampil paling menarik sebagai prajurit bayaran sadis yang enggan berhenti berseloroh.

Poin terbaik Mortal Kombat tentu saja aksinya, di mana McQuoid paham betul bahwa banjir darah saja belum cukup. Finishing move harus diperhatikan, dan ia menghadirkan berbagai fatality kreatif yang akan terasa familiar bagi pemain gimnya (terutama untuk Kung Lao, Scorpion, dan Sonya). McQuoid memakai fast cutting, yang dikombinasikan dengan tata suara serta koreografi memadai, sehingga bukannya kacau, mayoritas pertarungan terasa hard-hitting. 

Jika Kano mencuri fokus dalam hal penokohan, terkait baku hantam, bintangnya adalah Sub-Zero dan Scorpion. Didukung kemampuan martial arts Joe Taslim, penonton disuguhi beragam gerakan unik khas si ninja es. Scorpion? Tidak perlu repot-repot membahas tetek bengek koreogragfi. Fakta bahwa ia mengucapkan catchphrase "Get over here!" diiringi lagu tema, sudah menjadi highlight. 

Begitu film berakhir, ada kesan bahwa sejatinya ini sebatas prolog bagi cerita lanjutan yang lebih besar, dengan konflik lebih mengancam, juga kemunculan lebih banyak tokoh favorit para penggemar (salah satunya di-tease pada akhir film). Memuaskan, memancing ketertarikan terhadap sekuel, tetapi meninggalkan harapan adanya perbaikan di banyak sisi, khususnya pembangunan dunia.

POWER RANGERS (2017)

Nuansa campy yang mencirikan serial "Power Rangers" sejak pertama kali ditayangkan pada 1993 (sudah mencapai musim ke-24) tentu sulit menjangkau penonton masa kini. Atmosfer gelap berlebihan layaknya short "Power/Rangers" buatan Joseph Kahn pun bukan jawaban bijak. It's unnecessarily too dark and too violent for this child-friendly show. Dua puluh tahun pasca "Turbo: A Power Rangers Movie", Dean Israelite ("Project Almanac" membawa lagi lima remaja berkostum pelangi ini ke layar lebar dibarengi setumpuk protes dari penggemar, mulai kesan grounded ala "Chronicle" sampai perubahan drastis desain beberapa tokoh seperti Goldar dan Alpha 5. 

Secara mengejutkan, Israelite bersama John Gatins ("Flight", "Kong: Skull Island") sang penulis naskah sanggup mengambil jalan tengah terbaik, menambah sentuhan kelam nan serius tanpa lupa bersenang-senang. Terdapat permasalahan sehari-hari ketika para tokoh utama dianggap bermasalah pula bersinggungan dengan konflik diri maupun sosial sebutlah bullying, sexual identity, gangguan psikologis, dan sebagainya. Namun sebagaimana remaja, tentu semangat memberontak demi kebebasan, hasrat bergembira, serta tingkah polah bodoh pemantik tawa setia mengiringi. Filmnya urung melupakan itu. 
Jason (Dacre Montgomery), Billy (RJ Cyler), Kimberly (Naomi Scott), Zack (Ludi Lin) dan Trini (Becky G) bersama-sama menemukan koin misterius yang memberi kelimanya kekuatan super. Usut punya usut koin tersebut adalah milik Zordon (Bryan Cranston), mantan Ranger merah yang jutaan tahun lalu memimpin Power Rangers melawan Rita Repulsa (Elizabeth Banks), alien sekaligus Ranger hijau yang membelot. Kini Rita bangkit kembali, dan harapan Bumi ada di pundak Jason dan kawan-kawan selaku Power Rangers generasi baru. 

Hampir 90 menit awal (dari total dua jam) dipakai memperkenalkan satu per satu tokoh, kemudian menjabarkan proses mengenali, melatih kekuatan mereka di bawah bimbingan Alpha 5 (Bill Hader) supaya dapat berubah (morphing) menjadi Power Rangers. Sekitar 3/4 durasi nyaris tanpa kemunculan jagoan dalam balutan armor bukan berarti nihil daya tarik, sebab semangat rebellion khas film remaja cukup terasa, mampu menyuntikkan nyawa. Walau selain autisme Billy karakterisasi empat remaja lain kurang memberi ciri, para pemeran utama sanggup mengangkat tensi lewat akting natural pula chemistry solid pencipta interaksi renyah berbumbu humor segar. Terutama RJ Cyler yang menjembatani koneksi penonton dengan karakter-karakternya. Sementara Naomi Scott sempurna sebagai Kimberly yang sedari dulu merupakan crush mayoritas pemirsa.
Beberapa latar karakter cukup kelam namun tidak depresif. They face some serious problems, but they're not gloomy, depressed teenagers, especially after found the power and each others. Serius tanpa harus kelewat melankolis. Mengurangi sentuhan campy bukan berarti film ini menanggalkan kesenangan. Di samping balutan komedi, Israelite mempertahankan keriuhan over-the-top spectacle khususnya kala mengemas klimaks. Meski begitu, sang sutradara masih perlu belajar dari Michael Bay tentang cara merangkai aksi masif melibatkan robot raksasa. Cukup menghibur, hanya kurang bombastis. Israelite belum piawai menghadirkan cool aspect melalui pilihan shots. Contohnya hero shot berupa kelima Rangers berjalan beriringan dibalut slow motion yang cenderung cringe daripada keren. 

Transisi paruh pertama yang lebih membumi menuju kentalnya fantasi paruh kedua berjalan kurang mulus. Seolah sadar tinggal tersisa sedikit waktu, mendadak alurnya melompat dari satu aksi ke aksi Rita Repulsa berikutnya. Patut disayangkan mengingat betapa mulus aliran first act-nya menuturkan hubungan antar-karakter. Kurang cermatnya editing Martin Bernfeld dan Dody Dorn ikut berpengaruh menghasilkan kasarnya pergerakan adegan tersebut. Terkait plot hole, anda bakal menemukan beberapa, sebutlah zord yang entah bagaimana dapat bergabung, dari mana Rangers mengetahui adanya pedang di Megazord, dan sebagainya. Tapi tak perlu dipikirkan. Afterall, this is a movie about five teenagers with rainbow costume, fighting against giant monster inside their giant robot
Pendekatan serius "Power Rangers" sayangnya memakan korban. Elizabeth Banks sebagai Rita dibatasi tuntutan meminimalisir gaya komikal, tak bisa sebebas dan segila Machiko Soga atau Carla Perez di serialnya dahulu. Alhasil Rita menjadi villain membosankan. Usaha menambah bobot penokohan Rita dengan modifikasi latar belakangnya dan Zordon juga terasa mubazir, sebab untuk apa menjadikan keduanya partner masa lalu bila ujungnya tiada ada dampak emosional dalam pertempuran? Sedangkan Zordon yang tidak bijak, meragukan Rangers, bahkan memaksa mereka berlatih guna menghadapi pertarungan berbahaya mencuatkan tanya yang sejak dulu timbul: apakah Zordon seorang pemimpin mulia atau justru sosok egois yang memaksa remaja bertaruh nyawa?

Setidaknya sepercik nostalgia bakal dirasakan oleh penggemar ketika sejumlah momen tampil di layar, mulai terdengarnya bait "Go go Power Rangers" dari lagu tema (semestinya diputar lebih panjang) sampai cameo Jason David Frank dan Amy Jo Johnson selaku pemeran Tommy dan Kimberly di serialnya. This reboot is less-campy than the original series without being too gritty. It's darker yet still very fun to watch. Apabila beberapa perubahan dirasa mengganggu, cobalah berpikiran terbuka karena sederet perubahan tersebut bukan dosa besar yang menyalahi substansi cerita aslinya. Jangan beranjak dulu begitu film berakhir karena ada mid-credit scene menarik berisi tease berkaitan dengan sekuel.