Tampilkan postingan dengan label Salo. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Salo. Tampilkan semua postingan
SALO, OR THE 120 DAYS OF SODOM (1975)
Rasyidharry
Ketertarikan saya akan film ini bukan dikarenakan banyak yang mengatakan kualitas dari film terakhir karya Pier Paolo Pasolini ini bagus tapi lebih karena banyak yang mengatakan film ini mengandung adegan-adegan disturbing yang bahkan membuat film ini di-banned di berbagai negara. Tidak hanya itu cerita yang mengiringi film ini. Kematian tragis sang sutradara yang dibunuh beberapa hari sebelum film ini rilis juga ikut menambah sisi kontroversi dan rasa penasaran saya akan film yang ceritanya diangkat dari sebuah buku berjudul "The 120 Days of Sodom".
Saya tidak perlu panjang-panjang menuliskan sinopsis film ini karena secara keseluruhan kisah "Salo" hanyalah mengenai para penganut fasis yang kaya raya yang menyekap 9 remaja putera dan 9 remaja puteri. Dalam penyekapan disebuah rumah yang sangat besar itu, keempat penganut fasis tersebut dibantu beberapa orang pelacur senior melakukan segala bentuk penyiksaan fisik dan mental, pemerkosaan dan segala bentuk perlakuan-perlakuan tidak senonoh lainnya. Sesuai dengan apa yang dikatakan segala bentuk penyiksaan yang ditampilkan di film ini memang cukup disturbing dan tidak mudah diikuti. Tapi sebenarnya "Salo" bukanlah film paling menjijikkan sepanjang masa tapi memang salah satu yang paling "gila" saat itu (tahun 70an).
Sebenarnya film ini tetap mencoba sopan sekaligus nyeni dalam menampilkan segala adegan gila tersebut. meskipun menjijikkan tapi tidak terasa kesan murahan dalam film ini bahkan dalam adega paling menjijikkan sekalipun (makan kotoran manusia?). Ending film ini juga cukup gila dan sadis walaupun tidak ditampilkan secara gamblang layaknya torture movie yang rilis pada masa ini tapi tentunya pada masa itu adegan-adegan tersebut sudah bisa dibilang sinting.
Diluar adegan-adegan menyesakkan tersebut "Salo" bukanlah film yang bagus menurut saya. Banyak adegan-adegan yang gagal penyampaiannya dan jatuhnya membosankan dan tidak jelas. Adegan storytelling yang diulang berkali-kali juga menarik saat pertama muncul tapi begitu yang ketiga dan seterusnya jadi makin membosankan. Sebuah adegan storytelling mengenai seks yang sama sekali tidak menggairahkan. Terlalu banyak adegan-adegan yang buruk eksekusinya dan tidak jelas maksudnya. Mungkin sang sutradara bermaksud bermetafora tapi jatuhnya malah terlihat tidak rapih dan tidak enak ditonton. Hal itu amsih ditambah akting pemainnya yang kurang. Mungkin "Salo" memang menyuguhkan adegan-adegan sinting di jaman itu, tapi untuk sekarang film ini hanya "cukup gila" dan sisanya membosankan juga sangat-sangat kurang.
Oktober 30, 2011
Drama
,
Kurang
,
Pier Paolo Pasolini
,
REVIEW
,
Salo
Langganan:
Postingan
(
Atom
)


