I SPIT ON YOUR GRAVE (1978)

2 komentar
Meir Zarchi membuat film ini sepertinya memang bukan menempatkan uang sebagai tujuan utamanya, melainkan murni membalaskan dendam wanita korban pemerkosaan yang dia tolong dulu. FYI ide Zarchi membuat film ini datang dari pengalaman disaat dia dan kerabatnya menemukan seorang wanita korban pemerkosaan sedang merangkak keluar dari semak-semak dalam kondisi telanjang, penuh luka dan sangat lemah dengan rahang yang patah. Dia dan kerabatnya lalu membawa wanita tersebut ke kantor polisi dimana disana bukannya pertolongan yang diberikan tapi polisi-polisi tersebut malah memberondong sang wanita dengan berbagai pertanyaan. Lewat pengalaman itulah Meir Zarchi bertekad membalas dendam sang wanita dengan membunuh para pemerkosanya lewat film ini.

Jennifer (Camille Keaton) adalah seorang penulis novel yang sedang menulis novel pertamanya di sebuah rumah di pinggir danau untuk mencari inspirasi. Malang baginya, kecantikan dan keseksian yang diperlihatkannya disana membuat empat orang pria lokal tergoda untuk menikmati tubuh Jennifer. Terjadilah pemerkosaan secara brutal yang membuat Jennifer terluka lahir batin. Luka tersebut membuat Jennifer bertekad balas dendam dengan membunuh empat pria tersebut.
Tentu saja yang paling saya tunggu adalah adegan pemerkosaan yang sudah menimbulkan berbagai kontroversi tersebut. Memang adegan itu diperlihatkan dengan lumayan vulgar dan brutal (walaupun tidak separah dugaan saya tapi dimasa itu sudah sangat parah). Sungguh, adegan pemerkosaan itu bukanlah adegan yang bisa membuat para pria melotot menikmati adegan seksual yang seksi. Perasaan itu secara alamiah mungkin akan sedikit muncul tapi yang paling dominan tentunya rasa marah terhadap para pemerkosa Jennifer yang begitu keji dan brutal tanpa rasa belas kasihan sedikitpun memperkosa bahkan mencoba membunuh Jennifer.

Tapi sayangnya adegan balas dendam Jennifer saya rasa masih terlalu minim perasaan marah dan dendam yang terkandung. Oke, mungkin dengan segala keterbatasan kemampuan mendirect, sulit bagi Zarchi memasukkan emosi yang nyata, tapi setidaknya masukkan adegan yang lebih brutal dalam pembunuhan itu. Karena yang saya rasakan malah adegan balas dendam itu masih tidak lebih brutal dibanding adegan pemerkosaannya. Yang saya rasakan malah "Apa cuma segini perasaan marah yang dirasakan Zarchi? Padahal kemarahan itu sampai menginspirasi dia membuat film, harusnya lebih terasa lagi kemarahan yang disalurkan. Apakah dia terlalu frustasi karena ternyata membuat film jauh lebih sulit dari yang dia duga sehingga rasa marah itu tertutup oleh frustasi?"

Dari segi teknis film ini memang lumayan kacau dengan pengambilan gambar yang seadanya, adegan non-pemerkosaan atau non-pembunuhan yang sangat tidak artistik dan membosankan, sampai akting yang begitu kurang membuat film ini rasanya begitu kacau sehingga saya merasa rasa marah Zarchi sudah tertutup oleh rasa frustasinya dalam membuat film ini. Bahkan Roger Ebert "menganugerahi" film ini sebagai film terburuk yang pernah dia lihat. Tapi setidaknya film ini adalah film yang dibuat murni karena rasa peduli dari sang sutradara dan bukannya mencoba menjaring keuntungan lewat adegan pemerkosaan yang dieksploitasi. Film ini juga punya adegan memorable,apalagi kalau bukan adegan pemotongan kelamin yang dilakukan Jennifer.

RATING:

2 komentar :

  1. eh jadi ini film beneran terinspirasi dari kisah nyata ya? :O

    BalasHapus
  2. Yap, jadi sutradaranya pengen "balas dendam" buat cewek korban pemerkosaan yg dia temuin lewat film ini

    BalasHapus