REAR WINDOW (1954)

4 komentar
Sebelum ini baru tiga film Alfred Hitchcock yang pernah saya tonton, tapi dari ketiga film itu saya sudah mengakui statusnya sebagai master of suspense. Mulai dari Psycho, The Birds hingga Rope, sutradara yang satu ini selalu punya cara luar biasa untuk menghadirkan ketegangan bagi penontonnya. Berbagai momen sederhana mulai dari adegan menyeberang jalan atau seorang polisi yang di-close up dalam Psycho hingga adegan ribuan burung yang mendadak hinggap di halaman sekolah mampu disulapnya menjadi sebuah adegan yang begitu mencekam. Hitchcock seolah tahu benar cara mempermainkan sisi psikologis dan ketegangan penonton, dan Rear Window adalah bukti lain bahwa Hitchcock selalu bisa melakukan hal tersebut namun dengan memakai teknik dan pendekatan yang berbeda-beda. Rear Window sendiri adalah sebuah film yang membawa Alfred Hitchcock meraih nominasi Oscar untuk kelima kalinya dalam nominasi Best Director, sebuah kategori yang pada akhirnya akan sekali lagi ia dapatkan lewat Psycho namun seumur hidup tidak pernah ia menangkan (salah satu aib terbesar Academy Awards). Selain itu film ini juga mendapat nominasi Best Screenplay untuk naskah yang ditulis John Michael Hayes.

Jika dalam Rope Hitchcock membuat filmnya seolah diambil lewat satu shot panjang sehingga membuat emosi penonton mampu terbawa maka dalam Rear Window penonton seolah ikut ambil bagian dan terlibat dalam film tersebut. Kisahnya adalah tentang L.B. Jefferies (James Stewart), seorang fotografer profesional yang baru saja mengalami kecelakaan saat bekerja yang membuat kakinya patah dan memaksa Jefferey tinggal di kursi roda, "terkurung" dalam apartemennya. Tentu saja tidak banyak hal yang bisa ia lakukan dalam kondisi seperti itu. Rasa bosan dan kesepian menjadi hal yang selalu ia rasakan, apalagi selama itu ia hanya bisa bertemu dengan perawatnya, Stella (Thelma Ritter) dan Lisa (Grace Kelly), yang merupakan kekasihnya. Jefferies sendiri juga sedang merasa bosan terhadap Lisa yang dianggapnya terlalu sempurna. Karena itu satu-satunya hal yang bisa menjadi hiburan bagi Jeff adalah memperhatikan kegiatan para tetangganya dari balik jendela. Awalnya semua itu hanya untuk senang-senang sampai akhirnya Jeff merasa ada yang mencurigakan dari salah seorang tetangganya, dan kegiatan "mengintip" tersebut berjalan terlalu jauh dan mulai berbahaya.

Seperti yang sudah saya singgung di atas, Rear Window sanggup mengajak penontonnya seolah ikut ambil bagian dalam film ini. Dengan begitu banyak sudut pandang yang diambil secara first person lewat teropong ataupun kamera milik Jeff, kita sebagai penonton seolah melihat secara langsung semua kejadian yang terjadi. Hitchcock benar-benar jeli dalam memanfaatkan ruang sempit dan sudut pandang orang pertama guna membangun ketegangan. Kondisi tokoh utamanya yang lumpuh dan tidak bisa beranjak bebas dari kursi rodanya juga mampu membuat penonton ikut merasa tidak berdaya. Memang hal yang paling menegangkan sekaligus mengerikan adalah disaat kita hanya bisa melihat tanpa bisa berbuat sesuatu. Dalam Rear Window, Hitchcock mampu mendobrak batas yang memisahkan penonton dengan film yang sedang ditonton. Banyak film-film suspense yang berhasil membuat saya terpaku, tapi baru Rear Window yang mampu membuat saya merasa begitu tidak berdaya dan secara tidak sadar ingin bisa turut campur dalam ceritanya.
Namun tidak sedari awal Rear Window mengumbar ketegangan, karena lagi-lagi Hitchcock tahu betul bagaimana cara membangun ketegangan yang maksimal pada klimaks filmnya. Jika dalam The Birds ia sengaja membangun suasana filmnya dengan begitu ringan di awal layaknya film komedi romantis sebelum semuanya diputar balikkan menjadi sebuah teror, maka dalam Rear Window kita akan disuguhi awal yang sedikit lambat. Pengenalan karakter Jeff lengkap dengan hobi "mengintip" yang ia lakukan serta hubungannya dengan orang-orang khususnya Lisa sang kekasih menjadi sorotan utama di bagian awal hingga pertengahan. Hobi Jeff tersebut awalnya akan terlihat sebagai sebuah pekerjaan yang iseng, sampai secara perlahan permasalahan muncul saat Jeff mencurigai bahwa salah satu tetangganya telah melakukan sebuah tindakan kriminal. Disini kita mulai diajak berpikir mengenai kebenaran dibalik kecurigaan Jeff tersebut. Tentu saja kita tahu bahwa jawabannya hanya ada 2, yakni Jeff salah atau benar. Tapi pada akhirnya tidak peduli tebakan kita salah ataupun benar, pembangunan karakter dan situasi yang dilakukan Hitchcock diawal memang berhasil menciptakan sebuah klimaks yang begitu menegangkan. Kita akan dibuat tidak hanya tegang namun juga khawatir pada tokoh-tokohnya, dibuat kesal terhadap Jeff yang pada akhirnya justru mendatangkan bahaya pada Lisa yang bersedia melakukan hal berbahaya demi mendapat "pengakuan" kembali dari Jeff.

Rear Window juga membuktikan bahwa Hitchcock selalu berhasil dalam menciptakan momen-momen ikonis dalam setiap filmnya. Setidaknya ada dua momen terbaik dalam film ini yang menjadi ikonik dan sanggup memberikan ketegangan luar biasa pada penontonnya. Pertama adalah rangkaian adegan disaat Lisa mulai menyusup ke rumah Mr. Thorwald dan berujung pada tatapn Mr. Thorwald tepat kearah kamera hingga seolah-olah ia sedang menatap langsung kearah kita sebagai penonton. Kedua adalah adegan disaat Jeff berada sendirian di kamar dan mendengar sebuah langkah kaki yang perlahan mendekat dan pada akhirnya dibalik kegelapan sesosok pria muncul di hadapannya. Rear Window adalah sebuah panggung ketegangan luar biasa dimana babak awalnya menjadi sebuah pengantar yang tepat dan sempurna untuk sebuah klimaks penuh ketegangan yang juga sempurna. Pada akhirnya Rear Window memang terasa begitu realistis dalam artian kita sebagai penonton benar-benar dibuat merasa sebagai salah satu bagian dari dunia yang ada didalamnya, bahkan dari musik pun film ini tidak memakai scoring music dan hanya menggunakan bunyi-bunyian alami untuk menguatkan kesan tersebut. Sebuah film yang nyaris sempurna, hanya saja saya sempat agak bosan di paruh awal, selain itu luar biasa.

4 komentar :

Comment Page:
Anonim mengatakan...

salah satu film favorit saya sepanjang masa,, ceritanya terasa sangat orisinil dari segi cara penyampaiannya, walau pertama agak membosankan,, lama-kelamaan semakin bagus ceritanya... palagi nih film ditiru konsepnya oleh film disturbia

salam dari penggemar film (rizal)

cacah mengatakan...

review vertigo nya jg dong bro...

Otis Gaffaral mengatakan...

Gan..tau gak situs tempat donlot fim2 lama,,70an kebawah lah kira2..thx

Rasyidharry mengatakan...

Coba cek disini deh
http://www.bnwmovies.com