SOEKARNO (2013)

Tidak ada komentar
Saya mungkin bukanlah penggemar karya-karya Hanung Bramantyo yang bagi saya secara kualitas sangat fluktuatif. Kadang-kadang filmnya bisa begitu baik seperti ? atau Sang Pencerah  atau masuk kategori lumayan seperti Perahu Kertas, tapi beberapa kali juga mengecewakan macam Ayat-Ayat Cinta dan Perahu Kertas 2. Tapi setidaknya saya sepakat bahwa Hanung adalah satu dari sedikit sutradara Indonesia yang masih bisa menyeimbangkan antara kualitas dan komersialitas dalam film-filmnya meski acapkali mengundang kontroversi. Kali ini Hanung kembali lagi membuat sebuah biopic setelah kesuksesan Sang Pencerah di tahun 2010 lalu. Kali ini proyeknya lebih besar dan lebih ambisius karena mengangkat kisah hidup seorang Soekarno yang notabene adalah Presiden pertama Indonesia sekaligus sosok dibalik proklamasi bersama Hatta. Filmnya sendiri sempat mendapat kritikan dari Rachmawati, puteri Soekarno sebelum masa perilisan. Sempat terjadi ketidak setujuan dari pihak Rachmawati mengenai penggambaran sosok ayahnya dan pemilihan Ario Bayu sebagai sosok Soekarno karena ia lebih menyukai Anjasmara memerankan ayahnya. Ya, nampaknya bukan film Hanung namanya jika tidak lepas dari kontroversi. Namun saya sendiri tidak mempedulikan segala kontroversi tersebut. Asalkan filmnya bagus, tidak peduli seberapa kontroversialnya saya akan tetap menyukai film tersebut.

Di bagian awal kita akan diajak mengenali sosok Soekarno kecil (Emir Mahira) yang mulai mempelajari banyak hal mulai dari menjadi seorang orator, nasionalis yang membenci penjajah sampai tentu saja penakluk hati wanita yang begitu ulung. Di masa dewasanya, Soekarno (Ario Bayu) mulai menapaki karirnya di dunia politik yang terus mengajak rakyat untuk tidak takut terhadap para penjajah dimana hal tersebut membuatnya mulai dianggap membahayakan oleh pihak Belanda. Soekarno pun mulai dijebloskan ke penjara bahkan sempat menjalani masa pengasingan. Namun seperti yang kita tahu perjuangan Soekarno tidak pernah berhenti bahkan sampai pada masa disaat penjajahan Jepang mengambil alih Indonesia. Bersama berbagai tokoh khususnya Hatta (Lukman Sardi) Soekarno tetap terus berjuang dengan caranya meski mendapat tentangan dari banyak pemuda termasuk Sjahrir (Tanta Ginting) yang menganggap cara Soekarno terlalu lembek dan penakut. Namun disamping perjuangan meraih kemerdakaan kita akan cukup banyak diajak untuk melihat kehidupan romansa Bung Karno dimana setelah menikah bertahun-tahun dengan Inggit (Maudy Koesnaedi) ia mulai terpikat pada muridnya sendiri, Fatmawati (Tika Bravani).

Tidak mudah memang mengangkat kehidupan tokoh sebesar Bung Karno. Hidupnya bagaikan terbagi menjadi dua bagian, satu sebagai seorang orator dan pimpinan perjuangan Indonesia menuju kemerdekaan sedangkan satunya lagi adalah sesosok pria yang jago mengambil hati wanita dan mempunyai banyak istri. Disini Hanung nampak mencoba menyeimbangkan kedua aspek tersebut meski pada akhirnya terlihat lebih banyak berfokus pada bagian kehidupan Soekarno dengan wanita-wanita di sekitarnya. Jika dihitung-hitung, maka 2/3 bagian awal lebih berfokus pada hal tersebut, barulah saat Fatmawati telah resmi menjadi istrinya 1/3 bagian diisi dengan proses menuju proklamasi. Tentu saja ini bukan pilihan yang salah mengingat keduanya tetaplah sama-sama sisi dari seorang Soekarno yang menarik untuk diangkat dan diketahui oleh para penonton. Sedangkan untuk pengemasannya seperti yang dituturkan oleh Hanung bahwa film ini memang ditujukan pada para pemuda dibandingkan para ahli sejarah dan pada akhirnya membuat Soekarno memang terasa condong kearah selera pasar. Lagi-lagi sayapun tidak mempermasalahkan hal tersebut. Tidak masalah sebuah biopic ditujukan sebagai sebuah film hiburan asalkan tetap bisa menggambarkan sosok yang difilmkan dengan tepat. Sayangnya pada bagian ini ada yang dilewatkan oleh film Soekarno.
Sosok Soekarno sebagai seorang womanizer memang tergambarkan dengan sempurna entah itu lewat ceritanya maupun lewat penampilan Ario Bayu. Namun sosok Soekarno sebagai orator handal, dan pemimpin yang ditakuti serta disegani lawan sekaligus dicintai rakyatnya kurang terlihat. Bukan, semua itu bukan karena akting Ario Bayu karena menurut saya dia sudah berusaha semaksimal mungkin. Hal tersebut terjadi karena memang porsi yang diberikan oleh naskahnya untuk mengeksplorasi hal tersebut begitu minim. Berbagai momen seperti saat Soekarno berorasi, saat sedang menyusun strategi melawan penjajah ataupun disaat tengah berkonfrontasi dengan para penjajah tidak mampu menghidupkan kesan Soekarno yang saya sebutkan diatas. Tidak ada adegan yang cukup menggigit untuk mengangkat hal tersebut dan akhirnya semuanya "dikalahkan" oleh momen Soekarno sebagai seorang pemikat hati wanita. Sungguh disayangkan mengingat film ini diharapkan bisa mengingatkan lagi para pemuda zaman sekarang akan sosok bapak prokalamator kita tersebut. Andai saja Soekarno bukanlah sosok dengan imej kuat sebagai seorang pemimpin bangsa mungkin saja para penonton bisa salah menangkap tentang karakternya.

Sedangkan jika bicara masalah teknis sebenarnya Soekarno cukup tergarap dengan baik termasuk set lokasinya yang cukup meyakinkan. Meski beberapa konfliknya terasa kurang maksimal dan terburu-buru, durasinya yang diatas 2 jam juga tidaklah terlalu melelahkan berkat penuturan Hanung yang cukup bersahabat meski bukan hasil penyutradaraannya yang terbaik. Yang kurang mengena adalah bagian scoring-nya yang juga dipadukan dengan beberapa lagu nasional yang sayangnya kurang bisa membangun suasana. Bahkan di beberapa momen penting yang diharapkan bisa menggetarkan perasaan penonton musiknya kurang berhasil membangun suasana. Beberapa detil lain yang membuat saya terganggu adalah berkenaan dengan banyaknya figuran yang mengganggu adegan karena senyum atau tawa yang mereka munculkan. Sebagai contoh saat Soekarno berpidato pertama kalinya dan menimbulkan amarah Belanda yang mencoba menangkapnya di sudut gambar yang penting, figuran yang ada malah tertawa-tawa. Tentu saja hal tersebut mengganggu esensi dan suasana adegan. Pada akhirnya Soekarno jelas bukan karya terbaik Hanung dan masih berada satu kelas dibawah Sang Pencerah  yang merupakan biopic lain karyanya. Penggambaran Soekarno juga terasa kurang memuaskan. Namun setidaknya masih sebuah tontonan yang bisa dinikmati dan sesekali membuat rasa kecintaan akan Indonesia muncul khususnya di bagian akhir. Sayangnya momen proklamasi dikemas dengan jalan yang terlalu aman. Yah, merekonstruksi momen ikonis nan bersejarah memang bukan perkara mudah.

Tidak ada komentar :

Posting Komentar