SELMA (2014)

Tidak ada komentar
Pada masa sekarang, isu rasisme tidak hanya sensitif tapi juga rumit untuk diperbincangkan. Apa definisi perbuatan "rasis" saja makin lama makin terasa ambigu yang ironisnya terjadi beriringan dengan semakin kencangnya pergerakan melawan hal tersebut. Apakah rasisme berlaku bagi semua kalangan? Atau hanya disebut rasis jika itu menimpa kaum minoritas? Apa yang terjadi pada Selma pada ajang Oscar awal tahun 2015 ini sempat menghembuskan tuduhan bahwa pihak Academy bertindak rasis, karena dianggap mengesampingkan film ini (hanya mendapat dua nominasi). Padahal bisa dibilang film garapan sutradara Ava DuVernay ini mendapatkan critical acclaim. Tapi benarkah seperti itu kebenarannya? Atau karena Selma mengangkat salah satu pergerakan paling penting dalam sejarah kaum kulit hitam melawan rasisme? Saya tidak tahu, tapi yang jelas film ini adalah bentuk kemarahan dan pemberontakan daripada murni penghormatan.

Fokus utama film ini adalah menangkap esensi perjuangan Martin Luther King, Jr.  (David Oyelowo) saat berusaha memperjuangkan hak memilih para kaum kulit hitam yang tinggal di Selma, Alabama. Apa esensi perjuangan King? Cinta, persatuan dan menghindari kekerasan, setidaknya hal itulah yang dituturkan disini. King dalam berbagai kesempatan berorasi di depan ratusan orang, mengajak mereka untuk sadar, kemudian bangkit guna melawan penindasan secara bersama-sama. Dia pun adalah sosok yang lebih mengutamakan kepentingan rakyat daripada diri sendiri. Begitu cintanya King pada rakyat, saat ada dari mereka yang terluka atau bahkan tewas, kita bisa melihat jelas duka mendalam yang mengiris perasaan King. Berangkat dari rasa cinta itulah mengapa ia selalu menegaskan tidak boleh ada kekerasan dalam setiap demonstrasi. Bahkan disaat pihak kepolisian menghajar para demonstran dengan brutal pun, King tidak pernah menginstruksikan untuk melawan balik.
Memang layak Martin Luther King, Jr. dijadikan sosok panutan tidak hanya bagi kaum kulit hitam, namun semua orang yang memimpikan kesetaraan serta perdamaian antar umat manusia. Efek tersebut diperkuat pula oleh akting David Oyelowo yang tampak jelas tidak hanya berusaha meng-copy sosok King, tapi juga mendalami tiap sudut perasaan dan semangat sang tokoh. Adegan orasi ia lakoni dengan penuh ucapan berapi-api yang terasa believable mampu menggerakkan massa. Sedangkan momen personal karakter King pun ia jadikan sebagai observasi mendalam bagi penonton lewat ekspresi dan respon alami nan penuh perasaan. Keberadaan subplot hubungan antara King dengan sang istri, Coretta (Carmen Ejogo) turut memberikan kedalaman lebih pada karakternya. Martin Luther King, Jr. disini bukan hanya seorang aktivis, melainkan pria biasa yang merasakan dilema saat harus memilih antara perjuangan dan keluarga.  Sayang, meski mengangkat sosok penuh cinta kasih itu, pengemasan DuVernay justru terasa sebaliknya. Dia membawa kebencian dan kemarahan yang menumpuk saat bertutur. Hal itu berujung pada hadirnya salah satu stereotype bahwa semua kaum kulit putih adalah penindas. 
Bukan kebencian terhadap rasisme yang disalurkan oleh DuVernay, tapi justru kebencian terhadap kaum kulit putih hampir secara general. Setidaknya, pada paruh awal generalisasi itu terasa begitu kuat. Penonton diajak melihat bagaimana brutalnya para polisi menyiksa demonstran di jalan, seolah mereka tak berharga sebagai manusia. Penggambaran itu tidak salah, karena kondisi semacam itu memang terjadi. Tapi yang dilakukan DuVernay pada karakter kulit putih film ini hanya menjadi kebalikan dari diskriminasi terhadap kaum kulit hitam dalam industri film yang sering terjadi. Cara itu memang efektif membuat penonton bersimpati pada mereka. Saya pun geram melihat perlakuan penuh ketidakadilan tersebut. Dampak yang lebih besar terjadi pada saat massa demonstran menyeberangi jembatan Edmun Pettus dan terlibat konfrontasi dengan pihak kepolisian. Rangkaian adegan tersebut terasa begitu emosional berkat kepiawaian DuVernay dalam menyuguhkan suatu perjuangan yang kental dengan rasa persatuan. Andai saja DuVernay lebih banyak memasukkan cinta daripada benci, Selma bakal terasa begitu emosional khususnya pada adegan itu.

Sebagai film bertemakan sejarah, Selma jauh lebih berhasil. Sebuah napak tilas terhadap suatu kejadian monumental yang mampu mengajak penonton memahami tiap detail peristiwa tanpa harus berlebihan memasukkan tetek bengek konstitusional memusingkan meski filmnya kental dengan muatan politik. Setiap bagian adalah rekonstruksi yang terjalin kuat antara satu dengan yang lain tanpa ada satupun bagian yang terasa dijejalkan secara paksa untuk melengkapi keseluruhan proses. Salah satu "penyakit" film mengenai rangkaian sejarah adalah perpindahan momen yang begitu kasar sehingga penonton terasa seperti menyaksikan episode demi episode terpisah daripada satu kesatuan utuh. Tapi film ini mengalir dengan baik, membantu mereka yang ingin mempelajari sejarah namun segan membaca literatur yang kaku. 

Verdict: Sayangnya Selma bukan karya dari manusia untuk kemanusian, tapi lebih sebagai karya Ava DuVernay bagi sebagian golongan saja. Karakternya penuh cinta, tapi filmnya penuh amarah. Namun DuVernay jelas membuktikan diri sebagai sutradara yang pandai dalam menuturkan ceritanya.

Tidak ada komentar :

Posting Komentar