THE WALK (2015)

Tidak ada komentar
The Walk karya Robert Zemeckis ini bakal memberikan teror bagi para penderita acrophobia (takut ketinggian). Beberapa kenalan saya mengaku sudah berkeringat dingin melihat trailer-nya. Saat film dimulai pun, seorang pria di samping saya tidak henti-hentinya bersumpah serapah melampiaskan kecemasannya sambil menggerakkan kakinya dengan sangat kencang. Begitu film selesai, dia meminta maaf jika tingkahnya telah mengganggu saya dan mengakui ketakutannya akan ketinggian. Saya tidak takut ketinggian. Tapi saat berada di suatu hal yang bergerak di ketinggian saya merasa cemas, sebut saja pesawat dan lift. Menyaksikan klimaks The Walk saat Philippe Petit (Joseph Gordon-Levitt) menyeberangi dua gedung World Trade Center di atas kabel terasa cukup menegangkan. Tapi tidak membangkitkan kecemasan penuh rasa tidak nyaman.

Segala materi promosi film ini menjanjikan klimaks menegangkan tersebut yang pada akhirnya tersaji selama 30 menit terakhir film. Tapi dengan durasi 2 jam, Zemeckis pastinya tidak bisa hanya mengandalkan momen tersebut. Akhirnya sang sutradara membagi filmnya kedalam tiga bagian: pengenalan karakter Philippe Petit, persiapan menuju penyeberangan yang ia sebut "coupe", dan klimaksnya. Philippe diceritakan sudah terobsesi dengan atraksi berjalan di atas kawat (high-wire) semenjak menonton pertunjukkan Papa Rudy (Ben Kingsley) di sebuah sirkus saat ia masih kecil. Semenjak itu ia terus berlatih secara otodidak dengan tali yang ia pasang sendiri di pekarangan rumahnya. Hingga beberapa tahun kemudian Philippe "resmi" menjadi murid Papa Rudy. 

The Walk adalah film mengenai passion serta mimpi, setidaknya begitulah seharusnya. Itu alasan mengapa pengenalan Philippe pada penonton menjadi penting. Penonton wajib dibuat mengenal, bahkan memahami passion sang karakter. Berjalan di atas kawat adalah kegiatan menantang maut. Kenapa ia terobsesi akan hal itu? Apakah demi merasakan kebebasan? Atau untuk mendekatkan diri dengan kematian akibat berbagai permasalahan masa lalu? Tapi tidak ada sekalipun waktu dimana Zemeckis meluangkan waktu guna mengeksplorasi alasan itu. Kita dipaksa untuk menerima begitu saja. Kenapa Philippe terobsesi? Well...just because
Pada tingkatan tertentu, film bertema seperti ini tidak hanya mampu menggerakkan emosi penonton, tapi juga inspiratif. Saya tidak begitu menyukai kata "inspiratif", tapi begitulah adanya. Keberanian karakternya untuk mengejar kemustahilan dan melakukan hal-hal gila haruslah berkesan pula beralasan. Jika tidak, maka hanya kenekatan kosong yang nampak. Akibat kegagalan membentuk drama kuat pada paruh awal, sosok Philippe pun tidak terasa simpatik. Saat keegoisannya nampak akibat kecemasan karena hari pelaksanaan semakin dekat, saya tidak merasakan apapun kecuali Philippe adalah pria yang egois. Hanya keegoisan dan amarah yang nampak, bukan percikan hasrat besar karena impian yang meluap-luap. 

Sangat disayangkan karena Zemeckis sebenarnya sanggup menghadirkan momen emotional breakdown yang meyakinkan saat itu. Mendekati d-day sebuah peristiwa besar, pastilah orang yang bersangkutan bakal mengalami pergolakan emosi. Kekhawatiran akan kegagalan ditambah paranoid akan probabilitas kematian yang besar begitu menguras emosi Philippe. Akting Joseph Gordon-Levitt turut mendukung hal itu. Sang aktor sudah habis-habisan menguras emosinya. Kita bisa melihat percampuran segala emosi yang berujung pada tingkah obsessive-compulsive dalam karakternya. Gordon-Levitt pun secara total telah menguras fisik dan psikisnya pada bagian tersebut. Bayangkan, betapa kuatnya momentum ini jika sebelumnya Zemeckis berhasil membuat pondasi kuat akan hasrat beserta mimpi seorang Philippe Petit.
Sama dengan dokumenter Man on Wire (juga tentang Philippe Petit), Zemeckis turut mengemas persiapan Philippe dan "kaki tangannya" seperti sajian heist movie. Menggunakan penyamaran yang berbeda-beda, Philippe tiap hari mengumpulkan informasi tentang detail gedung. Kemudian pada hari pelaksanaan, bermacam tipu daya mereka gunakan supaya bisa membawa banyak peralatan ke puncak gedung. Disitulah The Walk mulai menemukan daya pikatnya. Alur cepat nan dinamis ditambah sedikit bumbu komedi jadi resep Zemeckis menghadirkan sajian thrilling. Dari drama yang dangkal, film ini perlahan bertransformasi menjadi crime-thriller menegangkan sekaligus menyenangkan. 

Lalu hadirlah klimaks yang merupakan jualan utama film ini. Setelah satu jam pertama yang bagai dibuat setengah hati, klimaksnya menjadi saat dimana Robert Zemeckis mencurahkan segenap kemampuannya sebagai seorang sutradara. Tanpa perlu lagi mengutamakan kekuatan bertutur, pemaksimalan teknis visual dalam pengambilan gambar jadi yang utama. Efek 3D yang sempat tidak terasa berguna (kecuali warna hitam-putih diawal yang nampak indah karenanya) dieksploitasi untuk memberikan kedalaman visual. Tujuannya jelas, supaya adegan Philippe menyeberangi WTC dapat hadir, sehingga memunculkan ketegangan senyata mungkin. Saya akui Zemeckis cukup berhasil. Terbukti oleh histeria yang nampak pada penonton dengan acrophobia

Tapi seperti yang sudah diungkap di atas, saya sendiri tidak merasakan kecemasan seperti itu. Memang benar klimaksnya cukup menegangkan, tapi tidak sampai menghadirkan kesan tidak nyaman atau membuat terpaku di tempat duduk. Terdapat dua alasan, pertama karena saya tidak merasa peduli dengan karakternya. Saya tidak peduli walaupun orang (yang nampaknya) gila yang mengatasnamakan passion ini akan terjatuh dari ketinggian 110 lantai. Bahkan jika itu terjadi nampaknya bakal meningkatkan intensitas. Kedua, meski efek 3D-nya maksimal, setting yang terhampar masih jauh dari kesan nyata. Segalanya tidak jauh beda dari beberapa film motion capture 3D milik Zemeckis sebelumnya. Visualnya indah namun masih belum selaras dengan pemandangan natural. 

Tidak ada passion dalam film yang seharusnya bertutur mengenai passion ini. Cukup menghibur dengan beberapa momen intens tapi tidak sampai terasa mencengkeram. Menyaksikan film ini saya pun menyadari bahwa ketakutan saya selama ini bukan karena ketinggian, melainkan kematian dan ketidakberdayaan. The Walk tidak cukup nyata untuk bisa memunculkan kembali rasa takut tersebut. 

Tidak ada komentar :

Posting Komentar