GALIH & RATNA (2017)

16 komentar
Sebelumnya, Lucky Kuswandi ("Selamat Pagi, Malam", "Madame X", "The Fox Exploits The Tiger's Might") sempat terlibat dalam remake film Indonesia klasik lain, yaitu menulis naskah bagi "Ini Kisah Tiga Dara". Serupa karya Nia Dinata tersebut, "Galih & Ratna" merupakan usaha modernisasi bernuansa hipster bagi materi lama. Lihat saja, di era digital seperti sekarang, karakter utamanya justru mendengarkan musik menggunakan kaset dan walkman. Namun itu bukan semata-mata gimmick supaya nampak keren, melainkan selaras dengan ide filmnya atas proses menyimpan kenangan, mengabadikan momen tatkala seseorang jatuh cinta. 

Ratna (Sheryl Sheinafia) terpaksa menghabiskan tahun terakhir SMA di Bogor, tinggal bersama sang tante (Marissa Anita) kala ayahnya (Hengky Tornando) pindah ke Australia. Di sekolah barunya ini, Ratna bertemu Galih (Refal Hady) yang pendiam dan misterius. Ratna pun terpikat. Tapi Galih berbeda dengan Ratna. Dia berasal dari keluarga kurang mampu di mana ibunya (Ayu Dyah Pasha) mengemban beban menafkahi keluarga seorang diri pasca sang suami meninggal. Apalagi toko kaset "Nada Musik" milik mereka tidak lagi dilirik orang akibat perubahan jaman. Galih dan Ratna bertemu, menjalin cinta yang bersemi dari SMA, seraya bersama menyokong mimpi masing-masing.
Mayoritas publik lebih mengenal lagu "Galih & Ratna" ketimbang sumber filmnya yakni "Gita Cinta dari SMA". Oleh sebab itu keputusan Lucky Kuswandi dan Fathan Todjon selaku penulis naskah memberi peranan penting pada musik bisa dimengerti. Selain alunan lagu-lagu yang tepat menemani bahkan menguatkan rasa dari adegan, terdapat pula presentasi musik sebagai bagian kultural khususnya seputar media kaset. Kaset mixtape menunjukkan pemahaman si pembuat akan "target" dan musik. Terkesan romantis karena selain ungkapan rasa pembuatnya ada effort besar saat mencari dan merekam. Bandingkan dengan sekarang ketika seseorang bisa begitu mudah memasukkan lagu dalam keping CD. Walau bagi penonton yang kurang familiar atas kultur tersebut, paparan itu takkan terlalu relatable

Awal timbulnya benih cinta Galih dan Ratna memang terlalu cepat di mana mereka telah saling suka sebelum penonton sempat jatuh cinta pada keduanya. Kekurangan itu untung ditebus oleh interaksi menarik saat Galih dan Ratna makin intens berhubungan. Daripada buaian kalimat gombal, naskahnya memposisikan kisah cinta tokoh utamanya selaku proses mengenal lebih dalam lewat berbagai obrolan santai. Sebab jatuh cinta tak melulu diekspresikan dengan bertukar puisi. Cukup duduk bersama membicarakan musik, mimpi, dan masa depan. Pada akhirnya meski diawali terburu-buru, mudah meyakini Galih dan Ratna saling cinta. Mereka saling mengenal, memahami dan menyukai "isi" masing-masing, bukan sekedar tampak luar.
Interaksi "renyah" juga tercipta sebab naskahnya tidak berlebihan berusaha tampil romantis, sempat menyelipkan humor penyegar suasana yang sempurna dibawakan oleh jajaran cast. Marissa Anita selalu penuh semangat, heboh, menyuntikkan energi di tiap kemunculannya sehingga kita tak kuasa menahan senyum. Joko Anwar sebagai guru galak penegak aturan pun kerap menggelitik berkat rangkaian celetukan pedas. Kemudian ada kemampuan Sheryl Sheinafia menyeimbangkan sisi manis Ratna dengan kebolehan berkomedi. Ekspresi konyol kala ia menanyakan arti kata "gita" pada sang tante adalah contoh terbaik. Sedangkan Refal Hady punya charm luar biasa, membuktikan bahwa untuk terlihat keren tak perlu berakting kaku atau sok cool

Pemilihan judul "Galih & Ratna" alih-alih "Gita Cinta dari SMA" bukan saja didasari brand image, pula faktor narasi. Kehidupan SMA masih disoroti tapi bukanlah panggung utama. Kisahnya memiliki cakupan lebih luas, bukan pula semata-mata bicara cinta. Poin utamanya adalah kebebasan. Kebebasan bermimpi, kebebasan bertindak, kebebasan memilih masa depan. Galih dan Ratna merupakan perwujudan individu berjiwa bebas di tengah "kekangan". Cita-cita mereka terbentur alasan serupa dari orang tua: materi. Di sekolah, keduanya (dan siswa lain) dihadapkan pada tata tertib yang amat membatasi (larangan berjualan, aturan ketat berpenampilan). Sederet gesekan tersebut hadir menggigit, memancing pergolakan emosi sekaligus pemikiran mengingat sejatinya tidak ada pihak yang salah. 
Ditinjau lebih jauh, sempat ada shot singkat menampilkan semboyan "Bogor Kota Beriman" menggambarkan soal keteguhan masyarakat memegang moral terutama agama. Shot itu dilanjutkan kepulangan Galih tatkala adiknya tengah belajar mengaji. Apa yang Galih lakukan? Dia menyalakan walkman sambil membantu pekerjaan ibunya. Rangkaian momen ini menguatkan penokohan. Bahwa meski hidup di satu lingkungan dalam kondisi tertentu, seseorang tetap bebas, tidak harus mengikuti arus utama yang mana selaras pula dengan pilihan anti-mainstream karakternya pada musik. Yep, sounds hipster indeed

Apabila diibaratkan lagu, pendekatan Lucky Kuswandi bagai balada dengan dominasi petikan gitar akustik. Sebuah romansa low key yang mengalun lembut dan konsisten, serta lirih minim gejolak namun tetap manis berkat komposisi tepat. Nampak cantik nan elegan pula visualnya berkat sinematografi Arifin Cuunk. Untuk penonton yang terbiasa akan suguhan menggelora, keputusan meminimalisir dramatisasi mungkin bakal menurunkan daya bunuh, apalagi meski bittersweet, konklusinya enggan berderai air mata. Tapi jika anda mencari tontonan romantis tanpa perlu menjadi cengeng dan menekankan pada sisi manis kala dua sejoli menjalin hubungan ketimbang tearjerker manipulatif, maka "Galih & Ratna" adalah tontonan tepat.

16 komentar :

  1. lebih keren lah dripada ..
    film2 screenplay yng ahhh sudahlahh...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha itu sebuah kepastian.

      Hapus
  2. Bingung jadinya mau nonton apaa.. Bulan ini sama bulan depan banyak film bagus yg rilis,lokal maupun hollywood...

    BalasHapus
    Balasan
    1. "Galih & Ratna" sangat layak tonton kok hehe

      Hapus
  3. Agak kurang suka dg penampilan galih dengan berewok kayak ketuaan utk anak SMA,saya blom nnton baru liat trailernya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Lah, Rano Karno di "Gita Cinta dari SMA" jauh kelihatan lebih tua hahaha

      Hapus
    2. Ohhh gitu gue blom nnton punya Rano Karno. Berarti cerminan anak sekarang tua belum pada waktunya boros muka hahahq

      Hapus
  4. Aaaa iyaaa ini film yang manis sangaat, sukaa x)
    Energi anak mudanya dapet, masa2 di SMAnya pun juga. Suka sukaaa x))

    BalasHapus
    Balasan
    1. Anak muda SMA hipster di Jakarta :D

      Hapus
  5. Btw OST-nya asik2 ya bang, sayang pas special screening 5 Maret di Bogor gak bisa dateng padahal dapet CD OST-nya tiap beli 1 tiket.

    *ehh jadi malah curhat

    Seketika di bioskop yang paling riuh pasti anak SMA juga ya Bang di Jogja ? Di Bogor pun gak jauh beda.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah nggak merhatiin, yang jelas sih mayoritas lebih muda dari saya haha

      Hapus
    2. Hahaha, merasa yang paling dewasa ya bang diantara para degem.

      Siap2 minggu dpan Trinity: The Nekad Traveler sma Beauty and The Beast ya bang.

      #MaretMengurasDompet

      Hapus
    3. Mingdep film lokal ada Trinity & Bid'ah Cinta, Beauty & the Beast Jumat. Mulai masuk summer mulai kuras dompet :D

      Hapus
    4. Beauty & the Beast tayangnya gak Rabu kayak Kong ya bang ? Biasanya kan 2 hari lebih awal kalo tayang di Indonesia.

      Hapus

  6. Kemarin nonton sama temen cewek yg habis nonton LLS2 5hari lalu dia nyeletuk "terlanjur bawa tissue banyak, eh gak bikin baper" wkwkwk. Jujur mas saya risih (atau terlalu jeli) dengan konteks SMAnya, masih ada sentuhan "kalian saya skores" "beasiswa saya cabut hanya karna turun 0,01" "gaboleh jualan" "pemikiran ibunya kalau gak pake beasiswa langsung di swasta" sedangkan disekolah SMA sy sendiri tidak ada hal hal semacam itu, beasiswa bidik misi pun mudah kok mengurusnya skrg, ndak lolos SNM pun masih ada jalan lain skrg wkwk,
    Untunglaaaah soundtrack nya ajib ajib bener, ngebantu nambahin feel apalagi pas scene angkot wkwk. Btw di bioskop yg saya tonton semua ketawa pas ratna gatau kata "gita" itu apa, saya sendiri pun tak tau.
    CMIIW

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nah kalau buat pangsa pasar film-film Screenplay, Galih & Ratna ini memang berpotensi dibilang flat. Semua unsur SMA-nya sejalan sama konten musiknya kok, alias jadul haha jaman sekarang mah udah jarang gituan

      Hapus